
Halloo semua... Salam yah dari aku hehe. Terimakasih selalu memberikan jejak kalian. kalian sangat baik...
semangat membaca....
.
.
Seusai di urut oleh ibu-ibu yang terus saja mengajaknya dan putra bicara meskipun Letta tak menanggapi secara terbuka, Letta dan putra pulang, sebenarnya letta terus menolak di antar oleh Putra tapi Putra seperti tuli dan tidak peduli, mengabaikan penolakan Letta, dirinya terus saja mengantar Letta dan Letta mau tak mau menerima saja, habis tenbaganya menghentikan aksi Putra yang dibilang sangat tak waras, bukan lagi tak waras, ini diluar dari seorang manusia.
Letta memilih diam dalam perjalanan, enggan menatap atau bahkan bicara kepada putra. putra sangat keras kepala, tak ingin mendengarkan orang lain, agak egois. Tapi mungkin memang umurnya yang belum dewasa menjadi faktor utama. menyebalkan
Kambing saja jika di usir dan dimarahi, dipukul atau bahkan di bentak maka akan kabur dan lari, kambing itu juga tak akan berani mendekat di kedepan hari. Tapi putra? Dia malah sok tak tau an masih tetap saja keras akan keinginannya.
Sudah di usir, dibentuk, di injak, dipukul. Tapi tetap bertahan dan keras kepala. Masa kalah dengan kambing? Kambing bahkan paham bahasa manusia, masa sesama manusia tidak paham.
Letta tidak tau dibawa kemana, jalan hang dirinya lewati bersama putra itu banyak hutan dan kebun sawit, kebun kopi dan kebun lainnya, cukup jauh masuk kedalam dan melintasi jalan yang hanya cukup 1 mobil saja, cukup lama sampai hampir satu jam... Jalannya pun tidak terlalu buruk dan tidak terlalu bagus. ada banyak sungai yang mereka lewatkan bahkan beberapa kali mereka bertemu monyet dipinggir jalan.
Tapi putra tidak berniat burukkan dengan dirinya karena telah diperlakukan buruk tadi,,? seperti ingin di hemm siapa yah,? intinya yang jelek lah yah... Tapi Letta tak perlu takut lah yah soalnya dirinya bisa bela dirinya. sebelum putra ngapa-ngapain dirinya akan duluan membunuh putra. Iya ... Letta sangat percaya dirinya lebih kuat dari putra.
Lettaa belum pernah sama sekali lewat jalan ini, yang pasti sekarang di hadapannya adalah rumah yang bernuansakan asri, waw, tidak besar, tidak besa kok, tidak seperti yang kalian bayangkan, rumah ini malah terlihat tidak terlalu besar tapi tidak juga kecil.
Terbuat dari kayu emmm kayu Ulin? Letta tau harga kayu ini waw... iya kayu ini sangat langkah dan mahal. Rumah berwarna coklat dan dihiasai banyak bunga di samping samping rumah, letta menatap lagi arah depan rumah, disana ada banyak pohon bongsai yang dibentuk bentuk seperti bentuk bulat, dan lain lain. Letta tidak paham tapi itu sangat cantik. Disana juga penuh dengan warna hijau, rumput hijau nan segar.
Mata letta menatap ke arah rumah putra. Ini sangat cantik, Putra yang melihat wajah letta yang tetap dingin menatap rumahnya, tak ada perubahan malah tatapanya terlihat serius, bedanya letta matanya tidaklah dingin, malah terkesan hangat. “Nggak mau turun nih?”Tanya Putra terkekeh kepada Letta yang masih tetap diam.
Letta melirik Putra. Menggeleng.”Tidak.. ini bukan rumah gue.” jawab Letta jujur. Mana mau letta turun padahal ini bukan rumah miliknya.
Putra menghela nafas membuka pintu mobil miliknya.”Yakan ayang ngak bilang alamatnya ayang yah jadi aku bawa aja alamat masa depan kita hehe.” Ujarnya. Ia membuka pintu milik letta dan membantu Letta keluar.
Tapi letta menolak.”Loe aja. Gue bisa pulang naik greb.” Tukas Letta. Tidak tau ini rumah siapa, tapi Letta bisa tebak ini rumah Putra, lagipula ngapain Letta disini? Mau kenalan dengan kedua orang tuanya Putra??? Haha lucu sekali, mau dikenalkan sebagai apa?
Teman? Pacar? Apa tidak menangis darah kedua orang tua putra melihat dirinya dan putra.
__ADS_1
Putra menghela nafas.” disini nggak ada sinyal ayang, nggak ada juga tetangga dan nggak ada gopud. “ ujarna malas.”lagian siapa yang mau kesini? Disini orang orang nggak bakal bisa lewat, soalnya tanah di sekitar sini udah punya ayah putra.” Tiukasnya sombong.
Letta menatap sekeliling, dimana diluar pagar
Putra yang melihat letta yang melihat ke sekitar pun mulai menjelaskan.” Nah disana sekitar edelapan hektar yang kita lewat tadi itu kebun sawit ayah putra, dan di diujung tadi dimana kebun jagung, itu kebun ayah juga.. di ujung lagi kevbun karet itu juga kebun ayah. Sekiutar 3p0 hektar arah barat dan 30 hekktar yang pisah pisah. Ayang ngak bakal bisa kesana soalnya jauh, kalo ayang mau jalan yah silahkan.”ujar Putra dengan sombong. Letta mendelik melihat Puutra yang sombong.
Putra yang ditatap begitu gelagapan mengusap telinga miliknya.” Anu maksud putra, kalo ayang masih keras buat jalan sendiri pulang gitu loh. Kalo enggak yah syukurlah jadi nanti Putra yang anterin ayang pulang.” Lanjutnya. Letta menghela nafas bengis dibuatnya. Sialnya dirinya bisa kalah dari Putra, letta sempat berfikir begini tapi tidak berfikir jika rumah putra itu ditengah hutan.
Letta keluar dari mobil, dibantu oleh Puttra. Putra membawa sayurann yang plastiknya terpisah, menggandeng tangan letta, tapi Letta menghempaskannya. Putra yang diperlakukan begitu hanya diam menatap letta menjauh, tatapanya menyenduh.
” Kalo itu rumah siapa?”tanyanya Letta kepada Putra di ujung atau di seberang rumahnya, ada rumah kecil kecil.
Putra yang tadinya terlihat sendu melihat arah pertanyaan Letta,” oh itu rumah anjing. Itu dibuat buat peternakan gitu buat anjing anjing liar. Biar bia jagain kebun dan nggak ada yang berani maling. “ jawabnya ringan.,
Letta mengangguk. Putra mendekati letta sedikit lebih cepat. Membuka pintu pelan, letta diam melihat Putra yang masuk.
” Buna,... Putra pulang bawa ayang loh..” teriaknya lebai. Letta memejamkan mata mendengar ucapan putra. Wajah letta memerah malu, sial sial. Jika begini dimana letta menaruh wajahnya nanti??? Bisa bisanya putra bicara begitu polos pada ibunya.
“Putra kalo dateng itu ucap salam bukan halu. Eh....” Seorang perempuan cantik datang mendekat. Letta mengerjab diam menatap perempuan itu.. perempuan itu terlihat shok melihat letta dan melirik Putra. Buna atau Bulan, menggunakan dres sederhana bunga bunga tapi ditutup dengan kain yang untuk menanam, ditanganya juga ada skop kecil dan pisau. Letta jadi tau pasti wanita ini baru saja menanam sesuatu di kebun belakang.
Apa tidak mati ditempat wanita ini?
“siapa Put?” perempuan itu tersenyum mendekat melihat Letta ramah.
Putra mengandeng tangan Letta tapi Letta melotot menghempas pelan tangan Putra. Putra mendneggus.” Ini ayangnya Putra Buna yang kemarin putra bicara in. Dan ayang ini bunanya putra... nama nya Bulan panggil aja Buna kayak putra.” Ujar Putra mengenalkan Bulan kepada Letta ringan.
Bulan tersenyum canggung menatap leta sedikit shok, letta sendiri menahan nafas, entah dimana ingin menaruhw ajahnya tapi letta ingin pingsan saja. Putra sialan, matri sajalah disanding bikin masalah. Sialnya Putra bikin marah.. “halloo Letta. Saya Buna nya putra. Hehe ayok masuk.. Putra bawa minum ke kebun belakang buat ayang kamu.” Ujanya pelan kepada Putra. Putra menggangguk menuju dapur meninggalkan Letta dan ibunya.
Letta menyambut tangan Bulan.” Saya Areta. Anda bisa panggil saya letta. “ Ujar Letta.
Bulan mengangguk kaku mendengar ucapan letta. Bahkan suara letta sangat bulat dan tegas. Bulan sedikit terkejut melihat selera anaknya yang begini. “Anda kakaknya Putra? Mohon maklum saya bukan pacar Putra kok. Umur kami beda jauh.” Ujar letta melihat wajah bulan yang shok dan kaku. Moga moga bulan tidak memiliki kelainan jantung. Letta enggan tanggung jawab.
Bulan mendengar ucapan letta sadar tak sadar sedikit rileks, terkekeh membawa Letta menuju belakang rumah.” Hehe saya ibunya Putra, dia manggil saya Buna atau singkatan Bunda.. hehe maaf yah dia emang agak kekanakan, “ ujar Bulan.
__ADS_1
Letta mendengarnya mengangguk paham, agak kaget sebab wajah ibu Putra sangat cantik begini. Bulan membawa letta duduk.”duduk saja dulu sembari menunggu minuman, kamu bisa makan kuenya yah hehe. Maaf nggak ada apa apa soalnya putra enggak ada bilang mau bawa kamu kerumnah.” Ujarnya membuka plastic dari tangannya dan menaruh skop di bawah.
Letta mengangguk menatap bulan. Agak kaget mendengar jika perempuan ini ibu Putra. Dia lebih cocok ajdi pacar atau bahkan kakak putra, bahklan jika jalan jalan mungkin orang akan berfikir dia adiknya putra. Bulkan sangat cantik dengan tubuh mungilnya. Pas dipandang dan berisi dibagian bagian pas, Bulan berbalik melihat Letta tersenyum. “ Tidak apa apa. Saya agak kaget saja, saya pkir anmda kakaknya putra dan ujur kita hampir sama.. saya jadi bingung mau manggil apa, mau panggil tante rasanya agak aneh.” Ujar Letta pelan dan jujur.
Bulan terkekeh mendengarnya. Mengangguk dan duduk di kursi di depan letta.” Panggil Buna aja. Keliatan tetap muda dan kamu juga ngak bakal canggung hehe. Emang umur kamu berapa?” bulkan sangat penasaran seriusan. Melihat Letta datang saja ia bisa tebak ujur letta jauh dari putra. Bisa bisanya putra menyukai orang yang berusia diatasnya begini. Tapi bukan tidak bisa mengungkapkan isi hatinya saat ini juga.
Letta berdehem. “ usia saya baru masuk dua puluh lima tahun.” seharusnya satu bulan lagi umurnya segitu tapi letta menghitungnya saja genap,. Lagipula tidak bisa bohong jika usianya memang segiitu. Tidak akan juga mengubah umurnya,.
Bulan mengangguk kaku.” Oh berarti sudah dewasa yah.” bisiknya., Letta berdehem melihat sekeliling. Tak lagi melihat raut wajah shok Bulan. Bulan ingin pingsan mendengar umur letta. Diam diam Bulan menghitung jarak usia keduanya., putra baru berusia 18 ahun. Menatap jari jari yang menghitung dengan focus., satu.. dua.. tiga... Tujuh tahun. jarak mereka tujuh tahun. bulan membulatkan mata. Tiba tiba rasanya tenggorokanya kering.
Letta tidak melihat raut wajah Bulan yang dari tadi begitu polos. Letta terus menerus melihat ke Bun belakang ini, letta tak sadar jika disini sangat bagus dan nyaman, bisa melihat banyak pohon sawit yang rimbun sebab disana jalanan menurun, sehingga terlihat asri dan hijau, rumah ini berada diatas tebing yang paling tinggi, kebun mereka juga berisi banyak sayur, ada wortel yang dipetakkan, ada kentang, ada ubi jalar, ada toknmat, ada juga beberappa lainnya.
” Kamu sup prrtani?”Tanya Letta pelan melirik Bulan yang maish dengan tingkahnya.
Bulan kaget menatap Letta kaku,” ah iya. Mau liat liat kebun. Ayok saya temani.” Ujarnya.
Letta menatap Bulan tertegun.” boleh?”
Bulan mengangguk semangat,” boleh dong. Ayok ayok.,” bulkan sangat senang, dari dulu ingin pamer kebun yang dirinya miliki, tapi pada siapa? Teman temanya bahkan dilarang oleh suaminya kemari, kecuali bulan yang bertemu diluar rumah saja
Letta mengangguk tapi beberapa sata putra datang.” Loh mau kemanaz ini putra bawain minumannya.” Putra menaruh jus jeruk diatas meja menatap letta dan ibunya yang mau pergi. Bulan melotot pda putra dna berkata,.” Mau liat kebun. Tutup aja itu jusnya biar nggak dimasukinya lalat. Kami kesini lagi nanti.”ujarnya lalu melangkah membawa letta menuju kebun.
Letta mengangguk berjalan pelan. putra menghela nafas, capek capek mempercantik jus jika begini kan percuma saja. Ia kembali kedapur mengambil tutup mangkuk. Letta melangkah pelan dnegan kakinya yang masih sakit.”kaki kamu kenapa?”Tanya Bulkan pada letta yang sedikit tak nyaman berjalan.
Letta berdehem. Menggeleng sejenak.” Ada sedikit tragedy biasa.” Jawab Letta santai. Bulan terlihat mengangguk sembari mengusap perutnya. Letta tertegun melihat dres yang dikenakan sedikit tercetak perut bverisi bulan. Letta menatap Hulan yang menatapnya terkekeh. Bulan bisa melihat wajah lucu Letta yang tak percaya apa yang dirinya lakukan. Letta berdehem pelan hendak bertanya tapi ragu.
“oiya saya lagi hamil anak kedua hehe.” Bukan terkekeh makin mengelus perutnya.
” Terus mengapa berkebun? Enggak gepeng nanti?”Tanya Letta.
Kan berkebun akan jongkok, otomatis perutnya akan tertekan sama kakinya. Bulan membulatkan mata. Letta bisa bisanya berfikir sejauh itu, bukan seperti orang lain yang bertanya sudha berapa bulan? Atau sudah di cek anaknya laki-laki atau perempuan. Letta malah terlihat memperhatikan hal yang tidak orang lain perhatikan.
“emm nggak kok, tadi saya berdiri kok lagi nanam straubery baru disana. jadi perutnbya nggak bakal gepeng. Emang roti hehe,.”ua terkekeh pelan melihat Letta. Letta mendengarnya mengangguk menatap perut Bulan. Mengerjab pelan tidak mengalihkan tatapanya. Bulan agak grogi. Aura intimidasi letta sangat besar, dia speerti pemilik di lingkungannya. Apalagi tinggi badan Letta jauh di atasnya padahal dia perempuan. “ Apakah kamu tidak lelah? Apa kah harimu baik baik saja saat mengandung?? Itu terlihat sedikit membatasi soerang perempuan.” Tanya letta. Lagi lagi Bulan ditanyakan hal yang diluar dari pertanyaan orang lain.
__ADS_1
Dirinya sampai bingung harus menjawab apa. Bulan terkekeh. “sebenarnya bukankah kita memang harus terjatuh dulu tidak si biar bisa menaiki sepeda?”Tanya bukan pelan. Letta mengangguk paham.