Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
54


__ADS_3

Bara menggeleng.,”Justru Bara Bangga punya moms begini.” Bara merapikn rambut Letta ke samping. Letta tersenyum tipis menatap Bara. “ Moms itu wanita paling kuat yang Bara kenal, yang paling keren dan yang paling-paling hebat. Bahkan jika Bara sudah besar Bara ingin jadi seperti Moms. Bisa hebat, kuat dan keren.” Bara berujar polos.


Letta terharu, karena baru kali ini ada yang mengatakan bangga memiliki nya setulus dan sedalam ini...


Letta terkekeh mengusap kepala Bara pelan.”Tidak-tidak. Kamu tidak boleh seperti momns, kamu besar harus bahagia dan juga hidup jauh lebih baik.. tak harus kuat dan tak harus hebat. Kamu hanya harus bahagia yah sayang..” Ujar Letta tersenyum.”Karena jika mau kuat dan hebat, kamu harus merasakan sakit.. dan Moms tidak mau kamu sakit,.”Lirih Letta. Bara terdiam menatap Letta tak mengerti.


“Memangnya jika mau kuat itu harus sakit yuah moms?”Tanya Bara polos.


Letta menggeleng.”Kita tidak akan bisa tau seberapa kuat kita jika kita belum merasakan sakit, kita tak akan tau seberapa jauh kemampuan kita sampai kita menemui kemampuan yang jauh diatas kita. Bara harus banyak belajar dan harus tau jika kuat bukan arti dari fisik saja. Tapi juga dari hati, menerima kenyataan jika dunia ini tidak seindah yang Bara bayangkan. Akhhh bukan dunia tapi manusia—manusianya.,” Lanjutnya. Bara Diam Mencerna Ucapan Letta. Letta yang melihatnya terkekeh pelan merasa terhibur wajah Bara yang polos harus berfikir keras.,


Letta menggendong Bara pelan membuat Bara melepaskan boneka beruang coklat miliknya beralih memeluk pundak Letta. “Kamu tidur yah. moms mau mandi dulu.. tidak baik anak-anak belum tidur jam segini, besok kan kamu harus sekolah. Kamu harus membuat moms bangga.” Ujar Letta pelan.


Bara mengangguk.”Ai-aiii..” Letta menaruh Bara tidur diatas kasur dan menyelimutinya. Bara diam tersenyum menatap Letta menuju tolet untuk membersihkan diri. Saat Letta sudah jauh barulah senyum Bara luntur menjadi sendu. “ Iya. Dunia tidak seindah yang Bara bayangkan.” Lirihnya.


Yang Letta katakan benar, hidup tidak seindah yang dibayangkan, hidup ditinggalkan orang tua di usia balita, dikucil dan diusir dari keluarga saudara orang tua, dimasukan kedalam panti asuhan, dipaksa dipukul dan di suruh bekerja, dijauhkan dan dibully karena wajahnya yang rupawan.


Bara sadar jika hidup memang tidak seindah yang dibayangkan. Dunia tidak seindah dibayangkan... Dunia tidak seindah yang dibayangkan. Bara harus selalu menekan kata-kata itu.


Tapi semenjak bertemu Letta, Bara jadi tau jika dunia tidak semenakutkan itu, dunia itu menantang dan menaruh alur pada titik perjuangan. Menjadi paling lemah atau paling kuat.


Jujur,, di diri Bara sangat banyak ketakutan yang bersarang dalam batinnya, takut terluka, takut kehilangan Letta, takut tak bisa membanggakan Letta, takut tak bisa menjadi kuat. takut mengecewakan Letta. Bahkan jika boleh jujur ia juga takut kepada Letta yang bertindak mengerikan, pulang malam dalam keadaan berdarah-darah. Entah apa yang dilakukan Letta sampai berdarah-darah begitu. Tapi Bara harap Letta tidak membunuh orang., Lebih tepatnya Bukan psikopat.


Tapi ngomong-ngomong bukannya tangan Letta patah? Jadi tadi ia menggendong Bara menggunakan tangan yang mana? Batin Bara bingung... akh menambah beban pikiran saja.


Bara lelah akan pikiran nya sampai lupa untuk tidur ... Bara melirik toilet tempat Letta mandi. cepat-cepat menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan merebahkan tubuhnya. takut ketahuan belum tidur.


Tak berselang lama Letta keluar menggunakan baju tidur berwarna navi miliknya, menatap sosok mungil yang tenggelam dalam selimut menutupi matanya.

__ADS_1


Letta mengusap rambut miliknya menyeringai menatap mata Bara, mengusap kepala Bara dan duduk di sisi kasur. Tau jika sebenarnya Bara belum tidur tapi ia tak ambil pusing, Letta memilih membuka gaway miliknya dan melihat beberapa pesan masuk.


Bara yang pura-pura tidur pun tertidur bersama Letta yang menaruh HP miliknya di brangkas, menarik tubuh Bara dalam pelukannya. Sama-sama mencari kenyamanan


...----------------...


Banyak orang mengatakan jika hidup itu adalah pilihan? Apa benar hidup itu adalah pilihan? Saat kamu tidak bisa memilih dilahirkan dimana, di didik seperti apa, besar dimana, dalam keadaan seperti apa dan memiliki takdir semacam mana? Apa kalian yakin hidup itu adalah pilihan?.. Yah katanya menjadi baik dan jahat itu adalah pilihan.


Apakah kalian yakin? saat dimana kita dididik dengan kekerasan, penuh dalam kejahaatan, yakin bisa membuat pribadi menjadi baik penuh kelembutan, anggun dan menawan?


Yakin membuat pribadi manusia dalam lingkungan jahat memilih menjadi pribadi yang baik sedangkan akal dan hati sudah tercemar akan emosional kejahatan? Bisa-bisanya orang lain bisa berfikir jika harimau tidak akan makan daging hanya karena dia dibesarkan oleh domba.


Bulshit, semuanya bulshit, katanya pilihan adalah kesempatan tetapi setiap orang tidak bisa memilih takdir, katanya itu yang terbaik dan adil, lantas mengapa manusia masih banyak memilih gantung diri? Katanya jika tak akan dilimpahkan suatu musibah atau masalah kepada orang lain jika ia tak akan mampu memikulnya, tetapi kenapa masih banyak orang yang memilih mati?


Bukankah itu artinya manusia dipaksa kuat? dia mengatakan jika hidup yang diberi adalah hal yang terbaik oleh Tuhan?


“Leta..!!!”


Letta menghela nafas menghisap rokok miliknya menatap langit memikirkan hal yang menyita otaknya, tangannya yang satu masih di Giff,


“Letta,..!” Leta melirik seseorang yang sudah dua kali menyebut namanya didepan pintu, Letta keluar dengan pelan dari kamar karena taka da yang berani memasuki kamar kecuali dia disuruh.


Disana ada Diki yang menatap Letta.” Makan dulu yok... gue udah siapin makanan.” Letta mengangguk menutup pintu mengikuti langkah Diki.


Diki berdiri di samping Letta mengernyit.”Loe ngerokok lagi?” Tanya Diki pelan.


Letta melirik sejenak dan bergumam. Diki berdecap.” Kan gue udah bilang Let, rokok tu nggak baik buat loe. Buat cewek. Jangan ngerokok lagi, nanti paru-paru loe bolong, dn parahnya loe mandul. Plis lah jaga diri loe jangan Sampek luka terus.. loe nggak capek apa luka terus?”Tanya Diki kesal. Sangat marah melihat Letta yang selalu terluka dan melukai diri.

__ADS_1


Letta melirik Diki dingin “Loe pikir gue mau luka?” Diki diam, mendengar balasan Letta dingin.”Gue Pernah teriak dan memohon minta dibebaskan dari rasa sakit, sakit batin maupun fisik baik pada manusia maupun sama Tuhan, tapi gue dipaksa kuat, dipaksa nerima luka. Dan sekarang gue ngelukain diri sendiri gue dimarah dan dibilang salah. Hidup memang selawak itu yh.” Letta terkekeh pelan. Diki menghentikannya langkahnya menatap Letta uyang tetap berjalan. Diki menatap nanar punggung itu... tak ada suara, hanya keningnya yang mengerut.


" Hidup bukan lawak, loe tau luka bikin sakit tapi loe lebih milih nyakitin diri sendiri, apa loe nggak salah?" Tanya Diki.


Letta menghentikan langkahnya tanpa membalikkan tubuh nya. " gue rasa ada yang minum alkohol buat nenangin dirinya, tapi dia nyalahin cewe buat ngerokok, apa nggak lawak?? " Balas ALETA lain pada yang ditanya. Saat hendak Diki jawab suara Bara menggema membuat ia memilih bungkam.


Diki tau jika Letta menyinggung dirinya.


“ Moms.... “ Bara berteriak ceria melihat Letta yang datang ke meja makan. Letta disana mengangguk pelan dan mulai duduk dikursi yang kosong.


“ Ziko dan Ando melirik satu sama lain. “ Makan Let.” Ujar Ziko canggung.


Letta mengangguk mengambil nasi goreng udang diatas piring miliknya. Bara pun mengunyah menatap Letta semangat. “ Moms ingatkan kalo hari ini aku lomba cerdas cermat matematika.. Moms dateng kan?”Tanya Bara antusias kepada Letta.


Letta diam melirik Bara, mengingat hal tadi malam membuat ia berfikir, apakah Bara tidak takut padanya yang berpenampilan mengerikan? Penuh noda dan darah., Tapi pagi ini Bara terlihat santai dan tetap ceria, taka da tanda menunjukan rasa takut padanya.


Letta mengangguk.”Jam berapa?”Tanya Letta tenang sembari mengambil sambal tempe ditengah tengah meja, tepatnya itu sambal yang paling Letta sukai, orek tempe bercampur ikan teri dan juga kacang tanah, itu menu Favorit miliknya yang harus selalu ada di meja makan.


Bara terlihat berbinar menatap Letta yang akan menghindari acara perlombaan miliknya. “Asiikk. Moms baik banget deh hehe... Bara nanti lomba jam 9, mom harus datang yah soalnya kemarin Bara lomba seruling loh, dan menang juara satu tapi moms nggak datang.” Ujar Bara semangat.


Letta mengangguk pelan, hari ini jadwal miliknya juga tak padat, menghadiri acara Bara bukan masalah besar. Letta melirik Diki yang duduk di ujung kursi.” Loe urus perusahaan hari ini.. “


Diki mendengus memakan makanannya lagi. Ziko dan Ando terkekeh memilih lanjut makan bersama dengan Bara yang sibuk mengoceh jika dia memenangkan lomba dan guru-guru memujinya jika dia pintar. Bara sangat senang dna bangga sekan mempromosikan diri jika dirinya adalah anak yang pandai nan pintar, bisa dibanggakan dan berguna.


Letta tau, Letta merasakannya. Letta menatap Bara yang ceria menceritakan apapun tentang dirinya di sekolah sampai-sampai guru semua menyayanginya. Letta sadar jika sebenarnya dimata Bara ada sedikit ketakutan yang menghantuinya, Bara takut jika Letta merasa jika dia bukan anak yang berguna, bodoh dan tak memiliki apapun untuk dibanggakan. Bara takut jika ia akan dibuang oleh Letta.


Letta hanya diam ia tau tapi tak mau menghentikan pemikiran Bara. Karena bagi Letta dnegan begini Bara lebih terbuka, lebih membanggakan diri dan lebih berusaha untuk menjadi lebih baik. Tugas Letta hanya satu, tetap membangakan apa yang Bara beri, memberikan penghargaan agar semangat juang tak dibuang dari Bara tak hilang.

__ADS_1


...Hai hai.... Aku kemarin Up cuma sistem eror jadi aku up lagi.... Jangan lupa tinggalkan jejak yah......


__ADS_2