
Bara menggeleng.” Siapa wanita iblis?? Mantan ibu saya? Duh sorry stoberyy yah pak, saya punya mama yang lebih layak jadi orang tua saya dibandingkan wanita iblis atau lelaki iblis yang di depan saya ini. Saya udah nggak sudi punya orang tua kayak mereka yang berwujud manusia tapi hatinya liat biadabnya, melebihi monyet Amazon yang bahkan nggak bakal buang anak nya sendiri.” Ketus Bara dengan penuh keberanian. tak bisa Bara pungkiri jantungnya sedang berdisko ria karena degdegan., takut yang ia katakan membuat amarah milik pria dihadapanya ini marah.
Baskara menatap Bara dingin. Baskara tidak tau kenapa hatinya tersentil kiarena ucapan anaknya sendiri. “ Kamu. Beraninya ..!!” ia menunjukan wajah Bara dengan datar dan dingin.
“ Duh pak jangan tunjuk tunjuk. Bapakkan udah dewasa masa berprilaku kayak gitu sama anak kecil. Dan lagi nanti saya bisa kena masalah sama mamaknya dia. Mamaknya dia serem pak melebihi monyet Amazon yang kalo anaknya di ambil. Kalo bapak masih ada masalah sama mantan istri bapak nanti bapak temui langsung aja. Tapi saya mohon yah jangan cari masalah kalo tuan muda di dekat saya. Mati saya nanti, anak saya masih mau makan enak pak.” Ujar bambang sopan.
" Dia bukan suami mama Letta...! " Tekan bara dingin. " Enggak pantes mama dapetin lelaki biadab kayak gini " Tegurnya malas dan menatap lain arah.
Baskara menatap Bambang datar.” Siiapa tuan kamu??” Tanyanya dingin.
Bambang melirik bara linglung,” Aretta??” Tanyanya. Baskatra terdiam. Aretta? Dia bukan nama mantan istrinya, siapa dia? Ia mengerjab menatap Bara yang memeluk bambang dan menatapnya malas.
“yaudah pak kami permisi, sekali lagi saya minta maaf.” Ujar bambang.
Baskara menatap Bara dan Bambang menjauh semkain jauh. Tangan baskara terkepal menatap sang anak yang menatapnya lagi dibalik punggung Bambang. Lalu Bara memutar bola mata malas menatap ke depan lagi.
Ekspresi macam apa itu?
Baskara seperti merasa sesak dan di buang, kenapa ini? selama ini ia tak pernah merasa bersalah seusai membuang anaknya? kenapa sekarang ia bisa merasakan sedikit menyesal dan sakit yah? Ditambah penampilan Bara saat ini jauh lebih baik, kulitnya putih dan bersih,. Rambut yang ikal itu terawatt dan menambah kadar ketampanan dan keimutannya, mata jernih nan bersih. Dia sangat tampan dan imut.
Dapatnya Bara semakin mirip dengannya, Bara seperti versi mungil dirinya.
Dia juga sudah jauh lebih dewasa. Suudah berapa lama ia meningalkan anaknya? mungkin sudah lima tahun yah???
Lima tahun yah?
Baskara menelpon seseorang dan bergumam,” cari tau siapa nama Areta dan nama anaknya Bara. Segera hubungi saya setelah mendapatkan imnformasi.” Ujarnya dan memutuskan sambungan telepon. Baskara pergi dari sana dengan aura dingin miliknya,,
__ADS_1
Sedangkan Bara??? Ia menjadi lebih diam seusia bertemu ayah kandungnya. Ingatan Bara tertuju di usia 3 tahun, kedua orang tuanya menghantarkanya ke rumah bibinya awalnya, mereka bilang mereka akan ke luar kota tetapi mereka tidak kembali kembali. Bibi dan paman mereka selalu melakukan hal kasar kepadanya, menjadikan dirinya pelampiasan. Ia tak boleh makan banyak karena katanya rugi. sampai Bara dikirim ke panti asuhan. Orang tuanya tidak pernah mencarinya. Bara yang awalnya berfikir jika dirinya tidak dibuang menjadi pesimis. Ia sadar jika dirinya tidak di harapkan. Dna menjadi hal yang tidak di harapkan itu menyakitkan. Mengapa dia harus bertemu dengan ayahnya setelah semua membaik?
Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi, letta meringis ,merasakan kepalanya sangat sakit, letta memegang keningnya yang sangat nyeri, tapi tanganya tertahan dengan sesuatu. Letta melihat arah tanganya, disana ada tangan yang putih dan bersih memegang tangannya,.
Letta mengerjab pelan dengan kesadaran yang minim. Melirik kekanan, disana ada Putra yang tertidur di sampingnya sembari memeluknya erat. Bahkan kaki Letta dijadikan guling tidur oleh putra. Memang kamar letta ini tidak ada gulingnya tapi tidka begini juga,..! tapi ngomong ngomong apa yang terjadi padanya?
Letta meriingis merasa kepalanya semkain pening. Melepaskan tubuhnya dari putra. Putra terganggu semakin memeluk tubuh letta. Letta tak bertenaga untuk mengelak atau berteriak. Letta malah menepis tangan Putra agak kuat hingga Putra kaget dan menatap sekitar linglung dengan mata merahnya. Letta mendneggus mengusap kepalanya yang nyeri.
Putra yang ditarik paksa dari dunia mimpinya mengerjab pelan menatap sekitar,. Ini bukan kamarnya, dan lagi, ia melirik ke sisinya ada Letta. Ia terdiam sejenak. Mata Putra melotot dan segera bangun dari posisinya. Menatap letta takut dan juga agak gemetar.” Duh ayang. Eh maksudnya kamu udah nggak demam lagi kan? maaf aku ketiduran mau pulang pintu kamu nggak bisa dibuka.
Letta tidak bertanya. Letta diam memijit pelipisnya, kepalanya sangat pusing saat ini. putra melihat Letta kesakitan pun mendekat dan mengecek suhu tubuh letta.” Masih pusing?”tanyanya. letta hanya berdehem dengan lemah.
Putra menggaruk tengkuknya.”kamu ada obat sakit nggak??” tanyanya dengan cemas, letta menatap kearah lemari bawah brangkas nya. Putra yang pahams egra membukanya. Dan benar ada P3K. ia segera mengambil dan membukanya cepat. Ia ambil paracetamol dan beberapa obat untuk sakit kepala.
“aku ambil air dulu.. dan ambil makanan. Tunggu bentar yah.” ia mengambil lagi lap dikening letta mengganti kompres lebih baik.
Lampu rumah sudah hidup. Dan putra sudah menghela nafas. mungkin tadii malam konsleting yah lampunya. Ia kedapur melihat ke dalam kulkas, disana ada beberapa sayuran yang sudha hampir tak layak. Itu sayur yang kemarin ia belikan untuk letta. Ia segra berkutat dengan bahan bahan.
Letta disana diam dalam kamarnya menatap Putra yang masuk membawakan nampan berisi makanan dan minuman. Letta ingat terakhir ia jatuh kesadaran, letta jatuh pingsan, tepatnya ia tidak lagi bisa membopong tubuhnya berakhir tak sadarkan dir.
Dan ternyata putra yang membantunya kemarin bangun.
Putra mendekat dan membantunya duduk.”makan dulu. Nanti minum obat. Aku mau bawa kerumah sakit tapi rumah kamu kekunci dan nggak bisa dibuka. Aku nggak tau cara bukanya gimana.” Ujar Putra gugup.
Letta diam menatap nasi yang diberi oleh Putra tidak enak. Suara putra terdengar bergetar takut kepadanya. letta terkekeh dalam batin, apa dirinya terlihat seperti monster dihadapan putra saat ini? tapi mengapa putra maish mempedulikan dirinya? Masih baik padanya?
“ mengapa kau menolongku?”Tanya Letta pada Putra dingin.
__ADS_1
Putra mengerjab pelan mendengar pertanyaan letta, suara letta seperti berbisik, ia harus merangkai pikirannya.” Karena aku kasihan?” jawab Putra ragu pada Letta.
Letta terkekeh disana. menaruh nasi diatas nakas menatap Putra dingin. Putra mengerjab menatap letta yang sekarang menatap dirinya sangat dingin.” Seharusnya kau tinggalkan saja aku kemarin.” Dan mati, itu lebih baik dari pada ia tetap hidup. Dendamnya sudah terbalaskan, hanya protesnya saja lagi. letta hanya ingin hidup nyaman seusia ini.
Putra menggeleng pelan.,” hmmm kamu mungkin jahat, tapi bukan berarti kamu boleh mati begitu saja saat kamu membutuhkan pertolongan di depan mataku. Selagi kamu manusia dan kamu butuh bantuan, seburuk apapun perlakuan kamu kepadaku aku akan tetap membantumu, aku akan tetap memperlakukan kamu sebaik mungkin.”jawab Putra lagi dingin kepada Letta yang menjawab ucapanya tadi tak enak di dengar.
Letta tersenyum sinis menatap lain arah. “pergilah. “ ujar letta.
Putra menggeleng pelan.”kamu harus makan dulu dan minum obat.” Ujar Putra lagi mendekat.
Letta memejamkan mata.”Putra..” gumam letta pelan.
Putra terdiam sejenak mendnegar ucapan letta yang sangat dalam, seperti putus asa. Lettya menghela nafas dalam.” Pliis... pergi dari kehidupan gue. kalo loe benar benar sayang.. bener bener cinta sama gue, jauhin gue. gue mohon jauhin gue.” ujar letta lirih.
Putra tertegun, ucapan Letta terdengar menyakitkan ditelinga nya, lebih menyakitkan dari kemarin dimana ia memaki dirinya. Letta terlihat sangat lemah dan rapu memohon kepadanya. putra diam mnenatap nanar letta yang menghela nafas menyandarkan kepalanya. Entah mengapa Putra merasa jika letta sangat menyedihkan saat ini.
Letta berdehem pelan tak menatap Putra lagi.” pulanglah, dan kode pintu gue DENDAM. Dan jangan balik lagi, sekeras apapoun loe cinta gue. sebesar apapun Loe sayang gue. jangan balik lagi, jangan nengok kebelakang lagi. gue Cuma minta itu. Nggak lebih dan enggak ada yang lain.” bisik letta lagi serak.
Putra mendengarnya lahi lagi menitihkan air mata. “ plis jauh darii gue.. jauh dari gue. pergi dari hidup gue.” Suara Letta bak dari hati paling dalam, manusia paling sengsara meminta kebahagiaan. Benar benar kegilaan yang luar biasa.
Putra mengangguk. Mengambil tasnya dan menjauh. Tapi sebelumnya ia berhenti di pintu dan berkata.” Gue bakal pergi, tapi janji yah nasinya dimakan, obatnya diminum. Jangan telat makan, jangan sakit lagi, dan terakhir loe harus bahagia meksipun bukan sama gue. gue bakal pegi jauh sejauh jauhnya dari loe dan nggak bakal balik lagi. “bisiknya dan menjuah dari letta membuka pintu dengan sandi yang Letta sebutkan tadi Dengan bulir mata yang mengalir.
Putra menepuk wajahnya didepan kamar Letta dan terkekeh. " bodoh... udah tau bakalan sakit, tapi masih aja berharap dia buat bisa Nerima gue. sadar Putra kalian itu beda." Bisiknya lirih." Aloe nggak ada apa apanya dibanding dia.."
Putra bingung pada dirinya sendiri, kenal dengan letta batu beberapa bulan ini saja. tapi kenapa sakitnya sungguh luar biasa yah?
Letta mendnegar pintunya rumah tertutup pun terkekeh dan tersenyum. Membuka matanya dan menghela nafas., matanya berair dan tersenyum kembali.”Yah jangan balik lagi, jangan lagi.. itu jauh lebih baik.. “ gumam letta memegang dadanya nanar.
__ADS_1
Tersneyum tipis dengan mata yang berkaca kaca.” Disini sakit.” Gumamnya Melirik nasi yang disiapkan oleh putra tadi. Ia tidak lapar tapi. Letta menghela nafas dan mengisap kepalanya sendiri. Lelah. Dirinya benar benar lelah.
harus melakukan sesuatu hal yang tidak harus dirinya lakukan. Bahkan dirinya benci dirinya sendiri.