Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
Menjenguk


__ADS_3

Dugh.. Mata Letta mengerjab menatap Samuel yang bertanya padanya.


Sedikit bingung ingin menjawab apa. Ini diluar dugaan.


Samuel diam sejenak saat Letta hendak bertanya.”Hahah tidak mungkin, kalian memang sekilas mirip tapi melihat dia yang begtu lemah lembut dan Anggun sedangkan kamu yang seperti lelaki ini mana mungkin saudara.. hahaha aku hanya bercanda..!!!!” Samuel menepuk pelan pundak Letta.


Letta menahan tangan Samuel,. Samuel tertegun melihat tangan miliknya yang ditahan Letta lkalu tangannya dihempas, Samuel mengerjab pelan menatap Letta yang tersenyum culas. Mengangguk dan menjawab.


“ Yah... saya lihat dari berita foto drinya yang beredar sangat beda dengan saya, saya cukup kaget tuan mengatakan hal seperti itu, dia sangat cantik dengan kulit mulusnya.,” Bisik Letta pelan.


Samuel terdiam sejenak, menatap Letta, ada rasa tak enak di dadanya mendengar hal sepat dari Letta, sangat sepat, sebab memang benar perbedaan keduanya bak langit dan bumi. Letta yang berkulit gelap sedangkan Areta gadis yang berkulit bak kulit salju, sangat dijaga dan dirawat, dengan proporsi tinggi yang cukup rata rata dan gemulai, sangat diincar jadi istri banyak lelaki, berbanding terbalik dengan Letta, sangat jauh bak langit dan bumi, kulit sawo matang, sangat irit bicara, kuat dan kulitnya kasar. Bahkan di sudut alis milik Letta terlihat ada bekas sayatan membuat alisnya terpotong, lalu di bagian dagunya juga ada, itu tidak rerlihat jelas tetapi sangat berbeda dengan sosok yang ia dibandingkan.


“Nona Letta, ini buburnya..”


Letta menoleh pada pelayan yang memanggilnya. Letta mengangguk Melirik Samuel yang masih diam di depannya merasa bersalah.


Letta berdehem sejenak.”Saya permisi.” Samuel mengangguk pelan menatap langkah Letta yang terlihat santai menuju dapur. Samuel meringis memukul bibirnya karena sudah melakukan hal buruk.


Mana ada si wanita yang suka di banding bandingkan?


Letta measa moodnya buruk, Letta tidak membenci Areta. Tetapi Letta tidak suka dibandingkan dengan kakak kembarannya tersebut, kakaknya yang jauh berbeda dengan dirinya dari dulu sudah menjadi momok hal yang paling digemari oleh banyak orang, sebab aura Areta yang ceriah sedangkan dirinya yang memang pendiam menjadi kembarannya lebih dominan, ayahnya bahkan lebih sering bersama Areta. Sekali lagi Areta tidak benci, tetapi ia tak suka dibannding banding.


Letta menyuruh pelayan membawa makanan itu kekamar Carmon, lalu menyuruh mereka keluar seusai menghantarkan makanan, Letta duduk di smaping ranjangnya Carmon, menepuk pelan pipi Carmon pepan. Carmon terlihat membuka matanya melirik Letta bertanya. Letta melirik makanan yang di dkat nakas.” Ini makananya sudah selesai, silahkan dimakan.”


Carmon melirik makananya dan Berusaha duduk bersandar di pinggiran kasur, menatap Letta yang diam saja, mengerjab pelan berharap disuapi atau ditawar disuapi. letta tetap tak bergeming. Carmon menghela nafas, bisa bisanya ia berharap dengan manusia robot. Ia terpaksa mengambil nampan berisi sop jahe yang dicampur dengan labu kuning, ada teh lavender juga yang berbau wangi.


Letta diam melirik Carmon yang terlihat beberapa kali memejamkan mata menepuk makanya. Letta menghela nafas.” Aku akan pulang, menjemput anakku, pagi besok aku akan kemari lagi.” Letta tak berbasa basi dalam bicara.

__ADS_1


Mata Carmon menatap Letta tak setuju.” Mana bisa begitu, kau lihatkan aku lagi sakit, hey aku bahkan melindungimu dari orang tuaku, setidaknya kau harus bertanggung jawab. Bahkan kau tak meminta maaf kepadaku.” Balas Cramon tak senang. Menghentikan acara makannya menatap Letta. Sudah sedari tadi Carmon menunggu kata maaf keluar dari mulut Letta.


Letta mendekat pada Carmon, wajahnya dengan wajah Cramon sangat dekat, Carmon menjadi sangat gugup mundur memegang sub miliknya erat. Letta berbisik. “ Tanggung jawab??? Memangnya aku melakukan apa hmm?”


Carmon merasa nafas Letta menyapu wajah nya, menelan saliva kering menjawab.,”kau yang membuat aku sakit, dan kau tak meminta maaf. Ka kau tidka di ajarkan minta maaf ha?” Tanya Carmon memberanikan diri menatap Letta juga.


Letta menaikan satu alisnya dna terkekeh mengusap pipi Carmon. Carmon melotot menatap Letta bengis. Letta mengerjab berbisik tepat ditelinga Carmon.” Kau yang menyuruhku membuat kopi? Tidak memberi tahu kau alergi kopi dan terakhir menyalahkanku??? Maaf, aku diajarkan mengatakan maaf, tapi ketika aku bersalah, bukan kepada orang yang bersalah. “ Letta kembali terkekeh seusai bicara.


Carmon diam merasa merinding, sentuhan Letta seperti mengusai dirinya.. bulu kuduknya merinding menatap Letta. Ingin bicara tapi rasanya tenggorokannya tercekat sejenak. Letta menepuk pelan kepala Carmon.”Lain kali hati hati yah, aku hanya pergi sebentar nanti malam aku akan ke sini lagi.”


Letta bangkit meninggalkan Carmon.. Carmon mengerjakan sejenak merasa Letta sudah tak ada di sisinya. Memegang jantungnya merasa meledak.


Tapiii tadi ia sekilas melihat dibagian belahan dada letta seperti luka besar. Mengerjab pelan menggeleng. Sial ia salah focus.


Letta melangkah keluar dari rumah Carmon. Menuju rumah sakit yang merawat kembarannya, yah ia tau karena orang suruhanya yang mengatakannya. Letta berhenti sejenak untuk membeli buah. Areta suka sekali buah nanas, ia membeli buah nanas yang sudah dikupas, lalu membeli buah semangka, itu juga buah kesukaan Areta, ia sangat tau kesukaan saudaranya itu.


Tempatnya juga tidak buruk, sangat rapi dan dagingnya tidak amis.


Sangat terkenal enak Letta bahkan juga suka membeli disini. Letta melangkah menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Areta.


Hahaha.


" Ayoo makan dulu..!!!"


" Nggak mau... Nggak enak kakak..!!"


Samar samar ia bisa mendengar suara dari dalam. Saat memasuki ruangan Areta ia melihat ada Zaxi yang sedang memaksa Areta makan.

__ADS_1


Letta mengerjab sejenak saat keduanya memfokuskan tatapan padanya.”Letta... yaampun kau datang, aku sangat rindu kamu..” Areta bangkit hendak memeluk Letta.


“Are. Kau masih sakit, kembali berbarung biar Letta kemari.” Zaxi berujar dingin. Letta mengerjab, tapi bahkan ia masih sempat melihat senyum tipis Zaxi saat bersama Areta tapi sekarang lihat wajahnya menjadi sangat dingin.


Letta mendekat dengan diam, menatap Areta. Areta melambaikan tangan menyuruhnya mendekat,. Letta menurut dan mendekat, saat di dekat Areta ia merasakan pelukan hangat dari kembarannya. Jujur hati Letta hangat tapi ia tak membalas pelukan Areta, ini demi kebaikan, jangan sampai ia memberi ruang dan akan kehilangan lagi. Areta yang tak dibalas pelukanya tersenyum masam, melepaskan pelukan pada Letta. “Kenapa baru datang menjenguk? Aku sudah sakit empat hari loh.”Bisik Areta sedih.


Letta mengusap kepala kakaknya dan menjawab.”Sibuk..” Jawab Letta singkat.


“Iya bahkan saking sibuknya lupa jika masih ada keluarga..” Zaxi menyeletuk melirik Letta dingin.


“ Kakak..!!!” Areta mengingatkan Zaxi melirik Letta yang tidka menunjukan emosi. Areta menghela nafas,”Mungkin Ale sedang sibuk beneran, jangan begitu.”Bisiknya memegang lengan snag kakak.


Zaxi hanya mendengus tak senang. Areta kembali menatap Letta.” Ambil kursi itu mari duduk di sini.. aku mau mengonbrol..” Ujar Arewta melirik kursi di ujung.


Letta mengangguk mengambil kursi untuk duduk di dekat Areta. Areta tersenyum membuka pelstik yang dibawa Letta,.”Kau bawa apa untukku?”Tanyanya.


”Ini untukku kan?” Areta bertanya lagi sejenak takut ini bukan untuknya. Takut jika ia terlalu percaya diri. sebab setahunya hubungan mereka cukup renggang beberapa Minggu ini.


.


.


.


.


.

__ADS_1


tinggalkan jejak yah


__ADS_2