Bayi Ceo Tampan

Bayi Ceo Tampan
Laura huo


__ADS_3

Rumah keluarga gong


Sore hari di kediaman tuan besar gong, tuan besar sedang duduk di ruang tamu, ia sedang menunggu kedatangan tamu.


Tidak berapa lama pengurus rumah tangga setengah berlari melapor."Tuan besar, tuan besar huo dan nona huo sudah sampai"


"Kalau begitu jemput mereka masuk"


"Baik, aku pergi sekarang" pengurus rumah tangga menyambut tamu.


Tuan besar huo adalah lelaki berumur Tujuh puluh tahun dan nona muda yang cantik dan menawan turun dari mobil.


Laura huo adalah nona muda dari keluarga berada, namun dia juga jatuh hati pada bernett gong,Ia pernah berpapasan dan mengambil foto bernett secara diam- diam ketika di bandara.


Keluarga hua adalah keluarga yang berpendidikan,keluarga ini memiliki koneksi dalam hal bisnis dan dengan pemerintahan. ibunya adalah seorang artis terkenal,ayahnya seorang pengusaha,walaupun masih muda laura sudah memiliki merek gaun pernikahan sendiri.


"Tuan besar" laura bersikap manis dan mencium tangan tuan besar gong.


"Kak gong, lama tidak bertemu" sapa tuan besar huo dengan hormat.


"Adik huo, benar sekali sudah cukup lama kita tidak bertemu,kamu terlihat bersemangat"


"Tidak bisa di bandingkan dengan kesehatan kak gong"


"Ini" pandangan tuan besar menatap laura.


"Ini adalah cucu perempuanku, namanya laura huo"


Laura segera tersenyum, matanya melihat ke sekeliling, mencari keberadaan bernett.


Mereka berdua berbincang selama setengah jam, laura mendengarkan dengan diam..


"Cucumu,dimana kenapa aku belum melihatnya?" Tanya tuan huo.


"Bernett sedang sibuk di perusahaan" tuan gong tersenyum.


Laura tampak kecewa, namun di simpan dalam hati.


Obrolan mereka berlanjut untuk menjodohkan laura dan bernett.


Di dalam apartemen pusat kota.


Sikecil memiliki pekerjaan rumah, untuk menggambar sebuah gambar lingkungan, orang tau boleh membantunya, namun candice membiarkan sikecil bebas berimajinasi sendiri.


Setelah selesai makan malam sikecil pergi ke kamarnya untuk menggambar, candice dan bernett santai sejenak di ruang tamu.

__ADS_1


Candice mengambil buku di rak buku, bernett pamit masuk ke ruang kerja untuk meneruskan pekerjaan.


Jam setengah sembilan candice mengecek anaknya dalam kamarnya, anaknya sedang sibuk mewarnai gambarnya hampir selesai.


Sikecil menggambar asap yang di keluarkan dari mobil bermesin,di sebelahnya berdiri orang yang memakai masker, awan hitam menghiasi langitnya, gambar itu mendeskripsikan awan berkabut, gambar itu terlhat cukup nyata, candice merasa puas dengan hasil gambar anaknya, ia mengelus rambutnya."Anakku, cukup pintar menggambar"


"Mommy, apakah kamu menyukai gambar ini?"


"Suka, sangat bagus" candice memuji anaknya tulus,anaknya mempunyai talenta menggambar.


"Kalau begitu, aku akan memperlihatkan pada daddy" Bryan membawa gambar dan berlari, anak kecil paling suka dipuji oleh oleh dewasa.


Candice mengikut sampai ruang kerja, si kecil mengetuk pintu."Daddy, apakah aku boleh masuk?"


"Boleh, masuklah"


"Daddy, ini adalah gambarku" sikecil menyerahkan gambar.


Bernett menundukkan kepala, melihat gambar dengan teliti."Sangat bagus,benar- benar mendidik, siapa yang mengajarimu?"


"Aku sendiri yang memikirkannya"


"Hebat sekali"


Candice sedang berdiri di sebelah pintu memandang interaksi anak dan ayah.


"Baiklah, kamu boleh nonton kartun"


"Terima kasih daddy" sikecil berlari keluar.


Bernett berkata pada candice." Bisakah, buatkan aku secangkir teh?"


"Apakah kamu akan bekerja sampai larut malam?"


"Aku ada rapat online jam 12 malam"


Candice berjalan keluar untuk membuat teh untuk bernett..


Ia menaruh teh di mejanya,ia melirik sejenak ke arah komputer, ia merasa pusing melihat diagram yang rumit.


"Kalau begitu, lanjutkan saja kerjaanmu, aku akan menemani bryan"


Ia baru saja ingin pergi, tangannya di tarik oleh bernett hingga jatuh di atas pangkuannya.


Candice terkejut ia mendongak melihat wajah bernett tersenyum, ia tidak marah, hanya takut anaknya tiba- tiba masuk.

__ADS_1


"Kamu, jangan sampai bryan melihatnya"


"Kamu tenang saja, anak itu sudah tidak melihat kartun beberapa hari, sekarang fokusnya pada layar televisi"


Candice merasa perasaan hangat mengalir dalam hatinya, berdekatan dengan lelaki ini membuatnya merasa nyaman.


Bernett merapikan rambutnya yang menutupi telinganya, ia mengelus telinganya hingga candice tidak bisa diam.


Wanita yang sedang dalam pangkuannya seperti kucing penurut. mungkin karena telinganya di mainkan candice bertingkag sedikit manja.


Candice mulai terlena oleh sentuhan bernett..


"Candice, bolehkan aku memanen strawberry?"


tanya bernett lirih.


Candice merasa bingung, memanen strawberry?


"Aku tidak mengerti maksudmu?" candice malu- malu.


"Memanen strawberry adalah memainkan dan menghisap buah di sini" bernett menunjuk buah dada candice.


Akhirnya candice mengerti maksudnya."Tidak boleh"


"Ayolah, aku sudah membantumu hari ini dan menyelidiki masalah ayahmu" bernett membujuk.


Candice berpikir sejenak memang bantuan bernett sudah terlalu banyak"Baiklah, kamu boleh memainkan dari luar dan tidak boleh lebih dari lima menit."


Bernett mendapat lampu hijau mencium dan memainkan buah strawberry.


Candice sampai mendesah beberapa kali dan tubuhnya seperti melayang ..tubuh candice sedikit berkeringat.


"Bernett stop" candice sudah tidak tahan lagi di perlakukan begini terlalu lama.


"Baiklah, selamat malam" Bernett juga tahu diri kalau di teruskan bisa terjadi khilaf.


Candice kabur berlari keluar dari ruang kerja..Ia kemarnya membasuh muka untuk menurunkan suhu panas pada tubuhnya.


Setelah hatinya cukup tenang, candice ke ruang tamu."Sayang,sudah pukul setengah sepuluh, bisakah kamu lanjut besok?"


"Mommy, bisakah aku menonton sampai habis, ini tersisa sedikit?" sikecil memohon.


"Baiklah" candice juga mengalah.


Sekitar sepuluh menit si kecil sudah selesai dengan menonton, candice masuk ke kamar anaknya membacakan cerita anak- anak hingga bryan terlelap.

__ADS_1


__ADS_2