Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
Sakit


__ADS_3

Hallo semua....! Gimana kabarnya hari ini? masih mau liat kondisi keluarga Carmon? hehe bentar bentar heh. masa Carmon mulu, Letta ga kebagian nih awokawok.


.


.


.


Letta terduduk saat air mata jatuh. Ia tak suka dengan situais ini. Letta semkain merasa pening dan bam.. ia jatuh pingsan. Semua jauh dari kendalinya. Emosi, kepala pusing, sedih,. Kecewa. Dirinya tumbang pada akhirnya, Letta tak lagi kuat membopong dirinya.


...----------------...


Di sisi lain Putra yang berjalan cepat keluar dari apartemen letta dengan linangan air mata yang membasahi wajahnya, memasuki lift nanar sampai kearah motor bead miliknya.. mata Puutra mnatap motor nanar dan mengusap celana dan tercenung ditengah tangisan


” Kunci motor gue mana?” Gumamnya bingung. Motor mana bisa jalan sendiri kan?


Putra menepuk kepalanya. Ingat kunci motor miliknya ada di dalam tas yang ia lepas dan dijadikan bantal tidur di depan apartemen milik letta, disana juga ada dompet, hp miliknya. Jadi mau tak mau Putra kembali ke ruangan yang menyakiti hatinya. Putra dengan berat hari kembali kesana. Mengusap air mata yang terus jatuh. Dirinya menundukk sata beberapa orang berpapasan dengannya dan menatapnya penuh tanda Tanya. Mungkin larena Putra yang kunyu dan juga berantakan.


Lima menit putra sudah sampai di depan apartemen milik Letta,. Disana masih ada tas miliknya terkapar di lantai nelangsa. Putra menghela nafas. syukurlah ini apartemen mahal dan orang orang kaya jadi tingkat kemalingan itu cukup diminimalisir yah, jadi enggak ada yang maling.


Putra buru buru mengambil tas miliknya, melirik pintu apartemen milik Letta. Terbuka. Putra mengernyitkan dahi. Kok terbuka sih?


Putra penasaran dan khawtair tapi putra buru buru mengeleng kepalanya. Ia menatap ke lain arah dan berkata.” Ingat Putra, dia nggak suka loe ada di dekat dia.” Gumamnya pelan.


Tapi ekor mata Putra masih melirik di arah pintu, penasaran apa yang terjadi. Pelan pelan Putra menuju pintu dan melirik kedalam.


Melihat tingkah dan sifat Letta. Letta pastilah bukan perempuan yang ceroboh sampai membuka pintu apartemen tamnpa ditutup begini. Putra menatap kedalam dan melihat tak ada siapapun. Putra mengernyitkan dahinya. Dimana Letta? Penasaran melangkah masuk dan celinguk celinguk.


Dan ba,... ia melihat tubuh letta terkapar di lantai bagian dalam ruangan dimana mereka ribut tadi. Putra membelalak kaget melihatnya. Buru buru ia mendekati tubuh letta yang terkapar di lantai. Tapi dirinya tiba tiba berhenti, menatap letta dingin.”Tapikan dia udah ngusir gue. yakali gue tolongin.. tinggalin aja kali yah, diaoan jahat juga,” Gumamnya kepada dirinya sendiri, menatap letta tak minat dan tak tega.,


Putra memilih berbalik meninggalkan letta, melirik letta yang terkapar lagi khawtir.”Tapi keknya harus ditolong lah. Gimana pun jalannya gue sayang sama dia.” Putra mengusap kepala nya kasar dan mendekati tubuh letta nanar.” Ayang. Eh Letta maksudnya.. “ Gumamhya menyenggol bahu letta.


Tapi Letta meringis dan terdiam. Letta pingsan atau bagaimana? Batinnya.


Putra menjatuhkan lututnya dan menyenggol lagi lengan letta. Mengerjab.” Mbak letta.. bangun, mbak mggak apa apa?” tidak mengurangi sopan santun seusai disakiti, di hina dan dibuang Putra tetap memanggilnya mbak untuk menghoprmati. Tapi letta hanya berdehem dan tak membuka mata. Putra meringis dan memegang kening letta. Putra sangat terkejut. Tubuh letta sangat panas.

__ADS_1


Letta demam?


“Yaampun demam.” Gumamnya.


Putra bangkit, menggendong tubuh letta menuju salah satu kamar yang entah ia tak tau milik siapa. Dengan penuh kehati hatian ia meletakkan tubuh Letta diatas kasur. Menaruh bantal disisi kanan dan kiri Letta. Putra mrasa sangat khawatir dan cemas. Nafas Letta terdengar sangat berat. Putra menyentuh bahu Letta. Sudah kering di badan. Pantas saja dia pasti masuk angin..!!!


Putra pergi menuju dapur tapi tak lupa ia menutupi apartemen milik letta, mengambil air dingin di dispenser dan mengambil kain lap bersih. Putra kembali menuju kamar milik Letta, duduk di sisi kasur dan mengusap kepala Letta yang masih panas. Putera menaruh kompres di kening letta pelan dan lembut. Putra menatap Letta khawatir dan sedih.


Sedih karena sudah di usir, khawatir karena kadaann Letta yang tidak baik baik saja. Putra memandang wajah letta sendu dan juga tak bersuara. Wajah letta sanhgat pucat. Beberapa kali juga ia menggeluh dan meringis. Putra juga beberapa kali menganti kompres dengan air baru. Putra menguap pelan karena mengantuk.


“Dingin.. mama dingin..” Putra mengerjab menatap letta, menajamkan pendengarannya, ia tadi samar sanat dengar suara. Itu suara Letta kan? mata Putra melihat bibir letta meringis dan juga bergumam.


”Mama dingin.. mama. Papa.” Putra terenyah. Ia segera menarik selimut lebih tinggi ditubuh Letta. Ingin ia ganti tapi putra tidak berani sekurang ajar itu.


“mama dingin.” Gumam letta tak menghiraukan selimut yang ia kenakan. Putra kalut. Ia bangit dan membuka selimut, ternyata selimut menjadi lembab. Putra memeriksa pakaian letta lagi dan menepuk jidatnya.” Sialan. Kering bagian luar tapi bagian dalam basah anjhir.” Gumamnya sedikit geram padanya.


Putra menggigit kukunya gugup melihat letta yang gelisa kedinginan.”Gimana yah. dia ngak bakal marah kan kalo gue gantiin bajunya??” Gumamnya pelan. putra meringis pelan dan menghela nafas.


"Udah gue gantiin bajunya gue pulang aja lah biar dia nggak tau dan ngak dimaki lagi. iya lah dibanding keakitan dan keinginan.” Gumam Putra lirih.


Tepatnya baju tidur satu set. Ia juga mengambil baju dalam disana. mendekat dengan letta secara gugup,. Dengan pelan naik atas kasur,. Menutup mata samar samar melihat kea rah Letta.” Ayang jangan marah yah nanti kalo tau aku ngelakuin ini. ini demi kebaikan ayang.” Bisik Putra lirih. Putra sangat takut dirinya dimaki lagi, tapi dirinya jauh lebih takut letta kenapa napa. pelan pelan jaket depan terbuka, menampilkan letta menggunakan baju panjang. Putra segra membukanya dan menampilkan tangtop letta. Putra tidak mau membukanya tapi bagian tangtop bagian palking basah mau tak mau ia buka.


Saat ia buka. Putra menutup samar matanya. takut takut kurang ajar.. tapi.. tunggu dulu, putra mengerjabkan mata menatap tubuh Letta yang tak menggunakan tangtop, hanya menggunakan dalaman sport setengah perut.


Putra tak salah tatap kok, ia tidak melihat bagian berharga milik Letta. Tapi bagian sudut perut, disana ada bagian seperti luka yang di jahit dan itu ada empat buah bukan hanya satu. Tangan Putra menyusuri bagian kearah atas.


Bagian jantung. Putra menyingkapi dalaman yang Letta kenakan. Matanya membelalak melihat bekas jahitan hampir seluru bagian dada. Putra mengerjab nanar. Apa yang terjadi dengan letta sampai sampai memiliki lupa begitu banyak jahitan,. Dan ini bagian jantung..


Putra menyusuri luka luka itu nanar dan penuh kepiluan. Apa yang dilalui letta?


Mengapa luka luka ini sangat mengerikan? Samar samar Putra bisa lihat bagian tubuh letta dalam banyak luka melintang panjang dan beberapa yang terlihat jelas., Putra tidak bisa tidak sedih melihat ekadaan letta.


” Dingin..” ringisan Letta menyadarkan Putra. Putra buru buru memakaikan letta bahu dan mengusap air mata yang kembali jatuh. Letta sama ekali tidka bangun jadi Putra memilih kembali menutupi tubuh letta dengan selimut baru yang di ambil dilemari, ia juga mengompres tubuh letta. Putra terdiam menatap wajah Letta yang terius bernafas berat. “mama dingin... mama dingin..” letta terus bergumam tak jelas.


Putra tak tau lagi harus apa. Tak lagi khawatir di buang, di usir Putra mengsap wajah letta dan mengerjab pelan.” kayaknya aku harus cari orang lain buat jagain kamu. Aku keluar dulu cari orang sini buat jaga kamu. Kalo ngak aku pasti bakal di usir dan di hina, lebih parahnya lagi aku bakal dimutilasi sama kamu.” Gumamnmya terkekeh. Putra mengambil tasnya dan meninggalkan letta mau tak mau. Sebab ia sudah tidak bisa berlama lama dekat letta jika tidak mentalnya akan dijatuhkan nanti.

__ADS_1


Putra melangkah kea rah pintu dnegan pikitran penih. Membuka secara singkat untuk meninggalkan apartemen milik letta. Bisa gawat jika letta tau dirinya tetap disini. Membuka bajunya, membantunya mengganti baju. Bisa bisa letta semakin membenci dirinya kelak. Ia tidak mau, cukup tadi saja ia usir secara buruk oleh Letta. Selebihnya jangan lagi..


Tapi tunggu dulu, ada yang aneh. Ini pintu apartemen tidak ada yang untuk penariknya apa yah namanya??? Itu loh gagang pintu.


Putra panic dibuatnya, menyentuh setiap sudut pintu yang ia ingat tadi.” Loh ini pintunya gimana dibuka anjir.” Gumam Putra panic. Sama sekali tidak ada tanda tanda terbuka. Bahkan semua datar yang membedakan hanya pintu ini ada alat sensor disebalahnya selebihnya menjadi seperti dinding. Putra tertegun, dirinya tidak bisa keluar.


Kalian ingat peristiwa dimana Diki dan teman teman tidak bisa keluar dari sini akibat pintu ini tidak ada kuncinya dan hanya bisa menggunakan sensor Letta? Yah itu juga berlaku buat putra. Putra terlemas, ia tidak bisa pulang,. Matilah dirinya,


” Yatuhan ini gimana bukanya. Bantuin hamba mu ini Yallah. Bisa dimutilasi ini kalo gini caranya. Radi aja di maki. Kalo yang gue lakuin tadi dia tau apa yang bakal dia lakuin. Gue bakal di bunuh. Masa mati ditangan orang yang gue cintai si.” Ricau Putra menatap alat sensor nanar. Tapi tiba tiba Putra dikagetkan dengan sistem yang tertutup dan rumah letta mati lampu. Putra seakin gemetar ketakutan.


Yatuhan putra benar benar takut. “Mati gue., rusak rumah letta dan gue pasti bakal mati setelah ini.” gumamnya pelan. Putra ingin menangis lagi jika begini. Putra mengusap kepalanya kasar buru buru membuka HPnya. ia takut gelap jadilah Putra berlari menuju kamar letta lagi. pelan pelan berdiri di sisi kamar. Putra takut ada hantu.


Flash hp miliknya ia arahnya ke wajah letta yang masih begumam kata dingin dan ibunya. Putra buru buru naik ke atas kasur dan memeluk letta. Sangat takut hantu sampai lupa jika Letta bisa berubah menjadi malaikat mautnya.


Samar samar rasa hangat tubuh letta menjalar ditubuhnya. Dan Letta tak lagi begumam kata dingin. Putra menghela nafas melirik Letta yang mengeratkan pelukan.


Putra lupa letta memakinya, lupa jika letta tak menerimanya. Putra mengusap kepala letta yang masih hangat. Ia tersenyum tipis dan miris, kembali mengeratkan pelukannya. Biarkan lah jika besok dirinya menjadi mayat. Tak apa asal bisa memeluk letta seperti ini. tetp bisa bersama. Putra setulus itu, saat di dekat letta ia lupa dan rasa tajutnya selalu terhempas dengan rasa khawatir serta cintanya, jika jauh ia akan mnengingat rasa sakit mencintainya.


...----------------...


“ Loe dari mana Dik?”Tanya Ando melihat Diki yang memasuki rumah dengan keadaan basah kuyup, baju penuh dengan tanah. Mata sebab dan bengkak. Sangat tidak layak hidup.


Ando mengernyitkan dahi heran melihat Diki yang berpenampilan begini. Diki itu temanya yang paling perfecksionis. Mangkanya letta menjadikannya tangan kanan yang terpecaya, ia akan selalu melakukan suatu hal dengan sempurna, baik dari baju, sepatunya saja bahkan sangat licin sampai semut akan terperosot jangankan kotor terkena tanah, terkena bercak kotoran saja Diki akan sangat heboh. Dia benar benar sangat sangat berbeda dari Diki yang dirinya kenal.


Sedangkan diki tak mendengar. Diki tetap melaju dan memmasuki kamar dengan tatapan kosong.. Ando melihatnya mengernyitkan dsahi bingung. Ada apa dengan Diki? Dia terlihat tidak baik baik saja. Ando khawatir. Ando bangkit, menaruh lagi batagor yang ingin ia santap barusan. Mendektai pintu kamar milik diki.


Mengetoknya dan berkata.” Dik loe kenapa? Loe baik baik aja kan?”Tanya ando cemas kepada kawannya satu ini. Tak ada jawaban. Ando membuka pintu dan bravo. Pintu tidak di kunci. Ia masuk menatap kamar diki.


Matanya sangat kaget melihat Diki yang duduk di depan jendela dengan tatapan kosong. Belum ganti baju. Ando , mendekati Diki sedikit pelan pelan dan berkata.” Dik. Loe kenapa sih? Ganti baju dulu woy. Nanti loe sakit.” Ujarnya menepuk baju diki.


Diki mlah menunduk, meremas tangannya pelan.” Kita salah Ndo. Kita salah,.” Bisik Diki pelan ando tak ngeh menepuk baju Diki”Loe ngomong apa sih? Salah apa? Gue nggak ada salah apa apa perasaan. Loe kesurupan apa gimana sih. Pulang pulang rada aneh. Sumpah nggak lucu dik.” Jawab Ando ngegas. Takut dan khawatir beradu satu dihatinya melihat keadaan diki jauh dari kata baik ini, menimbulkan kecemasan dirinya sebagai kawan.


Diki malah menitikan air mata, meremas tangannya kuat. diki mengerjab pelan.” Gue enggak tau mulai dari mana cerita Do. Tapi.. tapi kita salah do. Kita salah.” Gumamnya pelan.


Ando terdiam menatap diki yang sepertinya sangat menyesal. Ando memilih duduk di sisi Diki mengambil kursi lain. Diki mengusap air matanya dan berbisik pelan.”Tadi gue ke makam Ziko. Dan loe tau gue ketemu Letta.” Liruh Diki.

__ADS_1


Ando menatap bengis Diki.” Ngapain dia disana?? loe usir kan? gue ngak rela yah makam temen gue tercemar sama manusia sampah kayak dia. Takutnya Zikko nggak tenang lagi nanti disana liat dia ada disana.” tegas Ando tak berperasaan. Suaranya tersirat penuh kebencian,.


__ADS_2