Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Apa itu Gita


__ADS_3

"Abang berangkat dulu ya sayang". Ujar Guntur.


Mencium kening dan rambut basah istrinya. Karena belum kering habis keramas subuh tadi.


"Hati-hati bang". Ujar Gita sambil mencium tangan suaminya.


Tiga hari libur pengantin baru, hari ini Guntur mulai berdinas. Sebagai polisi lalu lintas di kotanya.


Sedangkan Gita masih libur. Dia meliburkan diri sampai awal minggu depan. Karena badannya remuk, dan lemas.


Karena suami polisinya sangat kuat dan agresif. Bahkan tidak ada capeknya untuk olah raga ranjang.


Mungkin sudah biasa latihan fisik sebagai polisi.


"Capeknya. Remuk badanku. tiga hari di gempur suami kekarku hingga tubuhku lemas dan penuh bercak merah digigit mesra". Gumam Gita


Gita rebahan di atas kasur tempat dia dan suaminya selalu bergumul bermandi keringat dan bibit cinta.


Setelah Guntur suaminya berangkat bekerja, dia tiduran, merilekskan tubuh sejenak.


Dia minta tambahan libur beberapa hari ini. Ingin istirahat.


"Suami pertamaku dulu juga agresif saat di ranjang. Kami juga tiap hari melakukannya.


Tapi suamiku sekarang lebih agresif. Bisa dua olah raga ranjang dalam sehari. Jika libur bisa tiga kali seperti beberapa hari kemaren.


Jika dinas pagi, sebelum tidur malam dia beraksi. menjelang subuh minta lagi.


Jika dinas malam pasti sebelum berangkat dia minta dulu.


Awalnya aku kaget dengan kebiasaan suamiku yang selalu on. Apa di pernikahannya yang dulu dia juga seperti ini pada istrinya.


Tapi aku tidak mau memikirkan pernikahan kami yang telah lalu. Itu masa lalu yang hanya untuk di lupakan saja.


Gita tiduran sambil sesekali meregangkan tubuhnya. Biar rileks.


Lebih setengah jam Gita rebahan. Dia lalu bangkit. Dan duduk di kursi depan meja rias.


"Seperti orang demam berdarah. Banyak bercak merah di tubuhku". Gumam gita.


Melihat leher dan pundaknya banyak bekas gigitan dan sesapan dari suaminya.


"Suami vampir!". Gumam Gita sambil tersenyum.


Dia menyisir rambutnya yang sudah mulai kering. kemudian merapikan bad cover yang tadi pagi baru di ganti.


"Aku mencuci dulu. sebentar lagi memasak untuk makan siang". Ujar Gita.


Memasuki ruang loundry yang ada di samping dapur. Arah ke balkon samping.


"Eh, sudah di cuci!". Ujar Gita.


Dia melihat pakaian dan bad cover yang semalam bekas tidur mereka sudah terjemur di jemuran dekat dinding. Juga pakaian mereka.

__ADS_1


"Suami idaman ini namanya. Makin cinta dan sayang aku bang Guntur suamiku". Ujar Gita tersenyum.


"Masih sempat juga suamiku mencuci dan menjemur pakaian. Padahal dia berangkat pukul enam lewat". Pikir Gita.


Guntur yang pemimpin tim dinas pagi harus cepat datang untuk dinas. Setengah tujuh sudah berada di kantor untuk absen dan langsung partoli mengatur lalu lintas di persimpangan besar, yang tidak jauh dari apartemen tempat dia tinggalnya.


Gita kembali keruang tengah, melihat jam yang terletak di dinding.


"Belum pukul delapan. bosan juga tiduran. Walau badan masih remuk dan letih". Ujar Gita.


Dia duduk di sofa depan televisi, dan menghidupkan televisi.


Merasa bosan tidak melakukan apa-apa. Mencuci juga sudah dikerjakan suaminya.


Mau memasak, baru jam delapan pagi. Makanya Gita berencana bersih-bersih rumah. Membersihkan kamar dan pakaian di lemari, Merapikan saja.


Tidak lama ponsel Gita berbunyi. Panggilan dari suaminya.


"Assalamualaikum bang".


...


"Apa kita saja yang diundang?".


....


"Baik bang".


....


..


"Baik bang". Ujar Gita.


Suaminya mengabarkan, kalau nanti sepulang dia bekerja. Akan mengajak istrinya kerumah salah satu temannya yang mengundang mereka untuk makan malam.


Di asrama polisi tempatnya. tempat guntur tinggal dengan istri pertamanya dulu.


Dan Gita pernah kerumah dinas suaminya waktu baru menikah siri. Juga waktu menyiapkan berkas pernikahan waktu itu, untuk istirahat.


Mereka akhirnya memutuskan tinggal di apartemen. Karena apartemen Gita tidak jauh dari polres tempat guntur bekerja. Merekapun sepakat untuk tinggal di apartemen.


Guntur tidak mempermasalahkan tempat tinggal, karena baik di asrama atau di apartemen, sama saja. Sama-sama dekat dengan tempat kerja mereka.


Seperti ucapan Guntur di telfon tadi, selesai sholat magrib Mereka pergi ke asrama polisi. Menggunakan motor saja.


Selain cuaca bagus, asrama polisi juga tidak tauh dari apartemen mereka tinggal.


Sekitar sepuluh menit berkendara, arah kiri lampu merah dekat Guntur biasa patroli pagi. Melewati dua kali lampu merah.


Mereka berbincang santai di atas motor yang di kendarai Guntur. Apalagi Guntur tidak memakai motor yang tinggi. Motor yang biasa dia pakai.


Hanya motor metik yang juga sedikit besar. Tidak lupa memakai jaket dan masker.

__ADS_1


"Kita mampir untuk beli buah tangan bang". Ujar Gita.


"Baik. Kita beli di toko buah dekat asrama saja. Disana juga ada toko kue juga". Ujar Guntur.


Mereka berbincang selama perjalanan. Gita melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Dan menyandarkan dagunya di punggung suaminya.


Karena tidak bisa dagunya di letakan di bahu Guntur.


Pas dekat lampu merah, motor yang di kendarai Guntur ikut berhenti saat lampu merah menyala.


Tanpa Guntur dan gita tahu. Mereka ternyata berdiri di samping mobil Dika. Yang di kemudikan asistennya.


Dika yang termenung menghadap kekanan, tidak memperhatikan pengendara motor yang di sebelah kiri.


Pas di samping jendela jok belakang. Sedangkan Dika duduk di jok kiri.


Sang asisten yang kebetulan melihat kearah kiri belakang, langsung melihat sepeda motor yang persis di samping mobil yang dikemudikannya itu.


Dia tertarik melihat karena mendengar mereka berbicara, dan tertawa.


Terlihat wajah wanita bermasker yang duduk di bagian belakang motor. Karena mereka berdiri di bawah penerangan lampu jalan.


Dan mereka sejajar dengan jendela mobil. Katrna mobil yang Dika mobil mewah yang tinggi, bukan sejenis sedan.


'Seperti.....


Eh, itu bu Gita bukan ya?'. Gumam si asisten.


Melihat sepasang muda-mudi di atas motor di samping mobilnya.


Dika yang melihat asistennya yang melihat fokus kesamping kiri jadi penasaran.


"Lihat siapa kamu. Se begitunya melihatnya". Ujar Dika menegur asistennya.


"Ah itu bos.


Aku merasa wanita yang diatas motor sebelah kiri jendela bos itu bu Gita.


Mungkin". Ucap si asisten. Sedikit ragu.


"Masa sih. Kok Gita naik motor". ujar Dika.


Dia tetap melihat kearah kiri, luar jendela mobilnya.


"Eh iya. Mirip Gita, walau memakai masker". Ujar Dika.


Dika berusaha bergeser ke samping kiri jok.


Tapi belum sampai kearah kiri. Klakson bersautan dari mobil yang ada di belakang. Karena lampu sudah hijau.


"Ikuti saja mereka. Aku ingin tahu mereka tinggal dimana". Ujar Dika.


Memerintah asistennya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2