Balas Dendam Karena Satu Malam

Balas Dendam Karena Satu Malam
Jangan lagi!


__ADS_3

Areta mengernyitkan dahinya pelan, melirik Carmon yang makan kacang almon sembari tertawa menonton film spons kuning hidup dilaut. Rasa ingin mengusir membubung tinggi, tidak suka sekali hidupnya di usik begini, tak ada kebebasan miliknya lagi. Tapi Carmon keras kepala


Tring....


Suara hp Carmon berbunyi, tapi Carmon abai saja. Letta melihatnya dalam diam..Tringg... tring..


" Ada pesan di hp mu Carmon." Tegas Letta pada Carmon. " Itu mengganggu..!"Lanjut Letta lagi Tegas.


Carmon melirik sebentar tanpa melihat ke arah Hp nya. " Yo jangan di denger, biarinlah, tadi khilaf aktifin hp soalnya mau ngitung kalori saya beberapa hari ini yang makanannya nggak bergizi, soalnya tu ga dikasih makan yang bagus, malah di suruh masak sendiri, makan mie setiap hari... Pelit banget." Sindir Carmon kepada Letta.


Aletta memutar bola mata malas. " Nugget, ayam Wagyu A5, ikan salmon, daging ayam... Siapa yah yang makannya, dikira itu nggak bergizi kali yah. Terlebih lagi itu dibeli pakek duit bukan cuma tampang melas doang " Sarkas Letta malas. benar laah, semua makanan miliknya berkualitas, sebab Letta tau rasa yang berkualitas beda dengan rasa yang pernah ada ea...


eh hehe berjanda lah. Tapi beneran Carmon begitu.


Carmon mendengarnya diam sok tak mendengar, masih dalam wajah tripkeknya. soalnya Letta ingin memukul wajah sok tidak tau kali. Letta tidak tau saja jika Carmon tersinggung dan terjungkal..


Yah Carmon tidak tau terimakasih.


Tringg... Telolet.. telolet


Hp Carmon semakin gencar dihubungi bersamaan pesan pesan yang masuk. Letta kesal dibuatnya. " Carmon hp mu bikin kesal. kau ambil dan baca atau ku hancurkan." Tegas Letta lagi.


Carmon melirik sejenak." Hancurkan saja, tapi ganti baru." Ujar Carmon pelan


Letta menatap Carmon sengit, mengambil hp carmon dan hendak membantingnya, tapi posisi hp Carmon hidup dan menampilkan pesan yang membuat Letta tertegun dan kaget“ Eh, Carmon, kakakmu masuk rumah sakit.” Ujar Letta menarik kaki Carmon.,


Carmon menengar ucapan letta kaget, “tau dari mana?”


Letta menunjuk HP Carmon yang bordering. Carmon berdehem melihat banyak pesan masuk, dimulai dari ayahnya yang mengatakan keadaan adiknya dua hari yang lalu memburuk, mobil milik mereka yang harus dijual untuk membayar biaya rumah sakit adiknya, lalu pesan dari Jastin yang tadi malam minta dijemput. Terakhir pesan ayahnya mengatakan jika Jastin masuk rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri. Sangat mengenaskan.


Jantung Carmon mendadak ingin meledak saking klagetnya. Dalam dua hari dirinya sudah banyak ketinggalan berita. Carmon menggeleng pelan menatap Letta nanar. Dirinya salah bersenang senang dua hari ini agar lepas dari masalah dimana ternyata keadaan semakin buruk. Bukan menghindar dirinya malah terlihat menolak masalah sampai tak sadar jika sudah menambah masalah.


“aku minjam mobilmu? Aku mau kerumah sakit.” Ujar Carmon tanpa tau malu. Ada malu tapi dirinya singkirkan jauh jauh.


Letta menggeleng.” Mobilku dibawa mas Bambang, dia kan supirkku dan dia minjam buat pulang kampong.” Ujar Letta bohong. Mana ada bambang berani meminjam mobilnya, tapi Letta saja yang enggan memberikan mobilnya pada Carmon,


Carmon mengusap kepala yang tak gatal, berdiri merasa linglung, Letta melihat cara Carmon yang linglung pun mengernyitkan dahinya.” Kenapa sih? Kenapa enggak segera pergi?”Tanya Letta malas. Sangat malas, kan dirinya mau Carmon cepat cepat pergi.


Carmon menatap Letta linglung. Raut wajah khawatir, cemas, merasa bersalah. Bahkan matanya sudah memertah menahan derai air mata. “ itu, gimana perginya? Aku nggak ada uang sepeserpun Letta. Aku.. aku nggak ada apa apa.” Ujarnya menahan tangisan.


" Bilang aja mau minta duit..." Letta memutar bola mata malas, mengeluarkan dompetnya, melemparkan uang lima lembar berwarna merah.”Tuh ambil, jangan kesini lagi.” ujar Letta. Carmon mengambil uang yang berada diatas sofa. Menatap letta penuh haru.

__ADS_1


Carmon tau wajah Letta datar tapi dia sangat baik, selalu tidak mengelu karena dirinya repotkan.” Suatu hari nanti aku pasti ingat kebaikan kamu. Aku pergi.” Carmon meninggalkan letta sendirian menatapnya yang menjauh.,


Baik yah ..


Leetta tersneyuym sinis.” Aku bahkan selalu ingat kepada kalian, yah.,.. terima lah neraka kalian.” Ujar Letta pelan. menarik kakinya yang masih sedikit bengkak. Menekannya pelan dan tersenyum.” Carmon, kamu bodoh.” Bisiknya menyeringai. Carmon pikir letta sebaik itu? mana ada, letta tidaklah sebaik itu, dirinya manusia kotor, penuh dendam dan penuh iri. Hidup dalam kehancuran dan mati dalam kesalahan.


Seusai Carmon pergi, Letta memilih tidur siang, letta beberapa hari ini suka tidur siang. Tugasnya sudah selesai, hanya beberapa lagi dan itu dirinya hanya menjadi penonton sampai puncak dimana ia akan melakukan balas dendam akhir, biarkan mereka merasakan apa yang dulu Letta rasakan sesaat dan selebihnya biarkan Letta yang menghentikan kesakitan mereka dengan kematian.


Jam empat sore Letta terbangun, letta memilih ke supermarket lagi, sebab bahan makananya sudah habis, kehadiran Carmon sangat menyusahkan, stok makanan letta habis, dimulai dari sosis, daging, minuman, buah buahan. Setiap hari Carmon menghabisi makananya. Bahkan Carmon yang tidak bisa masak menekat membuka YouTube untuk membuat eksperimen,.


Kaki letta sudha jauh lebih baik, hanya bahunya saja yang masih bengkak dan sakit. Letta menggunakan baju hitam dan celana trening, mengambil sandal jepit dan pergi. Letta memilih pergi menuju supermarket tak jauh dari apartemen miliknya, dia sudah lama tak berolahraga rasdanya tulang punggungnya sudah sangat sakit. Jadi dirinya harus berjalan agar tetap segar dan cepat sehat. Letta benci lelah yang hanya karena tidur seharian.


Berjalan sampai di supermarket, segera menuju kearah rak rak yang akan ia beli. Letta sangat suka dengan buah anggur dan buah stroberuy. Letta suka buah yang bermarga berry, letta mengambil banyak buah buah tersebut. Letta benci pisang dan papaya, tidak suka buah salak dan apel. Letta kembali mengambil mie instan beberapa bungkus, mie rendah kalori yang dibuat dari bahan yang sehat seperti bayam dan lain lain, harganya jauh lebih mahal dibanding mie lain.


Letta juga mengambil makanan cepat saji, mengambil banyak lainnya. Sampai di tempat sayur letta diam. Letta tidak bisa masak tapi dirinya sangat merindukan makanan yang ibunya dulu masakkan, apa dirinya beli saja yah? atau mencoba masak? Letta memegang sayur yang entah dirinya tak tau namanya, letta membacanya sejenak.


“ Itu sayur selada.”Letta kaget merasakan suara menerpa telinganya. Letta merinding melihat kebelakang.


Disana ada Putra yang terkekeh melihat letta,.” Nggak nyangkah ketemu ayang di sini. Ayang kok tega banget ningalin Putra, Putra hubungin nggak dijawab jawab. Putra kan kangen.” Putra merengek memeluk letta pelan. Letta mundur mendorong Putra, tapi Putra masih bertingkah.” Menjauh lah...” tekan letta, putra mencebik melirik letta sendu.


Letta menghela nafas menaruh sayur itu di etalase lagi.”Loh kenapa enggak jadi di ambil ayang? Ini enak banget loh, sayur kesukaan aku.” Ujar Puutra mengambil sayur yang sudah ditaruh lagi oleh letta di temopat awal


Letta menatap putra menyipit,. Putra kembali mengambil beberapa sayur dan juga bawang. Letta menghela nafas,” berhentilah ikut campur. “ ujar letta menekan.


Putra mengerjab.,aku Cuma mau bantu loh. “ jawab putra polos.


“Tapi gue nggak minta bantuan. Putra jangan sok kenal, loe nggak tau gue. mending loe jauh jauh dari gue, jangan deket sama gue atau loe bakal menyesal. Pergi jauh jauh dari gue, bila perlu kalo ketemu gue loe ngumpet.” Tegas Letta menarik roli miliknya.


Putra menatap letta sulit diartikan.”Kalo aku nggak mau gimana? “ Tantangnya Putra. Letta menatap wajah Putra dingin. Sudah banyak korban, letta enggan lagi menambah korbnan, manusia manusia baik ini harus disingiurkan dari dirinya agar menjauh dari kematian.


Letta mendorong tubuh Putra. “ gue bilang pergi yah pergi, jangan nambah masalah.” Letta menjauh.


“Aku nggak mau dan aku nggak peduli.” Putra menarik troli Letta. Letta menatap putra nanar. Putra kembali memilih apa yang ingin ia beli. Letta hendak memukul Putra tapi ini tempat umum. Letta diam dan pasrah, memilih cara lain agar putra menjauh dari dirinya. Setengah jam Putra memilih makanan dan akhirnya selesai. Putra ,menuju kasir dan membayar semua yang Letta beli., Letta sama sekali tidak menawarkan untuk bayar sendiri sebab Letta sedari awal tidak minta dibayarkan.


Putra menuju mobil miliknya dan tersenyum melihat letta.” Ayok masuk biar aku masakin dan anterin.” Ujar Putra dengan semangat.


Tatapan Letta menatap Putra dingin tapi sudut lain tatapannya semakin membuat dirinya dingin, mereka.... mereka suruhan Ragiel? jantung Letta berdegup kencang seperti hendak runtuh. lemas sudah kakinya.


Letta menghempaskan semua makanan yang putra pegang hingga beberapa makanan jatuh. Putra tertegun., Letta menatap nanar Putra,.” Gue bilang jangan gini. Loe ngerti ngak sih. Loe tolol atau gimana. Anjing emang loe yah.”Teriak Letta marah.


Putra terdiam menatap letta yang sangat marah.” Gue salah apa?”Tanya Putra nanar. Memungut bahan yang jatuh. Letta menginjak injak makanan yang jatuh tanpa mempedulikan kakinya yang masih terkilir. Sampai kakinya menginjak tangan Putra. Letta kesal, letta marah. Letta lemah dan khawatir, letta cemas.

__ADS_1


Putra mehahan kaki letta kuat dan memeluknya, letta terdiam dan masih melakukan tugasnya.”Berhenti Letta.. nanti kaki kamu kembali sakit. Berhenti.” Teriak Putra memeluk kakinya lebih erat. Semua orang menatap mereka dan menatap Letta bengis,. Menganggap Letta adalah predator.


Beberapa juga ada yang berani merekam.


Letta tak habis pikir. Putra bahkan lebih mementingkan kakinya dibanding lukanya sendiri. Putra mendongak saat pergerakan letta sudah tidak lagi ada,. Putra menatap kaki letta yang memerah,”Tuh kan merah lagi, bandel banget dibilangin. Sini masuk mobil biar aku bawa ke tukang urut. Pasti terkilir lagi.” ujarnya. Putra mengabaikan tangannya yang memar dan berdarah. Ada juga bagian terkoyak kulitnya.


Orang yang mengawasinya sudah pergi dan Letta bisa bernafas sedikit lenggang...


Letta menghempaskan tangan Putra. “ sialan. Anjing gue bilkang pergi jauh dari gue. gue nggak suka sama loe. Gue benci loe. Sana jauh jauh.”Letta berteriak lagi melangkah menjauh. Tapi putra lebih dulu mendorong tubuhnya masuk mobil, mengambil makanan yang dipelastik lain sebab memang polastik nya ada tiga. Putra cepat cepat masuk mobil meninggalkan semua orang yang menatapnya.


Letta terdiam. Hendak menangis teriak tapi yang ada hanya emosi yang meluap luap. Letta sama sekali tidak suka diposisi ini. posisi yang sangat merugikan Putra. Letta tidak lagi mau manusia manusia baik ini akan kembali tersakiti. Letta sama sekali tidak ingin lagi mereka yang tak berdosa ini menanggung dosa dosanya


Putra diam dengan menyetir mobil., melirik letta yang marah. Hati putra tak ada yang tau isinya tapi air matanya jatuh pelan pelan, putra mengusap air matanya dan tetap menyetir meksi matanya buram. Tak bicara apapun putra benar benar membawa letta ketukang urut. Tukang urut yang biasa menjadi langganannya dan orang tuanya.


Letta benar benar diurut disana, tangan putra juga diurut karena memar dan salah urat. Letta hanya diam merasakan sakit diuut tak banyak bicara dan putra juga hanya diam saja. “ tulang kaki kamu pernah patah yah nodk?”Tanya tukang urut.


Letta berdehem mengangguk. Ibu mengurut mengangguk.”pantesan soalnya kerasa udah enggak singkron, lain kali jika terkilir atau patah kamu harus langsung periksa dan diurut agar cepat sehat. Kalo nggak nanti bisa ngefek sama kesehatan kedepan. Bisa bisa nanti kaki kamu nggak bisa normal lagi, kalo diurut nanti bisa normal lagi. " ujarnya smebari mengurut.,


Letta diam mengangguk. Tukang urut melirik putra.” Dua bisu?” Putra menggeleng dan terkekeh.


“dia nggak bisu mbok, Cuma emang pendiem kalo sama orang lain, tapi kalo sama saya cerewet kok, suka triak triak kayak di hutan. Romantis kan.” Ujart putrra terkekeh.


Mbok terkekeh mendengarnya.”Teriak yang gimana ini?” Tanya mbok menggoda.


Putra menatap mbok merengut.,” akh mbok, udah tua pikirannya mesum aja.” Putra menjulak bahu si ibu. Si ibu malah terbahak melihat putra yang salah tingkah melirik letta.


Letta diam diam mengamati interaksi putra dan mbok. Rasanya hangat. Putra itu bak matahari ditengah gelap, dia terang, bersinar dan hangat., siapapun akan nyaman berdekatan dengannya. Tapi letta hanya bisa menjauh. Malam tidak bisa bersatu dengan matahari, jika tidak matahari sendiri akan menjadi korban. Putra terlalu baik dan sempurna, semakin lama putra bersamanya maka putra akan ikut menggelap dnao ditelan kegelapan. Semua hanya ada celaka baginya.


“Tuh mbok, liat dia aja nggak bisa berpaling dari saya kan. dia tu emang secinta itu sama saya.” Putra menyadarkan dirinya karena sedang menatapnya dan melamun. Putra terkekeh geli melihat wajah linglung letta. Putra tau jika letta sedang melamun.


Mbok tergelak.” Eleh eleh. Ngaur kamu.. “ mbok mencubit pelan tangan putra.”lagian kalian tu nggak cocok, usia non cantik ini tu kayaknya udah 27an deh dan kamu masih 18tahun. emang kamu mau nikah sama yang udah lebih tua dari kamu? “ Tanya mbok.


Benar wajah letta terlihat lebuh tua disbanding umur aslinya. Putra mengangguk.” Cinta nggak terpaku sama ujur mbok, yang penting saling cinta dan melengkapi itu aja kok. “ jawab Putra santai.


” Situ mau, dia nya kayaknya enggak mau sama kamu. Manja, cerewet dan masih muda.” Mbok tertawa dan Letta mengangguk terkekeh. Benar kata mbok, usia mereka sangat jauh sekitar lima atau enam tahun, jika lelaki yang lebih tua dibanding perempuan itu biasa tapi tidak jika sebaliknya. Letta sadar.. kok..?


" Ih mbok. Kaulah, putra kan tampan mbok, cewek diluar sana klepek klepek kalo liat putra. Yah kan Ayang??" Putra menatap Letta penuh binar.


Letta memutar bola mata malas. " Nggak.." Mbok terbahak dan Putra yang melemas. Letta terkekeh melihat wajah putra yang tertekan...


sangat samar putra sadar Letta tersenyum, putra diam diam menyimpan senyumnya. Tak apa jika dirinya harus dihina Letta bahagia .. Yang penting Letta bahagia ...

__ADS_1


__ADS_2