
Letta melangkah keluar dari ruangan milik Samuel, tersenyum tipis menatap kedepan tajam. Samuel rerlihat kacau, meski keluarganya belum terancam, ini sudah cukup membuat ia bahagia. Letta tau jika menjatuhkan keluarga Samuel sampai titik nol tidaklah mudah, bagaimanapun Samuel memiliki orang dalam di dunia gelap, mangkanya ia masih ada penolong dan membantu usahanya. Usaha Samuel menutupi usaha usaha gelap miliknya dan usaha gelap menunjang usaha Samuel agar terus berkembang dan membesar.
Inilah yang Letta cari tapi belum ada satupun titik temu dari yang Letta dapatkan dunia gelap mana Samuel ini pimpin dan bekerja sama., Letta tidak ada satupun info tersebut, semua akses seperti ditutup rapat oleh Samuel, atau mungkin orang-orang berkuasa di dunia gelap yang terlibat? Jika benar Aleta akui jika awalan buruk bukan main main lagi. Dia bukan orang yang bisa Letta singgung.
Sebenarnya Letta juga tidak tau bagaimana cara membobol info orang dalam Samuel, yang pasti jika ia sudah tau nanti ia bisa bergerak lebih leluasa dan melakukan apapun sesukanya.
Sejujurnya mematikan keluarga Samuel yang memberatkan memang adalah orang orang dibawahnya, songkongan keluarga Samuel sangat kuat, jika perushaan lain sudah pastilah sudah rugi besar besaran seusai gosib dan juga kasus ini beredar atau seenggaknya akan membuat keluarga atau perusahaannya menyusut drastic. Tapi lihat, keluarga Sam hanya menurun sedikit saja, jika dihitung hanya 0,4 persen saja, selebihnya tidak.
Lalu mengapa Letta melakukan atau menghentikan aksi pengkhianat lain dikeluarga Samuel? Penghianat pengkhianat itu cukup membuat posisi Letta terancam jika Samuel sendiri yang menemukannya, jika kelak Samiel yang mencurigai orang lain maka ia akan termasuk kedalam draf orang orang yang dicurigai atau orang orang yang akan di selidiki, jika dirinya di selidiki maka dirinyalah yang akan terkena imbasnya. Memang belum tentu mereka akan menemukan bukti jika Letta salah satu Pengkhianat tetapi Letta lebih memilih mengambil opsi awal, tak menjerumuskan ia dalam kesalahan. Lagi pula ini membuat keuntungan dari dirinya lebih besar. Sejujurnya juga tidak bisa dikatakan untung, sebab menjadi orang kepercayaan akan membuat ia harus terlihat sempurna dihadapan Samuel dan ia jadi tidak bisa bergerak lebih bebas.
“Letta..!!!” Letta melirik kebelakang, disana ada Carmon yang tersenyum berjalan kepadanya. car,on mengusap kepalanya pelan berdehem sejenak.”Aku ada proyek di Bandung menggantikan kakakku semenjak, kamu harus ikut.”Ujar Carmon pelan pada Letta.
Letta berdehem mengangguk. Carmon tersenyum lebar, entah knapa saat tau bagaimana Letta menjaganya Carmon saat insiden kemarin, Carmon menjadi hangat dan mempercayai Letta.
Ia berehem lagi.”Mau menemaniku untuk kekantor polisi tidak? Aku harus mendapatkan tanda tangan kakakku untuk persetujuan pengalihan sementara proyek ini.”Ujar Cramon lagi.,
Proyek tidak bisa langsung dialihkan, harus ada persetujuan dari pemimpin awal. Jika tidak maka akan dikatakan ilegal lah proyek tersebut, boleh jika tidak ada pertemuan, tapi jika sudah ada pertemuan dan kesepakatan maka harus ada surat pengalihan.
Carmon kembali merekahkah senyumnya dan mengangguk menarik lengan Letta, tapi Letta segera menepisnya dan berjalan meninggalkan Carmon kedepan. Carmon tertegun, menatap tangan miliknya, ada sedikit tak senang, di sudut hatinya Seperti ada yang mencubitnya. Carmon berdecap sebentar dan melangkah mengikutui Letta,”Hey hey. Disini aku bosnya. Aku yang harusnya di depan, kau dibelakang..!!!” Teriak Carmon mengejar langkah Letta.
Letta melangkah tak menjawab, Cramon berdecap kesal melangkah cepat di sisi nya Letta, melirik Letta yang berjalan diam kedepan. Menarik telinga Letta. Letta kaget melirik ke sampingnya. Carmon disana mendekati bibirnya ketelinga Letta.”Kau ini yah..!!!!” Teriaknya kuat.
Letta mendorong Cramon kuat mengusap telinganya terasa nyaris meledak. Carmon cukup kaget dan mundur satu langkah. “Kau..! apa yang kau lakukan??!!!” Teriak Letta kesal. Telunjuknya menunjuk wajah Carmon garang.
__ADS_1
Telinga miliknya berdengung tak sedap akibat gendang telinganya terasa bergetar, bahkan terasa pekak karena teriakan Carmon yang sangat dekat ditelinga nya.
Bukannya marah. Carmon malah tergelak kuat mendengarnya menatap Letta mengejek.”Mangkanya jika ada yang bicara itu didengar dan dijawab, terutama aku. Lagipula tadi aku pikir kamu memiliki telinga yang sedikit gangguan, karena selama ini kamu tidak suka menjawab pertanyaan orang lain, terutama aku. Kau terlalu meremehkan aku padahalkan aku adalah atasan kamu, ingat yah aku atasan kamu.” Dengusnya. Bak anak kecil kesal. Carmon menekan kata kaya jika dirinya adalah Atasan disana.
Letta menatap Carmon garang, wajahnya memerah marah mengepalkan tangan. “Telingaku sangat bagus, dan tidak bermasalah. Jadi berhenti bersikap kekanakan. Itu sangat mengganggu.”Ujar Letta setelah berdengus melangkah meninggalkan Carmon yang masih bersedekap dada.
Carmon menarik baju belakang Letta tak senang karena di tinggal.”hey hey. Aku akan selalu mengusikmu sampai kamu tidak mengabaikanku lagi, iya sampai kau tidak mengangapku remeh lagi. mendengarkan semua apa yang aku bicarakan dan menjadi patuh seperti orang lain.” Carmon bersuara tentang apa yang ia inginkam pada Letta.
Letta berdecih menarik tangan Carmon di bajunya menyentaknya mendekat. Carmon tertegun merasa tubuhnya terhuyung kedepan, reflek tanganya memegang pinggang Letta. Letta mendekati bibirnya di telinga Carmon. Jantung Carmon seperti berhenti berdetak saat bibir dingin itu menyentu telinga hangat miliknya. Carmom berani bertaruh jika sekarang telinganya asti memerah seperti kepiting rebus, menjawar di semua bagian wajah. Carmon menahan nafas merasa hembusan nafas Letta hangat menerpa telinganya, dibelakang telinga dan juga leher. Itu mengelihkan membuat tubuhnya panas.
Letta menyeringai merasa tangan Carmon gemetar dan telinganya smapai legernya memerah hanya karena nafasnya.
“Mimpi pun aku tak sudi..!!!” seusai mengatakan itu Letta melangkah melepaskan tangan Carmon, pergi bagai tak melakukan apapun.
” Harusnya aku yang jadi pemimin permainan bukan dia. Kenapa jadinya seperti aku yang menjadi perempuan dan dia menjadi laki lakinya. Ini tidak adil..!” Bisik Cramon mengusap telinganya yang masih merinding dan memerah. Carmon memukul udara dengan kesal dna menggerutu.
Dalam mobil Letta dan Carmon saling diam. Carmon yang cemberut masih kesal kepada Letta, sedangkan Letta hanya memejamkan mata dengan kedua tangan berdekap dada, Carmon melirik Letta di sisinya yang seperti tertidur damai. Saat tidur Letta terlihat lebih tenang.. carmons eidkit takjub, tadi ia terlalu kesal sampai tak ingin melirik Letta.
Carmon menatap alis mata Letta itu sangat hitam dan gelap teratur, tetapi dipelipisnya ada seuntai garis yang memisahkan garis rapi milik alisnya, Carmon dulu memikirkan jika itu adalah gaya seperti orang lain, tapi jika diteliti lagi, itu ada garis lain diatas garis pemisah alis, terlihat sejujurnya itu adalah luka, Carmon tertegun sejenak, alis salah satu factor pendukung Letta terlihat ganas dan juga garang. Terlihat menakutkan dimata orang orang, mata Cramon turun kearah hidung Letta, hidung Letta tidak terlalu mancung tapi berkail. Kalian tau berkail? Iya yang hidungnya tidak runcing tetapi di ujung hidungnya berkail dan juga berbentuk cantik. Hidung Letta sangat cantik.
Bibir Letta tipis, terlihat merah merona semenjak mereka bertemu, jadi Cramon tidak tau warna aslinya bagaimana, Carmon menaikan satu alisnya lagi lagi ia salah focus, di tengah hidung Letta itu seperti ada garis lain yang samar samar, itu seperti luka, apa itu juga luka??? Di bawa dagu Letta juga ada luka, luka disana yang paling terlihat, mungkin seperti luka jatuh dari main sepeda. Carmon juga memilikinya dulu, tapi sekarang sudah hilang karena diberikan obat.
Bentuk wajah Letta sangat tegas, rahangnya juga mempertegas vitur wajah miliknya, matanya dalam dan kening yang terlihat bersih tak memuncarkan tulisan pikiran. Letta tu cantik, tapi lebih kepada seram, ia mungkin mampu memikat lelaki manpaun yang melihatnya, tapi semua yang menyukainya lebih baik diam dan memendamnya saja akibat tekanan aura milik Letta. Letta seperti buah yang tak bisa digapai, hanya bisa dikagumi tapi tak bisa dimiliki. Seperti hanya diciptakan untuk dilihat tanpa di sentuh. Carmon merasakan hal itu.
__ADS_1
Carmon bahkan sadar jika dirinya semenjak bertemu Letta ia sudah tertarik, melihat auranya, cantik parasnya, tetapi sangat sulit untuk ia gapai, sangat gapai untuk ia atur. Carmon sadar jika sesungguhnya Letta diciptaan hanya untuk dilihat tanpa harus dimiliki.
“Tiga puluh menit kau menatapku tanpa berkedip. .”
Cramon terdentak mendengar suara halus dari bibir tipis milik Letta, dirinya gelagapan menatap mata Letta yang terbuka seusia terkatup tadi, entah sejak kapan bahkan Carmon tak menghitung berapa lama ia menatap Wajah Letta sedekat ini. perasaan hanya baru beberapa menit. Eh tunggu, berarti tadi selama ia mentap Letta Letta tidka tidur? Letta membuka matanya menatap Carmon datar.” Matamu, jika mata itu orang lain, maka sudah ku pastikan akan pecah ditempatinya detik ini juga..!!” Bisik Letta pelan dari sara dalamnya.
Carmon kembali tersnetak mendengarnya. Wajah Carmon memerah akibat kembali terciduk, ini bukan sekali lagi tapi sudah dua kali seusai diingatkan. Carmon memalingkan wajah kea rah lain tak enak merasa gugup.”Jangan GR. Aku melihat hanya beberapa detik, tapi kau sudah membuka mata. Kau mengarang, lagi pula kau tidur mengeluarkan air liur yang mampu membuat danau. Ini menjijikan.” Jawab Carmon tanpa menatap mata milik Letta.
Letta menghela nafas. “ Hitungan nafasmu menjadi bukti. “ Bisik Letta pelan. Carmon merasa suara Letta selalu berbisik sata bicara. Carmon sedikit tidak bisa mendengarnya membuat ia mendekati telinganya tapi tak ingin terlihat jelas. Ingin bertanya” Ha? Atau apa?” Itu sangat memalukan. Carmon hanya berdehem saja supaya tidak dikatakan pekak.
Letta melirik Carmon yang melirinya dan kesal. Lerta terkekeh menguap kepala Carmon pelan. Carmon mengerjab polos merasa kaget, melirik Letta dnegna tanda tanya. Letta sudah berhenti terkekeh melirik Carmon.” Telingamu banyak kotoran, jadi nanti pulang darii sini bersihkanlah. “ Bisik Letta.
Carmon yang dikatakan seperti itu melotot menatap Letta.,”Kyaakk. Mana ada, aku dengar apa yang kau katakan. Jadi jangan sok tau..!” Tegasnya tak terima.
Letta mendekati wajah Carmon dan bertanya.”Emang apa yang aku katakan tadi hem?”Tanya Letta pelan.
Carmon memundurkan wajah menatap wajah Lettaz mengerjab pelan merasa panas dingin akan pertanyaan Letta. Ia menatap Letta lagi dan memutar otak untuk menjawab, apa yang dikatakna Letta tadi benar benar tak ia dengar. Carmon berdehem sejenak.”Telingaku bagus, tapi suaramu sangat kecil, jadi bukan salah telingaku.”Ujar Carmon mendorong bahu Letta.
Letta terlihat terkekeh pelan menatap kaca.” Masih mau bilang jika aku yang pekak???”
Carmon menatap Letta tertegun. Oh jadi Letta balas dendam. Ia menyipitkan mata menatap Letta yang menatap langit.”Kau pedendam yah.”Bisiknya pelan.
Letta mengangguk pelan.”Yah. aku pedendam yang sangat akut.”Bisik Letta menatap langit biru tanpa menatap Carmon yang bertanya. "Jika dendam itu belum tuntas maka aku tidak akan membiarkan diriku mati, bahkan jika aku sudah mati lebuh dulu, ku pastikan di kehidupan keduanya akan ku teriakkan dendam itu harus terbalaskan.” Bisiknya. Carmon tertegun mentap kilat amarah dimanik mata Letta.
__ADS_1