
Krek. Pintu terbuka menampilkan Letta yang masuk. Carmon yang sedang bicara mengerjab pelan menatap Letta yang datang dengan keringat yang memenuhi tubuhnya yan terlihat semakin ****.
Letta yang memegang telepon ditelinga.ha itu mematikan HPnya mnatap Carmon yang meneguk Saliva kering menatap lehernya. Letta menyeringai dengan sengaja ia mengusap lehernya pelan, menyeka keringat memenuhi lehernya. Hal itu membuat kesan licin tubuh agak gelap miliknya. Terlihat ****
Carmon tersentak menatap Letta. Tapi letta terlihat tidak melakukan sengaja hal itu, seperti hal lumrah yang ia lakukan tanpa dibuat buat, Carmon meneguk Saliva kering buru buru menatap lain arah jangan sampai ia terlihat gagap. “Kau.. kau dari mana? Mengapa baru pulang?” Tanyanya pelan pada Letta.
Letta mengambil baju dalam tasnya, tanpa melirik Carmon ia melangkah menjauh menuju ruang toilet. “ Selain Buta kau juga pelupa ternyata yah?”Tanya Letta sinis saat matanya menatap Carmon. Pasalnya tadi pagi sebelum ia joging Carmon sudah menanyakan hal ini, Carmon juga sudah tau kemana ia pergi dan mengapa ia telat pulang.
Lagian sekarang jam belum menuju ke angka 7. dan rapat yang di adakan jam 9pagi. Dasar Carmon saja yang cerewet.
Carmon menatap Letta datar, Tangannya dengan sengaja menarik tangan Letta sampai baju baju yang ia bawa untuk Sugandi di toilet seusai mandi jatuh kelantai. Carmon menatap Letta tajam, menekan tangannya dipergelangan tangan Letta.
Letta bisa merasakan nafas Carmon menghebus wajahnya, terasa hangat. “Kamu.. saya sudah ingatkan, saya bos dan kamu bawahan, tidak sepantasnya kamu menjabat pertanyaan bosmu seperti itu..!” Tegasnya dingin kepada Letta.
Letta menaiki satu alisnya menatap Carmon dingin. Ia menghentakkan tangannya, tetapi tangan Carmon cukup erat ditangannya. Letta menjulak tubuh Carmon untuk menjauh, tapi Carmon malah memegang tangan satunya lagi hingga kedua tanganya dipegang oleh Carmon. Letta mundur merasa terancam, bersamaand engan Carmon yang maju. Carmon menarik nafas panjang berkata.” Lain kali jika bersikap kurang ajar kembali, kau akan tau akibatnya.”
“Memang apoa yang bisa kau lakukan ha?”Tanya Letta cepat menyahut ucapan Carmon. Carmon mengeraskan rahangnya menekkan tangan Letta. Letta membulatkan matanya karena kaget saat dimana bibirmya bersentuhan dengan bendan benda dingin dan kenyal alias bibir Carmon. Reflek Letta menggigit bibir Carmon kuat.
Aegg.. Plak.. Carmon melepaskan ciumannya dan dengan tak sengaja ia menampar kepala Letta. Letta yang diperlakukan seperti itu dengan reflek ikut menendang Carmon dengan kuat. Carmon mundur memegang perut miiliknya terasa sakit. Ia terbatuk kuat saat merasakan sakit bagian perutnya yang ditendang Letta kuat.
Letta mendekati Carmon, menatap wajah Carmon yang mengeras menatap Letta. Letta mengepalkan tangannya mendengus. Carmon mengepalkan tangannya itu mengangkat tangan, ingin sekali memukul Letta. Letta mengangkat wajahnya dengan meremeh.” Kau kira aku binatang yang bisa kau cium sesukamu ha?”Tanya Letta kuat. suaranya menggema dikamar tersebut.
Carmon tersentak merasakan aura permusuhan dan kemarahan Letta menyeruak di setiap tempat. Tangan yang ingin memukulnya menjadi terhenti menatap datar Letta. Ia tersenyum sinis.”Hey itu hanya hukuman kecil. Lagi pula hanya cuman biasa jangan bersikap berlebihan..!!!” Tegas Carmon meremehkan kepada Letta.
Letta tertawa keras diruangan. carmon tertegun menatap Letta yang tertawa. Letta bertepuk tangan mendekati Carmon lebih lagi. “ Heyyy... kita berbeda , jika itu hanya biasa bagimu tapi tidak bagiku. Kau pikir aku wanita apa ha???” Letta kembali tersenyum sinis. “Heyy jangan samakan okeh.”Ujarnya sinis kepada Carmon.
Carmon diam melihat Letta yang menatapnya datar. Letta menghela nafas memukul keras dinding. Carmon tertegun melihatnya yang marah. Letta menatap lagi Carmon dingin. Setelahnya ia berlalu memasuki kamar mandi sesudah mengambil baju yang berceceran jatuh.
Carmon terduduk di atas kasur mentap Letta yang memasuki kamar mandi. Apa yang salah??? Ada apa dengannya? Hanya ciuman mengapa tingkahnya seperti itu? Carmon memegang bibirnya. Sudah pastu berdarah dan juga bengkak. Harusnyakan Carmon yang marah??
Seusai pertengakaran. Carmon dan Letta mengambil langkah menuju ruang makan di restoran. Makan sejenak untuk sarapan di jam 8, baru keempatnya menuju ke anak perusahaan milik Carmon. Letta menatap dingin perusahaan itu. itu adalah anak perusahaan miliuk keluarganya dulu sebenarnya tapi dikuasai oleh Carmon.
Letta mengerkan pelan menatap sekeliling. Dulu keluarganya memiliki perusahaan rokok terbesar di benua, keluarganya juga memiliki perusahaan properti yang ia kunjungi saat ini. itu semua habis dibawa oleh Samuell. Letta jadi semakin curuga jika sebenarnya Samiel itu mengambil harta mereka dengan daliih marah karena adiknya mati saja. sebenarnya ia memang berniat jahat kan??
Rapat hari ini berjalan lancer. Sampai malam, mereka baru bisa pulang. Tak ada yang menarik, sebab Carmon banyak menghabiskan waktu dnegan Virgo, sedangkan Letta dnegan Baron menunggu diluar ruangan. Letta terang terangan mengatakan tak pandai dalam berbisnis, karena ia tidak akan ingin membuka pamor mereka lebih luas dengan otaknya. Letta punya cara sendiri.
__ADS_1
“Letta..!!!!” Letta menoleh menatap siapa yang meneggurnya. Letta mengerkan pelan menatap siapa yang menegurnya. Senyum tipis ia sembunyikan mengangguk dan berkata.
” Hay.” Ujarnya pelan. sosok itu tersenyum lebar mendekati Letta. Di sana ada Baron yang juga sedang makan menoleh melihat siapa yang menegur Letta. Tak jauh dari sana ada Carmon yang sedang metting dengan dua kliennya.
Sosok itu mendekat dengan Letta.” Makan bareng pacarnya yah?”Tanyanya ramah. Letta melirik Braon yang makan sembari menggeleng.
Letta menatap sosok tersebut berkata.” Dia teman kerjaku. Kami sedang menunggu bos sedang metting.” Ujar Letta pelan.
Sosok tersebut mengangguk paham mellirik sosok yang dilirik Letta sebagai bos tadi. Matanya bertabrakan dengan mata dingin seseorang yang menggunakan jas hitam. Ia mengangguk ragu dan menatap Letta. “O.. Boleh gabung????” Tanyanya.
Dia Cakra.
Letta mengangguk. Baron? Ia melirik Cakra dingin, sebenarnya ia tak senang takut Letta terperangkap dengan lelaki ini. Letta menatap Cakra dengan santai meminum minumannya. Cakra melirik Braon dengan ramah.”Hay.. Aku Cakra. Kamu siapa??”tanyanya santun.
Sosok yang ditanya mendelik tapi teta berusaha sopan.”Saya Baron, teman kerja Letta.” Mereka berjabat tangan.
Cakra mengangguk menghela nafas mengetuk jarinya diatas meja menatap Lteta yang kembali menatap sosok yang menatapnya tajam tadi. Cakra yang kepo melirik lagi sosok yang ditatap, ternyata amsih menatapnya tajam. Cakra jadi tak nyaman.
“Hem... kau kerja apa dengannya Re?” Tanyanya pelan..
Letta menatap Cakra datar.”Aku bodyguardnya.. dan Baron juga. Kami ditugaskan untuk menjaganya dari jauh.” Jawab Letta jujur.
Letta mengangguk.” Tidak perlu. Aku cukup kuat untuk menghadapi manusia.” Ujarnya dingin.
Cakra terkekeh manis.” Tidak tidak. Kau berkata seolah olah kau bukan manusia.. hey jangan mengatakan hal yang mengerihkan, atau mau ku tangkap? Aku polisi loh.”Ujarnya mengingat Letta menggoda.
Letta disana tersenyum tipis menatap Cakra. Calra bukan sosok tampan, tapi ia berwibawah dan manis, bahkan melihatnya tak akan bosan sesuai tipe Letta.. hemmm jujur Letta bukan homo jadi wajar kan dia senang melihat Cakra?
Letta mengangguk.”Memangnya aku berkata seperti apa si?”Tanya Letta kepada Cakra pelan.
Cakra menggeleng menjawab.”kau seperti psikopat. biasanya psikopat menjawab begitu, selalu menandang manusia remeh padahal dia juga manusia..”
Baron tebatuk dengan makannya. Segera mengambil minum. Cakra dan Letta melirik Baron yang terbatuk. Baron terlihat cengengesan dengan mata berair akibat rasa perih. “Kalian membicarakan apa si?? Tidak ada pembicaraan lain kah?”Tanyanya. baik letta maupun Cakra. Mereka hanya terkekeh melihat Braon.
“Ini tuan makanan dan minuman pesanan anda.” Pelayan datang membawa nasi goreng seafood dan juga beberapa makanan lain.
__ADS_1
Cakra mengangguk datar membiarkan pelayan menjah. Cakra menapa Letta yang tidak makan.”Kau tidak makan?”
Letta menatap jam ditangannya., jam menunjukan pukul 8 malam., “Tidak, ini sudah lewat jam makan malamku.” Ujarnya.
Cakra menggeleng.”Ku pikir kau beda dengan wanita lain diluar sana yang tidak takut gendut. Ternyata sama saja.”Ujarnya terkekeh mengejek Letta.
Letta mengangkat bahu acuh.” Bukankah wajar? Sebenarnya bukan gendutnya yang ditakutkan, tapi tidak sehatnya. “ Ujar letta pelan.
Cakra mengangguk menaruh salah satu nampan berisihkan makanan.”Makan malam sesekali diluar jammu tidak akan membutmu sakit, makanlah.” Letta menggeleng tapi Cakra terlihat gemas menyuapi Letta. Letta yang diperlakukan begitu mengingatkannya pada Ziko. Ziko sama halnya dengan Cakra.
Dnegan pelan Letta menahan tangan Cakra yang hendka menyuapinya. Letta menatap cakra datar berkata.”Baik. lepaskan.’”
Cakra berdehem canggung.”Maaf."
Letta diam memakan makanan pelan mengangguk menjawab ucapan Cakra. Cakra terlihat menatap letta sendu.,”Kau mengingatkanku teman masa kecilku dulu.”Ujarnya pelan.
Letta mendnegarnya menatap Cakra bertanya.”memang siapa temanmu dulu?”
Cakra menghela nafas masih mengunya nasi gorengnya.” Entahlah, dulu kami sama sama berusaha mencari uang dijalanan, dia menjadi saingan terbesarku saat bersaing menjual kerupuk dijalanan, aku sangat membencinya dulu karena dia anak gadis yang cantik dan manis membuat semua orang orang memuji dan membeli kerupuknya, berbeda denganku. Anak hitam, kumu dan dekil, membuat semua orang kurang berminat membeli milikku. Saat aku pulang aku harus dipukul orang tuaku saat uangku kurang.”Ceritanya.
Letta diam menatap Cakra yang bercerita. Cakra melirik Letta sejenak.”tapi suatu hari aku melihat gadis kecil itu sedang mencari makanan ditong sampah, memungut makanan yang dibuang oleh salah satu restoran. Aku sedikit heran mengapa dia masih makan makanan sampah padahal dia memiliki pendapatan yang menurutku cukup untuk dirinya beli makanan, sebab setahuku dia juga kerja menyemir sepatu dan lain lain. Aku pun mendekat dan menepuk pundak gadis itu. tapi gadis itu terlihat kaget memeluk makanan yang ia dapatkan. Saat aku hendak bertanya gadis itu memberikan aku satu kantong pelastik yang berisi makanan yang ia dapatkan. Dan ia berkata. ‘ Kamu mau juga, belum makan? Ini.” Ckara terkekeh saat mengatakan hal itu
“Detik itu aku terkejut,. Apalagi melihat tatapan tulus dan juga senyum manis miliknya, aku terdiam menggeleng pelan. tapi gadis itu malah berkata.'ini bagus kok. Paling bagus dari yang lain. Makanlah aku sudah kenyang.’ Dia menepuk perutnya dengan ceriah seakan perutnya gendut padahal dia sangat kurus.” Cakra terlihat berkaca kaca mengatakan hal itu.
“Tapi dengan tega dulu aku menghempaskan makanan diberi gadis itu dan berkata. ‘Kau ini bukannya punya uang? Mengapa makan makanan bekas?” tapi gadis itu mengangkat bahu acuh berkata. ‘selagi bisa dimakan tidak apa.’ Ia pergi dan aku ikuti. Saat aku ikuti aku melihat ia memasuki rumah makan, membeli dua bungkus makanan baru. Dia terlihat senang dan pulang. Saat itu aku sangat penasaran mengapa dia membeli makanan baru jika ia makan makanan bekas?. Aku ikuti dia Saat sampai dirumahnya, aku melihat ia di sambut dengan bentakan kakaknya marah karena dia pulang larut. Ia malah terdiam dan memberikan makanan itu pada sang kakak, berkata jika ia makan duluan dan membiarkan sang kakak makan dengan kesatu kakak perempuan lain.” Cakra mengeratkan pegangan tanganya dis endok menatap letta yang menatap cakra datar.
Cakra menatap Letta sendu. “Saat itu aku baru tau jika ia berjualan untuk memenuhi kebutuhan kakak kakaknya, ia membiayai pengobatan kakaknya, setiap malam ia mencari makanan bekas untuk dia makan tapi memberi makanan baru untuk kakak kakaknya. Aku ingin mendekat dan berteman, tapi aku terlanjur malu. Sebab dulu aku pernah jahat padanya. Aku pernah menghasut anak anak agar tidak bermain padanya sampai dia tidak punya teman, aku juga pernah melemparkannya dengan bola... “ Cakra tidak sadar sudah mengeluarkan air matanya.
Letta menatap Cakra yang menangis dingin. Baron pun ikut menangis mendengar kisah dar Cakra. Cakra menarik ingusnya na mengambil tisu diatas meja. Melirik Letta dengan sedih.”Tapi dia menghilang seusai satu tahun aku melihatnya, dia terlihat tampa jejak, tapi kakak kakaknya masih ada disana sebulan, setelahnya kakak kakaknya juga ikut pindah dan aku tidak pernah lagi menemuinya dan minta maaf. Aku tidak tau dia dimana lagi.” Cakra menangis dalam diam.
Letta mengangguk paham. Cakra menatap Letta terkekeh.”Aku pikir kamu adalah dia sebelumnya, tapi melihat kamu yang menggunakan barang branded, sikapmu yang terlihat dingin dan datar., berbeda dengan gadis itu yang ceriah, periang dan ramah aku jadi semakin yakin kalian orang yang berbeda, apalagi dulu dia anak yang putih dan juga terlihat seperti bulek, tetapi kamu kulit sedikit gelap.” Ujarnya terkekeh lagi mengingat ucappannya yang kasar.
Letta berdehem, memalingkan wajahnya. Letta tau, yang dibicarakan oleh Cakra adalah dirinya saat kecil. Ia tau jika cakra adalah salah satu pesaing saat mencari uang dulu.
Wajar saja saat dimana orang mencari uang memiliki pesaing. Mereka sama sama menjual kerupuk tapi yang namanya rezeki siapa yang bisa mengatur, dan letta ingat bagaimana dulu Cakra jahat. Yah cakra jauh lebih jahat dari yang ia katakan. Cakra pernah mendorong Letta dalam kolam penuh lumpur. Cakra juga pernah memfitnanya sampai tidak ada yang membelikan kerupuknya.
__ADS_1
Cakra pernah menabraknya dengan sepeda berakhir ia tak bisa jualan, dan kerupuk nya hancur....
Ternyata mereka.kembali bertemu dengan keadaan yang berbeda...