Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
Ambil


__ADS_3

“Kamu diabetes?”Tanya Dipta heran. Jarang orang tak suka manis, dimulai dari minuman yang letta beli saja sudah membuat Dipta menebak gadis di depannya ini penyakitan.


“Saya suka.. tapi dulu.” Jawab letta berdehem pelan menatap eskrim.


Idipta mengangguk.”saya pikir kamu tidak suka manis karena diabetes..... Tunggu Ehhh maksudnya?” Ia kurang paham ujaran letta.


Letta melirik Dipta malas.” Saya suka manis tapi dulu, sekarang tidak, dan saya bukan pengidap diabetes, saya hanya tidak suka.” jelasnya.


Dipta menggaruk lehernya pelan, merasa tak gatal. Ia sedikit tidak paham bicara pada Letta yang cuek cuek minta tampol. Kenapa pula perempuan ini cuek sekali, seperti ingin di tendang batinnya. Iya kan?


“Maaf.” Gumamnya tak enak. Ia mendadak jaid bodoh beneran.”Jadi kamu suka apa jika tidak suka manis?”Tanya Dipta mengalihkan pembicaraan.


Letta masih menatap melirik Bara yang terus saja bermain.” Saya hanya suka jika keluarga Samuel hancur.” Jawabnya tenang. Dipta mengerjab pelan. sedikit kaget mendengar ujaran letta. Letta tetap tak melirik Dpta lanjut berbicara.” Senang sekali rasanya.” Ia terkekeh.


Dipta menggrauk pipinya.”Maksudku, itu makanan bukan itu. aduh apa manis, asin gitu loh.”Ujar Dipta pelan kepada Letta.


“Tapi kenapa kau sangat mau menghancurkan keluarga itu dengan cara mengerikan? Kita bisa menggunakan cara membunuh sekaligus, tapi kau menolak.” Dipta pernah meminta dan memveri saran kepada Letta agar membunuh keluarga Samuel dalam satu malam seperti yang Samuel lakukan dulu pada keluarga Letta. Tapi letta menolak dengan dalih hal lain.


“kadang kita butuh proses agar mendapatkan hasil yang lebih naik lagi. rasanya menikmati hasil yang lebih matang itu lebih menyenangkan ketimbang hasil yang asal jadi.” Letta menyandarkan punggungnya. Menatap Dipta.”Aku sampai sekarang tidak menemukan penopang keluarga Samuel. Dimana orgganisasi gelap miliknya. Jika aku menemukannya mudah bagi kita untuk membunuh mereka.” Ujar Letta berdehem pelan.


Dipta menatap letta.” Kau yakin mereka menggunakan orang dalam?” Tanya Dipta.”soal dia yang masih bertahan di saham yang sangat besar kerugiannya, mungkin saja karena dia memiliki tabungan diluar nalar di salah satu Negara seperti swis atau bahkan dinegara lain?”Tanyanya dnegan pelan.


Letta mengangguk.”Pantas saja kau selalu gagal dalam rencanamu. Ternyata otakmu sangat dangkal.” Letta menegakkan punggung, menguap sejenbak seusia mengejek Dipta.”Pulanglah, kau perlu tidur untuk mewujudkan mimpi mimpi mu yang sangat kusut ketimbang pemikiran mu.” Bisiknya terkekeh.


Dipta memajukan binnirnya menatap letta kesal.”aku hanya mengungkapkan apa yang aku tahu. Hey nona, jangan sombong hanya karena kau menang dua langkah."


“Bahkan aku jamin keluarga Samuel sudah hancur setengah jalan sekarang karena kasus ini dude. Aku sudha hampir 80 persen menang.”Ujar letta menolak.


“Hey Viona masih memiliki kesempatan hidup, dan Purnama juga belum meninggal. Kau tetap kalah, belum menang.” Dipta tidka mau kalah. Harga dirinya seperti di injak injak saat bicara dengan letta. Dipta tau jika dirinya memang kalah jauh. Tapi tetap saja lelaki menjunjung tinggi harga diri. Entah mengapa Letta melihat wajah Dipta yang gemas membuat ia menahan gelaknya. Wajah kesal itu.

__ADS_1


“Kau pikir aku ingin mereka mati?”Tanya Lteta. Dipta tertegun.


Letta menggeleng pelan.” aku tidak akan membiarkan mereka mati, menyusul ibuku secepat itu dude, aku ingin mereka merasakan apa yang dirasakan oleh ibuku dulu. Soal Viona, kau pikir kembaranku mati dikala peristiwa itu ha? Dia masih hidup sampai sekarang, tapi hidup dalam tekanan, itu juga harus dirasakan oleh Viona. !” Tegas Letta. Ajang balas dendam yang tidak hanya rasa sakit yang ia rasakan tapi derita yang ia rasakan. Perjuangannya sudah sangat jauh untuk sampai di titik ini. jika ia hanya harus dengan membunuh saja, rasanya rugi.


Dipta menatap Lettya diam. Letta menghela nafas.” Purnama. Cuih, Viona. Mereka tidak akan sehat, mereka akan hidup dalam tekanan. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang sampai pada waktu yang ditentukan. Samuel? Mudah saja jika aku ingin membunuhnya. Tapi aku ingin mengajarinya arti sakit sebenarnya, dimana melihat orang orang tersayangnya mati dan menderita didepan mata. Dia harus merasakan apa yang aku rasakan. Semua harus dibayar tuntas meskipun hanya darah satu tetes sekalipun..!!”Tegas Letta menyeringau. Tidak, dia tidak jahat tapi keadaan mengajarnya menjadi jahat.


Dipta berdehem. Letta menghela nafas memejamkan matanya.” Kau sepertinya sangat menderita. “


“aku rasanya ingin mati jika bukan karena dendam ini. kau tidak pernah tau apa yang aku lakukan sampai sejauh ini. “Letta berdecak kesal.”sudah lah. Lakukan tugasmu maka kita sepakat.” Tegas Letta.


Dipta berdehem. Menatap letta mengangguk, tangannnya mengusap selurai milik letta gugup. Tampak letta menatapnya dingin.” Jangan marah, kau sangat menyeramkan saat marah.”Ujarnya terkjekeh. Tapi letta malah memalingkan wajah bengis. Dipta mengatup bibirnya menraik tangannya ragu... hemm tangan sialan, siapa yang menyuruhmu menyentuh rambut peremmpouan di hadapannya ini ha?


“Bara..” Letta melambaikan tangan pada Bara yang sedang main. memang tempat ia makan ini ada tempat bermain untuk anak anaknya, jadi mempermudah bagi ibu atau orang tua yang membawa anak mereka. Bnisa menjadi tempat refresing dan mengobrol tanpa pusing memikirkan tangisan anak.


Bara yang bermain karena memberi ruang untik letta bicara pun kembali. Letta senang sangat senang. Jiwa anak anak di tubunya masih melekat, main di istana balon, di kolam bola, atau kereta api. Semuanya menyenangkan, dulu ia hanya memimpikan hal hall ini, tapi sekarang? ia bisa main sepuasnya. Bara tamak, ia ingin lagi dan lagi hidup normal seperti ini, ia sangat menyayangi Letta yang memberikan hidupnya semenyenangkan ini.


“Yah moms?”ia mengusap keringat membasahi kepalanya karena terlalu asik bermain.


Mengangguk memakan es yang entah dari mana itu. tapi itu sangat enak. Dipta? Ia sangat kaget saat melihat letta kesini bersama anak anak tadi, ia pikir Letta mengajak ponakan atau siapa, tidak taunya ia mengatakan jika anak itu adalah anaknya sendiri. Bagaimana tidak kaget.


“Bara mau krepes seperti di tiktok moms, mau kepala Thailand dan bnlabala.”Bara kebali memesan makanan sampai pesanan datang es krim itu habis. Tak berselang lama, café terbuka lagi, menampikan tiga lelaki yang sangat tampan memasuki ruangan. Itu memancing kericuhan antara anak anak muda, ibu ibu. Mereka terlihat sangat tampan dan juga klimas. Beda dengan sorot mata letta yang tadinya dingin tambah dingin. Tapi siapa sangka dibalik mata dingin ada rasa pedih yang ia simpan.


Letta berdehem. ” Cepatkan makanmu Bara. Kita akan pergi.”Bara yang tadinya juga tercengang melihat siapa yang datang mengangguk, ia tau mengapa ibunya ingin cepat pergi. Pasti Karena mereka ada disana.huhhh bara merindukan mereka.. Diki, Ando dan Tiger.. hemm paman Ziko... Bara merindukan paman paling tampan dan paling pediam itu.


Ketiga nya melangkah masuk, sedari masuk mata mereka bersitatap dengan mata letta yang duduk bersama Bara dan satu lelaki yang tak mereka kenal. Rasa rindu menyeruak bersama rasa marah. Seusia pergi taka da kata perpisahan, dia hidup seperti tidak terjadi apa apa. Ini teman kita sudah mati apa tidak ada rasa belas kasih dihati Letta.


Ketuganya duduk di kursi samping Letta. Tak ada meja lain selain meja itu. ketiganya duduk di sana dan seseklai melirik letta. Bda dengan Diki yang diam menatap datar kedepannya. Tidak, ia tak ingin melihat letta. Ia muak.


“Letta... apa kabar?” Tanya Tiger. Dia memiliki hubungan cukup baik dengan letta. Jadi rasanya canggung jika tidak menegur.

__ADS_1


Letta yang ditegur melirik Tiger.


Letta Menganggukk.” Baik.” Jawabnmya pelan. tiger mengangguk seadanya sedangkan kedua temanya malah mendengus, bisa bisanya Letta hanya menjawab seperti itu. hey apa salahnya menanya balik?


Dipta melihat kecanggungan mereka berdehem, tidak tau apa apa masalah dari mereka. Bara sesekali ,melirik Diki dan teman teman ibunya. Mereka tak menatapnya membuat ia menunduk sendu. Huhu sedih jika ada di posisi begini.


“aku pergi duluan Tiger... Dipta. Aku ada urusan.” Ujar letta.


Bara yang masih makan terkaget. Bangkit mengikuti ibunya.” Moms meninggalkanku??” Tanya Bara kaget.


Letta melirik dingin.” Sudah aku ingatkan, cepat sedikit . bukan salahku.” Ujar letta pelan.


Bara melompati dari kursi, tapi siapa sangkah sepatu yang ia kenakan menyangkut di salah satu sanggahan kaki kursi, sampai ia mau terjatuh. Syukurnya Diki menahan tubuh Bara agar tidak menghantam lantai. Semua orang menatap kearah mereka dan bara yang menangis karena kaget.


“hey kau tidak lihat dia lagi makan ha?” Diki membentak letta kasar. Mengepalkan tangan, jantungnya mencelos saat melihat Bara hampir terjatun. Anda ia tidak gesit tapi dipastikan kepala Bara sekecil kecilnya saat ini sudah memar dan benjol. Apalagi ini lantai marmer, sangat bahaya jika terbentur keras. Letta memutar nola mata malas menatap Diki. Diki yang mendapatkan perlakukan seperti itu sangat marah, entah mengapa emosinya menyeruak keubun ubun.


Tangannya bergerak menarik kera baju Letta.”Kau dengar tidak..!!! “Tegasnya.


Letta menatap diki dingin, menepis tangan Diki kuat sampai Diki oleng merasa perih ditangannya. “Loe siapa ngatur gue?? dia anak gue terserah gue dong. Mau gue tinggal, bunuh sekalian. Bukan urusan Loe, urus diri loe sendiri.” Letta tersenyum sinis melangkah pergi.


“Brengs3k..!!” Bugh... ando memukul wajah letta keras.”Kalo loe nggak becus jaga Bara biar gue aja . perempuan iblis kayak loe emang nggak pantes jadi ibu..!!!” Tegasnya dengan nanar menatap wajah letta yang sudha terjatuh geram. L


etta menegakkan wajahnya dingin. Melirik Bara dnegan tatapan dingin.”Ambil. gue juga nggak butuh itu anak. dia cuma Beban.” Ujarnya dan pergi meninggalkan Bara bersma ketiganya disana dingin.


" Mama.." Tubuh Bara bergetar takut, rasa dibuang oleh Letta tak pernah ia bayangkan. Apalagi di anggap beban seperti ini.


“Lettaa..!!!” teriak Diki geram, bisa bisanya letta melangkah pergi tak ada beban meninggalkan anaknya di sini.” Letta si4lan.” Teriak Diki kesal. Bara yang ditinggal malah menangis meraung menatap Letta menjauh.


Baru saja ia berdoa untuk selalu bersama Letta, tapi sekarang? ia malah ditinggal disini bersama Diki. Bara masih menangis histeris hendak mengejar Letta tapi tubuhnya ditahan oleh Diki.

__ADS_1


Dipta? Ia hanya diam menatap semuanya, melirik letta agak kaget. Bisa bisanya Lteta meninggalkan Bara tammpa beban.


__ADS_2