Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Harus Bicara.


__ADS_3

Aku menghentikan mobilku dekat taman. Taman yang tidak jauh dari perumahan bang guntur, juga kosanku.


Aku memarkirkan mobilku dekat tempat yang agak teduh. dibawah pohon mahoni.


Aku ambil ponselku, berniat menghubungi bang Guntur. untuk bicara semua yang aku rasakan.


"Sapa sih nama yang di simpan?!". ujarku mencari di daftar kontak.


Lama aku mencari, tidak bertemu nama Guntur, abang Guntur. dan guntur... guntur...


Tidak juga aku temukan. hingga..


Pesan diaplikasi hijau masuk.


"Astaghfirullah.. bang guntur!!". gumamku.


Saat melihat nama kontak masuk


'calon imamku' 👨‍✈️


"Dimana sayang?"


menanyakan keberadaanku. Apa dia sedang menunggu ku?. ah kepedean aku.


"Di taman Melati bang!.


Bisa kita bicara sebentar?!".


Aku balas pesannya.


Tidak ada balasan. Tapi panggilan suara yang masuk. Kok bang guntur langsung menelfonya!. pikirku.


Maka aku langsung menjawab.


"Assalamualaikum bang!". ujarku.


"Waalaikumussalam. Kenapa jadinya ke taman?. katanya ke mini market!". ucapnya pelan.


"Oh.. mm. nanti saja aku kemini market bang.


Tadi aku kepikiran saja, untuk bicara dulu sama abang. sebelum aku bertemu dengan orang tua abang!". ucapku juga pelan.


"Baik. kita bicara dimana?!. kapan?!". tanya bang guntur.


"Sekarang bisa bang. melalui telfon saja!. kalau bicara di kosan tidak enak". ujarku ragu.


"Tidak baik bicara melalui telfon. Aku kesana saja. tunggu aku!. jangan matikan telfonnya ya.


Aku mau izin sama mama sebentar. mereka sudah datang beberapa menit yang lalu!". ucapnya.


" Tapi..!!". Aku tidak mendengar jawaban bang guntur.


Aku malah mendengar dia minta izin pada orang tuanya keluar sebentar.

__ADS_1


dan juga minta supir di rumahnya mengantar mengunakan motor.


"Hallo sayang. kamu masih mendengarku kan?!". tanya bang Guntur.


Terdengar suara motor di jalanan. berarti dia sudah berjalan.


"Jangan panggil sayang bang!. lebay. masih jauh tau!". jawabku.


"Kamu di sebelah mana di taman?!". tanya bang Guntur tanpa mempedulikan keberatanku.


"Di parkiran seberang minimarket Ceria bang!". jawabku.


"Di luar atau masih di atas mobil?!".


"Dimobil!".


"Kamu tunggu saja di sana..


Sepanjang jalan menuju taman sekitar tujuh menit, Bang Guntur banyak bicara, juga mengombaliku.


Aku bersandar di jok kemudi.


Dan


tok..tok..


jendela samping kemudi di ketuk. Aku melihat, ternyata bang Guntur yang datang. Aku membuka kaca.


"Di sebelah bang!". ujarku.


Aku memandangnya.


"Pindah sayang!". ucapnya.


Aku hanya mengangguk, dan keluar mobil untuk pindah ke jok samping depan.


Dia mengiringiku menuju pintu samping, dan membukakan pintu.


"Minum dulu. biar rilieks!". ujar bang guntur.


Setelah aku duduk, bang guntur memberikan sebuah minuman mineral botol padaku. setelah membuka tutup botol.


Aku menerimanya, dan meminum sambil terus melihatnya, dia tersenyum terus padaku.


Selesai aku minum, dia mengacak kepalaku yang tertutup jilbab instan hingga aku melototinya. dia malah melebarkan sunyumnya.


"Santai!". ucapnya lagi.


Lalu berjalan memutari kedepan mobil dan duduk ke jok kemudi.


"Kenapa??!". tanyanya lembut sambil melihat kearahku.


Kami saling berhadapan. Ku menyandar ke pintu

__ADS_1


"Aku masih kepikiran dengan surat yang abang kirim tadi pagi. dan juga ucapan abang.


Kok bisa-bisanya abang langsung bilang aku calon istri abang di depan temanku. juga bilang kita akan menikah bulan depan!". ujarku menatap bang guntur, yang juga menatapku lembut.


Hhfff.


"Abang tahuhan, kita baru tiga kali bertemu. Dan ketiga baru pagi tadi di taman. eh siangnya datang kekosan langsung bilang kita akan menikah di depan temanku.


Abang jangan main-main dengan sebuah pernikahan. Apalagi kita tidak saling kenal. aku seorang janda baru beberapa bulan, dan abang tahu itu.


Abang jangan terpengaruh dengan panggilan Anna padaku. Aku membiarkan dia memanggilku kakak ipar karena aku sudah menganggabnya adikku!". jelasku.


Dia terus menatapku sambil tersenyum tipis. menganggukkan kepalanya.


"Mungkin abang tidak tahu, dengan bathinku yang ditinggal suamiku untuk selamanya. aku masih belum bisa membuka lembaran baru untuk saat ini.


bukan tidak mau, tapi aku masih ada sedikit kekecewaan pada almarhum suamiku.


Kami saja yang sudah saling kenal sebelum menikah, dan sangat di perhatikan oleh suamiku. bahkan sangat di ratukan. ternyata dia menyimpan sebuah rahasia yang membuatku terpukul dan kecewa.


Apalagi kita yang bisa dikatakan tidak saling mengenal dan hanya tahu nama dan status.


Bukan aku tidak mempercayai abang. aku tahu abang orang baik. tapi aku masih ada sedikit keraguan untuk memulai.


Aku dan abang tidak mengetahui dengan rahasia yang tersimpan di hati kita masaing-masing. mungkin sebuah luka yang tersimpan oleh masa lalu. dan tidak untuk di ketahui orang lain.


Juga. aku masih gamang untuk memikirkan sebuah pernikahan. bukan tidak mau, tapi belum ada fikiran untuk saat ini.


Aku harap abang mengerti!". ucapku dengan mata yang berkaca.


karena teringat kembali tentang luka yang ditoreh oleh almarhum suamiku.


Berusaha berbicara pada bang guntur untuk dia tidak tersinggung, dengan ucapanku.


Dia masih tersenyum, malah mengenggam jemari tanganku. dan meremasnya pelan. Lalu mengusap sudut kedua mataku dengan sebelah tangannya.


"Aku paham dengan apa yang kamu fikirkan. aku paham dengan keraguan kamu.


Aku juga menyimpan luka yang sangat dalam. dan aku rasa tidak sedalam luka kamu.


Aku tidak tahu luka yang kamu alami, tapi aku berniat untuk mengobati luka yang kamu alami itu. percayalah.


Aku sangat berharap. agar kita sama-sama bisa membantu menyembuhkan luka dan kecewa yang kita alami!". ujarnya lembut.


"Izinkan aku untuk melindungi dan mendampingi kamu. menjadikan aku imammu dalam beribadah di jalan allah!!". ucapnya mencium jemari tanganku.


Aku semakin meneteskan air mata. walau tidak terisak.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2