Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
tugas


__ADS_3

Suara ketukan sepatu Letta yang mengenai marmer lantai mengalihkan atensi semua orang yang sibuk bekerja, terdiam sejenak menatap gadis tinggi yang menggunakan crob tobdengan balutan blazer hitam, rambut dianyam atas dua, dan kaca mata hitam menutupi mata tajam miliknya, Letta melangkah menenteng tas hitam miliknya, tak susah melirik orang-orang, ia tetap berjalan tanpa berhenti sejenak sekalipun.


Resepsionis tak juga berani menegurnya, semua orang juga sudah tau jika dia adalah salah saru dia bodyguardnya tuan muda mereka, hanya saja beberapa hari ini ia tak terlihat di kantor ini. tak ada yang tau juga jika ia pernah mengundurkan diri. Mungkin juga ia cuti.


" Cantik banget...." Salah satu karyawan kelepasan mengalihkan atensi beberapa orang. ia segera membekap mulutnya dan tersenyum malu melirik Letta yang masih berjalan tanpa mengapik orang lain.


" Emang si, cuma lebih ke Antagonist banget muka dia...' Bisik wanita disampingnya.


" Antagonis lebih menggoda, gue lebih Jika yang sedikit sensasi pemberontak dibanding penurut." Bisik lagi dari lelaki lain.


Letta mendengar semuanya menghentikan kakinya sejenak, menghentikan mereka yang sedang bicara. Letta melangkah lagi tanpa bersuara, ketiganya melotot saling mencubit satu sama lain. sialll hanya berhenti sejenak saja mereka sudah setahun itu apalagi di ancam?


Mungkin ketiganya akan kencing di celana.


Letta menaiki lift yang khusus untuk para petinggi perusahaan atau untuk para tamu yang ada. Penjaga disana melirik Letta dengan tak enak menahan langkah kaki Letta. Letta yang baru saja ingin memasuki Lift yang terbuka terhenti menatap penjaga dengan datar.


Penjaga tersenyum tak enak dan berkata.”Maaf nona, ini untuk para petinggi perusahaan. Nona bisa menggunakan lift khusus untuk para pekerjaan di sana.” Penjaga tersebut menunjukan arah lain dimana lift khusus para pekerjaan biasa.


Letta memalingkan wajah sejenak menatap lift yang ditunjuk, menggeleng dan menatap penjaga lagi.”Jika saya tidak mau bagaimana?” Tanya Letta, tersirat nada remeh dalam perkataannya pada penjaga tersebut. Siapa yang mendengar mungkin akan tau jika ia orang yang berpendidikan.


Penjaga terlihat mengernyitkan dahi, lalu berkata.” Maaf nona, ini sudah peraturan perusahaan, jadi tolong bantu saya untuk menertibkan peraturan yah, sebab jika ada kesalahan saya yang bertanggung jawab. Jadi saya benar-benar monta tolong.” Penjaga tersebut menatap Letta sangat sopan.


Letta sebenarnya masih ingin bicara dan menentang, tetapi melihat penjaga itu yang sopan dan lembut, ia jadi tertegun tak enak. memang benar yang keras harus di lunak dan di halusi.


Mengangguk memilih mengalah, satu hal Letta itu lemah dengan orang yang benar-benar baik dan benar-benar lembut. Letta seperti sangat jahat saja jika menyusahakan orang orang baik seperti penjaga dihadapannya ini.

__ADS_1


Seperti dosa besar yang dilakukan, Letta bukan manusia baik, ia akui itu. Karena itu ia tak mau melakukan suatu hal jahat pada orang baik. Yah setidaknya meski tidak baik ia tidak pilah menganggu orang baik.


Letta melirik penjaga itu dan membaca nama sang penjaga yang tertera di seragamnya.” Bambang, berapa gajimu disini?”Tanya Letta melangkah menuju lift arah ujung yang diarahkan tadi, ditemani oleh penjaga yang bernama Bambang dibelakangnya tadi.,


Bambang mengerjab dan tersenyum sopan membungkuk.” UMR biasa dikota kita nona... maaf tidak bsa menyebutkan secara rinci, tapi yang pasti cukup untuk menghidupi keluarga kecil saya, dan membahagiakan istri saya.” Ujarnya menekan kata istri, seakan menegaskan bahwa jika ia sudah menikah, tak ingin Letta tertarik padanya.


Letta paham, mungkin lelaki di belakangnya ini berfikir jika dirinya tertarik padanya, sebenarnya itu terlalu percaya diri jika difikir fikir, tetapi lagi nih yah, cara penyampaian nya yang begini, lugas dan tegas mengatakan ia menyayangi istrinya., memiliki istri yang harus ia jaga hatinya,


Ini cukup menggelitik di hati Letta.


Letta tersenyum miring mendengarnya. Bambang melihat senyum itu tertegun, sangat mengerikan. Bukankah seharusnya senyum wanita itu manis?


Bambang mengepalkan tangan menahan diri. “Bekerjalah denganku, aku akan membayarmu dua kali lipat dari sini. “Letta memberikan kartu nama miliknya kepada Bambang.


Bambang menerimanya dan tertegun.” Kamu hanya perlu menjaga anak lelaki saya, menghantarkan kemana dia mau. “ Ujar nya lagi pada Bambang.


Tetapi gadis didepannya malah menawarkan ia untuk menjadi penjaga dari anaknya dengan gaji dua kali lipat snagat menggiurkan, bambang sempat berfikir mengapa nona didepanya ingin memperkerjakan nya. Bambang menerimanya dna berkata.” Saya fikirkan dulu yah nona, jika begitu saya duluan.”


Letta menghentikan langkah kakinya, melirik penjaga tersebut yang sudah menjauh. Letta mengangguk pelan lalu melangkah lagi menjauh.


Bukan apa-apa. Letta tidak bisa selalu mengandalkan Diki, ia harus standby di pekerjaan perusahaan milik Letta kembangkan, laku Ziko juga sibuk dengan pekerjaannya, Tiger yang sibuk dengan organisasi motornya, secara ia ketua geng motor miliknya, lalu Ando yang sibuk melakukan tugas miliknya. Letta cukup tidak akan membiarkan Bara terpaut jauh dari keluarga Sam. Letta sudah membuat plot cerita sendiri dikedepannya. Ia hanya butuh orang yang baik, sopan, jujur dan baik untuk menjaga Bara dari orang laun. Hanya itu.


Letta membuka kaca matanya melipatnya dan menyelipkan di baju depannya, menatap pintu yang sudah lama tak ia datangi. Letta tersenyum miring mengetok pintu tersebut pelan, hanya dua kali, setelahnya mendatangi asisten di sana untuk menanyakan Letta ingin menemui siapa. Letta pun menjelaskan niatnya.


...----------------...

__ADS_1


Agatha baru selesai memoles lapisan terakhir di lipstick berwarna marun di bibir tipis miliknya, meringis pelan merasa perih bagian sudut bibir. Menghela nafas melangkah mengambil kunci mobil dan juga tas.


Melangkah meninggalkan ruang kamar miliknya menuju bagasi. Agatha melaju mobil miliknya menuju salah satu café yang sudah ia janjikan tadi, disana memakan waktu empat puluh lima menit dari rumah, cukup jauh dari rumah karena ada hal penting yang harus ia bicarakan nanti.


Agatha memesan ice cafe, boba dan juga beberapa disert untuk ia cemilan dengan minuman miliknya. Menatap sepenjuru ruangan, disana ada beberapa kursi kosong, tetapi pilihannya jatuh di bagian paling belakang disudut. Ia pun duduk di sana kembali menghubungi ayahnya. Berselang tak ada sahutan yang mungkin karena ayahnya sedang dijalan


“ Permisi, saya boleh duduk di sini???”


...----------------...


Tiger melirik kanan dan kiri, dimana rumah milik Samuel darii jauh. Menghela nafas menguap pelan menutupi mulut miliknya menggunakan telapak tangan.”Gilak lama banget. Gue mau makan dulu boleh nggak yah , kalo gini cara nya gue bisa kena magh, tapi kalo gue tinggal dia duluan. Bisa kena bacok gue sama Letta kalo nggak berhasil.” Gumamnya pelan melirik rumah yang sudah dua jam ia pantau.


Sampai pada di mobil putih melintas. Ia segera memakai helm miliknya dan menghidupkan kembali motor miliknya. Mulailah ia mengejar mobil tersebut.


”Itu mobil dia kan?” Gumamnya. Ia mengikuti mobil Agatha menuju ke semua café, ia mengernyitkan dahi melihat sosok yang ada difoto itu dan yang ia lihat langsung.”Gilek. make up keren banget yah bisa menutupi luka biru-biru dimuka dia,.”Gumamnya menata Agatha heran.


Melangkah lagi menuju tokoh bunga di samping café. Ia mengambil bunga mawar merah dan menyuruhnya untuk membungkusnya cukup cantik. Tiger melangkah menuju dimana Letta berada. Letta memesan Kopi duduk paling pojok. Ia menyeringai dan mendekat pada sosok yang ia intai dari tadi.


“Permisi.. saya boleh duduk di sini nggak??” Tanya Tiger dengan pelan.


Agatha mengernyitkan dahi menatap Pria dihadapannya aneh, tak kenal dan tak tau juga, tapi perawakan lelaki tersebut sangat kekar menawan dan tampan, wajahnya terlihat sangat bringas menandakan ia bukan orang sembarangan.


Agatha mengangguk secara kaku.”Mari mas duduk.”Gugupnya pelan.


Tiger tersenyum menduduki pantatnya dihadapan Agatha, membuka tas miliknya dan mulai sok sibuk dengan apa yang bisa ia gunakan. Agatha terdiam sesaat menatap bunga nawar yang ada diatas meja, bunga yang sangat cantik membuat ia tersneyum miring, bahkan saat seperti ini saja ia masih mengharapkan Jastin suaminya memberikan ia bunga seperti ini

__ADS_1


“ Ini untuk siapa?”Tanya Agatha menunjukan bunga yang ada diatas meja milik Tiger,


__ADS_2