
“Letta kamu mau naik apa?”Tanya Putra menggenggam tangan Letta di sela-sela jarinya. Letta kaget hendak melepaskannya tapi Putra malah mengeratkannya.” Kan udah dibilang ini yang pertama dan terakhir. Plis.” Ujar Putra. Letta mendadak kaku dan berdehem. Putra terkekeh dalam batin mengingat letta yang sangat kekeh dirinya pergidari hidupnya hingga pasrah disentu begini.
“ Kita naik apa yah.. gue enggak tau". Gumam Letta terkekeh.
“Kamu mau naik kora kora? Atau Trolien lain gitu? Seru loh.” Ujar Putra berbinar melihat banyaknya permainan yang bisa dibilang mengaduh adrenalin manusia. Kenapa manusia suka sekali mempermainkan malaikat maut? Jika jatuh dan mati bagaimana? Letta benar benar tidak pernah membayangkan bagaimana jika mati jatuh dari trlenya disana. letta mendadak pening mengingat hal tersebut.
Letta berdehem sejenak”Emang loe berani?”Tanya Letta meremeh kepada Putra.
Putra melotot tidak terima ditanya begitu oleh Letta. Itu sama saja dnegan penghinaan dirinya sebagai lelaki tulen.”Enak aja kamu bilang gitu. Yah berani lah naik ini doang mah kecil.. Kamu kali yang takut.”Jawab Putra menolak ucapan Letta tegas. Tapi matanya bergerak gelisa kesana kemari membuat letta mengulum senyumnya.
“Kalo loe teriak ketakutan nanti, loe harus nurutin permintaan gue..!!” Ujar Letta dengan tatapan menggerling. Putra menatap Letta dengan tatapan membukat.” Oke fine, tapi kalo aku nggak takut nanti kamu harus nerima aku jadi suami kamu. Gimana?”tanyanya.
Letta terkekeh.” Diel..”
Putra dnegan gugup menerima sambutan tangan letta. Putra gugup merasa tangan letta benar benar buruk. Bahkan tangan letta banyak sekali luka dan kapalan. Putra meringis dengan Letta yang melepaskan tangan keduanya.
Letta dan Putra membeli karcis antrian terlebih dahulu, uang karcis untuk satu orang adalah 70ribu dan dibayar oleh Putra awalnya Letta menolak tapi Putra ternyata lebih cerdik, dirinya membayar engenakan scanning.
Jadilah keduanya menungu antrian.. “ Giliran kita.. Ayok ayok...” Ujar Putra heboh menarik tangan letta menuju tempat duduk di salah satu tempat duduk rolen roller. Memegang erat pegangan melirik Letta gugup. Tangan Putra mendadak basah.
Letta hanya diam saja menunggu menjaga untuk memasang sabuk pengaman mereka, memasangkannya dengan benar. Putra melirik letta yang terlihat menatapnya tengil. Putra melotot gugup segera membuang muka. Letta mendadak hendak tertawa melihatnya. Benar benar seperti Bara versi besarnya. Berselang beberapa saat permainan dimulai damn Putra sudah gemetar duluan.
Saat melaju. Putra menahan suaranya dengan kuat, tapi siapa yang bisa menahan rasa takut berlebihan? Putra tidak lagi ingat apapun selain berteriak menatap kebawah dengan tatapan sesak, beberapa kali saat trlennya ke atas dirinya tidak bisa bernafas dan saat turun dan mereka diguncang seakan nyawa ditarik Putra merasa dadanya sesak. Benar benar menyeramkan. Apalagi Putra agak takut dengan ketinggian., jika ditempat ketinggian tiba tiba kaang kakinya gemetar sehingga berpikir untuk meloncat saja.
Letta malah tertaawa melihat wajah Putra disebelahnya yang pucat pasih. Beberapa kali bibir Putra ikut melenyot kesana kemari akibat terpahan angin kencang. Wajah Putra benar benar lucu hingga Letta lupa menikmati permainan dan pemandnagan ini. beberapa kali Putra berteriak bak anak gadis kehilangan mahkotanya. Letta sampai teryawa terbatuk-batuk dibuatnya.
Permainan selesai seusai sepuluh menit. saat turun Putra terjatuh dengan lutut yang bergetar. Kakinya mendadak jadi jelly Dan lupa cara berjalan. Letta tidak sanggup menahan tawnaya. Sembur tawa meledak melihat Putra yang bak mayat hidup. Putra melihat letta tertawa selepas itu mengerjab linglung.. itu mengagumkan. Apakah Letta tertawa sebahagia itu melihat dirinya menderita? Jika iya maka dirinya siap kok..
Putra benar benar siap sebab suara tawa Letta benar benar candu bagi dirinya. Bagai kemarau di terpa musim semi dirinya tersenyum memegang dadanya. Melupakan kejadian beberapa saat yang menimpa dirinya yang hampir mencabut nyawanya. Putra kehilangan kata kata. Ini hadia setimpal dari apa yang menimpa dirinya barusan.
__ADS_1
” Letta ayo main lagi.” ujarnya dengan berbinar menatap letta penuh harap. Letta berdehem menatap Putra yang menatapnya konyol. Letta melirik Petugas yang menatap letta penuh permintaan.” Mass maaf bisa geser. Orang lain mau main juga.” Uijar petugas kepada Putra.
Putra menggeleng menatap letta berbinar.” Letta ayo main lagii. Nggap apa apa kok kalo aku mati, yang penting kamu bisa bahagia Dan ketawa sekencang itu.” ujar Putra mengabaikan petugas mendekat dengan letta dnegan kaki yang maish tak bisa bergerak secara benar.
letta terdiam mendengarnya, menatap Putra dengan tatapan kosong. Benar, kapan dirinya bisa tertawa seirama dan sebebas itu? Letta lupa, dan itu benar benar melegahkan di dadanya. Bak hantaman dihatinya hilangs eketika. Apa yang dilakukan dirinya? Letta berdehem melihat Putra.” Kita pergi.” Ujarnya.
Putra mengeleng menatap letta lagi linglung.” Kaku mau ngeliat kamu ktetawa gitu lagi. ayok main.” Ujarnya polos.
Letta terkekjeh mendengarnya. Mengusap kepala Putra.” Yok pergi.” Putra yang diperlakukan seperti itu membulatkan mata tak percaya, lalu sesaat setelahnya menunduk dengan wajah yang memerah malu, ikut melangkah dengan tangan yang ditarik oleh letta pelan keluar dari area wahana. Ha Putra tidak bisa jika dibeginikan. Letta terlalu manis dan dirinya tidak bisa.
“Sesuai sama kamu mau tadi, kamu aku teriak ketakutan kamu minta sesuatu dan aku harus kabulin kan hehe. Oke deh aku akan lakuin kecuali kalo kamu minta hal yang enggak enggak.” Iujar Putra berjalan dnegan rang kepada Letta.
Letta menngarnya mengangguk.” Iya harus. Tapi nanti, soalnya sekarang gue enggak punya permintaan apapun sama loe.” Ujarnya. Putra membuka mulutnya dengan kecil melirik Letta.”jadi setelah ini kita bakal ketemu lagi dong? Kan aku udah bilang kalo aku nggak akan ketemu Letta lagi.” ujarnya polos. Mengerjab sesaat.
Letta mendengar ucapan Putra menghentikan langkahnya, menatap Putra penuh kerumitan. Putra tidak tau apa arti dari tatapan letta.
Letta benar benar lekat menatapnya selama tiga puluh detik seusainya letta malah melangkah lagi. Putra ingin angkat bicara lagi. “ Kita beli Es lagi dulu yuk, nanti kita main lai main itu.” Ujar Letta mnenunjukan biang lala. Putra berbinar mengangguk membuat letta tersenyum tipis. Putra mudah sekali dikecohi.
Putra melirik letta laku melirik esnya lagi.”Hmm kemarin sih maunya nikah sama Letta terus kuliah deh lanjutin usaha aku, tapi karena Letta nolak kayaknya aku bakal kuliah diluar negri aja., soalnya kemarin aku ada tawaran buat kuliah di jepang.” Jawab Putra lagi.
Letta mendengarnya mengernyitkan dahi.”emang mau jurusan apa disana?”Tanya Letta lagi.
Putra mengangkat bahu acuh.,”sebenernya aku ditawarin masuk ke Arsitektur karena kemarin beberapa kali mnenang lomba lukis dan beberapa disain grafis. Tapi sebenarnya gue sukanya pertanian, ayah kan banyak tanahnya yag belum dikelola jadi kayaknya bakal rugi gitu kalo enggak dikelola dengan baik dan benar., pasti bakal bagus dan bisa diterapin langsung.” Iujarnya penuh binar. Sebab selama ini bagi Putra kerja sang ayah kurang maksimal. Jika bisa dikelola lebih baik lagi pasti tanah tanah itu menghasilkan uang lebih banyak atau berlipat ganda.
Letta mendengar ucapan Putra mengangguk paham, menyedot esnya pelan.”Menurut Kamu aku harus pilih apa? Jujur aku bingung banget soal keduanya ini.” Tanya Putra pada Letta. Putra itu lukisannya bagus, dirinya suka menggambar sejak kecil sekali hingga dewasa begini. Tapi yang namanya cita cita kadang berbeda dnegan hobi kan. putra hanya sekedar hobi saja melukis tidak dengan cita cita. Cita cita dirinya adalah menjadi orang kaya raya tapi santai diam dirumah menikmati hidup, sedangkan uang selalu mengalir. Mangkanya dirinya memilih berkebun saja. Jika berkebun dirinya hanya perlu menyuruh orang untuk ini itu dan dirinya hanya santai menyuruh orang lain dan memiliki uang banyak. Asetpun juga tetap milik ia yang selalu bisa dikelolah.
Siapa bilang petani itu miskin? banyak petani kara raya dengan banyaknya usaha, salah satunya pengusaha kebun cabe, mereka itu memang hitungan nya adalah perberapa kali mereka panen dan disanalah uang mereka, tapi satu kali mereka panen jarang sekali mendapatkan dibawa 1 M. contohnya saja ayahnya Putra,. Ayah Putra adalah petani sawit, dan semua dikelolah oleh orang orangnya saja, dimulai menanam, memupuk, meracun dan memanen.
Ayahnya hanya mengawasi kebun, kerja orang dan memberi gaji dan makan. Emang seenak itu kerja ayahnya. Mangkanya Putra termotivasi menjadi pengusaha seperti ayahnya,. Sepertinya itu adalah hal yang enak dan menyenangkan, kaya dan juga hidup senang.
__ADS_1
Letta mengetuk ngetuk kotak es miliknya menatap kedepan.”Kenapa enggak loe ambil jurusan arsitektur aja, terus ambil les pertanian. Kan kalo di jepang itu industry petanianya enggak bisa dibilang main main yah karna banyaknya penemuan yang luar biasanya. Jadi loe bisa punya kedua ilmunya, satu ilmu arsitektur yang loe enggak akan dapetin diluar sana meksipun loe les loe akan dapat hal yang beda kalo loe enggak ambil jurusnaya langsung. Tapikan kalo petani loe bisa menerapkannya Di tanah loe sendiri. Loe bisa beli rumah yang ada perkarangan yang luas buat prakteknya sama guru loe.” Ujar letta pelan tak memiliki hasrat untuk dia setuju.mau Tidak atau Kerjapun tidak apa. tapi masih terlihat kaya raya punya gepokan uang. Itu harapan Putra haha.
Putra mendengarnya melirik Lretta penuh Tanya.”Emang boleh? Bukanya jam sekolah di jepang lebih padat yah dari Indonesia. Bahkan katanya diiisana pulangnya sampek malem loh.” Ia mengerjab pelan menatap letta.
Letta menghela nafas.” yahh iya sih, tapikan loe kuliah bukan lai sekolah biasa. Bisa bisa loe lah milih jam kosong dan jam masuk. “ jawab Letta menaiki stau bahunya malasm
Putra mengangguk paham.”Aku nggak tau, aku pikir sama aja semuanya hehe.” Jawab Putra pelan.
Letta menepuk kepalanya.” Kalo mau sekolah loe harus liat semuanya biar nanti enggak kaget kayak di Jepang, ada beberapa Negara yang juga bahkan menekan anak anaknya jadi yang terbaik dan lebih keras.. jadi loe harus benar benar menekuni apa yang loe suka dan apa yang loe mau.” Jawab Letta lagi.
Putra menganuk tersenyum. “Kalo kamu dulu kenapa mau ngambil jurusan biologi?”tanyanya Putra kepada Letta dengan tatapan penasaran.
Letta terdiam sesaat dan menatap Putra. “Karena gue mau bikin racun dan beberapa hal buat seseorang. Lagian juga Bilogi sama kimia itu keren banget wey. Sangat berguna dalam kehidupan kita. “ jawbanya tegas.
Putra menegang mendengarnya nya, membuat racun, gila aja. " Haha kamu bercanda aja..." Gumamnya tapi Letta malah diam meliriknya lalu Letta menghela nafas, mengangguk kaku mendengar jawaban Putra.
” Dan kamu setelah ini mau apa?”Tanya Putra ragu.
Letta yang ditanya begitu hanya tersenyum, ‘"mau buat racun.” Ujar Letta eggan menanggapi Putra yang kali ini
Putra betgidik ngeri mendengarnya.” Buat siapa sih?” Tanya Putra polos.
“Buat seseorang.” Jawab letta penuh msiterius. " Seseorang yang aku benci..." Alias dirinya dendam.
Putra menghela nafas melirik letta.” Yah terserah aja sih. Tapi kamu harus tau kalo sebenernya hidup itu bukan dendam tujuannya tapi bahagia. bahagialah sampai bahagia itu membalaskan dendam kita, rasa sakit kita. karena dendam sesungguhnya adalah menjadi lebih baik dari yang kita benci, yang memaki diri kita. Dendam itu alasan mengapa kita mau jadi beruba.” Bisiknya putra lagi geregetan kepada Letta yang diam saja.
Letta mengangguk pelan.” masih ada banyak permainan yang belum coba. Ayoklah.” Ujarnya bangkit.
“Lett tungguin aku Yaampun aku auu.” Letta tertawa melihat Putra yang terpeleset memasuki kolam renang. Letta menghela nafas mendengar ucapan Putra padanya tadi.
__ADS_1
Bener, dendam tidak akan membuat diri kita bahagia tapi karena dendam Letta masih tetap memilih hidup ditengah kematian lebih menarik dan terlihat membahayakan. Letta menjadikan dendamnya patokan dalam membalasnya dan tujuan hidupnnya. Letta hidup penuh penderitaan dibuat oleh orang orang Samuel. Dan letta aja sangat bahagia jika mereka jauh lebih sengsara.
Tapi jika dendamnya sudah terbalaskan, apa lagi yang akan Letta jadikan tujuan hidup?