
Pria tersbeut tersenyumlah manis kepada jesika, mengusap kepala Jesika dan menjawab. ”paman temannya papa kamu,. Disuruh jemput jesika karena supir Jesika sedang tidak bisa jemput. “ Ujarnya pelan dna ramah., tapi dibalik keramahan tersbeut, terdapat seringaian yang ia tutupi dibibir tipis miliknya menatap jesika yang polos dan bodoh.
Jesika terlihat mengerutkan keningnya bingung.”Tapi aku tidak kenal paman,” Ujar jesika pelan.
Pria tersebut menggeleng berkata.”tidak tidak, paman kenal kamu,. Paman di suruh ayah kamu, jika kamu tidak percaya kamu bisa bertanya kepada ayahmu.”Ujarnya. jesika menggeleng. Ia tak punya Hp. Jesika menatap pria tersebut mengerjab. Jika benar ia ikut saja kan?
“Keluarga Samuel cukup kuat juga rupanya, bahkan perusahaannya belum tumbang meskipun kehilangan tiga puluh persen saham.,” ujar Dipta pada Letta sembari menghirup aroma kopi miliknya sebelum ia minum,
Letta mengangguk sembari menyesap kopi miliknya. Kopi yang menggunakan gula aren karena ia tak suka gula pasir yang terasa pekat, Ia rasa kopinya juga agak hambar dan juga sepat. Menggangguk lagi.” Mereka ada dukungan, dan dukungan itu sampai sekarang tidak terlihat sama saya,” Ujar letta dingin.
Dipta menatap Letta terkejut.” Orang dalam? Maksudmu bagaimana?” Tanya Dipta agak kaget.
Letta menatap Dipta mengernyitkan dahinya.” Kau tak tau?” Dipta menggeleng.” Ku pikir kau cukup pintar.” Balas letta santai.
“He maksud mu apa? Kau mengataiku bodoh ha?”Tanya Dipta tak senang.
Letta menatap Dupta menyeringai.” Ku pikir tidak ada kalimat yang mengatakan kau bodoh tadi.” Jawab Letta terkekeh. Tapi siapa saja paham jika kekehannya adalah kekehan meremehkan.
Dipta mendengus.” Kau tak tau saja, aku ini pintar, dulu aku selalu juara pararel, lompat kelas dan bahkan aku selalu memenangkan olimpiade, aku diujuluki monster mata pelajaran.,” Ujar Dipta bangga pada Letta. Menjelaskan jika dirinya tidaklah bodoh seperti yang letta katakana,
Letta terkekeh mengangguk.” Tapi pintar itu bukan selalu tentang kau menguasai mata pelajaran, tapi juga tentang bagaimana cara kau memahami situasi yang berlaku untuk dirimu saat ini. jika tidak pelajaran dan ilmu yang kamu punya, hanya pegangan kosong belaka.” Tegas Letta.
Dipta tertegun mendengarnya.. kalimnat letta seperti mengusik kepalanya, itu kalimat milik dirinya. Iya, dia ingat itu. ah tepatnya itu kalimat ayahnya dulu. Dulu dimana Dipta pulang dari sekolah menangis karena mendapatkan nilai di bawah KKM bagian olahraga. Dipta yang dibilang lemah oleh teman temannya menangis saat pulang mengaduh pada ibunya.
Ibunya pun membicarakan hal itu kepada suaminya saat suaminya pulang bekerja.
Ayahnya yang mendengar anaknya menangis saat pulang dari skeolah pun menanyakan hal itu pada sang anak yang sedang kumpulkan di ruang keluarga. “ apakah kamu menangis tadi Nak?” Tanya ayahnya lembut mengusap kepala sang anak. Setiap ada waktu luang mereka pasti akan berkumpul di ruang keluarga. lebih sering atau biasanya hari Minggu mereka akan mengul dan menceritakan agenda yang menarik bagi satu sama lain.
__ADS_1
Dipta mengangguk lemas.” Teman mengejekku karena tidak bisa mengoper bola Volly, mengataiku lemah karena hal itu ayah. Padahal bola volly sangat sulit. Aku tidak terlalu pandai di bidang olahraga.” Jawab Dipta nanar kepada sang ayah. Bagi Dipta itu sangat menyebalkan. Dari kecil ia kurang suka dengan yang berbau lelah. lebih suka bermain Rubik, logo, catur, dan beberapa permainan yang membuat ia berfikir keras bukan berjuang keras
Ayahnya tersenyum, “apa karena itu kamu menangis ?”Tanya ayahnya lagi.
Dipta menggeleng menatap ayahnya nanar.” Aku bodoh ayah.” Bisiknya lirih.
Ayahnya mengernyitkan dahinya heran.” Bodoh mengapa? Bukankah kamu selalu rengking satu?”Tanya ayahnya pelan.
“iya aku bodoh dimata pelajaran olahraga ayah. Itu tandanya aku tetap bodoh.” Tegas Dipta pada ayahnya nanar.
Ayahnya malah terkekeh menatap anaknya. “Tapi pintar itu bukan selalu tentang kau menguasai mata pelajaran, tapi juga tentang bagaimana cara kau memahami situasi yang berlaku untuk dirimu saat ini. jika tidak pelajaran dan ilmu yang kamu punya, hanya pegangan kosong belaka.” Balas ayahnya dengan lembut.
Dipta menatap ayahnya mengerjab.”Di dunia ini ada banyak orang pintar Dipta, tapi mereka terlalu pakum menyadarinya, mereka terjebak di zona nyaman milik mereka sendiri, struk dengan apa yang mereka pikirkan. Kamu terlalu focus pada mata pelajaran sampai kamu selalu belajar belajar dan belajar kamu lupa bagaimana caranya olahraga, berjalan, berlari dan melatih fisikmu. Begitu juga yang pandai olahraga, mereka selalu melalui hobinya, berlatih, bermain bola. Semua orang tidak ada yang sempurna. Jika kamu menganggap diri kamu bodoh hanya karena kamu tidak pandai di suatu hal, artinya kamu mengghinda diri kamu sendiri. Padahal diri kamu butiuh dukungan yang pasti. "
“contihnya?” Dipta memiringkan kepalanya menatap ayahnya bingung.
Dipta kecil tidak paham apa yang ayahnya katakan, yang ia paham hanyalah jika semua orang tidaklah ditakdirkan pintar, tapi semua orang ditakdirkan untuk memahami situasi agar mampu mengendalikan diri pengendalian diri perlu agar mampu mengendalikan situasi.
“ Hey..!!” Dipta mengerjab kaget melihat Letta yang melambaikan tangan di depan wajahnya. Dipta mengerjab menatap letta linglung. Apakah ia melamun? Mengingat masa lalu miliknya bersama keluarganya dulu?
Letta tersenyum mengejek.”Oh ayolah, kau bahkan sampai melamun hanya karena dikatakan bodoh. Hey kau tak akan benar benar ajdi bodoh hanya karena dikatai satu orang jika kau bodoh.” Tegas Letta terkekeh pelan.
Dipta kembali tertegun, itu kalimat ibunya yang menenangkannya dulu., persis, sata pulang sekolah, menangis mengatai dirinya bodoh di hadapan ibunya. Ibunya tertawa dan menguspa kepalanya.” Hey Boy. Kau tak akan benar vbenar jadi bodoh hanya kerena stau orang mengatai dirimu bodoh. Justru karena kau mempercayainya kau menjadi bodoh. “
Letta melihat dipta yang melamun lagi berdecap, “ kau hobby melakum rupanya yah.” Gumam letta mengesap lagi minumannya., dipta mengerjab menatap Letta dalam. Mengusap pipinya sejenak dan menghela nafas., semua ini kebetulan yang sangat menyentil dirinya. Kenapa Letta banyak tahu tentang kalimat kalimat itu?
“jika kau masih mau melamun, lain kali saja lah kita ngobrol. Aku juga mau tidur jika begitu.”Tegas Letta kepada Dipta yang tetap diam merenung entah apa yang ia merenung. Letta agak malas jika bicara dengan orang baperan seperti Dipta. Bicara dengan orang baperan akan selalu ingin dipahami sampai lupa untuk memahami orang lain.
__ADS_1
Dipta menggeleng.” Bukan begitu. “ balas Dipta pelan.” aku hanya mengingat ayah dan ibuku. Dulu mereka pernah juga mengatakan hal yang sama dnegan apa yang kau katakana. “Cerita Dipta tersneyum. Kalian ingat tidak lelaki yang dulu menahan letta ditengah jalan? Meminta kerja sama? yah itu dipta. Orang yang sama saat itu. letta memutuskan bekerja sama bersama Dipta karena harus punya dukungan dan sokongan. Itulah yang membuat keduanya terikat.
Letta mnatap Bara yang main di rumah bola di sana. Ia terlihat bahagia melomopat dna bermain dnegan anak yang entah letta juga tidak tau, yang pasti dia adalah anak orang yang juga main di sini. “ Iyakah?”Tanya Lteta pada Dipta.
Dipta berdehem menatap letta.” Karena itu aku cukup kaget mendengarnya, aku jadi merindukan orang tuaku.” Gumamnya menghela nafas.
letta menatap Dipta tersenyum culas. “Tapi mereka sangat jauh untuk ditemui, “ ujar Dipta menghela nafas.
Letta mengangguk pelan, paham akan yang diucapkan Dipta. “ aku juga mengutip kata kata itu dari salah satu aplikasi meme, memang kata kata murahan.” Jawab letta. Dipta menatap letta datar. Buyar sudah rasa haru yang ia rasakan tadi sedangkan letta hanya memberikan wajah santainya tanpa berniat memberikan wajah manis pada Dipta.
“permisi nona. Anda mendaoatkan es krim dari lelaki yang disana.” salah stau pelayan datang memberikan satu eskrim kepada Letta. Leta mendengarnya mendongak menatap aragh yang di ujar oleh pelayan, di sana memang ada salah stau remaja yang memberikan dirinya es krim. Remaja sma membuat . Dipta tersenyum geli. Jadi Letta sedang di goda oleh brondong rupanya. Kenapa rasannya sedikit kesal yah jika ditelaah lagi?
Letta berdehem pelan.” Kembalikan saja, aku tidak suka makanan manis.,” Jawab letta pelan. dipta tertegun sejenak. Tidak suka manis??? Tidak suka manis, itu mengingatkannya pada seseorang. Letta menatap brondong yang tersenyum malu padanya, terlihat brandalan dan juga suka tawuran. Letta memutar bola mata malas.
Pelayan yang ditolak menatap letta linglung, bimbang ingin mengatakan bagaimana nanti.”tapi dia pemilik café ini nona. Tolong terima yah, saya takut dipecat jika anda tidak menerima ini.”Pelayan kekeh meminta bantuan.
“Kamu pikir saya peduli?”Tanya letta sarkas.
Pelatan menatap letta kaget, mengerjab sejenak. Letta menatap pelayan itu tersenyum miring”saya bukan orang baik, jadi minta belas kasih dengan orang lain saja yah.” ia kembali menyesap Kopi miliknya pelan tak menghiraukan raut masam pelayan di sisinya
“Saya yakin nona baik kok.’" Ujar pelayan ragu menatap letta, kembali melirik sang anak tuannya yang melototinya sekana menegaskan jika es krim harus dimakan oleh Letta. “ dia memiliki pribadi buruk nona, jika nona jahat itu bukan masalah bagiku, tapi lain kali saja, kali ini berbuyatlah baik sedikit, itu tidak akan merugikan nona.” Tegasnya pelan. Berharap tak di tolak
Letta menaytap rendah pelayan.”Baik.. pergilah.”ia malas berdebat. Pelayan tersneyum membungkuk meminta izin pergi. Letta membiarkan es krim di depannya mencair. Dipta yang nelihat hal itu berusaha tak bertanya, tertapi ia sangat kepo.
“Kamu diabetes?”Tanya Dipta heran. Jarang orang tak suka manis, dimulai dari minuman yang letta beli saja sudah membuat Dipta menebak gadis di depannya ini penyakitan.
“Saya suka.. tapi dulu.” Jawab letta berdehem pelan menatap eskrim.
__ADS_1