Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 188


__ADS_3

"Kamu harus banyak istirahat sayang. Ingat, kamu sedang hamil". Ujar Guntur.


Memijiti kaki istrinya.


Gita sedang memeriksa berkas kantor yang dia bawa pulang. Dia akan mengerjakan pekerjaan kantor sebentar, jika membawa kerjaan di rumah.


"Aku menyelesaikan laporan sampai akhir bulan ini bang.


Rencananya aku bulan depan akan mengurangi jadwal bekerja. Kalau papa izinkan, aku cuti.


Atau kalau boleh aku berhenti saja. Biar aku fokus menjadi ibu rumah tangga". Ujar Gita.


Dia sangat menikmati masa kehamilannya ini. dan ingin fokus menjadi ibu rumah tangga saja untuk sementara ini.


"Aku setuju sayang. Fokus saja dengan kehamilan dan calon anak kita.


Kamu bisa bicarakan dengan ayah. Bisa ambil kepala cabang untuk memimpin cabang perusahaan di sini". Ujar Guntur.


Dia juga ingin istrinya tidak sibuk di luar rumah. Biar dia selalu bisa membawa istrinya saat acara di instansinya.


Walau Gita juga masih aktif di ibu bhayangkari. Tapi tidak selalu datang. Hanya saat-saat penting saja dia ikut.


Apalagi bulan depan Guntur akan naik jabatan. Untuk jadi kepala satuan lalu lintas. Tentu dia butuh dukungan dari istrinya.


Walau saat ini dia masih memakai tongkat, tapi saat pelantikannya bulan depan dia berusaha sembuh dan akan melepas tongkatnya.


"Iya. Semua perihar proyek di pulau K sudah aku serahkan semua pada pimpinan cabang pulau K.


Aku tidak akan ikut serta lagi dengan semua proyek itu". Ujar Gita.

__ADS_1


"Terus si manusia mesum itu bagaimana?. Apa kamu masih mau menjalani hukuman yang kamu rencanakan?". Tanya Guntur.


Ingat kalau Gita punya hukuman yang sedikit tega pada Dika.


"Iya. Itu tetap di laksanakan. Aku ingin tahu, seberapa sanggub dia bisa menahan nafsunya.


Apalagi nanti di kelilingi wanita yang pasti ada di sekitar proyek itu". Ujar Gita.


Dia mau menghukum Dika tidak boleh bermain wanita. Kalau ketahuan akan di kebiri.


Tapi tidak tahu apa Dika patuh pada surat kontrak atau tidak. Apa dia akan mengabaikan ancaman Gita.


.


"Istirahatlah. Kalau mau makan semua sudah di sediakan oleh katering yang diantar tiap waktunya makan.


"Apa tempat maka atau tempat nongkrong jauh dari sini?". Tanya Dika.


"Tidak. Jalan kaki bisa kok. Disamping kiri proyek.


Tapi kamu tidak bisa leluasa keluar sendiri. Pesan pimpinan besar dari kota kamu sedang di hukum tidak bisa bernain wanita selama di sini.


Dan jika kamu melanggar dia akan langsung memberi hukuman utama.


Ingat kan?!". ujar pria itu.


Dika tidak bisa berkata-kata. Ternyata Gita tidak main-main dengan ancamannya.


"Terus kalau saya sedang ingin bagaimana bang?. Kan aku pria nornal". Unar Dika memelas. Minta pendapat.

__ADS_1


Mana tahu pria itu ada solusi. Mungkin menyeludupkan wanita untuknya.


"Disini banyak lobang kok. Atau jepitkan ke pintu". Jawabnya santai.


"Ah.


Terus aku kerjanya disini apa pak?. mandor atau ...". Dika bertanya.


Ucapan pria itu membuat Dika merinding. Jadi dia yang notaben sebagai wakil direktur apa kerjanya disini?. Kalau bekerja di proyek untuk memeriksa bangunan tidak mungkin, dia bukan arsitek atau tehnik sipil.


"Kamu akan mengawasi pembukuan dan keuangan proyek. Itu tugas utama kamu. Laporan harus di kirim tiap minggu ke pusat.


Juga memantau kebutuhan bahan baku yang akan di pesan atau yang habis. pesan, dan sesekali ke proyek untuk sidak". Ujar pria itu.


"Kenapa aku turun langsung memeriksa proyek pak. Aku kan juga pimpinan". Tanya Dika Heran.


"Semua pimpinan perusahaan akan turun sesekali. Untuk survey.


Walau kamu itu pimpinan perusahaan, kamu kan tidak ingin proyeknya gagal. Apalagi jika telat dari target. Bisa rugi banyak kita". Ujar pria itu.


Dika paham. Benar juga ucapannya. Tentu dia tidak ingin proyek mangkrak dan twlat selesai.


Bisa dua kali kena hukuman dia dari Gita. Yang nerupakan donatur terbesar di proyek ini.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2