
Ughhhh... suara menjijikan itu memekakkan telinga, menandakan mereka sudah berada dipuncaknya, sosok gadis akhh ralat. Wanita yang ditindi oleh seorang lelaki itu Nampak kenikmatan, kepalanya diusap oleh seseorang pria diatasnya lembut menambah kenyamanan yang diterima.
“tidur yah..”Gumamnya dan mencium kepalanya sayang.
“Terimakasih kakak.”Gumam sang wanita tersenyum dan memeluk sang kakak. sang kakak terlihat menghela nafas dan menggeleng mengusap kepala sang adik supaya adiknya tertidur. Zaxi diam menatap wajah pucat penuh keringat tanpa busana sang adik di sampingnya. Baru saja mereka melakukan hal yang sudah biasa mereka lakukan, Hal yang menjijikan jika diceritakan, kenyataan yang menjijikan tetapi harus dijalan kan.
Zaxi bangkit penbuh kehati-hatian, takut Areta bangun, memungut baju dan celana pendek yang berserakan dilantai. Zaxi memilih bersandar di sandaran katil yuang mereka tiduri, mengambil rokok diatas meja di samping kasur, menghisap pelan menatap poto besar di dinding.
Ini kamar adiknya Letta, mata Zaxi berkabut pelan menatap foto bertoga bersama Areta disebela kanan duduk di pangkuannya tersenyum cerah memeluk lehernya, dibelakang mereka ada Letta yang berdiri dengan jarak, wajah nya ada senyum culas yang terlihat, itu foto terakhir diambil saat usia 17tahun.
Ingatan kembali pada dimana ia san kedua adiknya mengambil foto tersebut, Letta enggan tetapi dipaksa datang, Dan mereka lupa memberitahu Letta jika tema foto adalah baju putih dan celana putih.
Letta datang dengan baju dan warna kebanggaannya saat itu dengan wajah sendu menatap Zaxi dan Areta menggunakan baju sama. Letta selalu memberi jarak saat pengambilan foto. Bahkan hanya foto ini satu-satunya yang ada Letta yang tersenyum meski hanya senyum culas .. Selebihnya wajah Letta terlihat datar dan dingin.
Berkali-kali juga mereka bertengkar saat itu hingga Letta memilih pergi dari sana. Tetapi Areta tetap menahan Letta hingga sesi foto selesai. Ahhh sudah lama yah konflik hidup mereka dimulai
Zaxi mengisap rokok dalam, dan menghembuskan lagi asapnya.
Mengingat kejadian kemarin ribut dengan Letta. Hiks hiks. Air mata Nya jatuh dengan pelan., tak kuat karena kerinduan kepada adiknya.. Letta adalah adik yang paling disayang Zaxi. Meningkat mimpinya saat dimana Letta mengecup pipinya lembut terasa masih hangat sampai detik ini
Mata Zaxi melirik Areta. Marah pada diri sendiri menjadi b4jingan kepada Areta, melakukan hal terlarang berkali-kali. Zaxi sendiri merasakan mental hancur dan terguncang, tau kesalahan ini sangat besar tapi tak bisa pergi, terikat dalam ikatan berduri. Pergi salah tapi tak pergi juga salah. Sebagai kakak apakah benar jika ia merelakan Areta menuntaskan sakit seksualnya pada lelaki bajingan diluar sana? Dan memandang adiknya dipandang rendah oleh orang-orang itu? Zaxi menangis pelan mengusap pipinya.
__ADS_1
Jika ada penghargaan lelaki terbrengs3k maka tak segan segan Zaxi mengangkat tangannya, sungguh Zaxi yakin jika ia akan mendapatkan juara satu saat itu.
..............
Berbeda dengan Letta yang baru pulang dalam keadaan penuh darah dibagian pipinya, memasuki rumah di sambut oleh Bara. Bara terlihat memeluk boneka beruang yang diberi oleh Letta. Letta cukup tercenung melihat Bara yang duduk di sana menonton televisi itu sekarang sudah menatapnya. Bara diam melirik keadaan Letta yang jauh dari baik-baik saja dalam raut wajah takut.
Letta mengusap leher yang memiliki percikan darah mendekati Bara yang tetap diam di posisinya. Letta mengusap kepala Bara pelan setelah mengusap tangannya pada bagian baju agar tak kotor.
”Kenapa belum tidur?” Jam sudah menunjukan pukul 12 malam, sebagai anak-anak Bara seharusnya sudah tidur jam segini, anak-anak tidak baik tidur terlalu larut.
Bara mengulurkan tangan mengusap pipi Letta.. Letta diam menatap tangan mungil nan lembut itu mengusap pipinya sedikit gemetar dan sangat dingin saat Letta hendak menolak Bara sudah duluan memeluknya.
"Little Boy. Moms sedang bauk dan kotor, jadi lepas..!” Tubuhnya berbau amis darah bercampur keringat. Letta sadar itu, jadi ia ingin melepaskan pelukan Bara. Tapi Bara terlihat memeluknya erat, sangat erat. Leta bisa saja melepaskan pelukan itu, tapi dirinya leih takut jika Bara akan mual memeluk tubuhnya yang jauh dari kata baik-baik saja.
Letta diam mendengar Bara. Tak membalas karena tak tau harus apa, bingung menanggapi Bara yang akan tau apa yang ia rasakan. Apakah tragedi dimana Diki memarahi dan memakinya siang tadi membuat Bara menunggunya hingga larut begini?
Bara takut jika keadaan nya jauh dari kata baik-baik saja? Relung hati Letta menghangat rasanya saat mengetahui hal itu, merasa ada sedikit sensasi menyenangkan dalam hatinya. Sudah lama rasanya tidak merasakan rasa ini, bahkan Letta lupa kapan terakhir kalinya.
”Moms,, balas..!” Rengek Bara pelan,
Letta perlahan memeluk Bara,, Bara disana mengangkat kepala menatap wajah Letta.”Moms kemana? kenapa sangat lama pulang? Bara takut moms kenapa-napa." Lirih Bara mengusap pipi Letta pelan.
__ADS_1
Letta tertegun,hati miliknya menghangat akan penuturan paling tulus dari Bara, memejamkan mata merasakkan hangat saat tangan mungil itu mengusap pipi miliknya. Bara menangis lo
irih.”Bara takut moms kenapa-naopa, jika Moms kenapa-napa Bara sama siapa? Bara tidak mau sndirian di dunia ini. bara tidak mau lagi moms. Bara Cuma punya moms, “ Lirihnya pelan menatap Letta dalam, bahu Bara bergetar karena tangisan yang menyesakkan dada kecil miliknya,
Letta membuka mata menatap Bara yang menangis dihadapannya. Ketta mengusap pipi merah yang lembut itu pelan dan lembut. Tapi tangannya ditahan oleh Bara. Bara menatap tangan Letta pelan dan tertegun. tangan Letta jauh dari seharusnya.
Bukankah seharusnya tangan wanita itu lembut?
Letta tersenyum.”Tangan moms kasar yah hehe. Maaf melukai pipi kamu.” Ujar Lrtta getir. Tangan ini dulu saat usia 8tahun sangat sulit harus memikul beban., menggenggam pasir yang panas untuk membuat dirinya kebal, memukul pasir yang sedang dimasak agar pukulannya keras, belajar bela diri yang keras. Akh sebelum itupun ia harus menjual Koran, sol sepatu, dan banyak lainnya.
Jadi mana mungkin tangannya menjadi halus sehalus bulu domba, lembut selembut porselen,indah dan lentik seperti wanita lain. Tangan Letta itu banyak kapalan, kasar dan tak enak disentuh. Letta juga gak pernah berfikir untuk membuat tangannya lembut.
Karena apa? karena seberapa keras ia melembutkan tangan miliknya, itu tak akan berhasil selagi ia masih memegang pistol dan juga latihan berat. semua sia-sia.
Bara menggeleng mengusap pipi nya lagi dengan tangan Letta.” Ini tangan paling lembut yang Bara rasakkan, mungkin permukaan tangan Moms kasar tetapi di sini Bara bisa merasakan kehangatan yang luar biasa. Dan Bara slelau suka dielus oleh Moms sampai kecanduan. Jadi elus Bara terus yah Moms.” Ujar Bara lirih menatap sendu Letta. Bara tidak tau apa yang dilewatkan oleh ibu angkatnya, sampai tangan nya bisa sekasar ini. Di kedepan hati Bara berjanji akan mencuci piringnya sendiri agar Letta tak mencuci piringnya
Bukankah salah satu alasan membuat tangan kasar adalah mencuci piring?
Letta terkekeh mengusap pipi Bara. “Bara tidak takut melihat moms begini? Bara tidak bertanya mengapa moms begini?”Tanya Letta pelan pada Bara. Setitik rasa takut dihatinya jika Bara akan takut mlihat keadaan dirinya yang jauh dari kata baik. Berlumburan darah, setelahku jadian burukk menimpa Bara, tangan yang kasar dan wajah yang datar. Letta menjadi tak senang akan fakta buruk dari dirinya.
Bara menggeleng.,”Justru Bara Bangga punya moms begini.” Bara merapikn rambut Letta ke samping. Letta tersenyum tipis menatap Bara. “ Moms itu wanita paling kuat yang Bara kenal, yang paling keren dan yang paling-paling hebat. Bahkan jika Bara sudah besar Bara ingin jadi seperti Moms. Bisa hebat, kuat dan keren.” Bara berujar polos.
__ADS_1
Letta terharu, karena baru kali ini ada yang mengatakan bangga memiliki nya setulus dan sedalam ini...