Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Di ikuti


__ADS_3

"Abang malu-maluin saja. Masa bertanya urusan ranjang pada dokter". Ujar Gita pada suaminya.


Mereka saat ini sedang berada di mobil. Menuju sebuah mall besar untuk belanja di supermarket yang tidak jauh dari apartemen mereka.


Mampir sebelum pulang kerumah.


"Kan harus tahu juga menurut pendapat dokter. Apalagi masih muda juga". Ujar Guntur.


"Ah abang alasan saja. Padahal seingat ku, abang tiap hari kok beraksi.


Apalagi tadi dokter itu bilang kalau kehamilanku sudah lima minggu. berarti aman saja kok". Ujar Gita.


"Tapi kok aku tidak ada perasaan hamil ya bang?. Bahkan hingga lupa tidak haid bulan ini". Tambah Gita.


"Iya ya sayang. abang juga lupa kalau kamu tidak kedatangan tamu bulanan. Setiap abang sedang ingin selalu kamu layani. Tidak pernah bilang sedang cuti". Ingat Guntur.


Karana hampir dua bulan ini mereka selalu aktif olah raga ranjang kapanpun ada kesempatan. Apalagi baru mengadakan pesta, serasa penganten baru saja.


"Bahkan abang seperti candu terus untuk olah raga tiap malam. Sepertinya aroma ibu hamil sudah memikat, hingga candu untuk dinikmati.


Sepertinya abang harus hati-hati jika ingin mengajakmu untuk itu". Oceh Guntur.


"Abang kan juga pernah menghadapi ibu hamil dulu. Pastilah abang sudah punya pengalaman melakukannya.


Bagaimana menghadapi libido ibu hamil". Ujar Gita.


"Iya sayang. Tapi kan setiap ibu hamil itu berbeda cara melayaninya. Agar dia nyaman". Jawab Guntur.


Guntur yakin. Antara Gita dan mantan istrinya sangat berbeda cara bermain di atas ranjang.


Bukan membandingkan. Tapi begitulah.


"Kita sholat ashar dulu ya sayang. Baru kita belanja". Ujar Guntur.


Mereka sampai di mall sudah pukul empat sore. Azan ashar sudah dari tadi.


"Baik bang". Jawab Gita.


Dan mereka melaksanakan sholat ashar di dekat parkiran yang ada di mall besar itu.


Selesai sholat, barulah mereka berbelanja. Memasuki supermarket.


Mereka mengelilingi rak supermarket. Memilih susu ibu hamil dan cemilan. Juga kebutuhan lainnya.


Guntur mendorong troly, !dengan Gita di kungkungan kedua lengannya. Gita berada di antara troly dan dada Guntur.


"Jangan lupa persediaan buah yang banyak. Bumil itu sering lapar setiap malam". Ujar Guntur.


Saat melewati tempat buah- buahan Guntur mengingatkan.


"Iya bapak yang sudah berpengalaman". Ujar Gita bergelayut di lengan suaminya, dan bersandar di dada suaminya itu.


Membuat guntur gemes, megecup pucuk kepala istrinya yang hanya tinggi sedagunya.


Semenjak beberapa bulan setelah menikah, Gita sudah bersikap manja pada suaminya. Entah karena dia merasa terlindungi oleh suaminya itu, atau dia merasa nyaman dengan suami barunya yang sangat romantis.

__ADS_1


Mereka memilih semua yang mereka butuhkan, hingga memenuhi troly belanjaan.


"Sudah semua sayang?". Tanya Guntur.


Mereka sedang antri menuju kasir.


"Sudah cukup bang. Aku juga sudah capek bejalan". Ujar Gita.


"Diduk di sana dulu sayang, biar abang yang antri membayarnya". Ujar Guntur.


Kasihan istrinya berdiri lama.


"Tidak usah bang. Tanggung. Tinggal satu antrian juga". Ujar Gita.


"Apa tidak capek sayang?". Tanya Guntur.


Gita mengeleng.


Tiba-tiba ponsel Guntur berbunyi, tanda pesan masuk.


"Ada yang mengikuti kalian. Dia berdiri di dekat rak buah. Diluar juga ada, berdiri di dekat penitipan barang".


Tulis pesan dari anak buah yang menjaga Gita dari jarak aman. Guntur bersikap santai saja seperti tidak ada apa-apa.


"Ok. nanti saat kami akan pulang tolong alihkan saja mereka. Biar tidak membuntuti kami pulang.


Tunggu aku di tempat penitipan barang, dan bawa ke mobilku. Kuncinya aku taruh di dalam". Balas Guntur mengirim pesan.


Guntur santai saja, malah setelah selesai membayar di kasir, Guntur mengajak Gita menuju lantai atas. Tempat food court.


"Belanjaan kita banyak bang, repot membawanya". Ujar Gita.


"Kita titip di tempat penitipan barang saja". Ujar Guntur.


Gita menganggukkan kepala.


Guntur membimbing Gita menuju tempat penitipan barang. Dan memberikan barang belanjaan pada penjaga.


Ternyata teman yang guntur suruh menunggu di dekat penitipan barang sudah berdiri di sana.


Setelah menerima kartu dari penjaga, guntur memberikannya kartu itu pada pria yang berdiri disampingnya. Melalui bawah meja. Agar tidak terlihat oleh orang yang membututinya.


"Mbak. Barang titipan saya nanti abang ini yang ambil ya. Karena saya ada perlu". Ujar Guntur melirik sekilas pada pria yang berdiri di sampingnya.


Dia berbicara sedikit pelan pada penjaga penitipan barang.


"Baik pak". Ujarnya.


Walai sedikit heran melihatnya.


"Terima kasih". Ujar guntur.


Setelah berbicara dengan penjaga itu, maka Guntur menarik tangan istrinya menuju lift. Untuk menuju lantai atas mall besar ini.


Yang banyak tempat makan disana, di rooftop. Duduk santai sambil menikmati suasana kota di sore hari.

__ADS_1


"Bang. Kok barang belanjaan kita orang tadi mengambilnya?. Siapa dia bang?". Tanya Gita berbisik.


Karena saat ini ada beberapa orang di dalam lift itu.


"Nanti abang ceritakan ya sayang". Ujar Guntur.


Dia mendekap istrinya dan menghadap dinding kaca bagian belakang. Melihat suasana mall di bagian tengah. Karena banyak orang di dalam lift.


Salah satu pengintai dari yang dikatakan temannya tadi, ikut masuk lift yang di naiki oleh Guntur sekarang.


Bahkan sampai Guntur mengajak istrinya memasuki salah satu cafe rooftop di atas mall besar ini.


Dia terus membimbing istrinya menuju salah satu meja yang berada di sisi pagar.


Agar pandangan luas melihat kota dari ketinggian.


Sesekali Guntur melirik seseorang yang dari tadi mengiringinya. jelas oleh Guntur kalau orang itu sedang mengiringi mereka.


Tapi Guntur masih santai, seolah tidak tahu.


"Kamu mau pesan apa sayang?". Tanya guntur.


Saat seorang pelayan cafe memberikan buku menu.


"Minuman ini sama cemilan ini bang". Tunjuk Gita.


"OK".


Guntur memesan minuman dan cemilan yang di pesan istrinya.


"Kita di awasi sayang. pasti anak buah mereka". Bisik Guntur.


Mendekat kearah sisi istrinya, sambil membenarkan hijab Gita.


"Yang benar bang?. Masih diikuti juga kita". Ujar Gita.


Dia juga berusaha bersikap santai. sama sepeeti suaminya yang tidak terganggu.


"Benar sayang. Pasti mereka terobsesi karena balasan pesan kemaren.


Makanya belanjaan kita tadi aku suruh temanku tadi yang mengambil di tempat penitian.


Mobil juga akan di bawa nanti.


Kita pura-pura naik taksi online saja untuk pulang.


Pasti mereka akan membuntuti kita sampai pulang". Bisik Guntur.


"Malas rasanya dengan mereka bang". Ujar Gita.


Karena dia semakin tidak nyaman untuk berada di tempat umum.


Bukan takut untuk bertemu. Tapi dia yang sedang bahagia dengan kehamilan pertamanya ini, menjawdi was-was jika mereka sampai nekat.


.

__ADS_1


.


__ADS_2