Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
Senja


__ADS_3

Letta tak membalas, ia menatap senja. Hemm Letta bukan anak senja, tetapi ia cukup senang melihat sunset. Dulu saat ia berlati di pantai ia selalu di siang hari, berharap sampai malam di sana untik memandang keindahan alam. Tapi tidak pernah dapat, saat dapat sekalipun ia tak pernah menikmatinya. Ia harus terus berusaha agar tetap kuat dan tak berpengaruh dengan alam.


Dan baru kali ini ia menikmati senja tanpa berlari.


Dulu saat kecil Letta dan keluarga pernah ke villa dan menghabiskan sore seperti ini dipinggir pantai, berlari kesana kemari. Bercanda dan tawa. Letta jadi merindukan keluarganya.


“Kau sangat suka yah sunset. Dari tadi kau tidak berkedip..!!!” Carmon sedari tadi menatap wajah Letta yang menatap senja. Terlihat dingin dan datar tapi sedikit meludak jika dilihat lebih dalam.


Letta memejamkan matanya melirik Cramon tegas.”Kau melihatku atau sunset dari tadi?”


Carmon menggaruk tengkuknya tak gatal, tadi si ia melihat sunset tapi saat melihat Letta memandang sunset tak berkedip membuat ia sedikit penasaran.”Aku hanya bertanya sedikit si, sensi banget jadi cewek.”Ujarnya tak senang mendengus melirik kedepan.


Letta mendengus Balik kembali menatap kedepan.


“Bang.. boleh minta foto nggak?”


Carmon melirik beberapa anak muda yang berdiri didekatnya. Carmon melirik Letta yang acuh. Carmon mengangguk.”Boleh...!!”


Dan saat itulah Carmon melotot saat beberapa orang lagi datang untik meminta foto bareng dengannya. Memang tampang Carmon itu sangat tampan, tubuh atletis membuat ia jadi memiliki fans dimana ia berdiri.


“Mbakk. Mau foto bareng juga yuk... “ Bisik salah satu perempuan menggamit tangan Letta. Letta tinggi diatas rata-rata, cantik dan juga tegas membuat mereka tak kalah kagum.


Tapi Letta terlihat acuh meliriknya tajam. Menjauh membiarkan mereka berfoto. Yang mengajaknya menatap Letta tak enak.”Itu pacarnya yah bang? Maaf jadi nggak enak.”Ujarnya sopan.


Carmon mencebikkan bibirnya.”Dia memang gitu, jadi santai saja.”Ujar Carmon tersenyum masam,.


Letta yang di sana sibuk memang foto miliknya. Sangat sangat cantik. Letta jadi lupa kapan terakhir ia memiliki foto sendiri begini? Apalagi dibawa pemandangan yang cukup indah. Ah Letta lupa, bukan itu jadi pertanyaannya tapi, kapan terakhir kali ia berlibur dan menikmati alam??? Letta terkekeh, benar kapan terakhir ia menikmati hidup???


“ Kau kabur membiarkanku dengan mereka....“


Letta melirik Cramon yang datang dengan pipi kanan sudah ada bekas kecupan pink. Letta mengerjab mengangguk pelan.


Carmon di abaikan mendenggus.” Kau benar benar yah!...” Bisiknya.


Letta memasukkan hpnya menatap hari sudah gelap dan matahari sudah berganti malam.” Kita pergi, ada banyak nyamuk disini.” Ujar Carmon sadar.

__ADS_1


Keduanya melangkah meninggalkan tempat. Tapi Letta merasa kaget saat tangan dingin milik Carmon menarik bahunya dan menyampirkan jaket miliknya. Letta melirik Carmon yang tersenyum padanya.” Kau.. kau terlihat kedinginan.”Ujarnya pelan.


Letta menggeleng.” Aku tidak suka barang bekas..” Ia melepaskan jaket itu dari bahunya.


Carmon menatapnya datar, melirik jaketnya yang ditolak.”Hey aku tidak punya penyakit kulit sialan..!!!” ingin rasanya berteriak begitu tapi ia harus sabar, ia tak boleh kasar kan?


Cramon memilih melangkah menutup lagi bahu Letta.”Hye aku tidak suka penolakan..!” Carmon memaksa keadaan lepada Letta untuk menerima pemberiannya.


Blas. Carmon kaget saat Letta mendorong tubuhnya keras sampai mundur, Carmon tidak siap akan tindakan Letta yang diluar ekspektasi, biasanya wanita yang Carmon perlakukan begini akan sangat senang dan juga tersipu, bukan malah di jauhkan dan didorong kasar.


Letta menatapnya tajam memperingatkan. “ Jangan memaksa bodoh..!!!” Tekannya.. Letta tidak senang, ia sama sekali tidak suka jika harus bersatu dengan pakaian Carmon yang baginya menjijikan. Dan jika Letta dikasih pilihan memilih antara baju milik keluarga Samuel atau Kotoran sekalipun, Letta dengan tegas akan memilih Kotoran!


Letta tidak berteriak tapi siapapun tau jika hawa milik Letta sangat tidak mengenakkan. “AKu benci dipaksa..!!!” Tegas Letta lagi menatap Carmon tegas agar menekan kata katanya


“Aku tidak peduli denganmu tapi aku peduli dengan anak ku..!” Carmon kelepasan, ia sadar. Ia barus adar, sangat kaget karena ditolak oleh Letta membuat ia mengatakan hal gambling. Hal yang membuat dirinya mati kutu sendiri seusai mengatakan hal itu.


Letta menyeringai.” Anak siapa yang kau maksud ?” Bukan tidak tahu, tapi mengingat sedang membuat Carmon yang tau dirinya hamil adalah kesenangan tersendiri baginya.


Seperti menipu seseorang untuk takluk dibawanya. Itu sedikit menyenangkan.


“Bu bukan anak. Maksudku atau- kita pergi dari sini sebelum banyak nyamuk. Iya hehe. Sudah banyak nyamuk. Plak.. “Ia menepuk pipinya sendiri dan melotot.”Nah kan sudah di gigit nyamuk. Ayo ayo.”Carmon menarik tangan Letta menjauh dengan wajah yang merapalkan mantra agar Letta tidak tau tingkah konyolnya ini.


Sedangkan Letta. Ia menyeringai melangkah mendiamkan tangannya yang dipegang Carmon. Ia menoleh ke sisi lain disana ada orang orang yang melihatnya. Senyum miliknya memudar dan segera mengeras. Ia melangkah pergi tak membantah atau mengatakan apapun. sosok yang ia tatap tadi pun tertegun dan terdiam.. apakah ia melakukan kesalahan?


.....


Areta merenggangkan tubuhnya yang masih terasa nyerih. Hari ini ia akan pulang karena sudah diperbolehkan. Di sana juga ada Zaxi yang menyiapkan semua pakaian miliknya yang kotor.


Areta hanya duduk menatap Zaxi. Zaxi mendekat kepada Areta membawa satu tas Full dengan banyaknya pakaian kotor milik Areta dan beberapa barang lain. Ia sudah di sini selama satu Minggu.


“Sudah. Ayok..” Zaxi menatap Areta yang diam menatap dirinya sendu., Zaxi mengernyitkan dahinya menatap sang adik. Meletakkan tas di sisi adik dan bertanya.”Ada apa? Apa masih ada yang sakit ha?”Tanya Zaxi pelan mengusap pipi sang adik.


Areta menatap manik mata Zaxi sendu. Menggeleng sejenak membuat rambutnya bergoyang bebas. “ Nggak.. tapi+--..”Ia memberikan jeda menatap ke bawa enggan menatap mata tajam milik Zaxi. “Tapi semenjak terakhir kesini kemarin. Letta tidak kesini lagi, padahal dia kan katanya mau kesini lagi. Nanti jika dia jenguk aku lagi kesini tapi aku sudah pulang bagaimana kak?” Tanyanya menciut. Kakinya berayun ayun dibawah untuk menenangkan hati.


Zaxi tertegun mendengar penuturan sang adik. Terakhir itu ia dan Letta bertengkar. Ia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada sang adik. Zaxi menghela nafas Mengusap kepala sang adik. “ Dia mungkin lagi sibuk. Nanti kita kabarkan saja jika kita sudah pulang dan dia bisa menjengukmu dirumah.” Bujuk Zaxi kepada Areta

__ADS_1


Areta mengeleng menatap Zaxi, Areta melengkungkan bibirnya kebawah dan dahi yang merengut. “Tapi Letta tidak mungkin menjengukku jika aku sudah pulang. Dia pasti tidak akan sebaik kemarin.” Bisiknya lagi. hatinya sakit mengingat hal itu, ia menatap Zaxi tiba tiba berbinar.”Atau aku sakit saja terus yah kak. Tinggal disini supay---..”


“ Jangan berfikir kekanakan Areta... “ Zaxi memotong ucapan Areta karena tau arah pembicaraan yang Areta katakana, Zaxi menghela nafas karena sadar jika baru saja membentak adiknya. Terlihat mata Areta sudah penuh dengan air mata yang siap menumpahkan laharnya.


Zaxi mengusap kepala sang adik.” Areta, ayo kita pulang. Mungkin Aleta sedang sibuk.” Ujarnya pelan. Areta tetap diam menatap Zaxi dengan tatapan nanar dan penuh air mata yang sudah jatuh.


Zaxi mengusap kepala kasar.”Maaf kan kakak. kakak tidak sengaja membentak mu.” Bisik Zaxi lembut dan mengalah.


Areta mengusap air matanya, turun dari ranjang dan melangkah meninggalkan Zaci tanpa kata. Zaxi diam menatap Areta yang mendiamkannya.”Areta. hey... maafkan kakak..” Ia mengejar Areta untuk supaya menghentikan larinya, ia memegang tangan Areta supaya berhenti. Tepat Areta berhenti, melirik Zaxi dengan bibir yang masih mencebik kebawah dna hidung yang kembang kempis menahan laju air mata semakin deras.


Zaxi memeluk adiknya,. Menaruh wajah Areta di dada bidang miliknya. Ia memejamkan mata mengusap kepala sang adik. Areta semakin menangis dengan pelan. bahunya bergetar, rasanya sangats esak jika dibentak oleh Zaxi. Zaxi menghela nafas melihat sang adik menangis.”Kau tau?? Siapa yang melaporkan kekasihmu dan istrinya masuk penjara, sampai sekarnag mereka mendekam dipenjara, kau tau siapa dalangnmya?”Tanya Zaxi pelan mengangkat kepala Areta agar menatapnya.


Areta menatap Zaxi dan mengangguk.”Kakak..”Jawabnya berbisik.


Zaxi menggeleng pelan membuat Areta mengernyit heran. Zaxi mengusap wajah Areta.” Aleta, dia yang memasukan mereka kepenjara, dia juga yang melaporkan keduanya, dia yang menyebar semua rumor tanpa melibatkan mu. Aku tidak tau bagaimana cara ia melakukannya. Tapi ia melakukannya sebersih itu untuk membela kamu.” Ujar Zaxi. Terpaksa membongkar hal ini agar adik tersayang tidak bersedih.


Mata areta terlihat membulat menatap Zaxi tak percaya. Ia memegang pundak kakaknya bertanya.”Kakak tidak usah mengada ngada. Kakak bohong kan?”Tanyanya pelan. Aleta selalu diam saat ia dibully, di jambak sedari dulu. ia sama sekali tidak tau jika Aletta sepeduli itu sama dia. Aleta sangat kejam sedari dulu kepada mereka berdua.


Zaxi mengeleng.”Itu kebenarannya. Dia yang melakukan semua itu untuk kamu.. jadi jangan berfikir macam macam lagi, mungkin dia sedang sibuk untuk membalas perbuatan Jastin dan istrinya kepadamu Are.” Ujar Zaxi pelan meyakinkan sang adik.


Areta diam menatap mata Zaxi, mencari kebohongan, tetapi yang ada mata hangat dan tulus, penuh dnegan kebenaran tanpa ada kebohongan. Areta terdiam merasa ada rongga menghangat di dadanya. Dulu saat ia sekolah, ia pernah dibully dan di caci dihadapan Letta yang duduk. Tapi Letta malah tak bergeming menatap semua perundingan yang ada tak bersua.. Letta terlihat kejam dan tak peduli. Hal itu terjadi berkali kali bukan hanya satu kali.


“Jadi Letta menyayangi kita?”Tanya Areta berbisik pelan. tapi Zaxi tidak menjawab, itu cukup sulit untuk ia jawab, sebab sudah belasna tahun lalu Letta tidka mengatakan jika dirinya menyayangi diri mereka lagi. ia sudah sangat asing dan jauh. Zaxi tau itu... jadi ia tak bisa memastikan bagaimana perasaan Letta kepada mereka saat ini.


Semua berjalan sebagaimana yang Samuel inginkan, itu adalah kodrat yang tak terbantahkan, baginya. Iya itu baginya, seperti saat ini dirinya dikagetkan dengan perusahaan yang ia tuntut dan ia ingin jebloskan ke penjara balik menuntut dan menghancurkannya. Samuel menggeleng menatap semua laporan yang tidak ada benar dalam kasus ini.


Samuel mengusap kepalaya yang terasa pening, semua tenaganya terkuras habis untuk memikirkan semua masalah yang ia hadapi. “Tuan... pemimpin perusahaan majalah sudah datang dibawah.” Samuel segera berdiri saat sekretarisnya mengatakan hal itu,


Tangan Samuel terkepal menahan gejolak emosinya.”Suruh dia keruang tamu.”


“Baik..!” sekretarisnya pun mengundurkan diri. Samuel ikut pergi ke ruangan yang telah disediakan untuk tamu.


.


.

__ADS_1


Hai hai.... Jangan lupa tinggalkan jejak yah!


__ADS_2