
Letta diam sampai ke kamar miliknya. Diipta membantu letta masuk seusai memasukan sidik jari, membantu letta duduk di sofa dan membantu letta melepaskan sandal. Letta hendak menolak dan menghindar tapi pergerakan Dipta sangat cepat Letta hanya mengerjabkan mata saja melihatnya tertegun.
“dimana dapur milikmu?”Tanya Dipta pada letta. Letta melirik arah dapur dan Dipta paham. Dipta segra kea rah dapur meningalkan letta mengangkat bahu acuh.
Letta mengeluarkan hp dari kantung celana miliknya, menguap dan menatap pesan pesan yang sudah lama tak masuk, terutama banyak pesan dari zaxi yang menanyakan dirinya dimana sekarang sebab diinya kerumah sakit tapi letta tak ada,, lalu ada paman Milo dan Nio. Letta menghela nafas.
Terakhir nomor Bara yang memberinya pesan. " Mama apa kabar? Mama sehatkan? Bara disini baik baik sama bersama Uncle Diki dan kakek nenek, orang tua Uncle Diki. Mereka sangat baik kepada Bara dan menganggap Bara cucu mereka karena uncle Diki belum menikah hehe. Moms jangan khawatir, jangan lupa makan teratur dan sehat terus yah Mons. Bara sayang moms."
" Moms jangan lupa makan..."
" Moms baik baik aja kan? kenapa pesan Bara tidak dibalas atau di baca??"
" Moms jangan lupa pakai jaket. Sekarang musim hujan dan jangan lupa siapkan payung setiap mau pergi."
Aletta tersenyum tipis melihat pesan pesan dari bara tersebut.
^^^" Syukurlah. Jika begitu kamu harus jadi anak yang baik dan penurut. Hidup bahagia di sana yah. Jangan terlalu keras belajar, sesekali bermainlah kepada teman teman agar kamu tidak kesepian. Perbanyak teman dan hidup bahagia selalu oke." ^^^
seusai Letta mengirim balasan kepada Bara ia mendongak merasa ada seseorang yang mendatanginya. Ternyata Dipta
Melirik Dipta yang sampai dengan air sebaskom kecil, kain lap yang ditaruh dibawah, letta diam menatap Dipta yang mengelap kaki bagian bengkak dengan air hangat., sangat telaten sampai Letta tak bisa merasakan sakit atau bahkan terganggu. Sangat nyaman.” Ini sangat membantu cepat pemulihan dan lagi darah yang mungkin membeku saat kamu berjalan tadi. “ ujar Dipta bercerita.
Letta diam merasa hangat dikakinya, ingat pada kakaknya yang bahkan tak pernah memperlalukan dirinya begini membuat Letta tersenyum sendu. Begini rasanya diperhatikan dan dimanja? Ketta menjadi suka sekaligus tak nyaman.
Dipta menyelesaikan acara mengelap kaki Letta. Menatap Letta.”mana obat salepnya?”tanyanya. Letta melirik tas yang ia pikul tadi., segera ia ambil mengelap kering kaki Letta baru menaruh salep. Letta diam merasa kakinya dingin. Sangat nyaman,. Letta sampai tak bergerak membiarkan apa yang Dipta lakukan.
__ADS_1
Dipta menepuk tangan pelan menatap letta “ sudah..” Ujarnya. Letta diam menatap kakinya yang sudah dirawta, sangat perih di hati miliknya.” Lain kali jangan terlalu dekat. Aku tidak suka.” tegas Letta dingin tak menatap Dipta yang menatap penuh binar pada Letta.
Tatapan penuh binar dari Dipta meredup menjadi tatapan tak senang,” Harusnya bilang makasih jika sudah dibantu bukan malah bicara seperti itu. “tegas dipta memilih duduk di jadapan letta di bagian sofa single disana.
Letta melirik Dipta menggeleng.”aku tidak meminta bantuan, dan jangan terlalu dekat. Aku tidak suka.” tegas Letta. Dipta menatap Letta seolah olah letta adalah manusia paling aneh di dunia.”letta bilang makasih tidak akan merugikan kamu, dan lai kenapa harus menjauh? Kenapa tidak kita berteman saja?”Tanyanya tegas pada Letta.
Letta tersneyum miring.”aku tidak butuh teman atau bahkan kamu. Jadi lebih baik kamu pergi dan ingat kita hanya partner, aku membantu kamu dan kamu melakukan tugas kamu. “ suara Letta sangat dingin dan tak berperasaan. Bak silet tak aksat mata.
Sampai Dipta merasakan hatinya terohok ucapan letta. Dipta melakukan semua kebaian tapi Letta bahkan tak mengucapkan terimakasih. Bukankah itu sangat keterlaluan? Ia menggeleng menatap Letta tegas.” Jika aku mau kita berteman bagaimana? “gue bilang jangan deket gue dan anggap gue teman., gue nggak butuh loe ataupun orang lain. “tegas Letta sangat dingin menatap lain arah.
" Fine. Gue juga nggak mau temenan sama loe. Manusia sok kuat, sok paling iya. Sok semua. Loe manusia sampah yang pernah gue temuin, dibantuin malah nggak sadar diri. Cuih.” Dipta kepancing emosi, ia bahkan meluda di sisi lain dan melangkah keluar meninggalkan Letta.
Letta memejamkan mata. Mengepalkan tangan, saat suara pintu tertutup keras baru letta menghela nafas, menatap kakinya yang sudah di obati, ruangan apartemen kembali sepi, sunyi, taka da lagi suara Bara. Rasanya letta menjadi sangat hampa. Ia terkekeh menatap lain arah. Semua yang ia lakukan demi menyelamatkan orang lain. Cukup.. cukup satu nyawa manusia baik hilang. Jangan lagi.
Tingtong... Letta tak bergeming di sofa mendengar bel kediamannya berbunyi. Letta tetap diam memilih menatap kearah jendela. Melangkah kearah menjeda dan membukanya, memberikan pemandangan luar biasa indah dipemukiman padat warga. Disini ia bisa melihat jalanan lalulintas yang macet, gedung gedung. Semua terlihat indah.
Di depan kediaman letta sosok Zaxi mengusap wajahnya kasar, sudah berkali kali dirinya memencet bel tapi kediaman ini tak juga di buka buka. Tadi zaxi sudah kerumah sakit tapi ternyata Letta sudah pulang. Zaxi cukup kaget tadinya, karena Letta baru sehari di rumah sakit dan ia sudah pulang? Zaxi memutuskan ke apartemen milik letta, tapi sedari tadi tidak di buka, itu artinya kamar letta tidak ada orangnya.
“dimana dia.”Gumam Zaxi. Zaxi hampir frustasi memikiurkan Letta. Telepon letta sama sekali tidak aktif, apa ia pergi kemansion utama keluarga Samuel menanyakan kabar Letta. Tapi apa kata mereka kelak jika ia kesana? Rasa marah dan rasa bersalah bercampur baur didalam batin Zaxi. Kemarin dirinya meninggalkannya Letta sendirian di rumah sakit, sedangkan ia tau jika Letta membutuhkan dirinya.
Zaxi memutuskan pergi saja dari sana, menghela nafas merasa sedih. Gagal, lagi lagi ia gagal menjadi kakak yang baik untuk Letta Zaxi merasa sesak dan kalut. Melirik lagi pintu tapi tetap belum dibuka. Ia menghela nafas bergegas pergi dari sana. Mungkin letta kerumah Ragiel atau Samuel,
Di sisi lain, letta yang tidak lagi mendengar suara ketukan pintu memejamkan mata, menyenderkan pungung nyaman. Letta sama sekali tak sadar tubuhnya melemas dan tertidur. Letta tertidur sampai malam pukul 7, baru dirinya bangun merasakan lehernya sakit,. Sebab posisi tidur yang kurang baik.
Letta meregangkan leher dan tangannya.
__ADS_1
Menatap jam yang menunjukan pukul 7 malam, dirinya belum makan sedangkan patri rumah sudah kosong. Ia harus pergi ke tempat belanjaan. Letta menghela nafas berdiri, menatap kakinya, sudha tak terlalu sakit. Ia bergegas memilih mengambil salah satu kunci mobil miliknya yang tertib nggak disini. Mengambil dompet dan pergi dari kamar.
Saat Letta keluar, bertepatan dengan Dipta yang juga keluar dari kamarnya. Tatapan keduanya saling bertemu tapi Letta memalingkan wajah dan Dipta yang mendenggus. Letta melangkah dengan pincang menuju lift apartemen, berbarengan dengan Dipta yang juga turun. Letta diam berdiri dibelakang karena berasandar dan di sampingnya ada Dipta. Keduanya sama sama diam bak orang yang saling tak mengenal.
Sampai pintu terbuka barulah Letta keluar, di susul oleh Dipta. Sesekali Dipta melirik letta yang berjalan pelan. tangan Dipta sangat gatal ingin membantu Letta, tapi dirinya terlalu takut dan masih marah kepada letta.
Jadilah ia hanya mengepalkan tangan menatap letta yang masih dengan egonya. Wajah Letta tetap datar Meskipun terlihat berjalan tak nyaman. Manusia normal juga tau jika itu pasti sangat sakit. Ditambah tangannya yang retak memang tak terlihat karena pakai baju, tapi bagian pergelangan tangan Letta juga bengkak di tutup kain kasa. Dipyta hanya diam saja menatap diam Letta yang pergi.
Langkah kaki Letta terhenti. Dipta gelagapan menatap lain arah.”aku tidak mengikutimu yah. aku Cuma mau keluarin dan kebetulan kita satu jalan. jadi jangan GR..!” tegas Dipta melihat Letta yang berdiri didepannya gelagapan. Seperti pencuri yang tertangap basah.
Beda dengan letta yang jongkok dan mengambil kunci motot yang jatuh. Lalu melangkah lagi meninggalkan Dipta yang melotot menatap letta yang tak menjawab. Tadi itu letta bukan menangkap basah dirinya tapi dia berhenti karena kunci mobilnya terjatuh, sialll. Mau ditaro dimana wajah Dipta? Jika begini Dipta ingin mencari luvang untuk bersembunyi saja. Malu.
Sedangkan letta tetap diam memasuki parkiran, mengabaikan Dipta yang bahkan sampai sekatang ada dibelakangnya. Letta diam menatap kakinya, sepertinya kali ini ia tak bisa mengendarai mobil, ia memilih pergi menuju satpam dan meminta ia untuk menghantarkan dirinya. Tak lupa membayar. Satpanpun mengangguk mengendarai mobil letta.
Dipta melihat letta yang memasuki mobil dengan satpam yang mengemudi karena letta bayar mendenggus malas dan juga sinis.” Masih nggak butuh bantuan? Loe bahkan masih minta bantuan sama orange sing. Apa susahnya si menurunkan sedikit rasa gengsi? Letta sangat merepotkan diri sendiri, terlalu sombong dan angkuh. Dipta benci hal itu. dipta akui jika letta memang wanita hebat dna kuat, cerdas dan licik. Tapi bukan berarti dirinya bisa merendahkan dan tak tau berterimakasih pada manusia,. Manusia itu kodratnya memang harus bersosialisasi bukan individu.
Tatapan letta tertuju diluar jendela, menatap kerlab kerlib jalanan, sampai di satu swalayan dirinya keluart mobil., supir hendak keluar membantu letta tapi Letta menggeleng.,”saya bisa sendiri.” Supir dadakannya pun tak berani membantu memilih mundur,
" Tapi nona. tangan nona..." Letta batu sadar. Letta menghembus napas kasar dan membiarkan supir ikut juga untuk membawa barangnya kelak .
“kamui tetap dibelakang saya. Bawa barang saya.” Ujar letta. Supir dadakannya mengangguk mengikuti Letta. Letta diam memilih barang barang yang ia butuhkan, pembalut, mie, camilan pedas, dirinya juga membeli soda, dan beberapa lain. Saat di salah stau rak roti yang paling dirinya suka, roti tawar, roti yang ia makan sedikit-sedikit meksi tak ada rasanya bagi Letta itu roti sangat enak,. Letta sedikit aneh tapi memang begitu.
Saat tangannya mengambil roti tangannya didahului seseorang. Letta menatap ke samping ternyata Diki yang menatap sinis Letta. “Gue duluan.” Ia tersenyum sinis menyenggol bahu letta. Letta meringis merasa bahunya yang sakit disenggol Diki. Diki mendengar Letta meringis menoleh menatap Letta sedikit kaget. Letta tidak pernah meringis kesakitan selama ini.
Diki menherjab menatap letta memejamkan mata meremas tanganya sendiri, melirik Diki yang masih mematung. Di belakang Letta supoir dadakannya mendekat dan menatap letta khawatir.”Nona tidak apa apa?”tanyanya. Letta diam menatap roti yang ia ingin tadi. Meletakkan roti tersebut di rak yang di bawa supirnya dan memilih pergi
__ADS_1
Diki diam menatap letta menjauh, apa dirinya slaah? Tatapannya tertuju pada kaki letta yang bahkan satunya tidak menggunakan sandal, berjalan pincang. Ia tertegun menatap kain kasar disana. ada apa dengan Letta?? Diki mengerjab khawatir.
Sial. Dalam saat benci begini saja dirinya khawatir akan keadaan letta. Ada rasa sesak dna tak enak melihat keadaan letta jauh dari kata baik. Tapi ngomong ngomong Diki tadi baru sadar jika tadi wajah letta banyak luka dan pucat. Ada apa, mengapa. Diki sangat cemas. Diki menggeleng mengenyahkan pikirannya.