
Tatapan Samuel tertuju pada tulisan pada kertas kecil digenggaman jesika. Samuel mengambilnya dan membacanya dengan telaten.
...” Dendam ini belum selesai, selamat menikmati permainan berikutnya Samuel.”...
Samuel meremas kertas itu nanar.
Tatapannya menjadi tambah dingin. Lagi lagi ini pesan dari dia. Sang keturunan Damian sialan. Siapa dia sebenarnya dalang semua ini??
Semua sangat tapi dan tersusun, Samuel terlalu lengah kepada keluarga nya sehingga semua hancur secara berlahan. Samuel bahkan tak memprediksi Jesika menjadi salah satu dari korban berikutnya.
Tatapan Samuel masih jatuh pada Jesika yang tiada. Lagi lagi dirinya kehilangan seseorang karena keluarga Damian. Samuel mundur melangkah menjauh. Hati Samuel kacau, kepalanya mendadak penuh, terasa sesak dan juga sakit. Samuel berkali kali menghela nafas untuk menghilangkan sesak, tapi apa yang ia harapkan sama sekali tak terwujud. Hatinya semakin memanas.
”Damian... keluarga itu bahkan masih tetap menghancurkan keluargaku. Sialan.”Gumam Samuel menatap nanar kedepannya.. tatapan samuiel kedepannya tapi pikirannya berkecamuk. Sangat sait dan hancur. Samuel berjanji akan membunuh keturunan Damian yang menghancurkannya sejauh ini. Samuel berjanji,
Amarah Samuel begitu besar, sampai ingin meledak. Tapi Samuel sendiri harus meledakkan kepada siapa? keturunan Damian bahkan sampai detik ini belum ditemukan.
Acara pemakaman di lakukan sore hari, semua media ditutup oleh Samuel karena tidak ingin cucunya diliput terlalu jauh,. Beralasan cucunya skait jantung meninggal karena tak tahan ibunya masuk penjara dan kaget. Samuel tidak bilang kepada siapapun jika cucunya di bubuh. Ia memberikan orang orangnya untuk mencari tau. Samuel yakin akan menemukan dalang semua ini.
Dipemakaman ini jastin terus menangis, menatap nanar peti mati sang anak. Carmon di sana menepuk pelan bahu sang kakak. Samuel hanya diam memakai kaca mata hitanm, mata kedepan tapi pikirannya kemana mana. Samuel tidak bisa focus.
Sampai berselang beberapa lama. letta datang dengan Dipta di sebelahnya, membantunya berjalan. Carmon menatapnya kaget karena dari mana Letta tau Jesika meninggal.?
Letta datang karena ingin berdoa dan menatap jesika terakhir kalinya. Letta berkali kali menghela nafas agar tidak menangis, Letta kehilangan sosok Jesika, sosok yang sudah ia anggap anak setelah Bara. Letta tau jika Jesika itu bodoh, kepintarannya dibawah rata rata tapi dia sangat ceriah dan penuh semangat.
Dulu memang Jesika salah satu target miliknya, tapi semakin mengenal Jesika semakin membuat Letta sadar jika Jesika sama sakit nya, dia terlalu diabaikan sampai tak bisa Letta sakiti kembali. Letta tau bagaimana rasanya diabaikan, Letta sadar Jesika hanya anak yang dilahirkan di keluarga yang salah.
“ Jesika..!!!” teriakan seorang perempuan menggunakan baju tahanan membahana disana, menuju makam sang anak terakhir kali. Jastin menatap Agatha yang ingin mendekatr. Agatha yang melihat jatsin menghalanginya menatap Jastin sengit.”Mau apa kau kemari? Pergi..!!” tegas jastin tajam dan dingin.
Agatha tak terima mendorong jastin.” Aku mau meihat anakku, dimana dia... kau tidak berhak melarangku Jastin.,”tegasnya tak senang. Tapi kekuatannya jauh di bawah jatsin. Jastin tak bergerak sedikitpun. Malah menghempaskan tangan Agatha.,” percuma kau datang menengok anakmu Agatha., sebab dia sudah meninggal, bahkan jika kau tidur di sini seharian,. Meraung, menangis sampai keluar darah Jesika tidak akan bisa melihat kau. Dia tidak akan bisa merasakan pelukan hangat ibunya. Bahkan jika kau beri seluru bunga di dunia ini, itu sama sekali tidak berguna karena dia sudah tidak ada.”teriak Jastin nanar mendorong Agatha.
__ADS_1
Agatha menangis histeris menatap nanar peti anaknya. sebagai ibu yang melahirkan Agatha sangat terluka, kehilangan anak satu satunya adalah mimpi buruk. Agatha memang keras dan malu memiliki anak bodoh dan seorang perempuan bukan laki-laki. Tapi bukan berarti dirinya membenci Jesika., ia hanya tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi jesika.
" Tak usah berlagak menjadi ayah yang baik Jastin. Kau tak jauh beda denganku. Anakmu juga kau tinggalkan, kau abaikan. Kau sibuk dengan perempuan simpananmu itu. Jangan menyalahkan semua kepadaku... Kau juga salah.. Kita sama sama salah " teriak Agatha marah.
" Dulu bahkan kau yang pertama menolak adanya Jesika karena kau menganggap Jesika adalah menghalangmu hubungan kau dan simpananmu. Kau yang tak menginginkannya.. Kau ingat kan??" Suara Agatha terdengar berantakan. Parau dan kering.
Mendengar kabar dari penjaga lafas jika anaknya meninggal mengguncang jiwa Agatha. Agatha baru sadar saat masuk penjara jika usahanya untuk mendapatkan Jastin sangat salah. Ia mengabaikan anaknya demi lelaki itu, tapi saat dirinya sadar anaknya meninggal dalam keadaan tak layak. hatinya sangat terluka.
“jesika. Maafkan mama Je. Maaf hiks hiks.” Semua disana menatap mereka nanar dan beberapa menangis. Terlihat sangat rapu Agatha merayap dan menepuk peti mati sang anak. Air mata terus mengalir dan mengalorirs edangkan jastin sudha dipeluk oleh Samuel. Baik Jastin maupun agatha sangat hancur.
...----------------...
Sedangkan di sisi lain Letta hanya tersenyum masam dalam batin. Mengapa semua orang baru sadar ketika kehilangan? Seseorang yang mereka tinggalkan meninggal barulah mau menengok sebentar dan menyesal.
Hidup mereka sangat sangat klasik. Mudah ditebak, letta bisa menebak. Agatha atau Jastin akan menyesal dan bersedih beberapa tahun saja,. Setelahnya melalui hidup seperti biasa, seakan tidak terjadi apa apa. Manusia seperti mereka.
Sampah.
Letta memakai kaca mata hitam menghela nafas, mendongak agar tak menitihkan air mata. Carmon melihat Letta yang diam saja melihat pemakaman sedari tadi. di sudut hati Carmon juga sangat tersakiti. Kehilangan sosok yang selalu manja dan ceriah. Carmon baru sadar jika di bagian hatinya terasa hampa dan ada yang hilang.
Carmon paman yang buruk untuk jesika.
Letta menghela nafas menunggu semua orang satu persau pergi, ia masih di tempatnya memegang bunga mawar putih, Agatha ditarik paksa menuju lapas nya kembali, lalu jastin juga pulang bersama Carmon dan sammuel meningalkan makam yang masih basah.
Bahu Letta ditepuk., letta menatap sosok yang menepuk pundaknya, disana ada Carmon yang menatapnya sendu.”Pulang. sudah sore sebentar lagi akan malam.” Ujarnya sendu. Jastin yang di sebelahnya hampir pingsan. Letta mengangguk lalu menatap lagi makan Jesika.
Carmon tak bisa berlama lama karena keadaan suadarnya jauh dari kata baik.,
Jadilah letta tinggal sendirian, Letta mengerjab pelan menatap makam yang sudah sepi, Letta mendekat dan meletakkan bunga miliknya diatas makan jesika, membuang bunga bunga orang lain. Letta menatap nanar nisan yang ada, tertera nama Jesika yang manis.
__ADS_1
“ Saat ini kamu sudah tidak lagi bersedih karena diabaikan orang tuamu, atau bahkan dibully karena diejek teman temanmu. Selamat bersenang senang, semoga kau bertemu dengan orang tuaku. Mereka Orang yang baik. Berbahagialah disana bersama mereka, bilang jika kau adalah anak angkatku pasti mereka akan memelukmu.” Ujar letta pelan. sangat pelan sampai hanya dirinya yang mendengarnya.
Letta mencium nisan yang berisi nama Jesika, berdoa sejenak dan memeluk nisan kembali, Letta menghela nafas, rasa bersalah menyesakkan untuk Letta rasakan. Sangat sesak. Letta memukul dadanya sendiri menghentikan rasa sesak di dadanya. Sangat tidak nyaman. Ini sangat sakit.
Letta pergi menuju salah satu makan yang tak jauh dari sana. Itu makan Ziko. Letta duduk di samping makam Ziko. Tersenyum masam dan terkekeh. “ Apa kabar? kamu sudah baik baik saja kan ?” Tanyanya menghela nafas. menunduikk dalam.”maaf...” Letta tak bisa berucap apapun selain meminta maaf, menyelipkan satu bunga melati diatas nisan milik ziko. Mengusapnya pelan dan duduk menatap makam nanar. Sebentar, ia akan berdoa untuk meminta tebusan permintaan maaf.
Di ujung sana ada satu mobil yang mengawasi Letta. Itu adalah Carmon, jastin dan Samuel. ,mereka melihat semua bagaimana rapunya letta mencium dan memeluk nisan Jesika. Mereka sampai terkejut melihatnya.”Papa bahkan sempat berfikir jika sebenarnya mata mata keluarga kita adalah letta, tapi setelah ini papa menjadi ragu.”Gumam Samuel menatap letta dari kejauhan.
Carmon melirik ayahnya kaget. “Letta dan Jesika memang cukup dekat. Aku sering memergoki jesika memanggil letta dengan sebutan mama, dia juga sering bolak balok masuk kamar Letta dan bara untuk main, tidur bersama atau bahkan belajar.” Sanggah Carmon.
Samuel tertegun, jastin mendengarnya menjadi semakin lesuh. Akhir akhir ini jesika memang tidak pernah lagi mencari perhatian kepadanya, tidak pernah lagi menantikan dirinya pulang., tidak lagi minta ditemani atau bahkan di ajari. Dia sangat cuek. Bahkan kemarin saat ia dikeluarkan dari enhara jesika hanya bahagia sebentar lalu pergi meningalkannya seperti hal biasa.
Jastin baru sadar itu. dulu saat dirinya pulang.. Jesika pasti akan bergelayut di kakinya. Meminta oleh oleh, diajak jalan jalan, atau mengejakan dirinya PR. Sesimpel itu permintaan jesika. Tapi satupun Jastin belum bisa menuruti apa yang jesika inginkan.
Sampai akhir hayatnya jastin belum bisa memberikan apapun kepada anaknya. ‘” Mommy? Dia memanggil letta mama?”Tanya Jastin nanar. Matanya bergetar menahan diri untuk tidak kembali nangis.
Carmon mengangguk. Carmon berdehem.” Letta juga sering membuat bekal yang sama speerti Bara untuk Jesika, meski dia tidak bisa memasak tapi dia yang mengatur kalori yang harus dikontrol mereka agar tetap sehat. Letta juga membelikan dia ciki ciki yang rendah kalori atau gula, memberikan Jesika guru tutor dan beberapa bulan belakangan ini ku dengar Jesika nilainya sangat jauh pesat meningkat, Letta juga mengajaknya main ke time zone atau ke pantai, tempat bermain. Letta sering memperjhatian dia meskipun tidak terlihat.” Ujar Carmon juujur. Carmon menyelidiki semuanya, bahkan melihat dengan mata kepala sendiri.
Jastin kembali menangis dengan Samuel yang diam mendengar penjelasan Carmon. Samuel menghela nafas., kepala Samuel terasa ingin pecah, sangat sakit dan sulit untuk dirinya kendalikan. Bisakah Samuel mati saja???
Carmon meneguk saliva kering melihat kakaknya semakin histeris menangis. “Menangis pun percuma, sebab dia sudah tiada.” Mereka bertiga menoleh kesamping dimana suara tegas menyambut telinga mereka.
Disana ada Letta yang menatap mereka bertiga dingin, dia menggunkan kaca mata hitam saja sangat dingin auranya. Letta menghela nafas. “bahkan mau kau menangis sampai dunia ini kiamat sekalipun itu tidak akan bisa menghapus dosa dosamu sebagai ayah yang tidak becus. Jastin, kamu ayah yang buruk, jangan seolah olah menjadi manusia paling tersakiti saat anak nya sudah pergi. Karena tangisanmu hanya menambah kadar sampah tak berguna.” Tegas Letta tak berbekas kasih lalu pergi.
Jastin mendengarnya tertegun, kalah talak, rasa sakit dibain bertambah sakit. Kesadaran meningkat. Menangis tiada akhirpun memang tak akan membangkitkan mayat sang anak yang sudah dikebumikan. Yang tersisa hanya kenyataan dan fakta jikla dirinya ayah yang buruk. Bukankah dirinya ayah yang munafik? Seakan ayah yang baik, menangis, menjerit karena putrinya meningeal sedangkan selama tujuh tahun anaknya hidup, sekalipun tak ada ia beri kepada sang anak,
Letta sendiri menaiki mobil yang sudah ia pesan, puas mengatakan halb buruk pada Jastin. Letta bukan manusia yang mau berurusan dengan orang lain, atau bahkan mencampuri urusan orang lain, dirinya hanya menambah kadar kesadaran diri kepada Jastin jika jastin adalah ayah yang buruk.
Letta menghela nafas pelan menatap jalanan, sampai detik ini dirinya belum melakukan tindakan apapun, rasa puasnya melihat wajah Samuel yang bak mayat hidup. Kantong mata hitam, kurus dan tercekik. Letta sangat puas dan bahagia.
__ADS_1
Di sisi lain ia juga merasa bersalah sekaligus kecewa. Jesika, tidak seharusnya anak itu terlibat. Letta bukan lah manusia kejam sampai menghabisi anak yang tidak ada kesalahan sepertinya.