
Hallo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Happy reading
""___""
Saat ini, ponsel bernett yang berada di saku berdering telepon dari paman chen, bernett menyerahkan tali kuda ke pelayan, lalu berjalan ke samping.
"Halo, paman chen"
"Tuan muda, tidak baik, barusan tuan besar muntah darah" suara paman chen tampak cemas.
"Bagaimana ini bisa terjadi?"
"Paman ketiga berada disini, tampaknya mereka bertengkar hebat di ruang kerja.
Kemudian setelah paman ketiga pulang, tuan besar muntah darah di sapu tangan, sekarang dokter sudah datang"
Raut muka bernett langsung tegang dan cemas."Aku sedang diluar negeri, aku bergegas pulang sekarang"
Setelah menutup telepon, bernett menghampiri ibunya dan candice,hannah melihat wajah suram anaknya berdiri, lalu bertanya."Apa yang terjadi?"
"Paman ketiga, membuat kakek batuk darah" bernett sangat marah.
"Apa? apa watak pamanmu tidak bisa dirubah?"
hannah sangat terkejut dan marah.
Candice memandang bernett."Kalau begitu, ayo pulang"
"Bu, kamu dan ayah menjaga bryan selama dua hari,aku dan candice akan pulang duLuan, dua hari berikutnya kalian menyusul"
Hannah mengangguk."Oke, aku akan menjaga bryan dan akan menyusul dua hari lagi, kalau ada apa- apa hubungi kami"
Bernett dan candice segera ke kamar membereskan barang- barang yang penting saja.Lalu bergegas ke bandara.
Di pesawat, wajah bernett masih tegang, kecemasan, kekhawatiran masih terlihat di wajahnya.
Candice pun merasakan ketegangan bernett.
Umur kakek sudah sangat tua, ditambah dengan masalah batuk darahnya, bagaimana bernett tidak merasakan khawatir?
__ADS_1
Duduk di sebelahnya, candice mengulurkan tangannya untuk memegang tangan bernett.
Bernett menoleh ke samping ,memegang tangannya dengan kedua tangannya, ia tersenyum sedikit terpaksa."Aku baik- baik saja"
"Kakek gong, akan baik- baik saja" candice tersenyum.
Penerbangan selama tujuh jam, mereka berdua tidak tidur sama sekali, ketika sampai di bandara domestik sudah pukul lima sore, bawahan bernett sudah menunggu di bandara. Bernett menghidupkan ponselnya, tiba- tiba masuk panggilan dari adiknya.
"Kak, apakah kalian sudah sampai?kakek berada di rumah sakit, kalian langsung saja datang kesini"
"Oke, aku akan segera kesana"
Pesawat setelah mengisi bahan bakar kembali untuk menjemput bryan dan kedua orang tua bernett.
Di rumah sakit
Bernice tadi pagi mendapat telepon dari ibunya, pagi- pagi sekali sudah berada di rumah sakit.
Di lorong rumah sakit bernett dan candice berjalan dengan cepat, bernice melihat kedatangan mereka berdua berjalan menghampiri."Kakak"
Bernett melihat kedua mata adiknya yang memerah habis menangis, ia segera memeluk dan menghiburnya."Tidak apa- apa"
"Paman kedua dan ketiga, mereka semua ada disini"
Bernett langsung tidak senang."Apa lagi yang mereka lakukan disini?"
Candice duduk di luar sambil memeluk tubuh bernice untuk sedikit memberikan kekuatan.
Bernett mengetuk pintu dengan pelan,ia melihat ruang rawat yang luas dan melihat paman kedua dan ketiga, mereka bahkan membawa istri juga anaknya.
Saat bernett berjalan masuk, semua orang menatap tubuhnya dan merasakan perasaan was- was, seolah- olah kedatangan bernett adalah ancaman.
Bernett memandang sang kakek yang memakai alas bantu pernafasan, dia juga memakai baju pasien, wajahnya juga terlihat pucat.
Tatapan bernett berpindah ke arah paman ketiganya dengan tatapan tajam dan marah, adrian yang di tatap sang keponakan hatinya bergetar takut, ia menundukkan kepala, di wajahnya ada perasaan bersalah, lagipula yang membuat ayahnya marah adalah karena bertengkar dengan dirinya.
Bernard mengerutkan alisnya, ia sama sekali tidak menyukai sang keponakan mengintimidasi generasi yang lebih tua,lalu berkata."Bernett, kondisi kakekmu tidak ada hubungannya dengan paman ketigamu, kamu jangan salahkan dia, kakekmu hanya karena semakin tua saja"
Bernett mendengus, lalu keluar dari ruangan, ia ingin bertanya dengan dokter yang merawat kakek dengan detail.
Kedua wanita berdiri begitu melihat bernett keluar dari ruangan, bernett berkata."Kalian berdua tunggu disini, aku akan bertanya pada dokter yang bertugas merawat kakek"
Candice merasa cemas dan gelisah dengan kondisi kakek gong, walaupun dulu kakek gong keras kepala, namun setelah pergi ke kediaman gong candice menganggap kakek gong sebagai kakeknya sendiri.
__ADS_1
"Bernice, apakah dokter mengatakan sesuatu dengan kondisi kakek?" candice bertanya dengan cemas.
"Dokter hanya mengatakan sebaiknya dirawat dirumah sakit saja,setelah kakek bangun baru di bicarakan lagi,semenjak di bawah kesini kakek belum siuman lagi"
Hati candice merasa sedih,dia hanya bisa berdoa di dalam hatinya, semoga kondisi kakek gong segera membaik.
Lima belas menit kemudian bernett keluar dari ruangan dokter, alisnya terus mengerut saat berjalan, sepertinya kondisi kakek tidak baik.
"Kakak, apa yang dikatakan dokter?"
"Tunggu kakek siuman baru tahu" bernett berusaha menghibur adiknya,tapi ia tidak memberi tahu apa yang dikatakan dokter tadi, dokter mengatakan harus bersiap- siap jika kemungkinan terburuk terjadi.
Ini adalah rumah sakit swasta keluarga gong, semua dokter dan peralatan terbaik berada disini,Namun kalau sudah berhubungan dengan penyakit tua, semua tidak bisa diobati dengan mudah.
"Dimana nickson? mengapa tidak datang untuk menemanimu?" bernett berusaha mengubah topik.
"Aku tidak membiarakan dia datang" bernice takut nickson akan dipersulit oleh kedua pamannya.
"Kalian pergilah ke ruang tunggu, aku akan melihat kondisi kakek sebentar" bernett tahu sebelum kakek siuman kedua pamannya tidak akan meninggalkan ruang perawatan.
Saat ini steve keluar dari ruang perawatan.
"Panggil dokter segera,kakekku sudah siuman"
Dua dokter yang merawat kakek segera berjalan ke arah ruang perawatan diikuti dua perawat.
Bernett melihat ke arah adik dan candice.
"Kalian berdua jangan masuk dulu"
Diatas ranjang, kakek gong melihat orang di sekeliling, ia merasa lega saat melihat cucu kesanyangannya."Bernett, kemarilah"
Kalimat ini membuat bernard dan adrian merasa iri, ketika sang ayah terbangun orang yang dia cari adalah bernett, bisa dilihat betapa pentingnya dia.
"Dokter, periksa dulu kakekku" bernett berkata.
Kakek gong melambaikan tangannya."Jangan terburu- buru, aku baik- baik saja" kakek menghela nafas panjang."Bernett, bantu aku duduk"
Bernett segera membantu sang kakek untuk duduk, mata tuan besar melirik kedua anaknya.
Adrian segera merasa bersalah."Ayah,ayah, kamu baik- baik saja! ini semua adalah salahku, kamu jangan mengingat lagi perkataanku"
"Ayah, bagaimana perasaanmu?" bernard berkata dengan tenang.
__ADS_1
"Aku baik- baik saja" kakek gong melihat bernett."Apakah kedua orangtuamu kembali?"
"Mereka sedang di jalan, mungkin besok pagi akan tiba" kata bernett dengan lembut.