Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
Masa kecil


__ADS_3

Letta diam menatap Bara yang melompat riang bersama Jesika dibalon dan permainan yang Letta tidak tau tersenyum tipis, sangat tipis, beberapa orang mungkin hanya sadar jika ia sedang berhati senang, tapi ada juga yang beberapa melihatnya akan merasa jika ia sedang melamun.


Bara terlihat menaiki balon, ini katanya tadi wahana balon raksasa yang dimasuki oleh anak-anak. Letta cukup iri sebab dulu ketika ia kecil permaimnan semacam ini tidak ada dulu sangat membosankan hanya ada beberapa permainan tapi tidak sebanyak ini, bibir Letta menipis ingat usia sebesar Bara juga ia sudah berkelana dalam hidup penuh kesakitan.


Ingatan saat dulu ia bersama kembarannya yang sering berubutan, sampai ayah, ibu beserta saudara saudaranya selalu membelikan mainan yang selalu sama, mulai dari warna dan lain lain.


Kadang Aletta tak suka warna miliknya yang disamakan oleh milik Areta. ia suka warna Navi dan abu-abu sedangkan Areta suka warna Grey dan juga putih. Tapi Letta harus mengalah.


Yang lebih tak enaknya Areta selalu menyukai apa yang ia miliki, sampai-sampai Letta dulu berfikir jika Areta jahat. Haha tapi namanya juga anak-anak. Fikiran semacam itu memang sering terjadi antara kekeluargaan.


Letta menyukai masa-masa itu, masa dimana ia bisa bermain dan ribut bersama kembaran dan para saudaranya. rasanya saat-saat itu adalah saat yang berharga.


Tapi semua berubah saat keluarganya hangus dalam satu malam.


Manik mata gadis cilik menatap binar arah beberapa orang yang bermain kejar-kejaran dihadapannya. Rasanya sangat senang dan ingin bermain bersama, tapi saat kakinya ingin melangkah kearah anak-anak ia teringat suatu hal, jika ia tidak boleh main, usianya memasuki delapan tahun pase masih bermain-main adalah hal yang menyenangkan.


Bugh... Letta menatap bola yang menggelinding di kakinya. Letta mengerjab pelan menatap arah tersebut, tersenyum mengambilnya bola Futsal tersenyum lebar. Mendongak menatap kebebarap anak yang lain tadi sekarang menatapnya dengan banyak pandangan.


Salah satu anak laki-laki datang menatap Letta datar, wajahnya penuh keringat, wajah gembul serta perut yang besar, kulitnya terlihat gelap dan bermuka garang. Letta tersenyum mengulurkan bola ditangannya kepada anak lelaki yang usianya sekitar sepuluh tahun penuh harap.


Bug.. Letta tertegun menatap tangan miliknya yang cukup sakit, bola dirampas kasar oleh anak lelaki tersebut. Letta menatap anak tersebut kaget dan polos. “Kamu mau main? Mending cari makan aja sana, nnati takutnya kamu mati kelaparan baru tau rasa..!” Lelaki itu berbicara sangat keras membuat teman-temannya menatap Letta penuh ejekan.


Letta merasa hatinya mencelos sakit, menatap anak tersebut takut, melirik Selempang dibagian kanannya yang ada tempat untuk menyemir sepatu, ia mengusap pipi yang dulunya gembul sekarang menjadi tirus penuh dengan warna hitam bekas sol sepatu. “Tapi aku hanya ingin bermain sebentar saja boleh? Janji tidak akan lama, aku pandai kok main bola.” Tanya Letta pelan. cukup takut mengatakan hal itu, tapi semenjak kejadian ibu dan ayahnya meninggal.

__ADS_1


Letta tidak pernah lagi bermain, ia harus berusaha untuk mendapatkan uang dan menyembuhkan para kakaknya. Tak ada lagi waktu untuk bersenang-senang, saat ini Letta hanya ingin sedikit saja mengenang masa dimana ia bisa tertawa dan bermain.


“He gembel..!!!” Letta terhuyung saat bahunya didorong lelaki tersebut keras. Letta menatap lelaki itu nanar.” Dasar gembel, pergi sana, kami tidak mau bermain sama kamu hu..!!” Lelaki itu pergi meninggalkan Leta yang diam merasakan tulang ekor miliknya terasa sakit.


Sedangkan anak lain hanya tertawa melihat apa yang dilakukan anak lelaki tersebut kepada Letta. Letta mengusap air mata yang jatuh. Iya.. saat dimana Letta masih mengharapklan sesuatu, air matanya masih banyak untuk menyumpahi hidup yang sangat kasar.


...----------------...


“Letta..!!!” Letta melirik Carmon di sampingnya, membuyarkan lamuman pada masa lalu yang kelam. Carmon disana menghela mafas menatap mata Letta yang selalu saja tajam. “Jadi kamu masih bekerjakan jadi bodyguard saya? Saya tau jika kejadian itu saya yang salah dan kamu yang jadi kena masalah dan ditampar oleh ayah saya. Tapi jangan pergi yah.” Masih ada anak dirahim Letta yang Carmon harus lindungi. Iya Carmon ingin Letta selalu berada di sisinya menjaga anaknya. jika Letta di sisinya maka ia tak akan membiarkan sesuatu hal yang buruk terjadi pada anaknya.


Letta menatap manik mata Carmon, ada banyak yang ia pertimbangkan, tapi ia cukup senang karena semua yang ia rencanakan masuk dalam semua yang ia duga. Letta tak pernah mengambil tindakan sebelum berfikir dan mengatur apa yang harus terjadi kedepannya. Letta harus memastikan suatu hal harus berjalan sesuai apa yang ia inginkan bukan sesuai takdir yang diinginkan,


Dimulai dari ia mengatur malam dengan Carmon, melakukan sesuatu hal yang seakan-akan mereka melakukan malam panas, sebenarnya tidak. Ia melakukan hal itu agar Carmon terikat padanya, selalu bersamanya.


“ Baik, tapi saya tidak mau kejadian kemarin terulang kembali., kamui tau yang disalahkan oleh orang lain, terutama ayah dan ibumu itu adalah saya.” Letta menatap Carmon penuh dengan keyakinan. Mungkin nanti saat ia pulang dari sini dan akan bersama Carmon akan membuat kakak-kakaknya itu akan mengamuk, mengatakan jika ia tidak berguna. Letta tak masalah, ia punya jalannya sendiri tanpa harus orang lain ketahui.


“Dan aku hanya bisa selama dua belas jam, selebihnya tidak, aku punya kehidupan lain, tidak hanya terpusat pada dirimu saja.” Lanjut Letta. Ini salah satu yang ia perhitungkan, dimana Carmpon membutuhkan ia bukan ia yang membutuhkan Carmon. Maka ia juga bisa menekan Carmon.


Carmon mendelik tak terima.”Jadi jika malam kau tidak bisa menjagaku begitu?”Tanya Carmon tak senang,” Itu curang.. kau harus selalu ada dismapingku selama aku butuh kamu, jika tidak begitu maka papa pasti tidak akan setuju lagi kamu menjadi bodyguard ku.,”Lanjut Carnnon sedikit bersuara keras,


Letta diam beberapa detik melirik Carmon.”Baik, jika begitu sampai jam tidur Barra. Aku punya anak yang harus aku urus. Jadi jika mau yah ayok jika tidak yah tidak usah sekalian,” Balas Letta tak terima bantahan.


Carmon menatap Letta tergagap, baru kali ini dirinya yang diperintah bukan dia yang memerintah orang lain, biasanya ia yang memberi pilihan bukan orang lain yang memberi pilihan. Ini cukup membuat harga dirinya jatuh. Membicarakan harga diri ini cukup memalukan.

__ADS_1


Carmon harus menekan Harga diri nya untuk kepentingan pribadi semacam anak kan? jika nanti Letta tidak bersamanya dan anak itu dipergunakan oleh Letta suatu saat nanti untuk menuntut harta gono gini, apalagi suatu saat nanti Carmon pasti akan menikah, jika saat itu Letta datang bersama anak itu dan mengatakan jika Carmon memiliki anak diluar pernikahan mereka, Carmon tak ingin keluarganya hancur. b4jingan b4jjingan begini Carmon hanya ingin menikah satu kali, hidup bahagia bersama keluarga miliknya nanti.


Carmon menghela nafas pelan menatap letta geram. Letta terlihat datar menatapnya, sebenarnya wajah Letta datar itu tidak menunjukan emosi apapun semacam menarik turunkan alis, atau memberi wajah binar hidup seperti obrolan orang lain. Wajahnya tidak ada perubahan apapun sata bicara, Carmon cukup heran bagaimana Letta membuat wajahnya seperti itu. itu terlihat sangat✨ keren✨ baginya.


“Jangan menatapku seperti itu jika tidak matamu ku jadikan santapan anjing liar.”


Carmon tersadar mendengar alunan menyeramkan dari suara Letta,, Carmon menghela nafas.,” Baik, kamu akan bersamaku selama yang kamu tentukan tadi. Tapi kamu tetap tinggal dirumah ku, itu harus..!!!”


Letta menyembunyikan seringaii licik miliknya, itu baik, dan itu yang ia inginkan., ia harus tinggal dikandang musuh untuk membunuh musuh secara baik dan mudah. “ Oke..!” Ujarnya Letta pelan. Bukankah ada pepatah yang mengatakan jika ingin membunuh musuh dengan mudah salah satunya adalah menjadi orang terdekat nya?


Dan lagi tempat paling aman untuk bersembunyi adalah tempat yang paling musuh tidak ketahui, yaitu didekatnya. Maka Letta akan melakukan hal tersebut.


Letta membutuhkan kepercayaan Carmon, membutuhkan Carmon untuk menjadi peta jalan rencananya. dengan begini semua akan lebih mudah untuk Letta jalankan.


“Tapi kamu tidak lupakan perjanjian kamu menjadi budakku selama satu bulan dimana kita bertaruh di club dnegan meminum Vodka, siapa yang mabuk pertama itu yang akan menjadi babu yang menang..!!” Letta kembali mengingatkan hal tersebut pada Carmon.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak yah

__ADS_1


__ADS_2