
Bambang mengangguk melirik istrinya tersenyum lebar. Mereka mengambil nasi masing masing, tak lupa istri Bambang menaruh nasi dipiring milik Letta, tersenyum lalu menaruh lauk, dan lauk sayur selada ,.
Letta diam menatap sayur itu, sayur yang paling ia sukai sejak dulu, lalu piringnya juga di isi bakso kecap dan juga ayam goreng. Letta jadi lupa kapan terakhir ia makan sayur selada?
“Makan nona. Hehe maaf jilka tidak enak, sebab ini masakan rumahan, saya yang masak.”Istri Bambang menggumam tak enak pada Letta, secara Letta orang kaya, pasti sering makan makanan enak, tidak seperti masakan dirinya yang hanya masakan rumahan.
Letta mengangguk menatap istri Bambang, “Nama kamu siapa?”Tanya Letta.
Istri Bambang menatap Letta kaget.”Astaga. aku belum mengenalkan diri yah? maaf, namaku Anindia Rahmawati, nona bisa panggil Nindi saja, lalu ini anak saya namanya Egi setiawan, anda bisa panggil Egi.” Ujarnya mengenalkan diri kepada Letta.
Letta mengangguk mendengarnya. Nindi dan Egi mulai makan meksi gugup, sangat gugup karena aura Letta bukan main main, aura mahal miliknya tidak bisa diabaikan meksipun ia sangat santai. Bara diam disana melirk Letta.
Letta yang dilirik pun melirik Bara dan menyuapi bakso yang hendak ia makan. Bara tersenyum malu memakannya.”Moms enggak buang Bara kan? nasi Bara habis.”Bara menunjukan piring miliknya yang sudah kosong, hanya bekas saus saja lagi.
Letta menatapnya tersneyum tipis. Mengusap kepala Bara.” Moms tidak akan membuang Bara. “Bisiknya. Bara menggigit bibir bawah miliknya menahan derai air mata. Tak bisa membayangkan jika suatu hari nanti Letta membuangnya,. Kepada siapa lagi ia mengaduh? Sudah beberapa bulan bersama Letta membuat ia hidup enak seperti impiannya, bisakah Bara egois? Ia tak lagi mau hidup sengaarah seperti dulu lagi, miskin, di caci maki, di tendang dan di buang. Bara tidak mau.
Letta mencoba menelan makannya, enak, tapi rasanya sangat sepat dilidah, semua makanan sama saja rasanya. Tidak ingin masuk, biasanya ini terjadi selama satu minggu.
Amisnya darah manusia sangat lama hilangnya, apalagi Letta bukan psikopat atau kanibal. Letta normal, masih memiliki sisi manusiawi yang waras.
Letta tidak bisa mengendalikan diri apalagi saat memakan ayam atau bakso, ia hanya makan sayur selada dua suap dan menjauhkan makannya terasa mual.
Nindi menatap makanan yang ingin dimuntah Letta tetapi tetap di teguk dengan meminum air putih tertegun sejenak, merasa tak enak, apakah makannya tak enak dan tak cocok untuk nona di hadapanya ini.
Leta mengambil tisu mengusap bibirnya tak enak. Menatap Istri Bambang dan Bambang yang diam menatap Letta tak enak dipandang.
Egipun juga mnenatap heran.”Tante kenapa? Makanan ibu enak kok, jangan gitu.” Lirih Egi.
Letta diam memegang dadanya sejenak, merasa air mata nya kembali membasahi mata, bukan karena menangis, tapi efek mual yang sangat menguasi dirinya.”Makanan ibumu enak, tapi tubuhku kurang enak badan, jadi sedikit mual makan apapun, termasuk makanan enak ibumu. Maaf.”Bisik Letta pelan.
__ADS_1
Bambang dan Nindi merasa tak enak mendengar Letta karena sudah berprasangka buruk. Nindi terlihat berdiri dan menatapo Letta.”Kamu sakit??? Butuh air hangat?? Aku buatkan teh hangat dan sup saja untuk nona.” Ujarnya khawatir. Terlihat mendekati Letta tak berani menyentuh.
Letta mengangkat tangannya. Bangkit dan berkata.”Tak usah., kamu bisa tidur di kamar sebelah, aku akan istirahat saja.”Letta merasa terenyah melihat mata tulus keibuan itu, mengingatkan pada ibunya. Aura Letta muram meningalkan tempat makan. Nindi., Egi dan Bambang menatap Letta tak enak, apakah Letta tidak suka kepada istrinya karena cemburu? Tidak tidak. Bukan itu, tapi kenapa Letta terlihat memberi batasan yang cukup tinggi pada mereka, apa karena mereka orang miskin?
Bara menatap mereka tak enak.”Moms sedang berduka, baru kehilangan temannya, teman moms baru saja meningeal kemarin sore. “Jelas Bara. Ketiganya diam menatap Bara tak enak, Bara melompat dan pergi meninggalkan mereka.
Bambang menatap istri dan anaknya mengangkat bahu.”Dia memang dingin, jadi tidak udaj dipikirkan, ayo makan lagi setelah itu kita tidur.”Ujarnya pelan mengajak istri dan anaknya tidur.
Mereka mengangguk paham dan memilih tidur. Beberapa kali Nindi menolak untuk menginap sebab tak enak, tapi Bambang memaksa dengan dalih Kapan lagi tidur enak dikasur empuk seperti hotel secara gratis kan? Apalagi sudah sangat larut malam, mereka tidak punya kendaraan.
...----------------...
Pagi hari Letta bangun seperti biasa, tapi pagi ini Letta Letta merasa berbeda, ada kesibukan dari keluarga Bambang yang membersihkan rumah, Letta diam saja membawa Bara yang juga sudah siap dengan baju sekolah miliknya. Duduk dimeja makan yang sudah di siapkan sarapan oleh Nindi. Letta diam sejenak dan menatap Bambang yang juga sudah berdiri disana. Bara mengambil satu roti yang sudah ditaru slay.
Letta mengeluarkan sesatu di dalam kantung jaket miliknya, memberikan pada Bambang, bambang diam di sisinya Nindi dan Egi.” Itu adalah gaji awalmu karena sudah menjaga anakku.” Ujar Letta.
Bambang tertegun menerima dan segera membuka amplop, matanya menatap kaget amplop yang berisi cek sepuluh juta, ia menatap Letta lagi.” Ini nggak kelebihan satu nolnya?”Tanyanya gugup. Nindi bahkan ikut kaget saat melihat nominal yang ada di cek, suaminya hanya bekerja dua hari tapi gajinya setara dengan tiga bulan bekerja biasa.
Bambang mengangguk melirik Nindi tersenyum lebar dan anaknya yang ikut menatap ayahnya senang. "Siap nona, saya pasti akan menjaga tuan muda sebisa saya. Dan mengenai istri dan anak saya, kami punya rumah kecil, meski tidak sebesar dan semewah apartemen nona tapi sudah cukup kok untuk keluaarga sederhana ku hehe. Jadi maaf kami tidak bisa disini meskipun sangat nyaman.”Bisik Bambang mengerucutkan bibirnya miris. Nindi menyubit perut suaminya.
Bambang meringis meremas perut yang cubit." Sakit ayang...." Nindi mencebik bibitnya.
Letta mengangguk, bangkit.” Sarapanlah dulu, aku akan pergi kerumah Carmon duluan, nanti sekolah kau langsung antarkan Bara dan Barang barangnya yang sudah aku siapkan.”Ujar Letta bangkit dari duduknya. Bara yang sedari tadi mendengar memegang tangan Letta.”Moms enggak sarapan dulu?”Tanyanya mencicit.
Letta menggeleng.,”Kau sarapan dengan mereka dulu. Moms ada urusan.”Ujar Letta mengusap kepala Bara sayang.” Sekolah yang giat jangan nakal. Mons duluan..,” Letta menatap Bmabang dan Nindi.”Aku duluan.” Kakinya melangkah meninggalkan Bambang dan Nindi yang mengangguk menatapnya menjauh.
Tapi saat Letta didekat Nindi, tangannya disentu Nindi tapi segera di tepian oleh Letta, Terlihat Nindi menatap Letta dengan tatapan sendu., memberi kotak berwarna Biru.,”Aku buatkan sub jahe, katanya kau mual dan tisak bisa makan tadi malam, aku sangat khawatir. “Ujarnya pelan menatap letta.
Letta menatap Nindi, dalam seakan menyelam ketulusan dan kebohongan, tapi mata itu sangat murni, mengingatkan pada ibu kandungnya. Letta mendorong kotak makan itu pelan dan berkata.”Tidak perlu repot. Lain kali tidak usah memasak untukku,” Balas Letta menolak Nindi terlihat menggeleng menahan Letta.
__ADS_1
”ini enak kok. Aku jamin nona. Biasanya jika mual aku makan ini dan akan sembuh, jadi tolong terima yah.” Ujar Nindi memaksa. Memegang tangan Letta agar menerima pemberiannya.
Letta menatap Nindi tajam dan dingin. Bambang ketar ketir melihat istri nya yang baik. Letta menatap Bambang dengan tajam berkata.” Aku tidak suka makan makanan orang asing. Jadi jangan pernah memasak untuk ku atau mendekatiku. Lakukan tugas kalian saja..!!!” Tegas Letta menghempas tangan Nindi yang menyentuh nya lagi. Nindi dan Bambang tersentak mendengar suara Letta yang tegas dan juga keras.
Nindi maju ,menatap punggung Letta menjauh.” Maafkan saya nona, tapi saya tulus,, jika suatu hari ingin membutuhkanku nona bisa datang...” Tegasnya. Letta berdecih meninggalkan ruangan. Nindi meremas tangan suaminya. Bambang mengusap punggung istrinya. Egi? Ia mengepalkan tangan menatap penghinaan yang dibuat Letta, mendelik menatap Bara yang makan dalam diam, " Udh nggak apa apa..." Bisik Bambang menguatkan istri yang terlihat ingin menangis.
Bara diam merasa makanan yang ia makan hambar, biasnaya pagi ini akan heboh ulah teman teman ibunya, mereka semua akan menyapanya dengan baik, tapi sekarang Letta malah terlihat mnjauh darinya. Bara mengepalkan tangan, ia harus menjadi anak baik agar Letta tak membuangnya dna bangga memiliki anak seperti dirinya. Iya harus..!!!
Di sisi lain. Letta diam menatap jalanan datar, semuanya menyesakkan, lagi lagi ia harus mendahuli nyawa orang lain, rasanya sangat merasa bersalah melihat tatapan lembut dan tulus itu redup, ia bisa tebak sesungguhnya Nindi ingin menangis, wanita lembut mudah menangis. Tapi Letta tau itu yang terbaik. Letta tak akan membiarkan manusia baik mati sia sia karerna dirinya
“Kata mu kau pulang tadi malam? Kenapa baru pagi ini?”Tanya Carmon saat Letta memasuki kamarnya. Carmon mendengus marah.
Semalaman tak bisa tidur menunggu Letta. Carmon tidak ingin menunggu tetapi tubuhnya bereaksi dengan sendirinya, jika ada suara sedikit saja ia akan bangun menduga itu Letta. Tapi sampai subuh Letta tak juga pulang membuat ia sangat marah.
Letta yang baru saja sampai menatap Carmon dingin.”Tadi anakku harus ku siapkan peralatannya ke sini. Lagipula perjanjiannya itu aku bisa pulang saat tugasku selesai.” Tegas Letta tak senang. Carmon mendengus mentap Letta,.
Duduk memakan bubur miliknya karena makanya sangat keras tak bisa ia telan., nasi saja tidak bisa.”Kali ini aku maafkan, tapi tidak untuk berikutnya. Letta kau itu bodyguardku harusnya selalu ada di sampingku, kau itu menjawa nyawa seseorang.,” Tegas Cramon.
Letta berdehem mengangguk, Carmon masih menelan susah payah. Menatap Letta.” Kau sudah makan?”Tanya Carmon gugup.
Letta menggeleng.” Perut saya kurang enak pagi ini, jadi lebih baik nanti siang saja.” Jawab Letta jujur.
Carmomn terdiam, berhenti menelan menatap Letta penasaran. “kau merasa muall? Pusing dan tak enak badan?”Tanyanya. hampir berbisik suara Carmon. Tapi karena pendengaran Letta cukup baik, ia masih bisa mendengarnya,
Letta mengangguk.”Iya.” Letta menjwab jujur.
Carmon menelan ludah sendiri, merasa ini lebuh sulit dan lebiih sakit ia rasakan, menatap Letta cemas. Apakah Letta benar benar mengandung anaknya? Dengan semua ciri ciri yang ia terima, itu sangat sangat membuktikan Letta sedang mengandung.
Bulu kuduk Carmin tiba tiba merinding, membayangkan reaksi Letta bagaimana jika ia tau jika ia hamil anak dirinya? Apakah ia akan teta hidup di hari berikutnya? Atau Letta akan membunuh anak dirinya dalam Rahimnya?
__ADS_1
Tapi kenapa pertanyaan yang terakhir sangat tidak mengenakkan di pikirkan oleh Carmon, padahal selama ini ia sering melakukannya pada pacar pacarnya dulu. Tapi untuk anak yang dikandung Letta, rasanya taangat berat.
Caron menatap perit Letta, memfokuskan matanya, sebelum terlihat. Jadi ia akan menjadi ayah? Carmon terkekeh geli dalam batin.