Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
Masa lalu


__ADS_3

Hay Hay semua.. sebenarnya ini itu udah mau tanya, tapi aku kau tuntaskan masalah-masalah yang memang dari keluarga Letta belum tau dan masa lalunya. bukan mengulur sebenarnya supaya tidak ada yang tertinggal dan bertanya bagaimana si Aleta bisa berjuang eaaa hehe. sebenarnya semua orang bisa karena terbiasa.


.


.


.


.


Rizal mengusap wajahnya kasar. Baik areta maupun Zaxi sekarang diam dengan tatapan kosong. Dan rizal sangat senang melihat itu, di hatinya ada rasa puas untuk hal ini. “ Kalian terlalu merhatiin penderitaan kalian sampai kalian tidak bisa ngerasaain penderitaan areta. Jauh dari yang kalian bayangin sekarang, lebih sakit yang kalian razakan.. Kalian lebih buruk dari yang kalian bayangkan..” bisik Rizal lagi.


Zaxi diam nanar tak menjawab, semua perkataan Rizal bak pukulan talak yang menimpa dirinya, sangat sakit dan menakutkan untuk dirinya terima. Tangisan Zaxi tidaklah sebesra Areta tapi penyesalan Zaxi sampai ketulang tulangnya.


Rizal berjongkok di hadapan Zaxi. Menatap wajah Zaxi. Zaxi yang ditatap menatap Rizal kosong. “Nyesel? Gue bener bener mau nonjok loe.. tapi bisa bisa gue dibunuh Letta. andai aja letta enggak ngelarang gue. loe udah habis di tangan gue,” bisik Rizal terkekeh hambar.


Zaxi ingat jika dulu semua kebutuhan operasinya dibantu oleh neneknya ternyata itu salah?


...----------------...


Anak usia lima tahun dan kedua kakaknya berjalan di jalanan menuju tanpa arah. Aleta menatap polos Zaxi yang menggendong Reta penuh darah. Dirinya ikut andil dalam menggandeng.


Tapi tiba tiba tubuh kedua kakaknya jatuh. Areta si anak polos terpekik kaget menatap kedua kakaknya yang jatuh.” Kakak..” teriaknya nanar.


Letta menarik tangan Zaxi, tapi zaxi sudah tidak sadarkan diri, menarik tangan areta malah tambah parah. Areta gemetar ketakutan, keadaan benar benar buruk menatap lain arah, ini itu jalan dekat hutan cukup gelap tapi lampu jalan dekat sini ada di depan sana. Areta menatap jalan yang yang masih cukup jauh disana.


Dengan gemetar menahan sesak, sedih dan takut letta berlari untuk meminta bantuan kepada orang yang ada di jalan. Banyak yang melewatinya begitu saja tapi Letta masih tetap berusaha sembari menangis dan gemetar.


Berakhir setengah jam setelahnya Satu orang berhenti dan membantunya. Disana ada beberapa lelaki yang ternyata bekerja di salah satu tempat kerja malam, mereka bergegas membantu letta dna kakak kakak yang sudah tertinggal.


Aleta dan Zaxi di bawa ke rumah sakit. Dan Aleta yang duduk di depan pintu. Tidak ada sedetikpun ia mengalihkan pandangan. Sedangkan orang-orang yang membantunya sudah pergi karena harus bekerja. Hanya sendiri di usia dini. Tubuh aleta sangat dingin karena baju yang ia kenakan baju tidur yang tipis senagkan ini diluar. Tapi tidak masalah, tubuh yang dingin di gantikan rasa cemas dan kalut. Aleta terus menangis tanpa suara karena saat itu keadaannya kacau.


Tiba keluar dokter, ia melompat mendekati dokter. Mengusap air mata yang terus menangis dan membuat pandangan nya memburam. Letta melakukan sebagaimana orang tuanya dulu melihat mereka yang sedang terluka, dan bertanya.


” Dokter bagaimana keadaan kakak kakak Ale?” suara Ale terdengar sangat serak dan parau akibat terus menangis sedari tadi. Bahkan beberapa kali suara sesak dada yang tertahan. Mata yang sembab, baju Drpan yang basah dan penuh bekas dari api membuatnya menghitam, serta kaki yang penuh luka akibat berjalan tanpa sendal bahkan beberapa sobek di celananya dan baju yang dihinggapi bunga yang lengket. Mereka kabur tanpa menggunakan sendal sama sekali, tidak sempat.


Dokter berjongkok menatap Letta sendu dan nanar.” Adek mana orang tuanya? Bisa dipanggilkan sayang?” Tanya sang dokter pria itu lembut. Usianya mungkin baru memasuki kepala tiga dengan wajah putih bersihnya.


Aleta kembali mengusap air mata yang jatuh, menggiit bibir bawah menahan isakannya agar tidak mengganggu orang lain.” Enggak ada dokter, mama papa udah mati. Kita Cuma bertiga.” Jawab letta terisak dengan derai air mata yang terus berjatuhan.


Dokter melihat letta menjadi sangat iba. Ia mengusap kepala Letta dan berkata sendu.” Terus bagaimana dek? Adek punya saudara atau wali? Adek bareng siapa tadi?” Tanya dokter lagi penuh kesabaran. Dokter sangat kasihan melihat letta yang bergetar ketakutan dan tidak baik baik saja.


Aleta mengusap ingusnya kuat, menggeleng.” Dokter letta engak punya siapa siapa selain kakak kakak, semua sudah mati, rumah letta kebakaran, papa mama di tusuk dan dor. Kepala mereka semua berdarah. Kakak Ale juga di dor, are nggak tau hiks hiks. Dokter tolongin kakak kakak, buat sembuh dokter. Ale enggak tau,.” Isak letta benar benar menyedihkan.


" Kalian di rampok???" Tanya dokter heran dan kaget.


Aleta terdiam sejenak, jika ia jujur bukankah nanti mereka juga akan di tangkap? Dan mereka akan di bunuh juga? Aleta menggeleng" Kejadiannya udah lama. Ini kita hidupnya bertiga tadi kakak kakak Ale kena pukul." Dengan nanar Letta berbohong.

__ADS_1


dokter tidak percaya. " Dokter laporkan yah.."


Aleta menggeleng nanar. " Dokter tolong kakak Ale. Lapor polisi nanti aja, Ale takut nanti kakak-kakak Ale juga dibunuh, nanti Ale sama siapa." Lirihnya nanar memegang tangan dokter.


" tapi nanti kamu harus jujur yah." Ujar dokter. Letta mengangguk nanar.


" Terus jika begitu kita harus menemui siapa untuk wali kalian"?" Tanya dokter lagi.


Letta menggeleng. " Nggak tau . hiks hiks " Aleta menangis menatap dokter tak tahan.


Dokter mendengar letta sangat iba. Ikut menangis pelan.” tapi kakak kakak Are butuh oprasi sayang, dan dokter tidak bisa jika tidak ada persetujuan wali atau biaya administrasinya. Dokter bisa bantu tapi sayang dokter juga baru kerja disini, “ bisiknya lirih,.


Aleta mengerjab polos kepada dokter.” Terus Are harus apa? Are juga tidak punya uang., are Cuma punya kakak-kakak tubuh are.” Aleta menunjukan dirinya dan mengerjab polos.


Menatap dirinya dna menatap kalungnya sendiri.”tapi are punya kalung cantik. Ini bisa kan dokter? Dokter ini kata papa mahal.” Bisiknya membujuk.,


Dokter menangis , menggigit bibir bawha menatap Aletta . Dokter mengangguk menatap kalung aleta.” Baik... dokter usaha dulu yah sayang. Kamu tunggu di sini yah.” jawabnya mengusap kepala aleta.


Aleta mengangguk polos.” Kakak kakak Ale baik baik aja kan?”Tanya Aleta polos lagi.


Dokter tersneyum masam menitihkan air matanya sesak.”iya. ale doain aja yah sayang supaya kakak kakak ale sehat dan bisa main lagi,” Itu semua bohong sebab kedua kakak Letta sekarang sedang sekarat. Nyawa mereka di ambang kematian.


Aleta tidak paham mengangguk polos. Dokter memberi ruang agar letta tidur dan istirahat tapiu letta enggan, ia terus menjaga dan tidak tidur agar melihat kakak kakaknya sehat.


Sampai pagi dan kedua kakaknya harus kembali dioprasi dan dimasukkan ke ruang khusus akibat dari nafasnya yang sangat tipis dan detak jantung yang ob normal. Areta di nyatankan Kritis beberapa minggu berakhir koma selama beberapa bulan. Sedangkan Zaxi sudah dioprasi dan menunggu sadar dan kondisi tubuh yang membaik.


Aleta hanya diam menatap kakak kakaknya yang di ruang ruang berbeda. Aleta selalu membantu Zaxi atau Areta dalam membersihkan diri atau beberapa dari perawat yang meminta bantuan padanya untuk menjaga keduanya. Aleta menjalankan hari tanpa siapapun membantu kecuali para dokter dan suster yang kasihan padanya,.


Areta harus diberi ruang khusus yang memakan harga besar.


Aleta sudah tidak punya apapun lagi menatap dokter yang meminta biaya dan berkata jika areta harus kembali dioprasi karena al4t VL nya harus dioprasi karena membusuk terinfeksi. Dan harus berhadapan dengan biaya lebih besar.


“ Ale tidak punya apa apa, apa yang harus ale jual dokter?” Tanya Aleta mengerjab polos menatap areta yang dirawat. Mata Aleta membengkak menatap kedua kakak belum juga bangun.


Dokter terus mengusap air matanya. ingin membantu tapi memang kelas yang dimasuki oleh areta dan Zaxi ini tidak bisa menggunakan gratis sedangkan mereka hanya bergaji tidak begitu banyak. Dokter mengusap kepala letta, mata dokter sudah merah dan berkaca-kaca.


Letta mendongak menatap dokter polos.” Tapi katanya bisa jual mata. Apa Ale jual mata ale aja yah biar kakak kakak bisa sehat dan bangun.”


Dokter semakin memnggigit bibir bawahnya mendengar ucapan polos letta. menarik nafas dalam dan berjongkok. " Emang Ale nggak mau lihat lagi??" Tanya dokter sesak.


Aletta menggeleng polos. " Nggak apa-apa yang penting kakak-kakak bisa bangun dan main lagi." Jawabnya tak ada beban. Dokter memalingkan wajah sebab air mata yang sudah di tahan jatuh juga


”kamu enggak harus jual apapun sayang di diri kamu. Jangan gitu sayang kakak kakak pasti sembuh,” suara dokter nyelekit dan tercekat di tenggorokan. Hatinya sangat sakit dan tidak bisa berkata lebih banyak.


Aleta mengangguk.”tapi kata dokter harus oprasi lagi, oprasi pasti butuh uang lagi. Ale tidak punya uang selain kalung dan cincin mama papa.letta tidak mau jual. Letta mau jual apa yah dokter biar bisa dapat uang.” Letta cemberit menatap kedepan.


Dokter menggeleng, anak selecil ini, begitu polos dan tulus. Dokter terus menangis dan selalu menghantarkan Aleta makanan, baju hangat dan susu karena kasihan. Begitu juga beberapa perawat yang merawat aleta.

__ADS_1


Setelah nya mereka mengajukan biaya agar biaya rumah sakit kedua kakak Letta bisa di bebaskan.


Ternyata tetap tidak bisa sebab clas yang diambil menggunakan dokter ahli.. aleta harus membayar setengah harga di setiap perawatan ruang,. Yang artinya hanya membayar obat dan peralatan yang dikenakan dan beberapa dokter sepakat untuk merawat secara gratis


Letta melangkah samar smaar mendengar ada yang berkata butuh ginjal untuk suaminya. Areta mengerjab mengintip di sela pintu di sebelah sang kakak. “ tapi dok saya tidak mau dok suami saya meninggal dok. tolong dok saya akan bayar berapapun ginjal itu dok.” isak tangis sang istri menyakitkan.


Aleta tidak paham mendekat dan menarik lengan dokter.” Dokter mereka punya sakit kayak kakak Zaxi yah? ginjalnya rusak?”’tanya aleta lagi polos. D


okter yang tadinya focus pada pasien melirik letta sendu.”iya sayang. Tapi ini tahap memprihatinkan gitu,, jadi butuh donor ginjal.” Jawba dokter sabar.


Letta mengangguk.” Emang ginjal itu apa? Terus berapa?” Tanya letta.


dokter menatap letta terkkeh gemas.” Ginjal itu salah satu arogan tubuh yang dimiliki setiap orang. kamu juga punya ini.. dan ini sangat dibutuhkan agar bisa menjalankan aktifitas sehari-hari lebih kuat.” Jawba dokter.


Letta mengangguk paham.” Oh berarti letta juga punya. Emang berapa harganya? Letta mau jual dong kalo mahal. Buat oprasi Areta katanya besok harus di bayar.. kalo tidak penyakit Areta tambah parah karena infeksi.” Bisik aleta polos. Dokter mengeran muram pada letta. dokter menjelaskan kepada letta agar tidak mengatakan hal itu sebab sang anak tidak boleh menjual ginjal dan lain lain. Itu dilarang.


Itu awal dari mana aleta harus memulai hidup baru, selalu mencari cara agar mendapatkan uang, karena setiap oprasi dan biaya areta butuh banyak biaya.


Dokter menyarankan ia menggadai saja jika tidak ingin kalung dan cincin ibunya dijual yang artinya tidak di jual, Aleta yang polos setuju dan menggadai peningalan sang ayah dan ibu.


ia cukup banyak mendapat uang, yakni dua puluh miliar, tapi itu semua habis tidak tersisa akinbat biaya inap, baya oprasi, biaya obat.


Setiap minggu menghabiskan sepuluh juta, dan areta koma selama enam bulan, rawat inap seusia bangun selama satu tahun akibat depresi berat alias gila.


Setelahnya harus dibawa pulang karena semua uang memang benar benar habis. Dan areta terus berteriak nbak orang kesetanan di rumah.


Aleta juga harus bekerja mencari uang membeli obat dan kebutuhan orang lain. Banyak yang ingin mengadopsi letta tapi letta menolak untuk para kakak kakaknya, salah satunya beberapa dokter di rumah sakit,. Tapi Letta enggan, mereka tidak mau membawa kakak kakaknya, siapa yang mau membawa kakak kakaknya yang sakit?


Jadi letta memilih merawat kakak kakaknya.


Aletta memilih merawat mereka saja di rumah yang ia sewa.


nenek yang merawat Aleta selama sebulan atau beberapa bulan itu bohong... sebab Aleta hidup sendiri sedari kecil dan tinggal dirumah sakit menjaga kakak-kakak..


Rumah itu peninggalan nenek juga bohong sebab itu rumah sewa yang harus di bayar setiap bulannya.


Uang biaya berobat itu gratis juga bohong agar kakak-kakak nya tetap ingin berobat dan tidak memikirkan biaya rumah sakit


dan Aletta melakukan semua itu demi kakak-kakak nya, Aletta lakukan itu agar kakaknya tidak memikirkan uang atau hal lain...


Karena kata dokter tidak boleh menambah pikiran kakak-kakak nya. Aleta ingin kakak-kakak nya sembuh


Semua demi Areta dan Zaxi.


.


.

__ADS_1


.


... Haduh tuntas yah ges kebenaran yang ada... Jadi jangan penasaran lagi pas kecil Letta nya hehe.....


__ADS_2