
Tangan Viona bergetar dengan wajah memucat memegang tespeck berwarna Biru muda yang ia pegang, tanda love terang yang menandakan jika dirinya posiitof hamil. Viona yang berjongkok terduduk lemas dimarmer toilet yang untungnya tidak basah. Tukang tulang dikaki dan tangannya mendadak menjadi lembek bak kerupuk terkena air. melempem.
Nafasnya tida tiba menjadi berat, tubuh mendadak bergetar tak tertahan dan terlebih lagi, nafansya seperti tersendat sendat. Ini mengejutkan Viona. Viona mengusap rambutnya kasar menaruh tespeck itu keatas kloset nanar. Ia kembali gasak grusuk membuka bungkus plastik respek baru dan menaruh tes peck satunya lagi kedalam urinenya.
Beberapa kali tespek jatuh karena tangannya yang gemeter. Dengan degub jantung yang tak karuan ia menahan gejolak mual dalam diri. menaruh secara pelan tespeck baru ia beli tadi.
Ia membeli lima tespeck tadi, dan ini adalah tespeck terakhir yang ia punya. Jika masih menunjukan positif maka ia tak tau lagi harus apa.
Menunggu beberapa menit nafasnya seperti tercekat tak tertahankan.”Ku mohon, jangan, jangan..” Gugupnya mengetuk ngetuk tespeck pelan, ia meneguk Saliva kering sejenak, menutup mata berdoa kepada Tuhan agar yang ia lihat tadi hanayalah kesalaha dari tespeck.
Mata Viona terbuka menatap tespeck, kembali menatap dengan teliti. Dugh.. tangannya menjadi tak bertulang, terduduk semakin lemas, ia mengusap kepalanya pelan lagi.” Gu gua hamil..!” Gumamnya lirih tak tertahan. Viona menggiut kukunya pelan menatap nanar lagi tespeck kedua yang menunjukan angka loive. Jika begini itu tak mungkin salah. Tespeck yang ia beli ini juga harga yang paling mahal karena keakuratannya mencapai 99%, tak cacat....
Itu dia.. hanya 99 persen kan? masih ada satunya lagi, 1% lagi? mata Viona mendadak seperti menemui kehidupan baru, ia bergegas berdiri dari tempat duduknya, membuang tespeck ke tong sampah, ia mengusap wajah kasar, bergerak mencuci mukanya.” Gu-gue harus cek iya.. ini nggak mungkin.” Ia sangat gugup dan juga takut.
Ingatannya menuju di satu bulan yang lalu, dimana ada satu lelaki yang berparas tampan, kulit putih dan bersih, tinggi dan juga rapi mendekati viona. Viona saat itu tidak punya teman akibat rumor dan juga beberapa orang yang membully dirinya.
Viona tidak tau apa kesalahan yang ia miliki, tapi ia selalu disiksa dan dibully dari beberapa geng ternama, ingin mengadu kepada ayahnya tapi ia takut karena diancam oleh mereka semua. Viona terkena bully selama kuliah dikampus itu.
Kadang kepalannya dilempar dengan telur busuk, kadang juga bangkunya ditaro lem, dan paling parahnya lagi tasnya pernah ditaro ular oleh seseorang. Untung ia tidak terkena patuk saat itu, itu membuat Viona takut sekolah, ia takut mengikuti pembelajaran.
semua orang malah menertawakan dirinya, tak ada satupun yang ingin membantu nya, mengukur kan tangan suka rela agar tak ada keadilan yang ia dapatkan menjadi tersamarkan.
jika pun ada mereka hanya diam dan tak ingin ikut campur, yang membullynya juga katanya sangat kasar dan tidak ada yang berani kepada mereka. dan mereka adalah komplotan laki laki semua.
__ADS_1
Mereka juga tak segan memukul siapapun yang ingin membantunya Viona, pernah sekali ada yang ingin membantu dan besoknya dikabarkan meninggal di jalan gang sempit.
Viona yang takut memilih berjalan ditrotoar dengan memeluk tubuhnya sendiri, ia sangat kalut dan takut. ingin menceritakan kepada siapa dirinya??
“ awas..!!!! Tin..” Viona melotot kaget saat tubuhnya terhuyung ditepi jalan, dengan dua tangan memegang bahu miliknya berbarengan dengan mobil yang hampir menyerempet dirinya melaju kencang.
Viona menatap siapa yang menyelamatknnya,. Matanya terpaku gugup dan juga kaget karena pristiwa barusan menimpa. Lelaki itu menatap Viona khawatir.”Kamu nggak apa apa ?” Tanya lelaki ytu khawatir menatap keseluruhan wajah Viona.
Viona sempat terpana sejenak melihat lelaki tersebut. Lelaki manis dan juga tampan, kulitnya putih, alis yang rapi dan hidung yang pas, bibir tipis dan rahang yang tegas. Manik mata miliknya berwarna silver kehitaman.
Menjadi seperti dark yang menarik.
“Hey..!” viona kembali kaget dimana wajahnya dijentik beberapa kali oleh rpia tersebut.
Pria tersebut mengangguk membawa Vona menepi dan juga membantunya duduk ditrotoar, ia mengeluarkan minuman ditas yang ia bawa kepada Viona.” Kamu nggak ada yang luka kan?”Tanya lagi pria tersebut. Viona menggeleng gugup, menerima mineral yang segera dibuka lelaki tersebut.”Minum dulu. Kamu pasti agak kaget karena kejadian tadi. Ini baru kok masih di segel barusan.”Ujarnya memberikan minumaan itu pada Viona.
Viona meneguknya ragu, melirik lelaki tersebut lemah. Meminum dengan gugup dan berdehem.”Thanks udah ntelamatin gue. gue hutang nyawa sama loe.” Ujar Viona pelan pada lekaki tersebut.”Btw nama Gue Viona, nama loe siapa?”Vipona mengulurkan tangan pada pria tersebut.
Pria tersebut tersenyum menyabut tangan Viona,.” Gue Gio.”
itu awal dimana perjkenalan mereka berdua. Vuiona yang diselamatkan oleh Gio,. Viona mengenal Gio sebagai lelaki bekerja di slah satu café sebagai barista. Gio juga menceritakan jika ia hanya orang susah yang harus menghidupi keluarganya.
Viona yang baik hati pun beberapa kali memberikan Guo uang dalam penanganan keluarganya. Keduanya saling dekat dan menimbulkan percikan cinta atara Viona kepada Gio. Gio selalu membantunya saat di bully. Gio menyemangatinya dan Viona seperti memiliki rumah untuk berteduh dan pulang.
__ADS_1
Tepat dimana ia kembali kuliah, ia kembali dirundung oleh beberapa perempuan, rambutnya dipotong secara tak manusiawi, sepatunya dibuang dan dirinya dilecehkan. Viona sangat marah dan takut pun keluar dan menemui Gio untuk ia jadi sandaran.
Saat menemui Gio ia pun menceritakan apa yang terjadi padanya. Saat Itu gio terlihat sangat marah dan memeluk Viona. Gio yang kasihan membawa Viona ke salah atu kosan temannya, takut jika dibawa kerumah orang tuanya akan banyak Tanya alasan Gio. Vio menurut saja karena sudah percaya pada Gio
Saat dikosan Gio memberikan dirinya minuman yang tak tersegel. “Minum dulu.. kamu pasti tertekan..!” saat itu Viona yang sduah mengenal Gio beberapa bulan belakangan mengangguk tanpa curiga. Ia tidak tau minuman itu dicampur dengan sesuatu.
Viona tidak tau mengapa tubuhnya seperti terbakar, tubuhnya terasa kencang dan ingin disentu. Gio menyeringai melakukan aksi nekatnya. Viona pasrah karena keinginan tubuhnya, pikiran dan tubuhnya tak singkron tapi ia menikmatinya. Ditambah rasa marah dan jijik dimana dirinya yang di lecehkan terngiang mengalir membuat ia semakin buas..
Kejadian it uterus berlanjut sampai tiga hari, mereka melakukan hubungan tidak berhenti kecuali istirahat dan makan. Viona selalu mewanti wanti Gio agar tidak membuat ia hamil gio pun mengiayakan hal tersebut. Dan mereka pun melakukan beberapa kali dalam setiap ada kesempatan berlalu.
Kabar buruk yang Viona alami adalah sudha stau minggu ini Gio tidak menghubunginya, saat Viona ke café yang ia kletahii dimana Gio bekerja, ternyata ia ditipu. Gio tidak pernah bekerja disana kata orang disana. Gio menghilang dan dirinya depresi. Ia terus mencari Gio sampai lupa tidur dan pulang.
Saat saat genting ia terus merasa mual dan juga tak enak badan. Ia beberapa kali hendka pingsan tapi ia tahan. Barulah ia berniat melakukan tes pada kehamilan karena mengingat perbuatannya selama sebulan ini.
...----------------...
Viuona cepat cepat menyiapi barang barang miliknya, mengelip poninya yang menghadang pemandangan. Tangan milik Viona masih gemetar karena shok dan tak tertahankan. Mengambil hp dan menaruh di tas jinjing. Ia keluar selesai menggunakan sandal santai saja. Tak ada niat untuk menggunakan make up. Hati nya terlalu kalut karena berita yang menggemparkan jiwanya pagi ini.
“Mau kemana Vio??” Tubuh Vio menegang saat menutup pintu seseorang mengajaknya bicara, ia dengan terpatah patah menoleh kebelakang, ternyata itu ibunya yang sedang memegang segelas air menatapnya dengan dahi yang mengernyit. “Kamu kenap? Sakit?” bukan tanpa alasan Purnama menanyakan hal itu, anaknya terlihat sangat pucat pagi ini, ditambah penampilanya yang kusut dan mata yang memerah seperti habis menangis.
Purnama memegang dahi anaknya, baru bangun dari tudur membuat ia segera mengambil sarapan dan membawa teh tadinya bersebrangan bertemu dengan Viona.” Panas. Kamu mau mama bawakan dokter sayang? “ Purnama sangat kahwatir merasakan suhu tubuh putri satu satunya sedikit jauh lebih hangat dari biasanya.
Viona menggeleng cepat, wajahnya tambah pucat.”Nggnggak usah ma, aku aku ada urusan sebentar.. aku pergi dulu.” Viona dengan cepat meninggalkan ibunya gugup. Purnama melihat anaknya tak bisa menahan heran dalam diri. Ada apa dengan anak itu? tidak biasanya. Mata Purnama menatap kamar sang anak, sepertinya sudah lama ia tidak melihat kamar anaknya.
__ADS_1