
"Sudah selesai berkas dari kantor kamu gun?". Tanya papa mertua Guntur.
Mereka baru saja selesai makan malam di rumah orang tua Gita.
"Sudah pa. Sesuai rencana waktu itu, kami setuju akan diadakan syukuran awal bulan ini". Jawab Guntur.
"Baik.
Setuju juga kan acaranya di green house?". Ujar papa mertua.
"Setuju pah. Gita juga setuju.
Iya kan sayang?". Ucap Guntur pada istrinya Gita.
"Iya pah. Tapi minta acaranya cukup teman dan kerabat saja". pinta Gita.
"Iya. Papa juga mau mengundang relasi bisnis papa, tidak banyak sih. Cuma beberapa". Jawan papa Gita.
"Mama juga mengundang teman dekat mama saja. Tidak semua.
Kita fokus kerabat dan teman saja. sambil kumpul keluarga sekalian". Ujar mama Gita.
Semua mengangguk paham. Dan mereka membicarakan persiapan untuk acara syukuran pernikahan Guntur dan Gita.
Namanya syukuran, karena acaranya hanya keluarga dan teman saja yang di undang. Di taman green house.
"Papa dan mama kamu pasti juga setuju kalian segera me gadakan syukuran. Kami sudah tidak sabar untuk melihat kalian bersanding.
Walaupun sudah yang kedua bagi kalian, jangan merasa sedih. Mungkin ini jalan jodoh yang di tuluskan allah". Ujar papa mertua Guntur.
"Mama harap kalian berjodoh sampai akhir hayat". Do'a mama Gita.
"Aaminn.. Terima kasih ma".
Jawab Guntur dan Gita.
"Buat papa dan mama nak Guntur biar papa saja yang menelfon nanti". tambah mama Gita.
"Papa tadi siang sudah aku telfon mah. Mereka ikut yang sudah di bicarakan waktu itu". Jawab Guntur.
"Alhamdulillah. Tapi papa masih ingin bicara. Mungkin bertemu keluarga beberapa hari kedepan". ujar papa Gita.
"Baik pah. kami percaya pada papa dan mama". Jawab Guntur.
__ADS_1
"Iya. Kalian fokus saja memberi kami cucu". Tambah papa Gita.
Gita dan Guntur saling pandang. Guntur tahu yang difikirkan Gita. Karena istrinya itu sudah bercerita semua yang yang dia alami selama ini.
Orang tua gita tidak tahu dengan perselingkuhan almarhum mantan menantunya. Apalagi sampai sang selingkuhan hamil.
Gita hanya bicara pada Abangnya saja. Dan mereka sudah berjanji tidak membeei tahu orang tuanya.
"Inshaa allah pah. Kami ingin menikmati waktu berdua dulu. kalau di beri rezeki secepatnya alhamdulillah". Jawab Guntur.
"Kalian nikmati saja masa pengantin baru dulu. Mungkin setelah acara syukuran kalian bisa cuti beberapa hari". Ujar papa mertua.
"Iya pah. Aku cuti beberapa bulan lagi". Ujar Guntur.
"Istirahatlah. Besok kalian kan bekerja, dan berangkat lebih pagi". Ujar mama Gita.
"Iya ma. Kami istirahat". Jawab Gita.
Setelah berbincang mereka semua pergi beristirahat. Karena sudah malam.
Guntur dan Gita menuju kamar Gita untuk istirahat. Kamar yang sudah sering mereka tempati beberapa bulan ini saat berkunjung.
Bersiap untuk istrahat. Tidur.
Sambil memeluk istrinya untuk tidur. Mereka baru saja rebahan di kasur.
"Iya bang.
Ucapan itu yang selalu aku cemaskan.
Mereka tahunya aku menunda kehamilan". Ucap Gita.
Guntur mendekap Gita menciumi kening dan pucuk kepala istrinya itu.
"Sabar. pasti ada jalan.
kalaupun kita tidak tidak di beri amanah untuk punya anak. Aku tidak akan meminta lebih.
Apalagi untuk mendua.
Inshaa allah aku akan menua denganmu sayang". Ujar Guntur memeluk istrinya. Menenangkan.
"Terima kasih bang. Aku tidak di ingin dibohongi juga di kecewa dua kali bang". Ucap Gita mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
"Aku akan selalu setia padamu. Karena aku juga pernah di bohongi dan di kecewakan.
Mari kita saling melengkapi dan mengobati luka". ujar Guntur.
Mereka saling berpelukan, saling menguatkan.
"Bang.
Kalau dalam setahun ini aku belum juga hamil. Aku mau kok diajak konsultasi dan berobat". Ujar Gita
Setelah sekian menit terdiam dalam dekapan suaminya.
"Kita coba yang alami dulu. Rajin berusaha, dan makan makanan sehat". Jawab Guntur.
"Berusaha kan selalu bang. Abang saja tiap hari melakukannya.
Kita sudah menikah tiga bulan, dan aku belum ada tanda untuk hamil". ujar Gita.
"Iya sayang. Mungkin dengan rutin olah raga ranjang, kita juga harus rutin minum vitamin atau kamu kuurangi kesibukanya.
Jangan terlalu stres dan sibuk dengan pekerjaan.
Semua serahkan pada asisten. Kamu cukup mengawasi dan memerikda saja". Ujar Guntur.
"Sekarang aku lebih banyak mempelajari kok bang. Semua pekerjaan sudah di tangani asisten dan sekretaris.
Apalagi asisten yang abang usulkan. Dia sangat gesit dan cekatan bekerja.
Aku tinggal menanyajan dan menerima saja". Tambah Gita.
"Hmm. Mungkin dengan rileksnya kamu bekerja, dan suasana hati juga baik.
Bisa saja hormon kebahagiaan bisa memancing kesuburan. Dan kamu bisa segera hamil.
Usaha untuk itu juga harus di tingkatkan. Lebih rutin dan sering". Ujar Guntur.
Dia menaiki tubuh istrinya sambil tersenyum. Mulai menyentuh wajah istrinya dengan kecupan.
Gita sudah tahu kebiasaan suaminya. Yang sangat menikmati olah raga ranjang. Dan dia juga sangat menikmatinya.
Bukan membandingkan. Antara almarhum suaminya dan Guntur. Mereka sama-sama ahli dalam memberikan kepuasan pada gita.
Yang membuat Gita tidak berhenti mengerang dan bergerak liar saat...
__ADS_1
.