
Jam lima pagi candice pergi ke lantai bawah untuk mengecek kondisi bernett, bodygard mengatakan kondisi bernett tetap baik, besok pagi ada dokter yang datang memeriksa dan menyuruh candice untuk tenang.
Mana mungkin candice bisa tenang, sekarang sudah jam 7 pagi tapi belum menutup matanya sama sekali.Sikecil telah bangun melihat sang mommy duduk di ruang tamu sendirian.
"Mommy, kenapa bangun begitu pagi?apakah daddy masih belum pulang?"
"Dia menginap di luar kota, bryan, mommy akan mengantarmu ke sekolah sebentar lagi"
"Ini masih terlalu pagi"
"Mommy harus pergi ke perusahaan, ini tidak terlalu pagi, belajarlah dengan baik"
Candice diantar ke sekolah bryan oleh bodygard, dalam perjalanan pulang candice merasa hampir gila.
Saat ini bernett sedang di periksa oleh dokter dan mengganti obat ,ia masih belum sadar.
Candice masuk ke kamar bernett melihat bekas perban penuh darah, hatinya seperti diiris pisau.
Dokter telah selesai memeriksa."Pemulihannya sangat baik,tapi jangan menggerakkan tubuh tuan gong, ini akan mempengaruhi lukanya.
Saat di perjalanan dari sekolah bryan candice sudah minta izin pada linda, hari ini ia ingin menemani bernett di sampingnya.
Bernett dalam kondisi tidak sadar masih merasakan tangannya menetes beberapa butiran air yang mengetuk jiwanya, juga terdengar suara tangisan kecil di sampingnya, Ia dengan susah payah membuka matanya.
Pandangan matanya masih kabur, melihat tubuh wanita mungil dengan wajah pucat dan mata memerah.
Ternyata benar, air yang menetes adalah air matanya dan suara kecil adalah suara tangisan wanita ini.
"Bernett, kamu sudah sadar?" candice berlari keluar kamar memanggil dokter." Dokter..dokter dia sudah sadar"
Bernett saat ini sangatlah lemah, ia merasa senang dan terharu ,candice menjaganya.
Dokter masuk dan memeriksa dengan teliti, selesai memeriksa dokter merasa cukup kaget dengan pemulihan bernett."Kondisi kesehatan tuan gong sangatlah baik,selain luka luar pada tubihnya,tidak ada gejala tambahan apapun yang muncul"
"Suapilah, sedikit air minum, tapi jangan menggerakkan tubuhnya, pikirkan caranya"
__ADS_1
dokter kembali berkata.
"Baik, aku akan segera menyuapinya" kata candice, ia melihat wajah bernett masih pucat, terlihat kelelahan..
Candice mendekat berkata dengan pelan."Aku akan menyuapi kamu minum"
"Baik" bernett dengan suara lemah,ia mengingat kejadian semalam di serang, muncul rasa amarah di hati bernett.
Tidak perduli siapa orangnya, bernett akan membalas dendam.
Candice sudah membawa segelas air putih penuh dan membawa sendok untuk menyuapi.
Para bodygard tidak berani masuk menunggu di luar kamar.
Candice mengambil air dengan sendok tapi bernett tidak bisa meminum dengan baik, air mengalir dari pinggir bibirnya, ia segera mengambil tisu mengelap air di leher dan bibir bernett.
"Aku pergi membeli sedotan di depan sebentar"
candice berkata.
Sebuah tangan menahan lengan candice."Kamu suapi aku"
Bernett tersenyum cerah."Kamu ternyata memang bodoh"
Candice terkejut, dia bodoh di bagian mana?
"Maksudku, suapi dengan mulutmu" bernett menjelaskan secara langsung.
Candice panik."Aku sebaiknya tetap membeli sedotan, paling hanya lima menit"
Bernett berkata dengan kesal."Satu menitpun aku bisa mati kehausan"
Candice mengira orang ini terluka hampir mati, tidak di sangka pria ini masih punya niat untuk menindasnya, kelihatannya lukanya tidak terlalu serius.
Candice merasa kesal dengan pria ini, namun kalau tidak menurutinya akan terlihat begitu menyedihkan untuk bernett.Lagipula bernett sedang terluka.
__ADS_1
Dia dalam kamar hanya mereka berdua, candice meminum air mendekatkan bibirnya ke mulut bernett, ia sungguh memalukan.
Mana ada orang terluka serius, masih ada pikiran menindas dan mesum seperti pria ini.
Bernett sangatlah bekerja sama dengan membuka mulutnya cukup lebar, ia menghisap lembut bibir candice.Air masuk ke tenggorakan bernett.
Setelah menyuapi sedikit air,candice merasa malu hingga memalingkan pandangannya, tapi sang pria terus memerintah."Lanjutkan, aku ingin minum satu gelas besar penuh"
Satu gelas besar penuh?candice merasa lucu dan hampir menangis.
Dan terus dicium bernett hingga belasan kali dan bernett sepertinya merasa puas, saat air habis kepala candice di tahan tangannya lidah bernett menerobos masuk mulutnya, setelah sekian lama baru di lepaskan.
Candice sendiri tidak berani memberontak, takut melukai luka bernet, hanya bisa menikmati ciuman pria ini.
Untung saja orang diluar tidak tahu kejadian di dalam kamar, kalau ketahuan candice tidak punya muka lagi tetap berada disini.
Bernett mengamati mata merah dan bengkak candice, ia merasa kasihan."Untuk apa menangis? aku belum mau mati"
"Coba saja kamu berani mati" candice mengancamnya.
Bernett merasa senang di perhatikan.
"Bagiamana bisa aku mati?bisnis kita masih belum berakhir"
"Kamu..sudah hampir mati, masih memikirkan masalah ini" candice melototi dengan kesal.
"Aku akan menunggumu di kasur" bernett tersenyum jahil.
"Kenapa tiba- tiba mengalami kejadian seperti ini?" Candice bertanya dengan tegang.
"Mungkin ada orang yang ingin membunuhku"
"Siapa yang ingin membunuhmu?"
"Ini belum jelas,tapi terlihat jelas, orang ini sedang mengincar nyawaku" bernett masih teringat mobil jungkir balik beberapa kali, walaupun dilindungi air bag, masih ada besi yang mengenai perutnya.
__ADS_1
Candice menjadi cemas,ia akhirnya mengerti di samping pria ini selalu ada bodygard dan juga alasan menempatakan bryan di sekolah dengan tingkat keamanan tinggi.
Karena lingkungan di sekitar pria ini cukup berbahaya dan sulit di duga.