
Viona menatap datar Sugi yang sudah sangat kurang ajar, anak anak sudah menggerumbuni Viona. Viona mengepalkan tangan. Plak.. mengumpul kebraniannya dna menampar wajah Sugi.
Semua orang menganga dan menitup mulut kaget. Sejak kapan si kuman bisa bertindak kasar begitu?
Sugi yang ditampar terdiam, sama halnya dengan kericuhan tadi, semua tak ada yang berani angkat bicara. Sugi mengangguk memegang pipinya yang terasa kebas. Cukup keras juga tamparan Viona. Ia menatap Viona yang menatap dirinya shok. Sudut bibir Sugi mengeluarkan darah, giginya juga bahkan berdarah. Bibirnya terkoyak. Viona lupa jika ia menggunakan cincin cukup tajam dan itu terbalik di sisi dalam.
“Loe berani sama gue..!” Brek... sugi menarik baju Viona, ia menyobeknya kuat. Semua semakin shok dan menatap keributan.
Sugi tak segan menampar Viona dua kali dalam hitungan bolak balik. Viona terkapar memegang bajunya yang terbuka. “ anjing. Murahan aja berlagu loh. Jangan sok suci. Surge aja liat loe ketawa anjing. Cuih... loe pikir gue mau sma Abadan loe yang udah digamah sana sini ha? Sama cowok yang nggak ada hubungan aja loe mau apalagi sama orang lain. Dasar rendahan cuih.”dua kali ia meludahi Viona. Viona terisak memeluk tubuhnya.
Semua orang menatap Viona rendah. Ia dirundung. Br4 viona berwarna hitam terlihat. ”Nggak usah ditutuyp lagi dek. Kita udah liat kok.. jelas malah tanpa ditutup tutup.” Goda salah satu kakak kelasnya menunjukkan video Viona yang sedang diatas ranjang bersama Gio tampa busana. Viona membekap mulutnya kaget. Dari mana mereka mendapatkannya??? Viona melebarkan mata tak percaya.
“ sentuh aja lah, lagian udah murahan... dipegang dikit nggak apa apa kali..!” Teriak dari seseorang yang mempreovokasi. Semua orang berseru, dua lelaki yang Viona tidak tau mendekatinya dan memegang dadanya,.
Viona kaget dan beberapa orang juga memegang pahanya. Viona kaget. Dan lagi seusainya datang beberapa orang ikut melakukan pelecehan besar padanya. Viona kaget berteriak dan memberontak. Empat orang menahan kakinya dna tangannya. Viona menggeleng kuat. air matanya merembes hebat, tak bisa ia tidak bisa diam saja. Tapi kekuatannya jauh kalah.
Via menggunakan rok disimkap sampai dalam4nnya terbuka, beberapa ada yang membukanya, sampai di beberapa lelaki disana berteriak heboh melemparnya jauh. Ia sudah tak bisa melakukan apapun. hanya menangis lemas saat tubuhnya dilecehkan banyak orang di tempat umum. Viona menangis histeris saat beberapa tangan menyentuh alat kelaminnya, da nada yang memasukinya menggunakan tangan dan alat.
Vuona semakin histeris saat tubuhnya diangkat dan dibukakan bajunya. Ia dibawa ke gudang sekolah. Miris, Viona ingin mati, mati mati... tidak ingin hidup lagi, tubuhnya hancur tanpa ada yang tersisa kecuali rasa sakit, malu dan mati. Beberapa perempuan disana hanya diam saja menatapnya, dan ada beberapa juga yang ingin membantu tapi tidak berani melakukan apapun.
__ADS_1
...----------------...
Di sisi lain Letta memainkan tangannya diatas kaki, menahan diri agar tidak trauma, ia trauma akan hubungan seksual karena dulu menyaksikan kembarannya dilecehkan diusia lima tahun. sekarang letta berani, ia malah menahan diri agar tidak trauma, melihat keturunan Samuel merasakan apa yang dirasakan oleh kakaknyua Areta dulu diperlakukan sama tak bisa ia tahan diri agar tidak senang. Seperti manusia yang sedang haus berat diberi air satu gelas, iya Letta puas.
Letta terkekeh lega. Ia terkekeh sambil menahan diri agar tidak meledak. Kejam, katakana ia kejam, semua sudah ia rencanakan, mereka harus membayar tuntas atas apa yang mereka lakukan dulu. Letta pastikan itu. tak akan ada yang lepas dari gengaman tangannya, apapun caranya.
Peinyiksaan batin,. Fisik, kehidupan.. haha bilang saja jika dirinya gila atau terlalu terobsesi pada dendam, tapi itu adalah faktanya. Smeua tak akan lolos dari tatapan tajamnya.
Letta menyesap the tawar miliknya, tersenyum menenangkan diri “ Semua dendam kakak udah ku balas kak. Tinggal dendam kak Faris dan kak Zaxi... setelahnya baru mama papa... “Gumam Letta diingin. Ia meng hubungi lagi orang orangnya yang sudah ia kerahkan dalam masalah ini. iya semua ada campur tangan miliknya.
...----------------...
Di sisi lain Viona menggigit bibir bawahnya hancur, ia hancur. ia ingin mati rasanya, tatapannya nanar menatap pria pria yang sudah mengenakan baju,. Meninggalkan dirinya tanpa busana, baju bajunya sudah terkoyak-koyak tak berbentuk. Tubuhnya hancur tak berbekat dalam keinginan. Ie terus menangis merintih kesakitan dalam bagian intinya.
Iya...
dia diperk0sa secara brutal oleh empat lelaki yang tidak ia kenali, tubuhnya tergamah secara bergilir bahkan mereka melakukan s0d0mi kepadanya, yang merupakan menggunakan lub4ng 4nus miliknya. Viona tidak bisa lagi hidup begini.
Viona merimngis melihat kebawah, merasa ada larva hangat keluar dari kel4minnya.. ternyata bekas dari sp3rm4 milik mereka maish mengalir. Viona bergetar memungut baju miliknya yang sudah tak layak, melangkah nanar.. ia tak sadar jika darah jugyha mengalir seusai sp3rma tadi keluar.
__ADS_1
Saat menggunakan pakaian barulah ia bisa lihat darah mengalir di sela kakinya.
Viona tak peduli akan anak itu, ayahnya saja sudah hilang dan tak ingin tanggung jawab, hidupnya hancur. Viona mengusap air matanya., tatapannya kosong menatap tubuh penuh memar, berdiripun sulit,. Jika pulang ia harus pulang kemana? Kerumah? ia pasti akan di bunuh oleh orang tuanya. Tak lagi ada tempat untuk dirinya selain hujatan dan cemoohan. Jikapun ia hidup ia akan hidup dalam rasa malu yang mengguncang jiwanya.
Viona sadar jika ia hidup, yang ia dapat hanyalah kesengsaraan. Viona menangis lirih, taka da lagi yang layak drau bajunya, semuanya sobek, bahkan ****** ***** dan br4 miliknya sudah sobek lebar. Ia menangis lagi diitengahh rasa sakit diperut bagian bawahnya. Memukul dirinya sendiri merintih perih.
Tatapannya terarah pada jendela, iya jendela yang memaparkan sinar matahari. Tatapannya kembali kosong. Hidupnya hancur.. tak ada gunanya..!!! tak ada rumah untuk pulang. Hidup penuh malu dan dibuang. Mati mati...!! kalimat terngiang ngian dikepalanya, seperti kaset rusak yang tak terkendalikan. Viona melangkah menuju jendela, tatapannya kosong menatap kebawah. Ini hanya lkantai tiga, jika ia loncar mati tidak yah? tapi ini cukup tinggi.
Hendak ke lantai paling atas lagi tapi rasa malunya sudah sangat tak tertoreh lagi. Viona menangis lagi mengusap perutnya yang semakin sakit.”Maafkan mama nak hiks hiks.. maaf kita mati bersama saja yah.. maaf.”
Ia menangis terus menatap kebawah. ia terkekeh melangkah menaiki jendela, menatap kebawah dan memejamkan mata, melompat menjatuhkan diri. Merasa hempasan angin semakin menyeruak rongga dada dirinya. Sampai tubuhnya seperti terpecah menjadi beberapa bagian. Kepalanya sakit terhantuk keras. Viona merasakan sakratul maut yang mematikan., ia tak akan melupakanm rasa sakit ini.
Agfh... semua murid yang sedang di luar ruangan kaget menatap tubuh Viona yang jatuh bersimbah darah. Apalagi keadaannya yang memprihatinkan. Semua menjadi ricuh dan ada pula yang pingsan. Semua memanggil dosen dan beberapa memanggil polisi. Tersisa Viona yang merasakan tubuhnya seperti lumpuh, semua bagian tubuhnya retak dan terkoyak-koyak.
Viona menyesal terlahir di dunia ini.
.
.
__ADS_1
.
.