Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
Teman Baru


__ADS_3

Carmon jadi terhenyak. Carmon berfikir Letta mengalami mimpi kedua orang tuanya. Letta memang anak yatim piatu, ditinggalkan kedua orang tuanya saat kecelakaan dahulu, saat Letta masih sangat kecil dikalah itu ikut dan menikmati bagaimana kedua orang tuanya meninggal dalam kasus kecelakaan. Dan kabarnya hanya Letta yang selamat dikala itu.


Mereka saat itu pulang dari jalan jalan sehabis merayakan ulang tahun Letta yang ke lima tahunan entah bagaimana bisa mobil yang dikendarai mereka salah satu korban tabrak beruntun.


Carmon tidak tau jika sebenarnya itu bukan kisah Letta, sesungguhnya informasi yang ia dapatkan itu adalah informasi mengenai cucu asli Ragiel, yang sudah meninggal dalam peristiwa itu sendiri.


Hati nurani Carmon tergerak, ia menarik tubuh Letta dna memeluknya hangat, mengusap kepala Letta pelan dan lembut.” Yah tenang. Aku ada disini, jangan menangis..!!!!” Ucap Carmon lembut menenangkan Letta.


Terlihat tubuh Letta masih bergetar tetapi sudah tidak sebesar tadi. Beberapa menit tubuhnya sudah mulai biasa saja dan normal. Carmon terus mengusap bahu Letta dan Letta mengeratkan pelukannya. Carmon tertegun menatap wajah Letta dihadapannya. Wajah Letta basah dan juga menyedihkan. Berbeda saat seperti biasanya. Ia bisa tau jika didalam hidup Letta ada hal yang menyedihkan mengubur wajah kesedihannya dengan wajah menyeramkan miliknya.


“Jangan pergi..” Bisik Letta lagi.


Carmon kembali mengusap pelipis Letta lembut menggunakan jempol miliknya dan mengangguk. “Iya... Aku akan tetap disini... Bersama mu” Bisiknya lemah pada Letta.


Letta kembali berbisik terus mengatakan hal serupa berkali kali sampai berjam-jam. Hingga akhirnya ia kembali tertidur dalam keadaan keticau dan bergumam, gumaman Letta semakin lama semakin pelan dan akhirnya digantikan dengan suara dengkuran halus menandakan ia sudah terlelap.


Carmon menatap wajah Letta lembut, tangannya trus mengusap kepala Letta sayang. " Aku tidak tau apa yang kamu alami sampai kamu terlihat sangat menyedihkan. Apa ini alasan mengapa kamu sangat dingin? Supaya kesedihan kamu tertutupi?" Gumam Carmon pelan.


Letta mengeratkan pelukan, Carmon menghela nafas mengusap bahu Letta. menaruh dagu diatas kepala Letta, diam menikmati kantuk dan menyusul Letta menuju dunia mimpi. Carmon lelah dan mengantuk.


Carmon tertidur nyenyak bersama Letta sembari berpelukan, Letta dan Carmon merasa hal yang sama. Nyaman dalam delapan masing masing..


...----------------...


Letta membuka matanya, merasa kepalanya terasa pening. Tapi saat ia bangun ia dikagetkan dengan keberadaan Carmon memeluk tubuhnya. Letta tersentak dan..


Bugh... ia menjulak tubuh Carmon kuat agar menjauh sampai Carmon yang tidur oleng dan jatuh.


Bugh.. agh. Kesadaran Carmon dipaksa bangun karena Letta. Carmon meringis mengunpulkan nyawa menatap Letta yang diatas ranjang dengan polos dan juga wajah kosongnya. Kepala Carmon berdenging karena sakit tiba tiba, Darah Carmon seperti ikut mengalir kaget akan yang terjadi. tubuh Carmon jadi gemetar dan oleng seketika. Tidak bisa dikendalikan.


”Kenapa Sii Letta,”Tanya Carmon pelan menatap Letta marah. Jantungnya berdegub kencang karena kaget masih tetap berapi-api. Carmon memegang dadanya.


Letta mengerang menatap Carmon marah.”Kau.. ngapain keatas kasurku ha?!!!” Tanya Letta tajam dan dingin.


Carmon mengumpulkan kesadarannya mengerjab menatap Letta. Carmon memproses cukup lama di otaknya barulah sadar.” Heyy.. aku semalam menenangkan mu. Kau terus berteriak memanggil orang tuamu menggangguku tidur. Aku bangunkan tapi kau tak bangun bangun. Karena aku kasihan aku mendekatimu, eh kau malah memelukku, karena aku tidak tega yah aku biarkan saja..” Ujar Carmon berbohong karena gengsi jika jujur.


Melihat Letta diam saja membuat Carmon kembali bicara karena mendapatkan peluang bagus. ” Tak tau diri. Harusnya kau berterimakasih kepadaku bukan malah memperlakukan aku begini.”Lanjutnya tegas, bangkit dari duduknya menggusuk pantatnya agar duduk di atas kasur miliknya.

__ADS_1


Letta terdiam mendenggarnya tak berniat minta maaf. Letta mengambil jam diatas meja , menatapnya. Jam menunjukan pukul 4 pagi, kebiasannya bangun jam segini. Benar biasanya ia terbangun karena mimpi buruk yang menghantuinya. Dulu sempat Letta tidak bangun selama stau minggu akibat mimpi buruk itu mendatanginya. Letta menghela nafas memijit pelipisnya.


Mimpi buruk itu bak kaset rusak menghantui nya.


Caron menatap Letta tak menjawab mendengus mengusap kepalanya yang terasa pening.” Kau terus saja memanggil ibu, kakak dan ayahmu. Berkata jangan tinggan Ti---“


“Kau bisa diam?!!!”


Letta menghentikan ucapan Carmon yang mencertakan mimpi miliknya. Tidak diceritakan juga Letta tau.. Carmon terlihat diam menatap Letta yang mengeluarkan aura dinginnya. Letta mendengus. “ Aku benci suaramu.” Ujar Letta lagi melanjutkan perkataannya tadi.


Carmon berdecap menatap Letta. Letta mengusap kepalanya yang terasa pening. Ia tidak bangun karena mimpi adalah hal yang menakjubkan. Tapi disisi lain ia merasa pening mendera dikepalanya. “Dasar wnaita tidak tau diuntung.. dibalikin malah tidak terimakasih. “ bisik Carmon mendelik menatap Letta yang diam memijit pelipisnya.


Letta berdehem melangkah kearah toilet. Carmon ingin bertanya tapi rasanya sangat gengsi. Ingin tidur tapi matanya keburu tidak mengantuk lagi. Carmon diam menatap jam yang menunjukan jam 4subuh. Berselang beberapa menit Letta keluar dengan wajah yang sudah dibersihkan, mengambil jaket dan keluar dari hotel. Carmon secara spontan bertanya.”Kau mau kemana???”


Letta memasang sepatu miliknya dan mengambil jaket dan dompet. Melirik Carmon sejenak.


”Bunuh orang.” Ujarnya lalu keluar tampa mendengar jawaban Carmon yang terdiam." Matamu rabun tidak lihat aku pakai sepatu? Joging lah!!"


Carmon menatap jam di kamar, lalu melihat jam di hpnya. Carmon mengernyit heran,’”Dia tidak salah jadwalkan? Ini masih terlalu pagi buat jogging.” Gumamnya pelan. tak ada niat menyusul oleh Carmon. Mending tidur saja bukan?


Di jalanan Letta menatap jalanan datar. Di sini jauh lebih dingin di kota, dan juga lebih gelap. Ia mengambil jalan menuju pantai untuk menikmati the sun has set sekalian nanti. Selama itu pula ia berjinging sendirian selama satu jam sampai ia berada ditepian pantai ia bertemu dnegan beberapa pria yang juga sedang jogging. Ia mengerjab mulai memelan larinya sampai mereka menoleh pada Letta.


Ragiel tidak mungkin membunuh mereka kan?? di sisi Letta senang ada orang lain yah..


Mereka bertiga mendekati Letta dan tersenyum. Salah satu yang mengajaknya bicara tadi tersenyum.”Kenalin saya Borti. Kamu bisa panggil saya Borti saja..” Ujarnya mengulurkan tangan pada Letta.


Letta menyambutnya merasakan tangan pria itu hangat ditengah rasa dingin yang ada. Terus diikuti salah satu pria di sampingnya. Pria yang berperawakan tinggi dan hitam manis berbeda dengan pria yang bernama Borti tadi yang tingginya bahkan dibawa Letta, ini tingginya sama dengan Letta. Ia tersenyum.” Nama saya Mitun, Panggil Mitun saja biasa.”Ujarnya sopan.


Satunya lagi terenyum juga, tubuhnya lebih berisi dari yang lain, tapi kekar dan juga kuat, tingginya lima centi diatas Letta mengulurkan tangan dan berkata.”nama saya Cakra. Kamu bisa panggil saya Cakra biasa.”Ujarnya pelan. pria ini lebih kepada tegas dan juga beraura. Tidak tampan, kulitnya juga hitam dan lebih kepada pesona nya yang memikat.


Letta mengangguk kepada ketiganya. matanya menatap mereka satu persatu.” Mamaku Areta. Kalian bisa memanggilku Ale..” Bisiknya pelan. nama yang sangat ia rindukan. Nama kecilnya dulu. Ia tidak pernah menggunakan nama ini kecuali dari orang asing. Entah bagaimana ia bisa merasakan hangat saat orang memanggil nama ini.


Ketiganya mengangguk.”Kenapa tidak Letta saja? Itu terdengar lebih keren.”Ujar Mitun heran kepada Letta.


Letta mengerjab menatap Mitun. Ia menggeleng mulai melangkah diikuti ketiganya.” Nama itu.. aku kurang suka.”


Letta mengatakan hal sejujurnya. Nama yang ia ganti semenjak bersama Ragiel. Nama yang membuat ia kehilangan jati dirinya sendiri. Ketiganya mengangguk paham saja.”Tapi jika aku panggil Letta saja bagaimana? “Tanya dari Cakra menyahut lagi.

__ADS_1


“Hak mu.” Jawab Letta acuh melangkah mulai jogging lagi..


Ketiganya saling lirik dan mengejar Letta.” Kenapa jogging pagi pagi begini? Apakah kau ada masalah?? Atau sedang ingin melatih diri untuk tes abdi Negara?”Tanya Mitun kepada letta untuk mencairkan suasana.


“OOya.. ku lihat postur tubuhmu bagus dan juga cocok. “Sahut dari Cakra.


” Atau jangan jangan kau sudah jadi anggota yah?”Tanya Borti lagi menyahut.


Letta mendengarnya menatap ketiganya, sejujurnya dulu menjadi abdi negara adalah. cita-cita tapi semua usai. Ia menggeleng.”Hanya ingin.” Ujarnya pelan.


Letta suka ditanya, ia suka orang orang cerewet begini, dengan begini ia merasa hilang dari masalah, ia bisa terhindar dari kesedihan dan kesepian. Letta tau ini hanya sesaat tetapi setidaknya biarkan saat ini ia merasakan hangat dalam kehidupan nyata.


“ kau terlihat cuek sekali.’" Gumam Mitun terkekeh.”Kau terlihat bukan orang sini. Kau orang ,mana memangnya?” Tanyanya lagi melanjutkan pertanyannya. Letta masih melangkah dengan nafas ngos-ngosan nya, sesekali menyekah keringat yang membasahi pelipisnya.” Aku orang kota. Kesini sedang menjalankan tugas dnegan bosku. Kebetulkan sudah bangun jadi jogging sekarang,.”Ujarnya menjawab. Melirik ketiganya.”dan kalian ngapain? Bukanya ini sangat pagi?”Tanyanya balik


Mitun dan keduanya saling lirik. Menatap Letta dan berkata.”Kami tugas mengawasi daerah pantai disini, karena banyak terjadi kasus asusila, *3** bebas, kebut kebutan. Jadi kami mengawasi di sini hampir setiap pagi.” Jawab Mitun dengan pelan.


Letta mengangguk.”Jadi kalian polisi?”Tanya Letta paham. Ketiganya tersenyum mengangguk.


Letta menatap mereka dengan tatapan datar dan juga paham.”Wajar kalian terlihat kekar dan juga sehat.”Gumamnya. ketiganya terkekeh mendengarnya.


Letta ikut mengangguk. Mereka mulai berbincang dan juga bersenda sua,. Letta mendapatkan teman baru. Keempatnya berlari sampai ketepi pantai. Saat dimana matahari terbit. Letta duduk diatas batu dan menatap bulan yang berganti matahari menyinari pagi ini. di sisinya ada ketiga temannya yang baru tadi ikut menatap matahari.,


“Kayaknya sampai di sini saja deh... aku harus kembali.” Letta mengatakannya dengan wajah dingin, ia sedikit tidak senang jika harus kehilangan teman seceria dan juga secerewet mereka, ia cukup merasa senang ketika tidka kesepian lagi.


mitun mengangguk sendu.” Nanti kau harus membalas pesan kami. Lain kali kita akan main lagi.. bayyyy Are..!!!!” Jawab Mitun pada Letta.


Letta bangkut dari duduknya, mengangguk kepada Mitun. Ia melambaiklan tangam.”Bay.” ketiganya tersenyum menatap Letta menjauh.


Cakra menghela nafas mnatap Letta menjauh.” Dia sangat dingin tapi dia baik...aku jadi ingin menjadikannya kekasihku.” Gumam Cakra pelan. lelaki manis itu tersenyum,


Kepalanya dipukul oleh Borti kesal.”Kau ini berhayal terus. Ayo kita ke kantor, nanti kita akan kena hukuman. Kita ada apel pagi.” Keduanya mengangguk mulai pergi.


Meninggalkan tempat bersama Letta. Mereka sempat bertukar nomor telepon tadi kok. Letta melangkah tenang menuju hotel. Masih jam enam ia baru hendak masuk ke hotel hp miliknya bergetar.


Letta mengangkat telepon yang ternyata dari Carmon. Ia menekan ikon hijau dan mendekatkan P ditelinga nya tetapi dikagetkan dengan suara Carmon yang meledak ledak. Letta harus menjauhkan lagi HP dari telinganya.


“LETTA KAMU KEMANA HA?!!!!!” Letta diam mengerjab menggenggam HP miliknya kesal selalu. Letta mendekatkan lagi hp nya di telinga dan berusaha tenang melangkah menuju kamar miliknya menaiki lift.

__ADS_1


Diseberang merasa kesal karena tidak dijawab kembali bertanya kepada Letta kesal., “LETTA KAMU KEM...”


Krek. Pintu terbuka menampilkan Letta yang masuk. Carmon yang sedang bicara mengerjab pelan menatap Letta yang datang dengan keringat yang memenuhi tubuhnya yan terlihat semakin ****. Letta mematikan HPnya menatap Carmon yang meneguk saliva kering menatap leher Letta yang mengkilap. Letta menyeringai dengan sengaja ia mengusap lehernya.


__ADS_2