
Areta terkekeh pelan melihat perebutan tersebut. Kembali menaburkan makanan ikan, melirik HPnya, pesan yang ia kirim kepada Letta belum juga dibalas, padahal sudah ia read sejam yang lalu. Areta menghela nafas, ini sudah baisa tapi kenapa rasanya sangat sulit untuk ia terima, bagian hatinya masih ada yang sakit melihatnya.
Mengapa kembarnya selalu mengabaikan pesan-pesan miliknya, gak jarang ia memblokir nomor miliknya... Selalu
Dan Areta mengganti nomornya terus menerus jika ingin memberi pesan pada Letta, bersyukur Letta tidak pernah mengganti nomor telepon.
Jika Letta mengganti nomor teleponnya maka Areta tidak tau lagi harus Bagaimana. Dulu ia selalu memberi pesan mengingat semacam " Jangan lupa malam' atau hanya sebagai kalimat sapaan seperti malam, siang atau lagi apa?
tapi tetap tidak dibalas, Areta juga selalu mengingat kan cuaca Hari agar Aletta lebih memperhatikan cuaca dan menyiapkan payung jika ingin hujan.
haha dan tetap di abaikan.
Sattt... Areta terdiam melihat dua orang tiba tiba muncul di hadapannya, tubuhnya kekar dan tinggi, wajah mereka tertutup masker dan kepala yang tertutup cupluk. Areta yang jaget tidak sadar menjatuhkan hp, semua makanan ikan yang ia pegang dan mundur tapi tak bisa karena posisinya yang ada dikursi. Hendak pergi tapi kakinya mendadak seperti jelly.
Trauma, ia trauma akan hal ini.
“A papa apa yang kalian inginkan?”Tanya Areta gugup dan takut.
Keduanya terlihat terkekeh dan menjawab.”Membunuhmu lah. Kamu hama yang harus tuan kami bunuh.” Areta meneguk Saliva yang terasa keras, membeku seperti batu., ini lebih sulit dari biasanya.
Keduanya mendekati Areta hendak memukul Areta, Areta tidak bicara, tiba tiba ia sesak nafas dan tak bisa bergerak seincipun. Areta tidak bisa mengendalikan diri mengerjab takut. keduanya mengeluarkan pisau hendak menodong Areta. Areta memejamkan mata pasrah, menutupi wajah dengan kedua tangannya yang kaku,
Bugh.. areta tidak merasakan sayatan atau tusukan, ia malah mendengar suara pukulan. Areta mendadak membuka mta dan menatap pelaku, melirik ada satu orang berbadan kekar yang berwajah menyeramkan, bagian pipinya terlihat bekas luka yang cukup parah. Arerta melihat sosok tersebut yang menatap keduanya yang juga menatapnya.
“ Pergi..!!” Lelkai mengerikan itu berkata dingin kepada kedua orang yang hendak membunuh Letta.
” Kau yang harus pergi..!!!!” Tekannya kepada lelaki tersebut. Lelaki yang menolong Areta tak lain adalah Rizal, dan kedua lelaki yang hendak membunuh Areta tau akan hal itu membuat mereka gemeter takut. bagi mereka Rizal itu adalah dewa kematian hitam, membunuh tanpa hati, bahkan tak pernah segan membunuh siapapun, bahkan bayi yang baru lahir sekalipun.
Keduanya masih nekat mengarahkan pisau pada rizal, tapi Rizal dengan cepat mengelak dan menedang salah satu tangan mereka yang menodongnya pisau. Pisau terhempas dan Rizal menendang perutnya sampai ia tersungkur. Rizal tak memberi cela segera menendang lagi satu orang lainnya yang hendak menyerangnya. Ia mundur memegang pisau. Rizal memutar tubuhnya dan,
__ADS_1
Ugh.. menendang kepala lawan sampai kepalanya menoleh. Rizal mendekat dan nginjak leher dari lelaki yang tersungkur, tangan sang pria bergerak hendak menusuk kaki Rizal. Tapi Rizal lebih cepat menendang tanganya hingga pisua terhempas. Rizal dengan tak berperasaan melompat dan menginjak dada sang pria sampai suara dari mulutnya kuat karena bobotnya yang berat. Rizal melirik salah satu lain yang hendak menyerangnya. Riazal turun dari tubuh sang pria dan menendang nya untuk menjadi tameng.
Stak.. Uhuk. Areta memejamkan mata gemetar melihat darah muncrat. Pria itu membunuh kawannya sendiri. Rizal menyeringai menendang pria itu kuat dan ikut tersungkur. Rizal mendekat dan menarik rambutnya kuat dan ia mendongak melihat Rizal. Rizal meludahi wajahnya dan lelaki memejamkan mata jijik. Rzal berbisik.” Ucap selamat tinggal pada dunia..!!!” Krak.
Argh.. suara memekakkan telinga terdengar nyaring ditengah malam memancing penjaga luar, suara teriakan lelaki yang lehernya dipatahkan oleh Rizal. Keduanya mati di tempat, satu tertusuk tepat bagian mata dan satunya leher yang patah. Rizal tak sampai disana, ia menendang kuat kepala pria yang lehernya baru saja ia patahkan,
Rizal melirik Areta yang gemetar memejamkan mata, terlihat sangat takut dan juga terauma. Rizal dengan nafas yang sedikit tak beraturan mendekat., mengusap pipi Areta. Areta terdiam membuka matanya pelan, keringat besar biji kacang keluar dari dahinya menatap Rizal ngeri. Meringsut takut. tapi ia tau Rizal adalah penolongnya saat ini. " Si--siapa kau?"
Rzal mengusap mata Areta yang sudah menjatuhkan air mata.”Jnagan takut. aku akan menjagamu dari jauh.” Bisik Rizal. Lalu melangkah menjauh sebelum tiga orang penjaga datang mendekati Areta. Areta tetap diam menatap Rizal menjauh. Tulangnya seperti jelly tak bisa ia gerakan. Mendadak kepalanya pening dan pingsan. Semua penjaga bersorak memanggil satu sama lain karena kaget mendapatkan dua orang mayat dan Areta yang pingsan.
Beberapa bersorak memnaggil Zaxi dari lewat telepon dan memanggil dokter, beberapa membawa tubuh Areta memasuki kamar miliknya, keadaan Areta masih tetap gemetar dalam keadaan pingsan. Trauma milik Areta sangat parah.
Rizal melihat semua itu dari kejauhan,. Menghela nafas menelpon seseorang. Telepon dimatikan sekejab membuat Rizal menghela nafas dingin, mengerti jika orang yang ia hubungi saat ini sedang tidak bisa diganggu. Rizal mengirim pesan kepadanya. melangkah pergi dengan tatapan dingin. Ini bukan hal nuruk yang harus ia sesali, jika harus dihitung ia bahkan lupa berapa orang yang sudah ia bunuh.,
Letta belum tidur sampai jam sebelas malam, tanganya terus mengetuk meja menatap hp miliknya, tanda telepon masuk, ia segera mematikan telepon takut Carmon akan menguping. Tak berselang lama pesan masuk
‘ Dia sudah aman, tadi ada dua orang pembunuh junior, katakana kepada Ragiel untuk mencari pembunuh yang senior agar lebih menantang’!
Letta tak punya cara lain selain melindungi Letta dari jauh.
Hari berjalan sangat cepat. Proyek di daerah yang Carmon lalui sudah selesai, berahir dengan pemenang tander yang akan bolak balik ke Jakarta atau dari pihak perusahaan yang akan menangani proyek yang dibangun. Letta dan Carmon tidak banyak melewati dari bersama., Carmon focus dengan proyek dan letta hanya seperti biasa.. menjaga Carmon dari jarak jauh.
Pagi ini Carmon dan Letta akan pulang, mereka sarapan terlebih dahulu di kamar karena tadi dari pihak hotel menyiapkan sarapan yang sudah di pesan Carmon. Carmon malas antri atau mengambil makanan di lantai bawah. Ia juga tak lupa memesan makanan untuk Letta.
Letta yang baru saja sudah keluar dari kamar mandi mengusap rambutnya dengan handuk, melirik Carmon yang membaca Koran, dimeja sudah banyak makanan yang disajikan. Letta mendekat dan itu memancing Carmon untuk mendongak.
“Itu sarapan. Ayo makan dulu.” Carmon menghentikan bacaannya dan mulai berdiri dari posisi duduknya untuk menu ke meja yang sudah ada makanan makanan disediakan itu.
Letta bedehem mengusap rambutnya,. Duduk di ranjang mengambil suncrean dan toner, “Benetar. Aku pakai toner.”Ujarnya menyemprot wajahnya dengan toner spray. Saat menunggu kering leteta menepuk wajahnya pelan dan menggunakan pelembab, menggenakan suncrean. Carmon melihatnya mengambil kopi miliknya yang masih hangat menggeleng.
__ADS_1
Carmon menghirup kopi hitam tersebut nyaman. “Ku pikir kau beda dengan wanita lain yang suka make up atau memoleskan wajah dengan benda benda merepotkan itu. rupanya kau sama saja dengan mereka..!!!” Remeh Carmon. Pemandangan ini sudah ia lihat selama dua hari di sini, bersama Letta satu kamar Carmon jadi tau jika sebenarnya Letta suka dengan make up dan juga merawat kulitnya, sama hal dengan wanita lain.
Letta melirik Carmon yang meminum kopi, seusianya sibuk mengambil roti dan memasukkan telur dadar didalam roti. Mengunyah menatapnya mengejek. Letta mendenggus pelan, masih dengan kegiatan merawat kulit miliknya.”Itu salahmu karena berfikir hal seperti kepadaku. Kau pikir sajalah ada tidak wnaita seperti itu di dunia ini.”
Ccarmon menelan makanya cepat menatap Letta melotot.”ada kok. Wanita didesa atau wanita biasa yang natural biasa saja tdiak suka tu perawatan atau menggunakan produk kecantikan. Mereka hidup sederhana, ku lihat barang barang yang kau gunakan ternama semua. Aku yakin itu mahal.” Ujar Carmon melirik merk merk lipstick dan bedak dari Letta.
Letta melirik toner dan juga pelembabnya. Segera mengoles suncreamm melirik Carmon. “ Yakali, mereka belum tau saja apa manfaat dari banyak produk kecantikan, dan atau mungkin mereka tidak punya uang.”Ujar Letta pelan. tak tersinggung.”Dan juga mau barang ku kenakan mahal atau tidak, itu yang pasti bukan urusan anda... saya beli juga dengan uang saya..!” Letta berdiri mendekati Carmon seusai memnggunakan suncreen,
Carmon menatap semua pergerakan Letta yang sudah duduk di kursi sebelahnya.. ia bergeser memakan nasi goreng yang dia pesan, makan roti saja tidak cukup.
Carmon mengangguk mengiyakan ucapan letta.”tapi ada banyak cantik natural tanpa menggunakan barang barang oitu semua.”Ujar Carmon tak mau kalah.
“Itu hak mu bukan hak ku. Ku kira aku peduli?” Tanya Letta sinis. Memangnya mengapa jika wanita mewarat diri?? Menggunakan scincare. Make up dan lain lain. Letta suka make up tapi juga suka mewarat kulut. Bagian ketiak agar tak hitam, bagian lipatan manapun agar tidak belang. Wajahnya agar tidak bermasalah. Letta tidak bermimpi agar putih tapi ia mau saat tidak menggunakan make up dia tetap PD karena wajahnya bersih. Bibirnya tetap merah.
Carmon tidak tau saja bagaimana jika Letta tidak mewarat diri, bahkan punggungnya saat ini sudah dioprasi plastic agar tidak ada bekas luka dan cambukan. Carmon tidak tau bagaimana wajah letta yang setiap hari harus babak belur, bonyok sana sini, berdaarah sampai hidungnya patah dan berakhir oplas lagi agar tetap bagus. Bagaimana dulu wajah letta harus belang dan gosong karena setiap hari menantang matahari, bagaimana.. ah sudah Letta lelah menjelaskan bagaimana sulitnya merawat diri.
Letta tidak gila kecantikan tapi Letta tau jika kadar kecantikan membuat orang lain tidak merendahkan kita.
dan juga menambah kadar tetap PD sebagai wanita.
Carmon mendenggus tetap makan, bukan ingin menyinggung letta awalnya, tapi letta diluar ekspetasi miliknya, Letta yang ia gadang gadang tidak pernah make up tidak peduli perawatan dl juga menyukai banyak nya kegiatan perempuan, jadi ia cukup kaget saja dengan keadaann yang ia ketahui.
Apalagi wajah letta yang asli terlihat sangat cantik dan juga manis dibanding di pakek make up jadi tegas dan juga menyeramkan.
Letta diam mengambil teh dimeja, ia pesna teh hangat tadi, saat hendak minum ia melihat warna teh yang memudar seperti bukan warna teh alami, seperti sudah dicampir sesuatu..
.
.
__ADS_1
.
Tinggalkan jejak yah guys..!