Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
Ribut


__ADS_3

Putra menatap letta melotot.”Gimana nggak luka? itu ayang udah banyak banget darah loh. Ayang ngak bilang kalo punggung ayang terluka, pasti gara gara ayang nggak bisa diem. Kan udah putra bilang diem aja biar putra bantuin ayang., ayang sih nggak denger putra banget. Nakal banget.”Putra bak emak emak yang memarahi anaknya.


Lketta berdehem canggumng, kali ini tatapan putra persis peerti ibu ibu dengan kedua tangan berada di sisi kanan dan kiri pinggangnya dan dihadapannya Letta adalah anak yang nakal. Letta menggaruk pelipisnya gatal.


”jangan digaruk. Ini luka tauk. Kalo berdarah juga gimana?”


Tangan letta ditahan oleh Putra pelan saat hendak menggaruk kasar pelipis nya. Letta lupa jika dipelipisnya ada luka yang masih diberi pelaster, pelipisnya terluka..


Letta jadi bingung ingin bilang apa pada Putra. Putra terlihat menatap letta garang,. Saat Putra hendka memanggilkan dokter ia menahan tangan Putra. Putra melotot menatap Letta.”apa lagi? nanti luka ayang infeksi loh kalo ngak ditanganin.”Ujarnya tak senang.


Letta mengeleng pelan, wajah Letta sudah memerah.”Itu, hemmm itu bukan darah luka, tapi karena gue lagi datang bulan.” Letta mencicit,. Baru kali ini dirinya malu, sangat malu sampai tak tau lagi menaruh wajahnya dimana. Kali ini sangat memalukan.


Putra mendengarnya menatap Letta cengo.”datang bulan? Bulan datang gimana ceritanya?”tanyanya polos. Letta menatap Putra datar, wajah masih memerah tapi masa dirinya harus bilang jika dirinya haid. Iya Haid dan menjelaskannya dengan lelaki?


Apa Putra sebodoh itu sampai tidak paham apa yang Letta maksud?


“Kamu belahar biologi nggak si di sekolah?”Tanya Letta tak senang.


Putra mengangguk pelan,” Iya lah, meskipun Ayang putra ini anak IPS tapi ada kok. “Tegasnya mengingat ngingat apa yang dipelajari nya saat belajar biologi. Iya benar ia memang belajar biologi tapi tidak secara keseluruhan.


Letta menghela nafas. anak prik ini.” gue Haid, datang bulan biasa cewek rasain gitu loh,..” ujar letta tegas,. Menghilang rasa gugupnuya.”dan loe, nggak usah panggil dokter tapi loe beli aja pembalut dan bantuin gue ganti seprai. “ Letta tidak punya pilihan lain, jika menyuruh suster menggantikan seprai, apa kata mereka nanti, dirinya tidak nyaman dan tambah malu.


Putra maish loading.”Haid yang berdarah?” ia menunjukan arah milik pribadi milik Letta.


Melotot benar saja ada warna merah yang menyebar. Bug.. “ Bocah sialan.. Mata loe..” Letta melempar putra dnegan bantal karena merasda dilecehkan oleh Putra.. Ia menutupi bagian bawah tubuhnya menjauh dari Putra.


Putra meringis memegang kepalanya yang terhantam bantal, menatap letta merengut.”Kan putra nggak tau ayang. Khilaf dikit.”Ujarnya memanyunkan mukanya.


“Nggak usah sok polos loe, ujur segede loe tau banget gue isi otaknya. Kotor semua nggak usah sok lugu.”Tegas Letta.

__ADS_1


Putra malah cengengesan.” Nggak yah. ayang fitnah.”ujarnya menggaruk tengkuknya.


“ Pergi sana. loe harus beliin gue pembalut sekarang. “ujar letta tegas. Malas memperpanjang masalah.


Putra mengangguk pelan. melirik letta sejenak.”mau yang pakek sayap atau enggak?”Tanya Putra pelan.


Letta mengernyitkan dahi. “ yang panjang dan bersayap.” Ujar letta,


Putra mengangguk.”oke ayang. Sepuluh menit lagi putra sampai.”ujar Putra melenggang pergi.


Letta menghela nafas legah. Bocah prik ini sangat menyebalkan. Sedangkan Putra menahan malu memasuki minimarket, mencari yang letta inginkan, ada banyak ragamnya membuat ia bingung. “yang panjang dan bersayap yang mana yah. warna biru atau kuning yah?”tanyanya bergumam pelan.


Ia segera membaca detail komposisi dan juga panjang dari pembalut, seusais suai yang ia inginkan ia segera membayar santai. “Buat pacarnya yah deh?”Tanya penjaga kasir tersenyum melihat Putra., sedikit modus sebab wajah putra sangat tampan, bahkjan beberapa pelanggan lain curi curi pandang padanya membuat Putra santai saja. Iyaklah itu sudah menjadi makanan sehari harinya.


Maklum orang tampan memang begitu.


Penjaga kaisr perempuan itu terkekeh.”Yo sama aja toh. Kalo pacar kan bakal jadi calon istri juga.”ujarnya sembari menyeken milik belanjaan putra, sebab putrra tidak hanya membeli itu saja. Ia juga membeli beberapa kotak susu dan juga beberapa barang lain.


Putra menatap penjaga kasir tak senang.,”Yo beda lah mbak, kalo pacar belum tentu jadi calon istri atau bahkan jadi istri, tapi kalo calon istri udah pasti jadi pacar dan istri. Kan bisa pacaran tu kalo udha nikah, mesra mesraan. Kalo pacaran enggak, banyak tu yang putus nggak nikah.” Tegasnya,.


Mbak kasir mengangguk. “Udah deh mbak, nggak usha banyak omong sama saya, nanti ayang saya cemburu. Cepet dia pasti nunggu ini, pacar saya cerewet.” Ia bohong. Tapi Putra tersenyum sendiri jika mengatakan letta cerewet. Bagaimana jika wajah letta yang datar itu menjdi cerewet dan memarahi anak anak mereka yang nakal kelak? Pasti anak anaknya sangat tertekan.


Ahhhh Senangnya...


“Totalnya tiga ratus tujuh puluh enam ratus rupiah mas, ada kartu membernya kakak?.” kasir tak enak menatap Putra..


Putra menggeleng. " Nggak kak Saya bayar cash. Putra segera memberikan uangnya.”Kebalikannya buat mbak aja.”ujar Putra bangga lalu meninggalkjan kasir yang tercengang.”Yakali mas, Cuma seratus rupiah dapat apa jaman sekarang? Ganteng ganteng gila yah.”Gumam kasir mendenggus malas.


Sedangkan Putra sudah sampai dirumah sakit, melihat Letta yang duduk di kasurnya, tapi di sana jyga ada lelaki yang kemarin ada disini. Carmon, ia terlihat duduk dikursi sembari membawa makanan. Putra mendleik tak senang.”pagi ayang. Ini belanjaan ayang.”ia tersneyum merekah kepada Letta. Sengaja mengeraskan suara agar Carmon paham jika Letta adalah kesayangan miliknya.

__ADS_1


Letta melihat Putra sudah sampai menjadi lega. Menerimanya dengan senang., Carmon yang melihat bicah ini masih di sini melotot tak senang.”kamu ngapain di sini?”Tanya Carmon sangat tidak santai. Memindai baju yang putra kenakan. Sangat sangat tidak rapi, bahkan rambutnya saja tidak di sisir.


Putra menyuguhkan rambutnya kebelakang.”buat jagain ayang letta lah, ngapain lagi.” ujarnya bangga.


Carmon berdecih.”Mimpi aja terus.” Ujarnya malas,


Putra menatap Carmon remeh.”emang situ siapa bisa ngomong gitu? Tuhan? Ini emang sekarang mimpi tapi kedepannya gue pastiin kalo ini bisa jadi kenyataan.” Tegas Putra tanpa ragu.


“Oy bocil. Ngomong loe sok jago banget yah. tolong sekarang udah jam setengah delapan loe nggak sekolah? Sana pergi jangan lupa sama mami dan minta uang jajan.” Carmon mengejek putra sebagaimana anak pada umumnya yang minta minta pada orang tua.


“Idi udah tua sotoy pula.... sok tau hidup orang lain.”ujar Puutra menatap Carmon meremehkan. Letta diam, menatap mereka enggan mererai juga.


Putra kembali mengatakan.” Gue emang masih bocil yah om nggak kayak om yang udah tua tapi maish jomblo, tapi gue sekolah nggak minta sama orang tua. Gue kerja terus sekolah pakek uang sendiri.” Tegas Putra melas.


Carmon menatap Putra malas.”emang berapa si gaji loe? Paling Cuma cukup beli makan loe doang, kek mampu aja nikah. “ Anak di hadapannya ini sangat sombong.


“mampu dong. Gue bisa beli maklan buat bini gue nanyi. Harusnya om sadar sadar diri aja deh, wajar yah ayang gue nggak mau sama loe om, mulut loe lemes.” Ejek Putra.


“Lo’” harga diri Carmon seperti di injak injakl saat Putra mengatakan itu, tangannya terkepal hendak memukul Putra.


”apa loe? Mau mukul? Ih pantes ayang gue ngak mau. Loe suka mukul. Ringan tangan ternyata.”ujarnya Putra sedikit bergeser dan menghindari Carmon.


Carmon ingin mendekati putra dan hendak menariknya " Sini loe. Gue tampol lu ye.." Tegas Carmon geregetan.


" Loe yang sini. Gue nggak yakin sama loe. Hu.." Berbanding terbalik dengan apa yang Putra katakan, katanya ia berani tapi lihat ia bahkan mundur dan berlindung kepada Letta.


Letta melihat tingkah keduanya tidak bisa tidak mengeleng." Kalian kalo mau ribut diliar aja. Lagian putra kami harus sekolah."


Carmon mendengus. memgangguk meninggal kan Letta

__ADS_1


__ADS_2