Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
Lapar


__ADS_3

Letta mengangguk menghela nafas. Areta menatapnya gembira lalu membukanya dengan semangat, rasanya sangat gembira membuat Zaxi iri, tadi ia membeli apapun tidak ada AReta seantusias itu, itu terlihat seperti mendapatkan harta karun. Zaxi tersenyum lirih.


Areta mengeluarkan sekotak buah nanas yang dibuka dan buah semangka yang sudah di kupas dna dipotong dadu ditempat.,’"Wahhh.. Ale membelikan aku nanas dan semangka..” wajahnya terlihat berbinar senang menatap buah yang dibawah Letta.


Sedangkan Zaxi mendelik tak senang menatap Letta di depannya.” Apa apaan? Kau membelikan Areta nanas dan semangka? Itu tidak baik, seharusnya kau beli buah anggur atau buah apel saja.” Ujarnya hendak merampas buah ditangan Areta. Zaxi iri, ia juga ingin.


“Kakak apa apaan si? Aku suka nanas dan semangka..” Areta jelas menolak dan memeluk buah yang diberi Letta, menatap Zxai tak senang.


“Are..!!!” Zaxi mengingatkan dengan tekanan pada Areta, tapi Areta terlihat tak peduli menatap buah yang ia peluk. Zaxi mendengus kasar tak senang menatap Letta. Letta diam mengulas senyum tipis dibibirnya tapi jika orang awam melihatnya akan terlihat seringaian.


Zaxi diam mengepalkan tangan, bongkahan rasa iri menggelap dihatinya. Apa ia sakit saja biar Letta juga memperhatikannya?


Areta kembali membuka pelastik kedua, buah tadi tetap ia peluk, membuka pelan lalu menganga, mengerjab pelan melirik Letta.”Wahh kau masih ingat semua makanan kesukaanku ternyata.” Bisiknya lirih pada Letta. Letta tersenyum tipis, sangat tipis sampai tak ada yang menyadari nya.


Zaci mencebikkan bibirnya melirik yang dikatakan sang adik, mengerjab sejenak menghirup aroma makanan, meneguk saliva kering, itu bubur daging..!!! ia juga sangat suka, Zaxi menatap nanar Letta di depannya, merasa air matanya hendak jatuh. Mengepalkan tangan tak senang bak anak yang dipilih kasihkan oleh ibu.


Zaxi mati matian menahan diri agar tidak menangis, menguap wajahnya kasar agar tak terlihat matanya sudha berkaca kaca.


Areta tersenyum senang menarik ujung baju Zaxi.” Ada dua. Wahhh untuk kakak satu.” Ujar Areta pelan melirik Letta.” Untuk kak Zaxi kan satu?”Tanya Areta.


Letta terdiam sejenak, sejujurnya itu ia beli karena ia belum makan seharian ini, tapi merasa aura Zaxi yang tak enak membuat ia mengangguk pelan.


Zaxi yang melihat Letta mengangguk pun tak tahan mengulum senyum, mengambil bubur yang diberi Areta.” Hmem iya, karena aku lapar aku terima.”

__ADS_1


Melirik Letta dingin tapi siapa pun bisa lihat bibirnya menyembunyikan senyum, lalu mata yang berkaca-kaca kaca. Areta mendadak geli mmelihat kakaknya begini. Letta bahkan terkekeh pelan melihatnya.


“Letta kau tertawa?” Areta sampai bertanya dan tercengang. Letta mengerjab melirik Areta. Zaxi juga diam shok melihatnya.


Letta tersenyum dan menjawab.” Tidka boleh?


“Tidak tidak. Itu sangat indah, kau seharusnya banyak banyak tertawa,, tungguh tungguh, aku lupa membuka fotur camera, kakak seharusnya kau foto tadi..!” Retta menepuk lengan Zaxi kesal. Zaxi melirik Areta mengerjab masih ngeleg. Letta tersneyum tipis melihat kedua kakaknya Yang Terlihat Manis. Letta sudah lama tidak meihat hal ini. ini cukup menghibur hatinya yang menggelap.


Setelah perdebatan tadi, keduanya focus dengan makanan keduanya. Letta memilih mengambil pisang dan buah dinakas Areta, disana juga ada roti dan beberapa makanan, ada susu coklat kotak juga. Letta memakan dengan pelan menatap kedua kakaknya makan penuh binar.”Wahh ini sangat enak, dimana kau membelinya Let?”Tanya Are berbinar. Zaxi diam menguping pembicaraan, mencatat dalam otaknya untuk suatu hari nanti supaya bisa ia beli juga.


Letta mengerjab sejenak. “Di jalan panorama, disana di simpang tiga kau lurus saja beberapa kilo meter, disana ada namanya “Bubur Mang Dendi.” Jawab Letta jujur.


Areta mengangguk paham.”Aku pasti akan kesana lagi nanti. Ini sangat enak, dagingnya sangat empuk.” Ujarnya kembali mengunya melirik Zaxi.”Nggak kayak bubur yang dibawa sama kak Zaxi, lembek dan juga amis.” Lanjut Areta bengis,.


Zaxi mendelik tak senang meneguk bubur terakhir miliknya.”Manaku tahu, aku baru pertama kali beli disana, aku jarang makan bubur Are.” Balasnya mengambil mineral miliknya, memminumnya hingga tandas. Memang ia tak pernah makan bubur lagi seusai lima tahun ini, entah ada banyak pikiran nya jadi tak sempat menikmati hidup.


Tapi tangan Zaxi lebih dulu mengambilnya. Mendelik tak terima.”Ini kakak sengaja nggak makan biar nanti bisa kakak makan diakhir, kerupuk jangek alias kerupuk kulit. Kamu mau aja punya kakak.” Bisiknya tak suka memakan kerupuknya.


Areta mencebikkan bibirnya kembali memasukan mulutnya bubur.”Dasar kakak pelit..!!! kerupuk aja, bisa beli lagi nanti.” Balas Areta tak senang.


“ Tidak, sebab ini tidak akan bisa dibeli dimana mana, karena ini diberi oleh Letta.” Batin Zaxi dihati melirik Letta uyang diam saja mendengar perdebatan keduanya. Zaxi tertegun sejenak, merasa jika mereka sudah mengabaikan Letta seakan tak ada mahluk lain selain mereka.


Letta juga diam melihat keduanya, ada rasa sakit disudut hati, tetapi rasa bahagia mendominasi, melihat kakak kakaknya bahagia, dulu Letta bahkan tak memiliki tujuan hidup, hanya berharap tangan Zaxi tidak di amputasi karena tembakan itu, saat itu Zaxi hampir geger otak akibat benturan keras dan tangan yang hampir di amputasi terkena tembakan sangat dalam, hampir membusuk, tak punya biaya sampai Zaxi tidak bisa bekerja, lalu Areta yang memiliki penyakit infeksi dibagian inti tubuhnya, meriang dan hampir gila, menangis setiap hari, berbulan bulan inti tubuhnya mengeluarkan nana dan darah, tak bisa buang air kecil atau air besar dan lagi bengkak.

__ADS_1


Alasan kuat untuk Letta memilih bersama Ragiel, memberikan kehidupan layak untuk kakak kakaknya, memberikan perawatan yang terbaik agar keduanya sehat, pendidikan yang layak, makan yang enak, pakayan yang nyaman dan rumah yang hangat. Letta suka melihat keduanya hidup bahagia seperti sekarang. ada rasa iri tapi rasa ingin melihat mereka bahagia lebih mendominasi.


Areta yang tau tatapan zaxi menjadi menatap Letta yang tenggelam dalam pikirannya tertegun sejenak, merasa tak enak mengusap tengkuknya tak gatal.”Hehe maaf Letta. Kami tidak bermaksud untuk mengabaikan kamu. ”Bisiknya tak enak.


Letta berdehem sejenak memakan lagi buah yang ada. Areta diam menghabisi bubur miliknya menyimpan piring yang sudah bersih di nakas dan meneguk minumnya sejenak. Melirik Letta ragu, takut Letta sakit hati.


Letta merasa perutnya perih, karena memang sedari kemarin ia belum makan apapun, mengerang sejenak dan berdiri. Areta mengerjab pelan menatap Letta. “Aku pergi sebentar. Nanti aku kesini lagi.”Ujar Letta lalu pergi . Areta hendak bicara jadi terhenti, menatap sendu pada punggung Letta.


“kakak Letta tidak marah pada kita kan?”Bisiknya lirih.


Zaxi diam sejenak mendengarnya, merasa tak enak Zxai berdiri.”Kakak susul sebentar.”Are mengangguk lemas, menatap Zaxi keluar. Zaxi kluar mengikuti langkah Letta. Zaxi mengerjab menatap kemana letta pergi, sampai di kantin rumah sakit terlihat ia memesan makan. Letta diam duduk menunggu makanannya. Zaxi terdiam sejenak menatap Letta yang diam meminum minumannya, tersenyum saat makannya datang.


Zaci merasa air mata miliknya jatuh, melihat Letta makan sangat lahap,. Hati Zaxi sangat sakit melihat hal tersebut, tangan Letta terlihat genmetar memakan nasi miliknya. Zaxi mengupat pada dirinya sendiri, mengapa Letta selalu saja begini? Selalu mengorbankan dirinya? Zaxi baru sadar sesungguhnya mereka bahkan tidak menawarkan makanan pada Letta tadi sampai Letta mekakan buah buahan saja meski hanya beberapa gigitan Zaxi tidak tau kapan terakhir Letta makan sampai tangannya gemetar seprti itu.


Zaxi tak kuat. Ia memilih pergi dari pemandangan menyesak kan itu.


.


.


.


Jangan lupa jejak yah

__ADS_1


.


,


__ADS_2