
Caron melirik Letta yang masih menatap pergerakannya. “Ini wangi loh.”Ujat Carmon masih tetap menggoda Aleta sebelum membuangnya, tersneyum melas.
Letta menatapnya tak bergeming. Carmon menipiskan bibirnya mengambil bunga tersebut menaruhnya diatas meja kesal.
”Tidak jadi dibuang, untukku saja, lumayan buat wanita wanitaku nanti malam.”Gumamnya pelan membuat Letta berdecih malas. Memang benar, laku laki murahan.
Iya murahan, kalian pikir hanya wanita saja yang murahan? Lelaki lebih banyak murahan, didekati wanita terima saja, malah terlihat sangat keren, tapi beda dengan perempuan, jika dekat dengan lelaki, dibilang sasimolah, murahan lah, gatel lah. Dan lain lain. Memang selucu itu hidup ini.
Apalagi banyak lelaki yang memiliki wanita lebih dari satu, colek sama colek sini, hemm banyak tidak terhitung lagi.
Carmon mencebik kan bibirnya mencium lagi bunga yang ia bawa, merasa jika bunga itu benar benar wangi, rugi sekali wanita dihadapannya ini mengabaikannya.
Carmon menghela nafas menguap sejenak merasa mengantuk jam segini, tatapannya tertuju pada jam yang menunjukan angka 12 siang. “Saya ada meeting lagi nanti sore.. kamu bisa bawa barang,-barang kamu kembali kerumah, besok baru mulai bekerja lagi.” Ujar Carmon pelan mengusap sudut matanya yang berair.
" Oh iya? kamu sudah makan belum? Kita makan bersama yuu, aku sedang ingin makan sub rumput laut pedas,." Carmon ingat jika wanita itu suka dengan makanan pedas, ia baca di artikel yang ada di internet.
" Aku tidak suka pedas " Letta menjawab dingin.
Carmon memutar bola mata berfikir lagi. " Hemmm makan manis saja? makan es krim atau donat?" Carmon masih menawarkan pada Letta. " Oh oh atau mau makan di salah satu restoran asing?"
Letta hendak menjawab, tapi suara dering HP miliknya di saku celana mengalihkan atensi nya. Mengernyit membuka hp miliknya.
Ting.... mata Letta yang tadinya dingin sekarang semakin dingin, mengepalkan tangan miliknya dan bangkit. Carmon melihat Letta bangkit tanpa bersuara pun melotot tak percaya. “Woy gu- gue juga--- akhh. Saya belum selesai ngomong. Sini..” Carmon melambaikan tangan.,
Gar..
"Astaganaga",. Cramon memegang dadanya yang berdetak cepat. Sangat kaget karena benturan pintu dan dinding yang dilakukan Letta. Sangat keras... Carmon menatap Letta yang menjauh tertegun, ini cukup sulit dimengerti tapi ia tau jika Letta dalam situasi hati yang buruk. Carmon menghela nafas mengedikkan bahu acuh. Tapi kenapa ia penasaran yah?
Haha kenapa yah?
Tapi
Akh sial.. Ia segera mencari kunci mobil miliknya, tetapi tak menemukanya juga.Brak.. cakk..
” Sialan banget suu. Pakek acara ilang kunci..” Gumam Carmon kesal setelah menendang meja miliknya, tak juga menemukan kunci mobil miliknya. Letta pasti sudah jauh dan ia sudah tak punya kesempatan lagi pasti.
Carmon memukul meja beberapa kali secara dramatis. “BARON..!!!!” Teriak Carmon keras.
“Yah tuan?” Sosok yang dipanggil segera berdiri didepan pintu uang sudah terbuka., menatap kaget ruangan sang tuan yang berantakan, semua berkas berserakan, beberapa pernah menggelinding, bunga mawar yang sudah berhamburan, dan sang tuan sudah berwajah kusut dan berambut yang sudah berdiri.
“Kau melihat kunci mobilku?” Carmon melirik Baron yang dipanggil sudah disana kesal.
__ADS_1
Baron meneguk saliva kering miliknya mengeluarkan kunci mobil di saku celana dasar miliknya. “ In -ni?”Tanya Baron gugup.
Carmon menghentikan aksi pencarian melirik kebelakang datar, berdiri dari tempatnya tadi menatap Baron bengis..” Sial..... gaji mu ku potong bulan ini..!!!!” teriak Carmon melangkah menuju Baron mengambil kunci mobil miliknya.
Baron menganga tak percaya. “kenapa dipotong? Apa salahku?”Tanya Baron pelan.
Carmon menatapnya sengit.”Banyak..”
Cramon mendengus memilih pergi, tetapi teringat jika Letta pasti sudah jauh semakin membuat ia kesal, berbalik menendang kaki Baron. Baron terpekik memegang kakinya.
Carmon menatap Baron bengis dan duduk di kursinya. “Suruh Susi buat bersihkan ruangan ini sekarang juga. Cepat..!!!” Susi adalah kepala pelayan.
“Baik tuan..!” Baron mendesis merasa sakit di tulang kering miliknya,, tak ada angin, tak ada hujan dirinya di salahkan, padahal ia tak melakukan apapun selama ini, tapi lihatlah, bahkan ia seperti tersangka pembunuhan saat ini. Carmon mendengus menatap pintu yang sudah kosong, masih memikirkan raut wajah Letta yang tiba tiba berubah,. Kira kira kenapa yah??
Letta mengemudi mobil miliknya secara brutal, taka da yang ia pikirkan lagi selain apa yang ia lihat tadi, mengepalkan tangan memukul stir miliknya.” Sialan kau Ragiel.. mati kau mati,,!!” Teriaknya tak kuat. beberapa orang meneriaki dirinya, beberapa juga ada polisi yang mengejarnya. Tapi Letta sama sekali tidak peduli, beberapa mengejarnya tapi tak bisa menyalipnya atau bahkan mengalahkan. Letta sangat tak terkendali saat ini.
Sampai dua jam mengendarai mobil baru lah ia sampai di satu tempat. Letta menyugar rambut miliknya mengambil Pistol di bagian jok miliknya, menaruh dibagian pinggangnya, mengisi peluru di satu nya lagi dan menaruhnya dibagian kanan juga. Letta mendengus keluar dari mobil. Disana rumah megah nan besar milik Ragiel, melangkah memasuki mansion, beberapa orang membungkuk hormat. Sama sekali Letta tak mengapik atau bahkan melirik, ia tetap memasuki rumah dengan aura suran, langkah kaki terlihat lebar dengan raut wajah dingin., beberapa ada yang menatap Letta takut.
Ketukan sepatu pantofel miliknya terdengar dan menyebar di seluruh ruangan rumah megah tersebut, keringat menetes di pelipisnya.
Brak.... pintu dibuka kasar oleh Letta menggunakan kaki, beberapa pelayan dan penjaga kaget dibuat aksinya. Letta melangkah ke suatu ruangan, ruangan yang sangat ia tau. Melangkah sampai di pintu ruangan Letta membuka nya menggunakan kode rubik.
Beberapa kode membuat bentuk gambar ia sudah beberapa kali ke sini dan sudah sangat tau apa gambar rubik yang ia susun.
Letta memasuki lagi ruangan dan membuka pintu lain. Krekk. pintu terbuka menampilkan satu ruangan yang sangat gelap,
Tak. Letta menghidupkan lampu dan disana Letta bisa melihat sosok yang terkapar penuh darah sangat memperihatinkan. Tangan Letta terkapar mendekat sosok yang sudah mengenaskan itu cepat. Menunduk memegang pipi yang sudah tak berwarna putih lagi, darah sudah mengering di wajah miliknya. Kulitnya sangat dingin, letta mengecek nadi miliknya, tak terasa. Letta sangat panik.. ia menarik tubuh lelaki yang tak lain adalah Ziko duduk, menyentuh nadinya lagi ternyata masih ada tapi sangat lemah.
Tubuh Letta terasa sangat lemah. Letta menggenggam jemari Ziko dan menggendongnya, berbalik dan, Dug.. ia tertegun dan terdiam melihat Ragiel yang berdiri di depan pintu bersama lima prang penjaganya. Letta diam menggendong Ziko, wajah datar nan bengisnya sangat kentara di wajah cantik miliknya. Mengepalkan tangan merasa dendam di tubuhnya menguar tak tertahan,
Ragiel tersenyum manis pada Letta. “Ohh cucu ku sayang, kau sudah pulang ternyata. Bagaimana penyambutannya? Bukankah ini sangat bagus??” Ragiel mendekati Letta dnegan wajah penuh dengan kekehan yang biasa ia kenakan.
Letta mengepalkan tangan melihat Ragiel yang dihadapannya. Letta menghela nafas memejamkan mata miliknya, mengertakkan gigi kembali menghela nafas, melangkah lagi mengabaikan Ragiel, Ragiel menahan tangan Letta yang berjalan di sisinya.” Kamu cepat sekali perginya? Padahal kakek sangat merindukanmu..” Bisik ragiel menampilkan wajah sedihnya.” Kakek harus memburuh salah satu mangsa dulu baru kau ingin pulang. Oh cucuku yang durhaka..!!!”
” Buruan..?? dia temanku..!!!” Teriak Letta kuat dihadapan Ragiel, amarah yang ia tahan terbakar menjadi abu, sangat marah dan juga sesak.
Ragiel terkekeh melihat Letta meneriakinya seperti ini.” Oh sepertinya cucuku selain menjadi durhaka ia juga menjadi pemberontak. Ia bahkan meneriaki kakeknya yang membesarkan nya mendidiknya, memberikan nya makan dan bekerja sekeras itu. oh hidupku yang malang.” Gumam Ragiel mengusap pipi yang bahkan sama sekali tak ada air matanya.
Letta membuang muka merasa muak melihat drama milik Ragiel saat ini, Ia menahan diri, menghela nafas memejamkan kan mata miliknya sesaat lalu membukanya datar, melangkah keluar meninggalkan ragiel. Ziko lebih utama,
Tapi tubuh Letta ditahan oleh beberapa orang disana. Letta mengepalkan tangan menaruh tubuh Ziko dibawah pelan. Menatap bengis lima orang di depannya ini.
__ADS_1
“ Minggir..!!!!” Suara dingin Letta terdengar sangat ngeri, bulu kuduk mereka berdiri, tetapi mereka lebih takut kepada Ragiel Letta tak tahan langsung menendang salah satu dari penjaga. Tubuh penjaga terpental cukup keras mengenai pintu dibelakangnya di sana. Dan empat lainya mengepung Letta menjadi lingkaran. Letta mundur beberapa langkah memberi ruang pada tubuh Ziko agar tak terinjak.
Letta melawan tapi suara Ragiel menghentikan pergerakannya. “ Letta..!!!”
Letta melirik ragiel yang menatapnya tajam. Letta mendekati Ragiel dan menatapnya datar. “Kenapa?”Tanya Letta sangat dalam, matanya terlihat sangat merah saat ini.
Ragiel mengusap pipi Letta, tetapi ditepis. Ragiel terkekeh lalu tersenyum.”Kenapa apa cucuku???” Tanya Ragiel.
” Bukankah ini yang kamu suka? ini yang kamu mau hemm?”Tanya Ragiel lagi menatap Letta penuh dengan kepalsuan, Wajah yang seakan ia yang paling menderita.
Letta menatap Ragiel tajam, tinggi keduanya sama, jadi Letta tak perlu Mendongak menatap mata Ragiel. “Kenapa kakek selalu ngelauin ini kek?” Tanya Letta dingin mengepalkan tangan, rahang Letta mengeras melihat wajah Ragiel.
“Berhenti menampilkan wajah yang aku benci, seakan menjadi manusia paling teriksa. Aku muak.. Akuu muak..!” Teriak Letta tepat diwajah Ragiel.
Plas.. pipi Letta ditampar kuat oleh Ragiel. Rahang Ragiel mengeras menatap Letta. Wajah Letta bahkan tidak bergerak seincihpun, pipinya menjadi berwarna biru pun tak ia elus.
Ragiel menatap Letta sayu berkata. “ wahh cucuku sudah kuat dan hebat sampai bisa bicara bernada tinggi dihadapan ku.” Ujar Ragiel dingin.
" Cuih....!!!" Letta meludah di sisi kirinya, Letta diam menatap drama yang Ragiel buat.
Ragiel tersenyum.” Apa kita harus melakukan penertiban lagi hm??? Dengan darah dari temanmu?”Tanya Ragiel berbisik, tersenyum miring melirik ziko.
”Sepertinya dia terlihat sangat kau sayang. Aku yakin nanti kau akan semakin menurut padaku.!” Bisik ragiel melanjutkan ucapannya.
Letta menggeleng menatap Ragiel tak habis pikir.”Kakek liat, ada air mata dimataku?” Tanya Letta pada Ragiel. Ragiel diam menatap mata yang memang sama sekali tak ada tangisan, hanya ada amarah.
Letta tersenyum miring.” Nggak.. nggak ada kan??? karena semuanya udah mati kek, kakek yang udah buatnya mati. Dan sekarang kakek mau apa lagi dariku hmm?” Tanya Letta terkekeh.
Mengusap kepalanya pelan menatap nanar ruangan ruangan tersebut.” Memisahkan ku dari keluargaku, mengikatku dengan tali kekang mu, kebebasanku kau renggut,. Duniaku kau hancurkan, emosiku kau kuras, bahkan jantungku saja ada di tanganmu. Lantas bagian mana lagi yang mau kau kuasai dariku? Kenapa tidak kau bunuh saja aku?”Tanya Letta dingin menatap tajam mata Ragiel.
Ragiel mengeleng menatap Letta terkekeh.” Selama kamu belum menurut, menjadi cucu yang pat----"
“ Belum menurut bagian mana lagi kek? Bagian mana lagi aku tidak patuh?”Tanya Letta frustasi. Mengusap kepalanya kasar. “Bahkan sudah ku tinggalkan keluargaku, mereka membenciku sampai mampus, meninggalkan semua temanku, bahkan sudah tak terhitung lagi darah manusia yang menjadi korban kakek??? Aku sudah tidak punya apapun didunia ini selain kakek. Hanya kakek, tidak ada siapapun... bagian mana lagi?”Bisik Letta pelan. Terlihat tak berkutik selain bicara banyak beban.
“Kau marah aku menahannya ha?”Tanya Ragiel terkekeh melirik Ziko.
Letta menggeleng.” Berhenti bicara hal yang sudah tau jawabannya---"
.
.
__ADS_1
.
.