
Wajah Samuel memerah akibat cercahan dan gossip dari ibu ibu di tengah ruangan, suara mereka sangat keras saat bergosip. Tanpa memikirkan bagaimana perasaan bagi pendengar. Rasa panas menyahut nyahut dirongga dada Samuel, hendka memaki dan memukul semua orang disana. tapi kemarannya lebih berpusat pada Jesika saat ini. mengapa cucunya terkenal sangat bodoh dan memiliki kekurangan begitu? Samuel sama sekali tidak tau jika Jesika memiliki penyakit buta warna.
Itu penyakitkan???
Apa kekurangan? Tapi dua duanya itu sangat membuat Samuel malu, setidaknya jika tidak pintar janganlah bodoh sampai sampai di hujat dan juga peringkat terakhir.
" Kamu nggak bisa nulis dan baca??" Samuel menatap Jesika yang dari tadi diam dingin dan juga datar. Ia baru tau fakta ini, selama ini ia selalu diluar dan bekerja mana tau dia perkembangan cucunya, apalagi dua bulan belakangan ini Jastin masuk penjara bersama Agatha, ia fokus untuk membebaskan anaknya dari sana.
Jesika yang ditanya menunduk gak berani menatap Samuel, tangannya meremas pelan ujung rok miliknya.
" Jawab!!!" Gertak Samuel pelan agar tidak ada yang mendengar apa yang ia tanyakan.
Jesika menutup mata takut, takut kena marah Samuel. " Bi-bisa tap tapi tidak lancar kek." Jawabnya lirih dan gagap.
Samuel mendengus. " Bilang aja nggak usah.. nggak usah bertele-tele!!!"
Jesika menatap kakeknya lirih, ia bisa membaca tapi tidak lancar hanya itu batinnya. tapi jika dibandingkan dengan Bara ia jauh berbeda. ibaratkan bara memiliki seribu ia hanya mempunyai angka satu.
Samuel mengepalkan tangan marah.
Sosok yang ditanya sedari tadi diam meremas tangan sendiri, sangat takut jika diirinya akan kena marah oleh kakek dan neneknya nanti. Dirinya terkenal sangat bodoh dan juga tidak memiliki kemampuan, padahal ia sudah belajar semaksimal mungkin. Apa mungkin karena IQ nya yang jauh dibawa rata rata itu?
Tangan jesika saling bertarut malu melirik beberapa orang,. ia merasa aura kakeknya saat ini sangat menguar menandakan dirinya marah. Jesika merasa degung jantungnya mengeras dan juga berlaju sangat cepat. Ia sangat takut.
“Baik siswa siswi dan ibu bapak wali murid, terimakasih sudah hadiir acara pengambilan raport hari ini!!” semua perhatian sekarang di curi oleh wali kelas didepan. Wanita berusia sekutrar 34tahun tersenyum ramah pada semua orang di dalam sana, harus ramah sebab kehidupan karirnya tergantung mereka yang ada di dalam sini.
Apalagi gaji di sini itu tiga kali lipat dari gaji guru biasa diluar sana. Ia tidak mau rugi.
Ia tersenyum menepuk tangan.” Oke... kita hari ini langsung saja yah kayaknya pembagian raport dan katanya kepala sekolah langsung loh yang bakal bagikan hadiah bagi sang pemilik juara... Karena katanya di kelas ini ada yang juara pararel semester ini!!!"
__ADS_1
suara anak anak heboh dan bertepuk tangan berfikir siapakah yang di maksud, tapi rata rata mereka tau siapa yang di maksud tak lain dan gak bukan adalah anak pintar di kelas ini .
"semua wali murid sudah datang semua kan?” Tanyanya pada semua murid, menyakinkan menatap semua yang ada disana.
“Sudah..!!!” seru beberapa murid dan walinya.
Tapi tatapannya tertutu pada Bara yang diam sendiri di bangku tanpa ada yang menemaninya. Bu wali kelas menyatuhkan alisnya menatap Bara lebih dekat. Bara terlihat tenang dan damai. Bu wali berdehem sejenak.” Hemm nak Bara? Walinya tidak ada yang menemani atau belum sampai yah nak?”Tanyanya pelan kepada bara merasa sedikit prihatin,. Hmmm sebab ini sudah diulur selama tiga puluh menit sedari tadi, apa wali zang anak tidak datang?
Bara mengerjab pelan, menatap bu guru menggeleng.” Harusnya bapak Bambang tapi katanya anaknya juga bagi raport sedangkan istrinya lagi ngurus ibunya lagi sakit nggak bisa di tinggal. Moms sedang pergi bu. Jadi tidak ada yang menemani saya.,” Ujar Bara. Tenggorokannya terasa kering dan menyempit. Ini sedikit sesak untuk dibicarakan olehnya.
Bu guru menatap Bara mengangguk kaku.” Tapi Bara... “ ia menggaruk pipinya pelan.”Tidak bisa ambil raport jika tidak ada wali nya. Takutnya jika ini diringankan keberikutnya orang tua wali akan lalai terhadap peraturan sekolah yang ada, apalagi dengan adanya peraturan ini bertujuan agar orang tua anak didik lebih memperhatikan dan juga mendukung semangat juang anak anak. Kami sangat prihatin nak.”ia mengerjab sedikit tak enak pada Bara yang terlihat diam dan murung.
" Tapi moms lagi kerja bukan mengabaikan Bara... Bara tidak apa apa ambil sendiri.." Ujar Bara tegas, apa-apaan tatapan mereka yang mengasihani kan dirinya? dirinya punya ibu yang perhatian tapi memang waktunya saja yang kurang tepat. ibunya sedang sibuk... iya begitu..
" Tapi Bara... maksud ibu bukan bicara begitu, kami hanya bicara peraturan. apakah ibu kamu tidak bisa menunda? atau apakah kamu punya ayah, kakek atau nenek yang ke sini untuk mewakili ibu kamu,? kan wali bukan hanya tertuju kepada ibu saja." Jelas wali kelas lembut beserta gugup. Siapa yang tidak gugup jika yang ia ingatkan ini adalah anak konglomerat.
Bara tampak bingung ingin menjawab, Saat Bara ingin angkat bicara suara Samuel lebih mendahului.” Dia.. saya walinya..” Samuel mendekati Bara meninggalkan Jesika. Jesika menatap kakeknya nanar saat meninggalkannya. Semua orang ikut menatap Samuel yanhg melangkah mendekati Bara dan duduk di kursinya. Berdehem tak melirik Jesika.”Dia cucu saya... dia cucu angkat saya, salah satu anak dari karyawan saya dan ibunya sedang menjalankan tugas yang saya berikan otomatis dia jadi tanggung jawab saya.” Ujar Samuel berdehem lagi. bara diam melirik Samuel dnegan tak percaya.
Samuel mendengarnya berdehem.”kamu disana saja dulu Jesika. Kakek akan ajdi wali kalian.”ujar Samuel. Bibir Jesika terkatup mengerjab menatap Samuel nanar. Samuel tersenyum pada Bara lalu mengusap kepalanya sayang. Bara diam mengerjab menatap Samuel.
Wali kelas yang tak tau bicara apapun menghela nafas.”Biak jika begitu kita akan mulai acaraanya,, dimulai dari juara ketiga sampai seterusnya..” Ujarnya. Mengalihkan tatapans emua wali dan murid pada Bara. Bara hanya diam dalam dekapan Samuel yang terasa risih. Tapi Bara tetap diiam selagi ini bukan ancaman. Samuel hanya diam menatap kedepan datar
“Oke.. juara ketiga kita di raih oleh anak kita Vebrina Alaisa... silahkan buat Vebri kedepan sayang..” wali kelas menyuarakan dan beberapa murid dan wali bertepuk tangan mengapresiasi kan kepada sang anak perempuan tersebut. Lalu saat Vebri kedepan dan dijejerkan didekat guru.
Wali kelas kembali bicara. “ hemmm juara kedua ada juga dengan diraih anak kita bernama Yuli Diana.. silahkan Yuli kedepan.” Tepukan kembali meriah kepada anak gendut yang maju kedepan. Anak dari Kiem.
” Yaampun anak saya itu ibu ibu..!” Kiem melambai kan tangan heboh pada anaknya. Yuli melotot melihat ibunya yang memalukannya. Kiem tak tau hanya tersenyum bangga melambaikan tangan pada sang anak." Nak ibu pinter banget...!"
Wali kelas terkekeh dan berdehem kembali bicara.” Juara pertama kita diraih oleh Aldebara Putr R. Dipersilahkan buat nak Bara..” ujar dari guru. Bara yang dipanggil tersenyum melirik Samuel. Samuel tersneyum bangga padanya dan bara maju kedepan.
__ADS_1
“ dan kabar bahagianya. Nak bara adalah juara pararel ditahun ini. mengalahkan beberapa kakak tingkatnya, dan apresiasinya dia melakukan akselerasi untuk naik tingkah lebih cepat...Dan hari ini juga penyerahan perlombaan yang dimenangkan kemarin. Selamat yah nak Bara.! “
Tepuk tangan semakin membahana disana. dengan Bara yang maju dengan wajah datarnya menatap semua orang. guru tersenyum memberikan raport dan juga hadiah, bersama dengan piala untuk bara. Bara memenangkan tiga oiala besar secara bersamaan, “Buat wali Bara silahkan maju untuk penyerahan hadiah anak berprestasi., silahkan pak Samuel.”
Samuel mendengarnya mengangguk maju dengan gagah, mengulum senyum bangga melihat banyak tatapan menuju padanya kagum. Menerima hadiah yang didapatkan oleh Bara. Berjabat tangan pada guru dan kepala sekolah yang hadir dikelas untuk mengapresiasikan Bara. Samuel memeluk baju Bara tersenyum menatap banyak orang yang memuji Bara.
“Wohhh.. cucunya Samuel jenius toh. Nggak kayak cucu kandung nya yang bodoh.” Beberapa bisik mengangguk telinga.
“ beruntung banget Samuel memiliki cucu begitu pintar. Kalo aku tau dari awal. Aku duluan yang bakal bawa anak itu jadi anak aku..” ujar yang lain.
Samuel tersenyum membawa Bara kembali duduk. Bara mengangguk tersenyum bahagia melihat piala yang ia bawa, piala besar besar itu sangat indah dan menyenangkan. Sayang sekali ibunya tidak datang. Samuel membuka raport bara dan tersenyum bangga melirik Bara. Entah mengapa rasanya sangat bangga. Ilia Bara semuanya itu sempurna, bayangkan raport anak ini semua berisi nilai seratus, dan hanya satu nilainya hanya 9,4 dan itu adalah bahasa mandarin. Ini luar biasa.
Sebenarnya kenapa Bara nilainya kurang bagus karena bahasa mandarin itu bukan bahasa yang Bara kenal. Kalian taulah bahas mandarin itu jarang ditemui apalagi ini sekolah kelas atas jadi banyak bahasa yang dipelajari.
Bara tersenyum sinis dalam batin, semua memujinya padahal dulu menendangnya tak mau memungutnya,
Samuel menepuk kepala Bara.”Kau anak pintar..” Bisiknya.
Jesika memilin tanganya sendiri melihat kakkenya yang memeluk Bara tanpa ada di sisinya. Haha ia tersneyum miris, menahan laju air mata yang menggelinding tanpa dikendalikan. Kakeknya benar benar datang tapi untuk orang lain bukan untuk dirinya. Kakeknya datang untuk cucunya yang lain.
“Jesika Hotman...” nama jesika dipanggil.
Jesika mendongak menatap guru. Jesika mengerjab melirik Samuel yang juga mendatap kedepan. Guru terlihat tersenyum paksa.” Nanti keruangan ibu yah nak, dan untuk wali Jesika juga ikut.. “ jesika mengangguk sembari mengambil raport.
Nama jesika dipanggil tepat pembagian terakhir itu artinya dia kembali memasuki peringkat terakhir.. jesika membuka raportnya gemetar. Ia tidak bisa membaca jelas. Mengerjab pelan menatap angka angka dihadapannya buram.
" Teitideadak. N,ana,ik ke,ekeelalas.” Gumam Jesika merangkai bacaannya. Disaat semua anak sudha tidkya mengeja dia masih mengeja. Jesika mengerjab pelan melirik semua orang yang menatapnya.
“Kamu tidak naik kelas Jes?” sorakan kembali terdengar menatap jesika prihatin. Jesika meneguk air liurnya mengerjab pelan.
__ADS_1
Dia tidak naik kelas?
matanya memanas dan menumpahkan air mata. Diujung sana ada Samuel yang menatap Jesika penuh kebencian. Hari ini, dia dipermalukan oleh cucunya. dan kedepannya akan Samuel beri pelajaran untuk anak itu.