
Hallo semuanya! terima kasih banyak yang sudah mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Happy reading
""___""
Sepulangnya ke dalam negeri nickson dirawat di rumah sakit militer.Bernett juga sudah menerima telepon dari sang adik, ia langsung pergi untuk menjenguk, mendengar apa yang dialami oleh mereka berdua bernett juga merasa khawatir dengan adiknya.
Untung saja diselamatkan oleh nickson.
"Kak, kapan kamu akan berkunjung ke rumah papa mama?" tanya bernice yang sedang duduk.
"Pesawat malam ini, apa mau ikut kamu?"
"Aku ingin pergi, tapi sepertinya aku akan tetap tinggal disini, aku harus merawatnya." bernice sambil menunjuk ke arah nickson.
Nickson yang sedang setengah terbarik, menunjukkan kasih sayang."Kalau kamu ingin pergi, pergi saja tidak apa- apa, aku sudah baikan"
"Sudahlah, adikku sudah berbaik hati, terima saja" bernett juga tahu, kedua orang ini jaran punya waktu bersama.
Wajah bernice memanas, nickson dan bernice saling menatap sejenak, membuat bernice semakin malu.
Melihat mereka berdua saling menatap, bernett tertawa sebentar."Aku kembali ke perusahaan dulu,setelah menyelesaikan urusan , aku harus menuju ke bandara" bernett menatap adiknya.
" Bernice,Kuserahkan nickson padamu"
"Tenang saja,aku akan merawatnya dengan baik" bernice mengguk.
Setelah kepergian bernett, selang limabelas menit keluarga besar Ye datang menjenguk nickson.
Kakek Ye, dan kedua orang tua nickson datang, bernice sudah pernah bertemu mereka sebelumnya,tetapi sudah bertahun- tahun tidak bertemu.Tiba- tiba harus bertemu, bernice menjadi malu- malu.
Mereka semua masuk secara bersamaan, membuat bernice merasa kewalahan.
Keluarga ye sudah mengetahui nickson sudah mempunyai pacar, apalagi pacarnya lebih muda,tetapi begitu masuk dan melihatnya, mereka semua tercengang sejenak, sepertinya pernah melihat wajah gadis ini.
"Kakek, paman,bibi apa kabar?" bernice menyapa dengan sopan.
"Kamu...kita pernah bertemu bukan?" ibu nickson menatap wajahnya.
"Saya bernice gong" wajah bernice menjadi memerah.
"Oh! putri dari keluarga gong, kamu sudah bertumbuh besar ya" begitu mengenali bibi ye semakin menyukai.Teringat saat kecil gadis ini imut dan manis.
Bernice tersenyum sungkan.
__ADS_1
Kakek ye terkejut, lalu berkata."Kamu cucu perempuan wallace gong?"
"Pah, dia adalag cucu dari paman gong" paman ye tertawa.
Nickson merasa senang keluarga besarnya menerima bernice dengan baik.
Keluarga terus memandang ke arah bernice, malah melupakan nickson yang sedang terluka. Bibi ye teringat dengan niat awal datang kesini, kemudian menatap anaknya."Nickson, bagaimana keadaanmu? apa yang dikatakan dokter?"
"Tidak apa- apa, hanya luka luar saja" nickson menjelaskan.
"Harus pulih dengan baik, aku akan menyiapkan obat terbaik untukmu" kata kakek ye, dengar- dengar ledakan kali ini, karena kamu menolong putri kerajaan negara X"
"Benar" nickson mengangguk.
"Dasar bocah, kamu membuat kami khawatir saja"
"Tenang saja, tubuhku sangat kuat kug" nickson mencoba menenangkan mereka.
Nyoya Ye menyeka air matanya,tentu saja, melihat anaknya terluka akan merasa sedih.
Bernice merasa bingung, bagaimana caranya untuk menghibur mereka?
"Kakek,papa,mama, kalian sudah tidak muda lagi, jadi jangan pergi secara sembarangan, aku dua hari lagi akan pulang" nickson paling mengkhawatirkan kakeknya yang sudah tua.
Sekitar satu jam mereka menemani nickson dan mereka sudah sepakat biar lukanya di rawat oleh bernice saja, kalau mereka sering datang menjenguk malah mengganggu kebersamaan mereka berdua.
"Tidak merepotkan kug" bernice tersenyum menunjukkan keikhlasan.
Nickson memandang lembut wajah bernice, setelah mengalami banyak peristiwa, ia mengerti gadis ini memang menyukai dirinya dengan serius.
Pukul setengah tujuh malam
Sebuat jet pribadi meluncur ke arah langit dari bandara.
Di sofa besar yang mewah, kaki panjang bernett saling bersilangan,ia menyalakan lampu baca di atas kepalanya, di tangannya sedang memeriksa dokumen.
Setiap pramugari berjalan melewatinya, mata pramugari melirik ke arah wajah tampannya, walaupun pramugari membuka kancing bagian atas, bertingkah agak genit, semua diabaikan oleh pria ini.
Perjalanan selama tujuh jam, bernett sama sekali tidak mengantuk,pikirannya jernih, akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama kedua orang tua, anaknya dan wanita itu.
Ini mungkin waktu paling santai dirinya dalam setahun ini.
Di rumah sakit, sebenarnya pihak rumah sakit menambah satu kasur untuk seorang menunggunya, namun bernice malah masuk ke selimut nickson untuk tidur sambil memeluknya.
Candice saat ini sedang di kasur berbaring, di negara ini sekarang jam delapan pagi.Di meja samping kasurnya ada makanan ringan dan snack yang dibawakan oleh pelayan.
Sikecil masuk kamarnya dengan semangat sambil memegang bola wol kecil."Mommy, mommy, pesawat daddy akan segera sampai"
__ADS_1
"Apakah kamu sudah sarapan, mommy akan menyuapimu?"
"Aku sudah makan dengan kakek dan nenek, mommy makanlah dengan cepat, aku akan bermain dulu dengan fluffy"
"Oke, mainlah" candice masih malas baru saja bangun tidur.
Anak kecil bermain di halaman dengan anjing di sebelahnya, ditemani oleh seorang pelayan.
Sekitar satu jam.
2 mobil kendaraan of road parkir di dekat halaman, bernett gong turun dari mobil.
"Daddy" suara lembut anaknya, ia melihat bryan berlari ke arahnya di ikuti anjing kecil di sebelahnya..
Bernett jongkok memeluk anaknya yang mengenakan jaket tebal membukus tubuhnya, di tangannya memegang bola kecil.
Ia menggendong putranya masuk ke rumah, para pelayan menyambut dengan ramah, bernett hanya tersenyum sambil mengangguk kepala.
Sambil mendengarkan anaknya bercerita dengan gembira menaiki kuda pony, bernett melirik ke arah wanita yang sedang turun dari tangga.
Ia melihat candice memakai sweater panjang bermotif bunga, jantung bernett berdetak lebih kencang, terpesona dengan kecantikan candice.
Bryan melihat tatapan sang daddy kepada mommy memanggilnya."Daddy, dengarkan ceritaku"
Bernett menurunkan sikecil sambil mengelus kepalanya."Kamu ceritanya nanti saja, bermain dulu dengan anjingmu di depan, oke"
Sikecil menyadari kedua orang tuanya sedang ingin melepas rindu, ia berlari ke depan dengan bola wol di tangannya.
Bernett merangku pundak candice, berbisik ke telinganya."Apakah kamu sudah merindukanku?"
"Aku tidak rindu" candice berbohong.
Bernett menatap tubuhnya dari atas ke bawah, sekarang candice memakai sweater dengan karakteristik lokal, saat ikut hannah berbelanja di pasar candice membeli beberapa pakaian untuknya dan bryan.
Bagi pria seperti bernett, penampilan polos sang wanita menambah hasrat untuk tidur dengannya.
"Aku semalaman tidak tidur, bawalah aku ke kamarmu"
Candice memegang tangan bernett berjalan ke atas."Kenapa kamu tidak tidur semalam?"
Bernett diam saja, saat candice membuka pintu kamarnya.
"Apakah kamu ingin makan sesuatu?" candice takut pria ini tidak sempat sarapan di pesawat.
"Aku sudah makan di pesawat, tolong bantu aku membuka baju"
_¥_
__ADS_1