
Letta diam menatap Bulan yang memang sudah meringis." Bagaimana aku enggak khawatir dan nangis Yah. Sembilan bulan sepuluh hari aku mengandung Putra, lima tahun dia sakit kesakitan bahkan hampir mati tercekik ngeliat dia hidup dan mati kayak gitu, dan sekarang aku bersyukur liat dia hidup dan besar. Sedikitpun aku enggak pernah menyakitkan dia, tiba tiba dia datang dan nyakitin Putra kita yah, dia dengan sombong dan juga kecil hatinya menolak anak kita. aku sendiri sebagai ibu enggak pernah. Semua ini salah dia yah, hiks hiks.” Bulan menangis terisak memegang dadanya. Jarinya menunjuk Letta nanar dan juga bengis.
“ Hiks hika. Akh sakit Yah hiks sakit.” Letta diam menatap Bulan. Letta menghela nafas hendak bangkit pergi mencari Putra saja. Tapi teriakan Bulan mengalihkan atensi mereka. Bulan meringis memegang perutnya yang sakit. Mungkin keran.
Letta mendekat dan hendak membantu tapi Bulan menepis tangan letta.”jangan sentuh saya..” teriaknya kuat. Letta terdiam. Diki disana ikut terdiam menarik Letta menjauh.
Hane menatap letta dan Diki nanar.” Tolong tolong. Istri saya mau melahirkan.” Pekiknya.
Letta diam melirik diki. Diki yang paham agak malas membantu Bulan tapi tetap ia lakukan secara baik dan benar. Letta melangkah menuju mobilnya dan kedua orang tersebut membawa Bulan menuju rumah sakit. Ini rumah sakit cukup jauh dari rumah Putra.
Letta membawa mobil cukup ngebut ke klinik terdekat yang memakan waktu dua puluh menit. Klinik yang sudha cukup besar.
Diki dan Hanes membawa Bulan yang terus meringis menuju ruangan, dibantu beberapa perawat dan suster. letta diam menatap mereka menjauh, duduk di salah satu kursi tunggu. Bulan ditangai oleh dokter. Hanes yang hendak masuk tapi ditahan perawat dan suster. Diki juga disana diusir. Letta hanya diam.
Hanes memilih duduk di sebelah Letta, raut wajahnya sangat buruk dan juga lemah. Melirik Letta nanar.”maafkan istri saya yah. dia lagi sakit dan kecewa aja sama kamu. Maafin ucapannya dia.” Ujarnya lirih.
Letta mengangguk melirik Hanes yang terlihat cemas. Hanes berkali kali merapalkan doa untuk istrinya yang ditangai di dalam.
Lengan letta di colek oleh Diki.
Diki melirik letta dan mendekatkan bibirnya ke telinga Letta.” Ini kita nungguin dia lahiran apa gimana?”tanyanya. Letta meliriknya hanya diam tak berekspresi. Letta hendak pergi mencari putra tapi kemana?
Ruang bawah tanah Ragiel? Iya kesana, tapi jika saat ini dirinya kesana bagaimana keadaan Bulan?
__ADS_1
“ suami pasien. Suami pasien.” Teriakan menyadarkan Letta. Hanes segera berdiri mendekati dokter.
Dokter melihat hanes” suami pasien yang sedang hamil?”Tanyanya.
“Iya pak saya suaminya.” Jawab Hanes tegas menatap dokter cemas.
“Jadi begini pak, istri bapak sudah siap melahirkan, tapi keadaan istri bapak sangat lemah. Tidak bisa melakukan secara normal. Kami menyarankan menggunakan cara Caesar saja, karena jika dipaksakan akan berakibat fatal dengan si ibunya, apalagi ibu terlihat sedih dan stress. Sangat mempengaruhi keadaan si bayi,” ujarnya tegas.
Hanes mendengar ucapan dokter semakin panic. Hati hanes gelisah tapi ia hanya bisa mengangguk.” Iya pak. Lakukan yang terbaik untuk istri saya.” Jawabnya.
Dokter mengangguk.”Baik bapak silahkan melakukan administrasinya terlebih dahulu dna surat persetujuannya. Kami akan menyiapkan oprasi untuk nyonya.” Dokter masuk dan Hanes segera diarahkan menuju di salah satu ruangan.
Tapi sebelumnya Hanes menatap letta nanar.”kamu bisa tunggu istri saya sebentar kan? saya harus menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu.” Ujarnya. Letta mengangguk kaku saja. Tidak tau harus apa. Hanes pergi meninggalkan Letta.
Diki kembali menyenggol lengan letta yang diam saja.”Loe baik baik aja kan letta? “Tanya Diki lirih.
Hanes mengangguk pelan.” baik, saya minta tolong yah Letta,.” Ujarnya.
Letta mengangguk dan pergi dari sana. Diki ditinggalkan tersenyum singkat pada Hanes. Hanes tersenyum kikuk dan Diki serta pergi dari sana mengikuti langkah kaki letta. Letta segera memasuki mobilnya. Hari sudah gelap dan Letta sangat pening.
Diki memasuki sebelah letta mengendarai mobil. Letta kembali menjalankan mobilnya menuju suatu tempat. Tempat yang jauh. Sampai dua jam dari sana. Diki lelah melirik letta.”Letta bisa nggak berenti sejenak. Gue laper.” Ujar diki.
Letta menghentikan mobil di pinggir jalan. Diki melirik letta kaget soalnya mobil diberhentikan secara mendadak ditengah tengah kecepatan tinggi. Untung ia menggunakan sabuk pengaman. Letta melirik diki dingin.” Pergi loe sana. “ ujar letta tegas,
__ADS_1
Diki kaget menatap letta nanar,.”Letta sorry. Gue nggak jadi mau makan ayok jalan lagi.” ujar Diki sedikit takut dan merasa bersalah, di selah rasa kalut letta dirinya meminta untuk makan. Seperti dirinya beban padahal dirinya yang ingin ikut.
Letta mengusap kepalanya nanar.” Beli makan terus makan di mobil aja. Gue tunggu lima belas menit soalnya perjalanan masih satu jam lagi.” tegas Letta.
Diki menatap letta berbinar.” Beneran? Tapi lalo enggak,. Enggak apa apa kok Let beneran.” Diki agak ragu bicara hal terakhir sebab dirinya benar benar lapar sejak tadi.
“Cepet sebelum gue berubah pikiran.” Ujar Letta.
Diki kalang kabut segera petgi.” Beneran yah awas loe ninggalin gue.” tegasnya. Ia segera keluar tapi kembali melirik letta lagi.” eh sorry gue lupa nggak bawa dompet. Dompet gue tinggal dimobil gue let. Bisa min;... “ ucapanya terpotong saat letta melemparkan ia dompet miliknya. Diki terkekeh pelan sebab kebiasaan letta tidka berubah. “makasih yah.” ia mengambil dua lembar uang merah dan mengembalikan dompet letta.
Letta diam menatap Diki menjauh. Diki memilih tempat penjual mie ayam dan membeli sejenak. Letta diam menatap diki yang juga membeli Sempol ayam dan es kopocokz ada Boba rasa black sugar. Lima belas menit ia benar benar kembali membawa banyak makanan.
” Gue juga beliin yang loe. Loe pasti juga laper kan. yok jalan.” Ujar diki kepada Letta.
Ketta hanya diam menjalankan mobil. Diki membuka steropom mie ayam miliknya. Memakannya penuh nikmat. “Loe mau let?”Tanya diki.
Letta mengeleng tanpa menatapnya, diki mencebik kebiasaan letta selalu saja dingin dan diam. Sebenarnya diki ingin menanyakan lagi letta tapi ia takut ditinggal dijalan seperti tadi. Jadilah Diki menghabiskan bagian miliknya lalu makan sempol ayam yang ia beli tadi.
Satu jam setelah semua habis Diki merasa mual karena kecepatan letta bawa mobil. Letta sampai di satu daerah yang benar benar polosok, mobil mereka saja beberapa kali terguncang karena melewati akar pohon. Diki hanya diam memegang tempat pegangan dimobil.
Mobil berhenti di salah satu rumah di sana, ditengah hutan, letta membuka pintunya dan diki ikut keluar. Rumah yang gelap itu sangat mengerikan, sama sekali tidak ada penerangan kecuali lampu mobil yang menyalah.”letta ini rumah siapa?”tanyanya nanar. Diki mendekati letta.
Letta masuk “ loe diem, dan pegang tangan gue.” ujar letta. Diki mengangguk memegang tangan letta erat. Ini salah stau rumah tahanan milik Ragiel,. Iya salah satunya, satunya lagi ada di rumah ragiel biasanya jika dirumah ragiel itu jika Ragiel sudah menelponnya tapi kali ini Ragiel tidak ada menelponnya sedikitpun.
__ADS_1
Letta masuk dengan tenang, saat hendak masuk diki mengeratkan pegangannya.” Nona???” Panggil orang yang ternyata berada di depan rumah ditengah kegelapan
llkkayak Diki berteriak kaget mendengar suara itu, menatap lebih tajam siapa yang memanggil Letta. Diki takut tapi penasaran.