
Dinding itu sudah menipis akibat erosi yang kau buat, diterjang dan dicabik-cabik oleh ombak bagaikan serigala yang menjijikan. Dibakar dan disiksa habis oleh matahari.
Kepercayaan itu kian mengadu pada alam, sedangkan Tuhan sudah mendengar jeritan pengaduan dan hanya menunggu waktu pengutusan pembalasan.
Ingatkan aku jika batu mampu melebur dan hancur... Dan aku ingatkan kau jika aku bukan batu tapi air, dan kembali ingatkan untuk tak melupakan jika 'Jatuhnya air mataku kali ini adalah yang pertama dan terakhir... Dan kenal aku yang berbeda,'
akh ralat... Bukan aku tapi Saya'... __ Alleta__
.
.
.
Sosok mungil itu baru pulang. Sudah jam 9 malam ia pulang diumur yang memasuki usia 8 tahun itu. Dengan perut lapar ia pulang dengan keadaan yang memprihatinkan. Tubuhnya yang dulunya putih sekarang hitam karena terbakar matahari. Bayangkan saja bagaimana bisa anak kecil hidupnya begitu sulit?
“Baru pulang?”Tanya Zaxi membuat sosok mungil itu diam..
Zaxi menatapnya tajam.”Mangkanya uangnya jangan dihabisin.. Awas aja yah kalo perhiasan mama sama papa enggak balik besok. Kamu bakal kakak buang..!!” Ujar Zaxi menatap Letta ingin ingin memasuki rumah..
Tangan Letta gemetar disana, gemetar karena lapar dan gemetar karena ucapan kakaknya. Air matanya mau jatuh namun ia berusaha untuk menahannya. Dengan cepat ia memakai sendalnya lagi untuk pergi dari rumah.
”Mau kemana lagi ha? Hari sudah malam, mau jual diri ha?!!!” Teriak Zaxi dibelakangnya.
Letta disana pun terdiam dengan nanarnya."Cari uang buat balikin perhiasannya. Soalnya uangnya belum cukup.”Ujar Letta disana gugup dan juga gemetar. Ia tak makan hari ini, ia hanya makan nasi tadi pagi siang, sore, malamnya tidak, sebab ia harus hemat.. Pegadaian itu harus dibayar besok jika tidak perhiasan yang ia gadaikan akan dijual. Letta takut.
“Letta kalo kamu pergi nanti kakak pukul. Hari sudah malem..!!” Teriak Zaxi disana namun Letta tetap pergi karena tak mau diusir. Ia sayang kakak-kakaknya. Jika ia diusir atau ia jauh dari para kakaknya nanti siapa yang cari uang dan memberi mereka makanan? Membayar rumah? Sebab rumah ini ia yang bayar biasanya. Siapa yang biayakan uang pengobatan Are?
" Are....!!!!" Teriakan Zaxi yang marah tak didengar oleh Alleta karena kepentingan lain yang harus ia dahulukan.
Dijalanan ia mengusap keringatnya dan kembali menatap ke lain arah. Ia tak tahu harus kerja apa dihari yang menggelap ini, namun satu hal yang ia bisa yaitu ngamen. Ia bisa ngamen membuat ia cepat-cepat mendekati para pejalan yang ada dijalanan namun hari tak begitu baik. Tak sampai 5menit petir menyambar namun ia tak juga berhenti. Ia harus kuat untuk perhiasan peninggalan ibu dan ayahnya.
“Aree..!!!” Teriakan itu membuat Letta disana diam mendengarnya.”kamu kenapa disini?”Tanyanya disana menarik tangan sosok tersebut untuk berteduh.
Letta disana malah tersenyum dan menjawab.”Cari uang. Letta belom makan.”Jujurnya disana.
__ADS_1
Sosok itu pun menatap Letta dengan nanarnya.” Letta mau makan? Sini kakek beri mau?”Tanyanya disana namun Letta menolak.
”Tidak, Letta harus kerja keras biar kuat.. “Ujar Letta menolak memilih untuk pergi.
“Letta cari uang buat balikin perhiasan ayah sama ibunya kan?”Letta diam menatap kakek itu. Ragiel. Ragiel menatap Letta nanar. Ia menunjukan perhiasan disakunya tu kepada Letta membuat Letta terdiam.”Tadi sudah dilelang dan sudah kakek beli.”Ujarnya disana membuat Letta menatapnya nanar dan terlemas.
"Ale beli boleh? Ale punya uang kok. Ale punyanya Tolong... " sukar Letta nanar Disana kepada sang kakek.
"Tapi kakek tidak niat menjualnya... " Ujar kakek Ragiel membuat Letta Disana menatapnya memohon.
Air mata Letta mau jatuh dikalah itu, namun ditahan oleh Ragiel.”Etsss Letta kan kuat tidak boleh menangis. Jika menangis kakek tidak akan memberikan Letta ini..” Ujarnya disana membuat Letta tak lagi menangis dan menatapnya nanar.”Letta mau ini kan?”Tanyanya Ragiel membuat Letta mengangguk cepat.
Ragiel disana tersenyum manis.”Bagus.. “Ujarnya menepuk kepala Letta.”Tapi dengan syarat Letta harus jadi cucu kakek dan akan nurut sama kakek..”Ujarnya disana.
Letta disana menatap Raiel dengan tatapan dalam.”Tapi nanti kak Zaxi dan kak Are gimana? Mereka nanti tidur dimana sama makan apa? Kak Zaxi sibuk ngurusin kak Are yang gila, jadi enggak bisa kerja.”Ujarnya jujur.
Sosok Ragiel disana pun tersenyum.”Nanti mereka kakek juga yang urus. Tapi kamu maukan jadi cucu kakek dan kakek bakal bantu supaya kakak kembaran kamu sehat dan kak Zaxi kamu bisa kembali sehat. Kalian bakal kakek sekolahkan juga..”Ujarnya disana berjanji,
Letta disana mengangguk semangat mendengar jika hidup saudara-saudara nya terjamin, disekolah dan di beri pengobatan.”:Janji yah. Ale sayang sama kak Zaxi dan kak Aree.”ujarnya disana. Namun kakek itupun hanya tersenyum dan mengangguk.. Letta disana tersenyum diberi perhiasan yang ia gadaikan ditangan kanannya.. ia memeluknya dan juga tersenyum.
Letta tak pernah diajarkan mengenakan rok, bicara lembut, tersenyum lebar dan juga mengenakan pakaian seksi. Letta selalu disuruh belajar-belajar dan selalu belajar dengan keras dan ketat. dipukul dan disiksa ketika melakukan kesalahan.. Ragiel menjadikan dirinya boneka dan dipisahkan oleh para kakaknya. Para kakaknya hidup bahagia dengan semua fasilitas diberi kakek Ragiel, diobati, disekolah, diberikan rumah, uang serta kebebasan. sedangkan dia? Dia malah dikucilkan dan dijauhkan, hidup terkekang di sangkar emas. dipaksa hidup kehendak manusia biadab.
Ingatan Letta kembali dikala umurnya memasuki umur 15tahun ia pulang kerumah kakak kakaknya, namun ketika ia pulang ia diabaikan oleh kakaknya Zaxi dan Are are sudah normal dan sekolah disekolah umum. Disana Letta merasa sesak dimana Zaxi yang memberi makanan untuk Are sedangkan kepadanya dingin.
“ Alle mau makan apa?”Tanya Are kepada Letta yang diam saja.
Letta disana pun menjawab.” Apa aja.”Ujarnya dengan seindahnya saja..
Brak.... meja itu dipukul keras oleh Zaxi.” Jangan kasih dia makanan. Biarkan dia ambil sendri.. Dia hanya orang asing yang memilih hidup dengan orang lain Aree...!!” Teriaknya.,
Letta disana menatap kakaknya diam, benar ia tinggal dengan orang asing untuk kebaikan keluarga nya. Lantas salah dia dimana? Ia juga tak mau sebenarnya tapi mau bagaimana lagi? dia kan disana karena untuk para kakak-kakaknya. Ia mau Are sehat. Zaxi juga sehat dan hidup layak membuat ia menatap mereka nanar.
“Enak disana?”Tanya Zaxi sinis.”Enak yah, kan dirawat, apa-apa dikasih, apa apa diberi sampek lupa kesini lagi haha.. bagus yah.. pergi saja kamu dari sini. Saya muak liat kamu.. kamu bukan lagi adik saya.”Ujarnya disana lagi dengan dalam.
Nyut.. Jantung Letta terasa ditancap belati disana. Air mata yang dulunya kering ternyata masih ada membuat ia bangkit dan pergi..
__ADS_1
“Alle jangan dengerin kata abang. Abang sayang Ale kok, dia suka cariin Ale sama nangisin Ale ditengah malem..!”Adu Are kembarannya Letta nanar dan menahannya.
Letta disana merasa dadanya mendadak penuh. Ia tau kakaknya sayang dengannya kan? Ia pun disana mengangguk.
“Jangan mengada-ngada Are. Kakak Cuma sayang kamu bukan dia. Dia bukan Alle kita lagi. dia hanya Letta. Kakak membenci dia dan hanya menyayangi Ale..”Ujarnya Zaxi disana menatap Letta tajam.
Letta disanapun tetap diam.”Kenapa diam? Hahaha tidak bisa menjawab kan?”Tanya Zaxi.”semakin lama kamu semakin tak bicara yah kepada kami. Apa suara kamu harus kami bayar supaya keluar?”Tanya Zaxi disana. Are menatap Letta sendu disana. Ia tau Letta bersedih.
Letta disana mengambil jaketnya dan berkata.” Jaga kesehatan yah. “Ujarnya dan pergi. Zaxii disana menatapnya nanar.. Ia membenci Letta yang pergi, ia membenci hidupnya dan juga semuanya, ia mau Letta yang dulu bukan yang sekarang. Ia kehilangan adik yang ia cintai. Ia benci itu.
Alasan kenapa diwaktu kecil ia suka marah Letta juga karena ia tak suka Letta pulang malam. Letta bahkan selalu pulang dijam 2 malam, perempuan mana pulang jam segitu?
Paling cepat pulang jam 11 Letta. Ia tak mau adiknya sakit.. dan ia juga tak mampu berbuat apapun karena dirinya yang juga sakit.. sedangkan didewasa Letta memilih tinggal dengan Ragiel membuat mereka jarang ketemu.
Hal itu juga membuat Zaxi menambah kebencian, suka memukul dan merasa Letta selalu salah, padahal ia hanya mau Letta itu bicara padanya, bicara meski hanya sedikit.
‘kak sakit’ atau ‘kak Mohon tolong lepas’ atauu apapun itu. Ia merindukan suara Letta. Ia sangat Rindu. Namun sayangnya Letta sudah berubah. Suara tak lagi terdengar, bahkan apapun itu caranya.
Zaxi ingin adiknya kembali, menangis karena lelah, bercerita jika terluka atau setidaknya mengatakan apa yang ia rasa.
Zaxi khawatir, Zaxi ingin adiknya kembali menjadi anak manis duduk di samping nya, menerima apa yang diberi tahu olehnya. Menerima nasihatnya.
Kadang yang menyakitkan hanya bisa menuntut tanpa sadar jika yang dituntut berubah karena dirinya.
Sedangkan Letta melangkah menjauhi rumah yang asing, sejenak menatap kebelakang dan menggigit bibir bawahnya. Mengerjab mengusir air mata yang hendak keluar. " Apa ini harga pantas yang di dapatkan olehnya,?"
Letta mengusap matanya yang sudah tak kuat menahan air mata. Hidup menjadi dirinya tak enak. Perjuangan nya tak dihargai, muak rasanya
Tapi ini pilihannya. Rasa sayang miliknya terhadap Areta dan Zaxi lebih besar dari harapan untuk bahagia. Letta memegang dadanya. " Tidak apa-apa, yang penting kak Zaxi dan kak Are bisa hidup enak, tidak kedinginan, dan bahagia." Letta tersenyum mengusap kedua air matanya melangkah menjauh.
Yah ini pilihan yang dipilih. Selagi Zaxi dan Are bahagia ia akan tetap melangkah dimana menurut nya langkah paling benar.....Meskipun dirinya yang harus di korbankan...
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like komentar and Vote yah