
“nih... ada bubur ayam dibeli sama mang Ucup, enak banget sih. Gue aja yang nggak sakit doyan, sering beli. Mbak letta harus coba deh pasti nagih kek ayang Putra.”ujarnya kembali menggoda Letta,,.
“ada juga es kppocok rasa milo. Trus jus buah naga. Ada nasi padang. Ehh enggak canda, nasi Padang Buay gue.. hehe.”ia terkekeh menyengir kepada Letta.
Letta mengernyitkan dahi. Hilang Bara datang Putra, keduanya sangat menyilaukan, ceria dan berkarisma, memancing letta untuk sekedar tertawa. Tapi letta hanya diam menerima bubur yang diberi. Letta suka orang yang berwarna tapi ia terlalu kaku untuk menangapi orang orang ini. Seperti canggung? atau tidak sefrequensi?
“ayang letta kenapa nggak makan kemarin? Padahal udah maag loh. Apa mau ayang Putra kabarin setiap hari biar inget makan?”Tanya Puttra gemas.
Letta menggeleng. Mengambil kopocok dan minum, sebelum membuka makanan dan mulai makan. Putra melihat letta tak menjawab pertanyaannya pun menggerutu.”is ayang letta nyebelin banget sih. Jawab dikit gitu kalo orang nanya. Ngomong nggak bayar padahal,” entah kemana rasa takut Putra tadi, Yang sekarang ada hanya ia yang cerewet dan banyak bicara.
Letta berdehem,.”saya kerja.”ujarnya. putra mencibir.,
" Kerja harusnya ingat waktu dong." Ujar Putra. Letta hanya melirik sekilas tanpa menjawab.
”tadi dikasih es krim ditolak, malah di kasih sama bocil nakal. “Gumamnya Putra pelan. Masih memancing Letta bersuara.
Letta mendengarnya menatap Putra yang mencebik gemas.” Saya punya radang tenggorokan.” Jawab letta pelan.
Putra membulatkan bibirnya paham, mengerjab pelan.”yaampun putra nggak tau. Maaf ayang.”gumamnya mengerjab pelan.”Jadi nggak bisa makan yang manis manis. Tapi ayang jangan sedih,. Kalo mau yang manis manis tinggal tatap yayang Putra aja,. Yayang putra kan manis.” Ujarnya dengan wajah lucu nan malu malu.,
Letta melihatnya tak bisa menahan kekehan, Putra membuat moodnya naik. Menggeleng pelan.”siapa bilang kamu manis?”Tanya Letta pelan menahan diri agar tidka tertawa melihat tingkah Putra yang menjadi jadi.
Putra mengerjab pelan.”Itu mama bilang Putra ganteng, manis. Cuma sayang..... “Jawab Putra menghela nafas. letta menaikan satu alisnya.
”sayang apa?” Tanya Letta pelan.
Putra tersenyum lebar.”nggak ada apa apa kok sayang.” Ia mengedipkan satu mata genit.
Letta mendatarkan wajahnya sekejap mata. Dia dikerjai bocah tengik. Putra melihat wajah letta yang berubah datar terbahak kencang. Sangat lucu dimatanya. Menyenangkan sekali menggoda wanita lebih darinya ini. apalagi wajah datar letta terlihat manis dimatanya.
Letta menggeleng mulai makan bubur miliknya pelan, putra juga tak menawarkan apapun, ia sibuk makan nasi berat sembari mengipasi wajahnya. Terlihat bibirnya semakin mereka merah merona. Letta melihatnya menjadi kasihan. putra yang ditatap jadi salah tingkah.”Pedes mbak.. pedes.”Gumamnya polos.
Letta menggeleng memberi minum. Putra menerima dan minum.”padahal bisa ambil sendiri.”Cibir letta.
__ADS_1
Putra mendesah legah seusai minum.”ayang nggak ingetin minum sih. Kan baru diingetin ayang.”Ujarnya menggoda letta. Letta muak membuat ia menampilkan wajah senegit. Putra terkekeh ditengah kepedasan. Mengerjab pelan air mata jatuh bukan menangis tapi efek kepedasan.
“Ayang comeng... lapin dong muka putra. “Ujar Putra manja.
“ELapin gundul mu.”Ujar letta malas.
Putra kembali terbahak mencairkan suasana, letta terkekeh dalam batin. Putra menyebalkan tapi Letta lagi lagi berfikir entah mengapa ia menyukai orang yang berwarna seperti Putra. Yang terus mengajarkan kebahagiaan di sekitarnya. Mereka layaknya mentari menaburkan kebahagiaan. Mereka sangat bersinar dimana mana. Letta suka tapi ia sadar, ia kesepian.
Putra Neliyansa. Adalah anak pertama keluarga Meliansya. Berusia 18tahunm baru saja kelas 3 SMA Di salah satu SMA elit di pusat kota. Putra memiliki satu adik laki laki berusia lima tahun, jauh dari usianya sendiri,.
Putra sendiri dikenal sangat periang dan juga memikat, dia juga jail, suka menggoda banyak perempuan, tapi tidak ada yang dikabarkan pernah memiliki hubungan special dengannya. Dia juga terkenal sangat nakal, suka membolos tapi tidak dengan tawuran. Dia nakal tapi tidak merusak diri sendiri.
Hari ini, dimana ia melihat satu perempuan yang menggunakan baju serba hitam dan juga terlihat tenang, tak memiliki ekspresi berlebihan atau emosi yang tinggi. Wajahnya redup, cantik tapi karena diri yang tenang dan redup. Ia terlihat gelap dan tidak memiliki ambisi berarti.
Putra menjadi penasaran, tapi semakin melihat ia semakin tau jika perempuan itu sangat manis dan paling cantik yang pernah ia temui. Rahang tegas, bicara pun suaranya tidak seperti wanita lain, suaranya sangat tegas membuat orang lain tak bisa berpaling darinya.
Ia berusaha memberikan es krim, tapi ia terlihat menolak, berikutnya ia melihat es itu diberi kepada anak yang memanggilnya mommy. Sial dia sudah menikah dan punya anak. Ia sedikit putus harapan, patah hati sebelum berperang.
Sampai kecelakaan itu tiba. Kaget. Putra sangat kaget, berusaha membantu. Dari sana ia mengenai perempuan yang ia sukai. Iya ini pertama kali Putra merasakan ada hal menggebu dalam dirinya. Rasa ingin mendekat dan menggoda lebih lama. melihat perempuan biasanya tersipu tapi sekarang tidak menjadikan dirinya semakin tertarik. Rasanya Putra mendapatkan teman saingan yang pas.
Brak..
”Letta..!!” Putra kaget. Ia yang menatap wajah letta yang tertidur kaget saat ada lelaki yang membuka pintu kasar mendekati mereka. Putra mengelus dada dibuatnya apa pria ini tidak tau ini rumah sakit. Untunglah letta sudah di taro di ruang inap VIP. Jadi memiliki ruang sendiri tanpa menganggu ruang orang lain.
Letta yang tidur membuka mata kaget. Disana ada Carmon yang datang menatapnya nanar. Terlihat Carmon yang sangat kacau datang dengan wajah nanar nya. Letta mengerjab pelan. tadi memang ia memberi tahu kepada Carmon jika ia kecelakaan mangkanya tidak bisa kembali,, tapi tiba tiba Carmon datang dengan keadaan mengenaskan begini.
“Letta..!” gumam Carmon memegang bahu Letta. Mengguncang pelan karena khawatir melihat letta yang terlihat pucat diam saja.
Letta meringis. “Om tangan mbaknya retak itu., jangan dipegang.”Ujar Putra panic menepis tangan Carmon. Carmon kaget mengangkat tangannya, memang lengan Letta terlihat bengkak.
“Maaf.”Gumam Carmon,. Putra mendengus bengis. Maaf katanya? Ia menatap letta dan Carmon bergantian. Siapa ini lelaki? Apa suami? Mantan suami? Pacar? Atau keluarga? Putra harap dia hanya parasit. Letta berdehem mengusap bahunya.
” Aku sudah lebih baik." Jawab Letta jujur. Sebab mengatakan dirinya baik baik saja adalah hal bohong.
__ADS_1
Letta menghela nafas. menatap Carmon biasa saja.” Kenapa kesini?” Tanyanya pelan.
Carmon mendengus.”saya khawatir lah sama kamu, kamu pikir saja mendengar kamu kecelakaan. Mobil kamu hancur nggak berbentuk di kap depan. Saya pikir kamu mati.” Jawab Carmon memekik gemas kepada Letta.
Letta mendengarnya mengangguk, mengingat keadaan mobil yang sekilas ia lihat tadi bisa membuat ia paham jika mobilnya sangat hancur. “Kamu nggak ada luka parah kan?” Carmon kembali bicara dihadapan letta, menatap bagian wajah letta yang terlihat diplaster.
Letta menggeleng.” Hanya luka kecil biasa. “ jawab letta pelan. Carmon menghela nafas melirik perut letta. Jadi benar Letta tidak mengandung anaknya? Carmon menjadi aga kesal mengetahui hal itu. Carmon sempat menemui dokter yang menangani Letta.
Menanyakan secara langsung tentang keadaan janin. Tapi dokter malah bingung menjawab jika ia bukan dokter kandungan. Seusainya Carmon sadar jika sebenarnya Letta memang benar benar tidak mengandung anaknya.
Bahu Carmon ditepuk oleh Putra. Putra yang sedari tadi di abaikan kesal, melirik Carmon bengis.”udah kan bang? Minggir dikit lah, jangan ditengah jalan. Mbak Letta pengap.” Ketusnya pelan. carmon yang diingatkan oleh bocil melotot tak terima. Bisa bisanya anak ini kurang ajar.
“ Kamu siapa?” alih alih marah.
Carmon lebih penasaran siapa anak remaja di sampingnya ini? terlihat baru pulang sekolah, tapi di bagian baju depannya ada noda darah yang sudah mengering. Atau dia adiknya Letta? Tapi seingat Carmon letta tidak memiliki adik.
Putra membusung dadanya tinggi, beserta dagu yang di angkat.” Kenalan. Calon suami mbak letta di masa depan.” Ujarnya tersenyum bangga pada Carmon. Carmon mendengarnya melotot menatap letta meminta penjelasan tapi letta terlihat diam memejamkan mata lelah.
Carmon menatap lagi Putra yang menatap dirinya mengejek.”Kamu nggak mabok kan dek?” Carmon mengernyit bodoh. Ingin rasanya menjitak kepala anak kecil di hadapannya yang bicara ngaur. Mana mungkin letta menyukai pria lebih muda darinya. Pengamatan Carmon, pria kecil di depannya ini masih berumur 17 atau 18tahun., sangat jauh dari umur Letta yang dewasa.
Putra mendelik menatap Carmon.” Saya sehat walafiat, waras dan tidak terpengaruh alcohol. Memang saya calon suami mbak letta kok.” Tegas nya tak terima. Memang apa salahnya dengan tampannya? Atau penampilannya?
Putra merasa dirinya tampan kok, pantas pantas saja dengan letta yang cantik.
Carmon menatap remeh Putra yang terlihat percaya diri.”masih bauk kencur juga. Sekolah yang bener dulu baru bilang calon calonan. Mau saya antar ke psikolog kamu biar sadar kalo perempuan di depan kamu ini perempuan dewasa bukan ABG Labil kayak kamu?” Carmon kesal mendengar penuturan anak kecil dihadapannya ini.
Putra melotot.” Saya udah besar yah om, om aja yang udah tua. Lagian emang ada hukum legalnya yang menyatakan jika umur menghalangi jodoh? Atau lelaki yang berusia lebih muda nggak boleh nikah sama orang yang lebih tua? Yang nggak boleh tu nilkah sama sesame jenis.” Tegasnya kesal. Dikatai ABG labil oleh orang yang datang datang entah dari mana itu memuakkan, terlebih Putra sebagai lelaki sangat tau tatapan Carmon untuk Letta menunjukan jika dirinya menyukai Letta. Mengkhawatirkan letta.
Putra seperti memiliki saingan.
Dan Carmon seperti dikhianati oleh Aletta...
“Apa??? Gimana bisa anak itu belum balik sampai jam segini?” Samuel melotot geram kepada orang orang rumahnya yang mengatakan cucu perempuan satu satunya tidak pulang sampa sekarang. Padahal hari ini sudah larut sampai jam 11malam.
__ADS_1