
Letta merasa kepalanya cukup pusing dan juga tunbuh yang gemetar, penyakit Letta tak bisa dipungkiri, ia memiliki Maag, meski bukan maag Kronis ia sering kambuh jika makan tidak teratur, ia belum sempat makan sesuai memakan hati Ziko yang dihidangkan dimalam itu oleh Ragiel, rasa amis dan anyir darah masih sangat menyengat dilidah Letta. Letta bukan kanibal atau psicopat yang bisa makan atau membuh orang orang yang tidak bersalah begitu saja, Letta masih memiliki kewarasan tingkat tinggi.
Seusai pemakaman Ziko pun ia tetap belum makan, dari pagi kemarin hingga malam ini belum makan apapun, tadi sempat ingin makan bubur bersama Areta, tetapi melihat Areta dan Zaxi makan begitu senang melupakan niat awal dan Berakhir di sini ia memilih makan disalah satu kantin karena sudah tidak tahan. Tak tahan karena tubuhnya sudah gemetar tak enak, kepala pusing dan mual.
Letta menatap semua menu, “Saya pesan nasi lauk campur yah buk..” Ujar Letta memesan menatap menu.”Soto daging satu dan minumnya es jeruk dua.. saya tunggu disana..!” Letta menujukan tempat duduk di ujung dimana tempat kosong, ada beberapa orang juga terlihat makan, Letta tak peduli memilih duduk seusai di iyakan oleh penjaga kantin,
Berselang beberapa menit makanan sampai, Letta makan dengan lahap, terlihat tangannya gemetar tak enak, nasi yang ia kunyah tadinya lahap sekarang melamban, menjadi tak bisa masuk, rasanya sangat mual. Letta merasa bayang bayang hati Ziko yang ia makan dan darah itu mencuar dimulutnya. Letta susah payah mengunyah makananya dan memuntahkan makanan yang ada dimulutnya. Letta diam sejenak merasa tak nyaman, meminum air jeruk, ini sedikit menyusahkan, tapi ia tidak bisa tidak makan.
“Letta. Are You oke??” Letta menoleh merasa tengkuknya dipukul pukul pelan seseorang.
Bovi, ia mengerjab mengangguk merasakan dadanya panas dna tambah muall, wajar Bovi disini sebab ada kakaknya tadi, Bovi tangan kanan Zaxi.. Bovi diam mengusap tengkuk Letta. Letta tak menolak mengerjab pelan menatap makanan yang ia beli tadi,. Tidak bisa masuk lagi Padahal ia baru makan beberapa suap itupun dimutahkan.
“Kamu lupa makan lagi? Kamu lupa punya magh?” Bovi duduk di kursi tempat duduk Letta. Novi sangat tau jika Letta punya maag. dulu saat Letta kecil ia sering tidak makan supaya kakak kakaknya makan dengan teratur, saat bersama Ragiel ia juga jarang makan bahkan sering tidak makan sebagai hukuman saat ia melakukan kesalahan. Itu alasan mengapa ia terkena maag
Letta tak menjawab, mengusap bibirnya dengan tysu, meminum jus jeruknya pelan,. Tak bisa dibayangkan bagaimana perihnya yang mengobrak abrik isinya, bagai demo besar besaran karena pemberontakan yang telah ia lakukan. Ini sangat menyakitkan.
Bovi yang bertanya dan diabaikan oleh Letta meringis ngilu, agak malu juga karena Letta seperti menganggapnya semut lewat saja. Letta kembali menyentuh mangkok soto daging, memakannya pelan.
Bovi disana diam menatap Letta, tapi terlihat Letta kembali diam menahan muntahan. “Hey kau kenapa? Kau tidak hamil kan?” BOvi menggoda pelan kepada Letta.
Letta diam mengusap air mata yang membasahi matanya, efek dari muntahan, menengok pada Bovi dan berdehem sejenak, kembali menjauhkan makanan, bersandar dikursi pelastik yang ia duduki, menguap sejenak dan memejamkan mata,.
"Belikan aku Pil maag dan juga vitamin.” Gumam Letta.
Bovi mendelik tak senang.”Nanti lah, aku suruh pengawal saja yang beli.”Jawab Bovi tak senang diusruh pergi. Letta berdehem sejenak merasa perutnya tak enak, menyesuaikan diri dan menguap” Ku dengar sahabatmu ada yang meninggal. Kenapa?”Tanya Bovi pelan menatap wajah Letta yang damai.
__ADS_1
Letta tak membuka matanya, mendengar semuanya secara jelas.” Karena tidak bisa bernafas lagi..”Jawan Letta tenang. Hahaha..
Bovi terlihat tertawa hambar menatap wajah Letta tak senang,.” Kau bisa juga bercanda rupanya. Hey hey anak kecil juga tau jika orang yang meninggal itu Karenna tidak bisa bernafas. Maksud aku tu kenapa bisa dia kecelakaann gitu? Katanya tubuhnya hangus dan hanya menisahkan tulang belulangnya saja, bukankah itu berlebihan jika hanya kebakaran mobil???” Tanya Bovi memicing. Ia bukan orang sembarangan, fakta seperti itu baginya sedikit ganjal.
Letta berdehem sejenak melirik Bovi.”menurutmu kenapa?”
Bovi mendelik.”Manakatehek. akukan nanya sama kamu, kamu kan temennya, nggak ada niatan buat nyelidik??? Seneggaknya tau kalo ini emang beneran kecelakaan atau gimana gitu?” Bovi menaikan satu alisnya.
Letta mengerjab pelan, diam berbisik lirih dalam hati, bahkan alasan utama sahabatnya meninggal adaah dirinya, apalagi yang harus di selidiki.. semua gara gara Ragiel.
Letta berusaha menyembunyikan amarah miliknya, melirik Bovi dan menggeleng.”Nggak penting.”
Bovi mencebik.”Yah yah yang penting di hidupmu itukan cuma Areta dan Zaxi, selebihnya nggak,,, meski mereka nggak ngeliat kamu, Cuma bisa nuntut ini itu... Sedangkan orang yang ngasih perhatian, stay ada pas kamu butuh nggak keliatan.” Bovi berkata kesal melirik Letta. Berharap Letta tersinggung dengan ucapan miliknya.
Tapi lihatlah, wajahnya tak berubah, hanya berkedip sejenak kembali mendekatkan soto daging yang tadi ia julak, terlihat kembali mencoba makan. Bovi sadar jika sesungguhnya Letta tidak baik baik saja, tangan yang gemetar, mencoba makan meski tau perut menolak, sudah berapa lama Letta tak makan? Kenapa terlihat sangat menyedihkan sekali??
Meningalkan Bovi yang menatapnya tak senang. Hey hey apa ia hanya tunggul di sini.
Letta memilih memasuki kamar Areta sejenak, tapi saat ia mau masuk, didepanm pintu ia bertemu dengan Zaxi yang diam duduk dikursi tunggu. Letta mengerjab pelan merasa jika Zaxi diliputi aura kesedihan. Zaxi terlihat mendongak menatap Letta yang sudah didepannya. Zaxi terlihat sayu dan kunyu.”Kau. kauuu mengapa melaporkan kasus Areta?” Zxai mengutuk dirinya.
Sudah hampir tiga puluh menit ia belajar bicara dan bertanya pada Letta, seperti bertanya ‘kau baik baik saka kan?’ Atau BERTANYA ‘Letta, kau sudah makan kan?? apakah kamu baik baik saja?” tapi yang keliuar malah pertanyaan yang sangat tidak masuk dalam rencananya. Ini tidak adil.
Letta terlihat diam menatap Zaxi, mengerjab sejenak dan mengangguk.”Tenang saja, aku sudah melenyapkan semua bukti perselingkuhan adikmu, jadi kasus ini tidak akan melibatkan adikmu lagi, dan adikmu juga tidak akan di remehkan karena perselingkuhannya.”Jelas Letta paham akan pikiran Zaxi.
Zaxci yang dijawab begitu tertegun, mendongak menatap Letta kecewa.”Apa maksudmu?”Tanyanya lirih.
__ADS_1
Letta menatap Zaxi dengan tak paham.”Kau bertanya karena takut Areta adikmu terkena skandal dan dibully karena kasus ini kan?”Tanya Letta datar.
Zaxi mencengkram tangan Letta, Letta diam merasakan tanganya perih akibat cengkraman cukup erat dari Zaci. Zaxi terlihat marah menatap Letta,, terbukti rahangnya yang mengeras dan mata yang melotot tak senang.”Maksudmu apa mengatakan Areta dengan kata ‘Adikmu?’ hey dia kakakmu, dan aku kakakmu, apa susahnya memanggil kami kakak ha? Apakah itu haram bagimu Letta..!!!!” Tekan Zaxi saat mengatakan kata ‘Adikmu sebagaimana yang Letta katakana tadi, rasanya sangat marah mendengar kata tak lazim dari sang adik, tak seharusnya Letta mengatakan hal seperti itu.
Letta menhernyitkan dahi, menjawab pelan.”Dia memang adikmu. “
“iya dia aidkku, puas kau? Pergi lah dari sini. Aku muak melihat mukamu. MUAK..!!!” Teriak Zaxi. Tak bisa mengendalikan diri melihat Letta yang membangkang, seakan yang yang ia katakan tak masuk dalam otak mini Letta.
Letta terlihat mengangguk dan mundur melepaskan cekalan Zaxi ditangannya dengan pelan. Zaxi diam merasa hampa dengan tatapan Letta. Letta mengangguk mundur meningalkan Zxai tampa kata kata. Zaxi diam menatap nanar punggung sang adik yang ringkih. Menatap tanganya dan memukul kepalanya sendiri keras.”Sialan kau Zaxi akh..!” memaki diri sendiri yang tidak bisa berkata apapun. ini sangat sulit untuk Zaxi. Zaxi terduduk merasa dadanya nyeri. Kenapa sangat sakit? Saat ingin mendekat tapi rasanya tembok dari Letta sangat tinggi seakan susah untuk ia lewati, lalu tembok ada dirinya sendiri juga terlalu besar. Terlihat jika ia terlalu gengsi hanya untuk meminta maaf pada Letta atau menanyakan hal yang lain seperti perhatian, tidak salahkan seorang kakak perhatian pada sang adik.
...----------------...
Di lain sisi Ando, Diki dan Tiger diam didalam apartemen saling diam menatap satu sama lain, mata merea semua bengkak karena menangisi sahabat mereka yang menainggal tanpa sebab. Seingat mereka pagi ini Ziko terlihat biasa saja, hanya saja tadi pagi ada cekcok kecil dengan Letta. Tapi itu terlihat tidak begitu besar. Wajar wajar saja jika bersahabat begitu,
“ Kematian Ziko sangat ganjal, kebakaran mobil itu biasanya diawalin ledakan, tapi Dari warga mengatakan kalo ngak ada denger ledakan, dan lagi mayat Ziko habis hagus bangt, kalo kecelakaan mobil itu biasanya mustahil, paling biasanya Cuma luka bakar atau bahkan lebih besarnya itu tubuhnya yang udah tercabik cabik. Ini tubuhnya utuh habis dibakat api itu aneh.”Diki menerawang mengingat bagaimana bentuk tubuh temannya tadi
Ando mengangguk menyetujui ucapan Diki. “ Gue udah curiga sedari awal gue denger berita. Tiba tiba tubuhnya udah ketemu dalam keadaan yang nggak layak. Udah nggak bisa di autopsi dan parahnya nggak ada penyelidikan lebin lanjut karena dugaan kalo dia kecelakaan nabrak lawan yang juga meninggal.” Bisiknya pelan. Suaranya habis karena menangisi temannya tadi.
Tiger berdehem.” Bener. Keluarga Ziko juga keliatannya nggak peduli. Mak sama bapakmnya cere, adik adiknya sekarang nggak ada yang rawat. Kasihan banget.” Bisiknya Tiger tak tenang. Tiger tak ingin menangis tapi kabar ini tidak bisa tidak menguras air mata langkahnya. Kehilangan teman karib yang tenang dan baik seperti Ziko adalah luka terdalam bagi mereka bertiga.
Benar Ziko memiliki orang tua yang sudah bercerai lima tahun yang lalu, meninggalkan ziko dengan kedua adiknya, kedua orang tuanya sering mengirimi uang tetapi uang itu kadang tidak cukup, selarang Ziko sudah pergi, lalu dengan siapa adik adiknya, adik adik Ziko masih berusia 12 tahun,. masih menginjak SD dan satunya lagi berusia 9tahun masih kelas 3 SD. Suara histeris adik adiknya Ziko tadilah yang semakin memancing tangisan ketiganya tak tega rasanya melihat adik adik nya Ziko yang sangat tidak baik baik saja.
Diko mengusap kepalanya.” Ita memang harus nyelidikin hal ini. gue curiga banget sama kematian Ziko. Nggak mungkin dia mati mendadak gini.” Bisiknya tak terima,
Semua mengangguk pelan. Diki diam mengingat apa yang ia lakukan pada Letta,.” Gue juga curiga sama Letta. Apa dia yah pelakunya..” Biosiknya pelan.
__ADS_1
“ Woy sembarangan aja loe ngomong. Jaga muncung loe .” Tolak Tiger tak menerima apa yang dikatakan oleh Diki.