
Sial. Dalam saat benci begini saja dirinya khawatir akan keadaan letta. Ada rasa sesak dan tak enak melihat keadaan letta jauh dari kata baik. Tapi ngomong ngomong Diki tadi baru sadar jika tadi wajah Letta banyak luka dan pucat. Ada apa, mengapa. Diki sangat cemas. Diki menggeleng mengenyahkan pikirannya.
“ Napa loe geleng geleng? Kesambet setan swalayan loe?” bahu diki ditepuk di sebelah. Ia melirik sang pelaku dalam diam, matanya terluhat cemas dan sosok yang bertanya kepadanya menernyitkan dahi heran. Wajah Diki sangat tidak enak dipandang.
Diki menggeleng pelan sedikit gugup kepada Ando.”tadi gue ketemu Letta.” Jawab Diki jujur.
Ando mendengar ucapan Diki mendatarkan wajah ,” dimana dia? Loe hajar nggak tadi ha? Mana di ague mau ikut hajar, bisa bisanya dia ninggalin Bara sama kita.” tegasnya menatap lain arah. Ia mencari dimana tempat Letta berada untuk menuntaskan rasa kekesalan kepada Letta.
Diki mengerjab pelan merasa kosong. Menatap ando yang terlihat hendak mencari letta.”Tapi, tadi dia keliatan nggak baik baik aja.” Ujar Diki pelan. Ingat wajah Letta jauh dari kata baik ada yang sulit di artikan di bilik hati miliknya. seperti kekhawatiran dan cemas?
Ando mendengar ujaran Diki menatap diki lebuh intens meminta lanjutan. Diki yang ditatap sedemikian rupa kembali bicara.”dia kayaknya habis kecelakaan deh. Muka dia banyak luka dan kakinya pincang, tadi gue sengaja nabrak bahu dia tapi diia kelihatan kesakitan gitu.” Ujar diki pelan. Iya bahu.Letta sebelumnya tidak pernah kesakitan meskipun ditabrak lebih keras dari tadi. tapi tadi Diki bahkan kaget mendengar Letta yang meringis kesakitan.
“Bagus dong. Itu mungkin aja karma buat dia yang udah nelantarin anaknya sendiri. Karma buat manusia nggak tau di untung.”Tegas ando tak berperasaan kepada Diki.”Lagian mau dia pincang, mau koma sekalipun gue nggak peduli. Kalo ketemu sama di ague bakal tetap hajar karena udha nyakitin Bara.” Tegas Ando lagi,. Raut benci kentara di wajahnya.
Diki menatap ando dalam diam, andopun mendengus memilih lagi yang ingin dia beli lain, diki memilih membayar dikaisr, saat disana antrian cukuip panjang, terlihat letta yang ikut antri bagian no tiga dan dirinya dibelakang letta. Letta diam memegang lengan supir nya dan supir terlihat memegang bahunya. Diki tidak yakin tapi Diki sangat tau perasaan tak nyaman dirinya. Kasihan dan khawatir menjadi satu, ada apa dengan Letta?
Giliran Letta yang bayar semua barang di scan. Letta diam mengeluarkan kartu miliknya. Disana ando ikut berdiri dibelakang letta.”Oh jadi bener kata loe Ki. Kalo sekarang dia kecelakaan. Sukurlah namanya juga karma., karma kan berlaku buat manusia jagat kayak dia.” Ando mengeraskan suara dirinya.
Menyindir letta. Semua karyawan menatap ando bertanya dna beberapa yang antri bahkan juga melirik ando yang julid. Diki melotot melirik Ando yang tak tau malu.,
Letta tetap diam dengan situasi yang tak menguntungkan dirinya., wajahnya tetap tenang tak terganggu, ando yang tak direspon mengepalkan tangan, menarik bahu letta kasar.” Loe..”
tapi belum Ando bicara Letta menepus tangan ando kasar menatap ando kasar. “:Gue nggak ada urusan sama loe, mending enyah loe.”tegas Letta sangat dingin. Kasir tertegun menatap keributan yang ada.
Ando mendengarnya membelalakkan mata. Ando hendak angkat bicara tapi suara Lteta lebih lantang memotong.”Jangan seolah olah kalian manusia paling bersih di dunia ini. sedari awal ague nggak pernah minta kalian buat ada di dekat ague, gue nggak pernah minta kalian jadi temen gue, sama sekali enggak, dan kalian datang sendiri sama gue., sama sekali gue nggak minta kalian buat ada di sisi gue, hidup gue. di semua sementara poros hidup gue,” Tegas Letta mengepalkan tangan menatap ando yang menatap letta memanas. Matanya merah karena emosi.
Tatapan letta lagi lagi seakin menajam dan tertuju pada DIki dan Ando secara bergantian.
__ADS_1
“jadi urus aja hidup kalian masing masing jangan temuin gue, jangan sok kenal sama gue atau bahkan nyapa gue karena gue sama sekali nggak sudi punya temen kayak kalian. Bodoh. Idiot mau aja gue manfaatin. Hahaha. Kalian bodoh.” Tegas Letta dihadapan ando.
Plak. Wajah Letta ditampat oleh ando. Ando mengepalkan tangan seusai menampar Letta. Ando kehilangan kata kata, matanya bahkan berair karena mendengar ucapan letta.” Loe pikir gue sudi jadi temen loe ha? Enggak, manusia munafik sialan. Loe enggak lebih dari rongsokan. Pantesan loe ngak ada yang sayang. Bahkan kakak kandung loe aja buang loe haha. Loe emangh pantes dibuang.” Balas Ando menaytap letta. Bibirnya bergetar dan mata yang meneteskan air mata.
Supir menarik tubuh Letta menjauh menatap ando tajam. Tapi letta menahan tanganya menatap ando tajam. Ando menatap letta sekain marah.”Loe emang pantes sendiri di dunia ini, nggak ada yang peduli. Loe tau kenapa gue mau jadi temen loe dulu kenapa? Itu karena gue kasihan sama loe. Iya gue kasihan haha, sendirian, nggak ada temen, nggak ada keluarga, saudara punya tapi di buang, nggak ada yang mau deket. Gue cuma sekedar kasihan nggak lebih. Nggak lebih. “ tegas ando mendorong bahu Letta dnegan telunjuknya.,
Diki melihat Letta ikut dingin. Menarik tangan Ando yang mengepalkan tangan.
”mas. mbak jangan rebut di sini.”
Satpam dna poerugas pegawai disana menahan keributan., ando menatap lain arah memberikan barang miliknya pada diki. Dan letta memilih diam menghela nafas. melangkah keluar dari pusat perbelanjaan. Supir nya ,membayar secara cepat dan menyusul kearah mobil,
Ando? Ia diam menatap lain arah, tapi air matanya tetap jatuh. Ando sendiri tidak tau mengapa dirinya menangis, tapi perkataan Letta sangat menyakiti dirinya. Ditambah apa yang dirinya katakana tadi seperti sangat jahat. Apa yang dirinya katakana pada Letta sangat jahat tapi Ando rasa itu pantas Letta dapatkan.
Diki? Ia membayar dan terdiam saja, melirik ando yang masih menenangkan diri. Mereka memasuki mobil dan bergega pergi. Diki menghela nafas.” loe agak keterlaluan tadi Do.”Ujarnya.
Letta menatap jalanan dingin, aura di mobil sangat mencekam, supir bahkan hanya bisa diam melirik sesekali spion mobil. Sudut bibir Letta kembali terluka karena tamparan. Letta diam tak berekspresi apapun, sulit ditebak oleh siapapun. Tapi supir yakin jika ia sedang bersedih. Letta kembali menghela nafas. dirinya ditolak opleh siapapun, sendirian taka da teman, bahkan kakaknya menolak dirinya? Haha benar. Tapi itu ketentuan dirinya dilahirkan. Pilihannya, itu demi balas dendamnya.
Letta memasuki apartemennya dengan dingin, supir mengantarkan barangnya dan bergegas pergi. Letta memghela nafas menatap supir pergi. Letta hendak menutup pintu tapi pintu tak tertutup, seseorang menahan pintu ditutup, disana ada Dipta yang menatapnya datar. Tayapannya bercampur sendu menatap letta. Letta diam menatap Dipta yang menatapnya.
Dipta masuk tanpa disuruh. Letta menahan nya masuk.”keluar..!” suara Letta sangat dingin.
Dipta sama sekali tak mendengar, ia tetap amsuk dan menatap smeua ruangan.,” gue mau numpang soalnya gue lupa password kamar apartemen gue. “ ujar dipta menatap lain arah bodoh.
Letta mendatarkan tatapannya.”gue nggak peduli.”
“tadi gue bantuin loe yah. Jadi loe harus balas lah. Yakali loe nggak mau balas. “ ujar Diipta mendengus melirik sudut bibir letta yang berdarah.
__ADS_1
Dipta diam menatap sembarang arah.,” darah di bibir loe netes. Gue agak jijik liatnya. ‘ujar dipta mengeluarkan kotak P3K yang ia bawa. Letta terdiam. Mengapa Diipta ,membawa P3K?
“Jangan GR. Gue bawa soalnya tadi gue juga luka. Nih liat? Tapi liat darah loe lebih banyak gue jijik. Sini gue bantuin. Males banget gue liat muka loe.”ujarnya ketus mmbantu Letta duduk. Letta diam menatapnya malas. Apa apaan dia ini?
Letta tak ambil tindakan, ia memilih menaruh barang barangnya kedalam kulkas meninggalkan Dipta yang menatap Letta sulit di artikan. Tatapannya terus mengukuti Letta yang berjalkan pincang, menuju kompor. Itu kompor yang dulu Diki beli, masih sangat baru. Letta yang mengingatnya menggeleng kepala. Letta mengeluarkan sayur sawi yang tadi dirinya beli, ia pisah dan tak ia potong. Hanya di cuci. Memasak air dan mulai memasak mie. Letta rindu masakan ini.
Dipta melihatnya dalam diam, sangat dingin. Kenapa letta sangat keras kepala? Apa susahnya meminta bantuan kepada dirinya atau bahkan orang lain? Dipta yakin jika Letta pasti tau dirinya butuh bantuan orang lain, tapi mengapa dia sangat keras pada dirinya sendiri, seakan tak membiarkan siapapun memberi cela untuk luka yang akan menggerogotinya.
Lihatlah, bagaimana satu yangan yang tak bisa memotong, itu bahkan tangan kanan, membuka bungkus mie, dan sebagainya. Letta sangat kesulitan bahkan beberapa kali pula gunting yang ia pegang jatuh. Dipta sangat geram, sangat marah. Tapi ia hanya bisa diam menikmati pemandangan yang menyakitkan di depan.
Bahkan dipta tak bisa menghalau air mata yang terjatuh, melihat letta yang makan menggunakan tangan kiri, sesekali dirinya tak bisa makan dan membenarkan rambutnya yang tak ia ikat seperti biasa, dia tak bisa mengikat rambutnya. Air mata Dipta jatuh entah mengapa melihat letta hidup begini, dirinya menjadi sedih dan juga iba, bagaimana letta menjalani hidupnya sampai hati miliknya sekeras batu?
Tadi Dipta melihat semuanya, dimana Leta ribut dengan teman lamanya di Alfamart, dia membawa kotak P3K karena tau Letta butuh itu, sengaja melukai tangannya sendiri untuk menjadi alasan diri. Dipta tidak tau mengapa dia melakukan hal sebodoh ini padahal Letta sudah menekan dirinya agar tidak mempedulikan dirinya.
Dipta mengusap air mata miliknya kasar, menuju dapur dan mengambil minuman di kulkas yang Letta beli tadi tanpa bicara apapun. Letta juga terlihat diam saja. Dipta juga memsak mie dan makan di hadapan letta. Letta belum selesai makan karena kesusahan makan menggunakan tangan kiri. Dipta makan dnegan lahap tanpa melihat letta.
Letta melihat tingkah Dipta hanya diam tak biara apapun, menumpang, makan tanpa izin. Lelaki di depanya sangat tidak sopan. Letta hanya diam makan tanpa bersuara. Dipta melirik letta tapi dia terlihat diam tak banyak bicara.
Letta menyesaikan makannya, mencuci piring kotoor miliknya pelan. Dipta makin kesal melihat letta yang bahkan membasahi tangan kirinya yang terluka, tidak juga mau minta tolong. Seberapa keras hati letta? Letta menyesaikan tugasnya dan memasuki kamar. Malam ini makanannya cukup nikmat karena sudah hampir satu tahun dirinya tak makan mie. Sebab letta suka mie, jika dirinya suka ia harus menjauhinya, hal.. kebiasaan itu bahkan berlanjut pada makanan letta.
Menyapa? Sebab Letta sadar kebiasana dimulai dari hal kecil. Dipta menarik nafas dalam saat letta menjauh. Ia mendorong mie miliknya menjauh,., melirik Letta yang masih berjalan menjauh ke kamar miliknya. Dipta menghela nafas. entah mengapa sudut hatinya seperti dikoyak, Letta ada apa. Apa yang kamu lewatkan sampai kamu sekeras ini.
Ada banyak orang yang suka kesunyian, menyukai kesendirian dan ketenangan. Tapi tidak ada yang menyukai kesepian.
Ada banyak yang egois dan juga sombong. Tapi semua orang yang egois dan sombong juga sadar jika hidup mereka membutuhkan orang lain.
Bukankah jika menjadi Letta akan sangat aneh? hidup tanpa ingin di sayang di khawatir kan dan dipedulikan,?
__ADS_1