
Letta melirik kearah pintu lagi, rupanya Carmon menatap kearahnya. Letta bisa lihat seringai licik muncul di bilik bibir kanan Carmon. ,menampilkan wajah yang sangat Letta pahami, wajah yang seperti menemukan uang koin yang dicari sangat lama dan ketemu.....!
Oke lupakan uang koin, kenapa harus uang koin jika uang berwarna merah lebih menarik?? Hehe
Carmon melangkah mendekati Letta, langkah kaki diiringi Baron dibelakangnya, Letta tak bergeming melihat Carmon yang menuju kearahnya. Tak lama, Carmon sampai dihadapan Letta,. “ Wahh kita bertemu lagi disini rupanya... Bole saya duduk di sini nona?” Suara dingin Carmon memasuki telinga Letta.
Beberapa orang berbisik bertanya siapa Letta sampai Carmon anak bungsu dari Samuel, keluarga terkaya di benua asia itu kenal. Keluarga Carmon dikenal sangat terpandang, memiliki keluarga harmonis dan sangat dermawan.
Sangat memanipulatif sekali bukan? Haha iya bagaimana pula keluarga dermawan nan baik hati membunuh keluarga satu malam, dengan bengisnya memperk0sa seorang anak balita, membunuh orang-orang yang tak memiliki kesalahan.
Siall.... Aura membunuh Letta terasa meluap dan tak tertahankan. Baik kendalikan diri, ini cukup sulit untuk dikendalikan..
Letta melirik Carmon datar,” Kau tidak liat tuan jika disini kursinya jadi kau bisa duduk di lantai jika masih mau duduk di sini.” Balas Letta datar. Letta memainkan ujung kakinya menatap ke depan enggan menatap wajah Carmon yang terliuhat sangat menyebalkan. Jujur jika bersama anak-anak atau keturunan Samuel, darah Letta selalu mendidih, seakan bekerja sangat keras untuk menekan aura ingin membunuh. Yah katakana jika dendam Letta sudah sampai pada darah dan ketulang tulangnya.
" Nona...." Letta melirik panita yang datang menatapnya gugup. Letta menarik satu alis Kananya menatap gadis muda dihadapannya yang terlihat tak enak. Panita tersenyum masam dan tak enak berkata. " Maaf nona, bisakah anda pi-pindah. Kami akan menyiapkan kursi batu untuk nona duduki..." Tatapan panitia terlihat memelas seakan meminta bantuan pada Letta, bantuan kerja sama untuk meninggalkan kursi yang di duduki oleh Letta
Letta menatap datar panita itu, panitia wanita menelan Saliva kering yang mengganjal di tenggorokan, mata Letta seperti memasuki jantung dan meremukkan jantung sampai mati. Ini sungguh pilihan yang sangat sulit, satu laki-laki pemilik saham terbesar di sekolah, dan satu lagi gadis yang memiliki tatapan mematikan seakan mampu menghunus jantungnya.
" Berapa???" Suara Letta membuat panita menatap Letta gugup dan linglung.
" Maaf? Berapa apa nona,???" Tanya panitia Gugup
Letta diam sejenak. " Berapa harga kursinya? biar ku bayar." Tekan Letta, panitia Wanita membulatkan mata menatap Letta kaget." Atau sekalian kamu yang mau saya beli?" Lanjut Letta lagi.
" Nona tolong kerja samanya...!!" Tegas panitia lain tapi kali ini laki-laki kekar yang ada dibelakang panita perempuan tadi.
Letta menghela nafas menatap kedepan. " Atau sekolah ini saya beli?" Semua tercengang mendengar pertanyaan Letta yang seakan mengatakan " Ini kursiku, jadi tak akan ku beri kan,"
Baik mati bahas sekolah ini, sekolah yang terbaik di ibukota, memiliki fasilitas yang sangat baik, bahkan di klaim memiliki fasilitas terbaik di banding sekolah lain. Dan gadis sombong ini ingin membelinya?
" Nona... kami tau nona sangat kaya tapi tolong beri kami kursi untuk tuan muda, kami akan memberi kursi lain..." Panita cukup sadar diri agar tidak menyinggung gadis sombong dihadapannya, siapa yang tak tahu jika orang-orang yang menyekolahkan anaknya di sekolah ini adalah orang kaya raya. Sedangkan mereka? hanya seongok daging yang mencari uang untuk membeli makan, baik itu terlalu kasar tapi benar adanya Hey bahkan jika gadis sombong ini menjual sepatu miliknya mampu membiayai hidup mereka selama satu tahun.
Letta menatap tajam panitia yang masih merayunya. Merasa tak senang kenyamanannya di usik. Letta menatap tajam wanita itu dan berkata. " Kamu...!!!"
Para panitia bergetar mendengar peringatan Letta, memang tidak mengeluarkan suara berokta tinggi, tapi suara Letta yang menekan sangat terlihat menyeramkan.
__ADS_1
" Baik jangan bertengkar, aku bisa diduduk di sebelah nya saja. Panita ambilkan kursi baru saja..." Carmon yang dari tadi mendengar perdebatan Letta dengan para panitia menjadi tak tahan untuk tidak angkat bicara.
Letta meliriknya dan berkata. " Bagus, ajarkan manusia-manusia sampah ini agar tau mana batasannya." Ujar Letta pedas. semua panita tertegun memegang dada terasa sesak. Sampah? apa itu tidak keterlaluan?
Carmon terkekeh melirik salah satu panitia, pamitan terlihat membungkuk 30derajat mengerti lirikan Carmon bersama beberapa teman melangkah mundur dengan wajah murung dan pedih, bergegas mengambil kursi lain yang diletakkan di sisi Letta. Letta melirik hal itu tak minat. Tak senang akan kehadiran Carmon yang merusak suasana hatinya yang sedang membaik karena adanya Kiem dan Soleha.
Bahhu Letta diketuk dua kali oleh Kiem dibelakang. “ Ganteng banget dari jauh dari deket ganteng buanget nggak pakek lebay. Auuuuu mau pingsan, boleh nggak si punya suami lima..” Bisik Kiem tapi masih bisa didengarkan oleh Carmon dan lainnya.
Letta ngeleg sejenak seakan koneksi internet miliknya memiliki jaringan E, sebentar Letta pintar loh?. Hubungan suami lima dan Carmon apa? Harusnya suami dua.., dasar perempuan.
Carmon terkekeh meihat wajah tertekan milik Letta, hidup hampir beberapa bulan dengan Letta sangat tau wajah Letta yang tertekan begini. Kiem melihat Carmon yang terkekeh merasa jika Carmon tertawa kepadanya.
Kiem merapikan sanggulnya dan melambaikan tangan.”Halo tampan, kenalan sama tante yukk.” Kiem mengedipkan satu matanya.
Carmon meluhat itu tak bisa tak tertawa, bagaimana bisa Letta berteman pada manusia bentukan begini. Tante.. tapi dilihat-lihat memang terlihat seperti tante-tante. Apalagi riasan dan alis miliknya yang blok seperti angribert itu. iya kartun kepala ayam itu, alisnya sangat mirip dengan alis milik Kiem, segi tiga panjang.
“Halo tante..” Balas Carmon ramah.
“Auuu... ganteng banget, jadi mau perk0sa..” Ujar Kiem prontal. Semua mendengar melotot termasuk Letta. Kiem yang dipelototi beberapa orang terkekeh sejenak.”Duh Cuma main-main aja jangan begitu liatinnya. Tapi kalo si ganteng mau yah ayok atuh, biar tante atur jadwalnya sama suami tante, suami tante senin si ganteng selasa nya,. Gentian aja gitu biar adil.” Ujar Kiem lagi dengan genit menggamit otot tangan Carmon. " Auuu ototnya bikin gemes...." Pekik Kiem kesemsem pada Carmon.
Kiem menghela mnafas pelan mengusap pipinya yang sama sekali tidak menitihkan air mata.” Klao gitu nggak bisa, meksipun suami tante tidak setampan si ganteng, peritnya bulet kayak ban mobil, banyak lemaknya kayak sapi, suka makan pete dan jengkol. Item dekil tante sayang sama uangnya..” Ujarnya pelan. Carmon meloongo mendengarnya. Dikiranya Kiem mencintai suaminya apa adanya eh malah uangnya. Kiem melirik Carmon kaget.”Duh maksudnya cinta suami merangkap sama uangnya gitu hehe.” Kiem terkekeh sejenak mengatakan hal itu.
Carmon menggeleng geleng mendengar ucapan random ibu-ibu tersebut, tapi melirik Letta yang hanya berwajah datar sedari tadi membuat ia berfikir bisa-bisanya Letta tidak tertawa bahkan melirik ucapan Kiem yang random dan menghibur .. ini memang dirinya yang receh atau Letta yang hidupnya sangat lempeng dan selera humor yang tinggi.,?
“Duh suami minta pap lagi. bentar yah ganteng ngobrol lagi. suami saya itu cemburuan kalo saya deket-deket sama cowo. Katanya takut mereka terpesona sama saya aan saya selingkuh,padahalkan saya setia banget...” Ujar Kiem melangkah menjauh memegang HPnya gemas.
" Ini bangkotan ganggu aja orang lagi sama cowo ganteng juga..!!!" Bisik Kiem melangkah mengomel pada suaminya. Carmon kembali melongo, apa tadi yang awal dia bilang? setia? tapi barusan bilang apa? Carmon hilang akal mendengar nya.
Carmon mengangguk pelan menyesuaikan diri yang ingin tertawa lagi meliriknya menjauh dan kembali menatap letta.
Sudah hampir satu minggu mencari Letta dimana pun tetapi tak sedikitpun mendapatkann jejak, hari ini sama sekalii tak ada niat mencari Letta eh malah dia ada disini, bertemu tampa dicari. Memang benar pepata yang mengatakan jika jangan mencari sesuatu hal, karena jika jodoh tak akan kemana.
Eh.... maksudnya miliknya tak akan kemana. Eh miliknya? Ah Carmon pusing menjelaskan nya.
“ Wahh kita bertemu lagi disini rupanya... Bodiguard yang lupa tugasnya?” Carmon menyeringai melirik beberapa orang menatap kearah dirinya dan Letta. Gadis dingin yang memenuhi isi kepalanya selama bulan bulanan ini, sosok yang ditakuti hamil anak miliknya karena tragedy malam itu.
__ADS_1
Tadi Saat sampai di tempat ini Carmon sangat kaget ada Letta, ia bahkan harus mengerjab beberapa kali untuk menyesuaikan mata miliknya agar tak salah otaknya, ia pikir hanya orang yang mirip saja, tetapi terlihat jika ia benar-benar Letta.
Letta mendongak menatap wajah Carmon, siallnya wajah tampan tersenyum lebar padanya. Lrtta tersenyum smirk dan menjawab.”Wahhh tuan lupa rupanya jika saya tidak lagi berkerja pada tuan, tuan bisa tanyakan pada ayah tuan.” Balas Letta tak ada aura marah atau ambisi..
Carmon menatap Letta tak setuju.”Yang memperkerjakanmu itu saya, kamu bekerja dikaki saya jadi kesepakatan hanya bisa disepakati oleh saya bukan ayah saya.”bisiknya pelan. beberapa orang tak bisa mendengar kecuali keduanya.
Letta melirik Carmon menyeringai, kena kau..!!!! Letta memalingkan wajahnya. “Jadi apa yang kamu mau?”Tanya Letta menatap Carmon dingin.
Carmon yang ditatap dingin Letta menjadi sedikit merinding.” Denda, kamu harusnya di denda karena keluar tanpa persetujuan miliku, kamu itu terikat kontrak seumur hidup denganku..!!!” Seru Carmon tegas pada Letta. Tak ingin dibantah.
Letta menatap Carmon dalam seakan menekean Carmon yang memaksa dirinya. Letta tersenyum miring “Kau tak lupa kan jika perjanjian malam itu?” Tanya Letta pada Carmon. Carmon tertegun sejenak mengernyitkan dahi mengingat malam yang dibicarakan oleh Letta, ingatan Carmon seakan buram menjadikan dirinya linglung sejenak.
“Yang mana?” Tanya Carmon heran pada Letta.
Letta memainkan bibirnya didalam mulutnya sejenak.” Dasar bodoh, belum tua sudah pikun. “ Balas Letta malas.
Carmon dihina melotot menatap Letta tak terima, ingin menolak tapi otaknya bergerak cepat mengingat malam mana yang dibicarakan Letta. “Yang mana si? Yang saat kita melakukan kekhilafan?” Carmon mendelik pada Letta.
Letta menatap Carmon tajam.” Khilaf?? Dan kau menikmatinya.!” Ujar Letta tersenyum miring.
Mulit Carmon terbuka lebar membentuk hurup O besar. “Oh jadi benar malam ini kita mela—“ Letta menutup bibir Carmon kuat karena suara Carmon memenuhi ruangan. Semua yang tadinya tak peduli mendadak menatap Carmon dan Letta.
Letta memejamkan mata miliknya menahan gejolak muak dan mual karena Carmon, melirik Carmon yang memukul pelan tangan Letta dibibirnya. Caron tak bisa bernafas, memberontak sampai dimana ia menjilat telapak tangan Letta.
" KAU MAU mati yah....!!!!!"
.
.
.
.
. Hai hai.... jangan lupa tinggalkan jejak yah
__ADS_1