
Guntur dan Gita saling pandang. Saat mendengar perdebatan Dika dengan si pengendara motor.
Saat Dika tahu bukan Gita ternyata yang diikuti oleh si pengendara motor, sekaligus anak buah untuk mencari keberadaan Gita.
"Apa kamu tidak melihat dengan jelas kalau itu bukan Gita?". Omel Dika.
"Sungguh bos. Tadi saat di restoran bebek, aku yakin itu ibu Gita. Bahkan aku memotretnya.
Coba bos lihat". Ujarnya memberikan ponselnya.
"Tadi juga sudah aku kirim ke nomor bos". Tambahnya.
Dika mengambil malas ponsel yang disodorkan pengendara motor tersebut.
Mencoba melihat dengan teliti.
"Benarkan bos. Itu ibu Gita?". Ujar Si pengendara.
"Hhmmm.... Kalau melihat dari poto ini aku yakin ini Gita.
Tapi kok yang barusan bukan Gita?". Gumam Dika.
"Apa mungkin yang tadi saudara ibu Gita. Dan ibu Gita sudah turun dari". Ujar sang asisten.
"Atau ibu Gita masih di dalam mobil itu, dan yang turun itu saudara atau kembarannya.
Kan bajunya juga sama". Tambah sang asisten.
"Bisa jadi.
Ayo kita ikuti lagi. Bisa jadi Gita sembunyi di dalam mobil. Dan kita terkecoh". Ujar Dika kembali bersemangat.
"Kamu coba ikuti lagi. Itu mobilnya masih kelihatan". Perintah dika pada pengendara motor.
"Ok bos". Ujarnya.
Berlari ke arah parkiran motor.
Sementara sang asisten menelfon anak buahnya yang lain. yang berada di sekitar mereka untuk mengikuti mobil tadi.
"Iya. Mobil yang baru saja keluar parkiran.
__ADS_1
Ikuti terus. Dan kabarkan segera. Kita akan mencegatnya nanti saat aku dan bos sampai". Ujar sang asisten.
"Apa ada yang menyusul. Jangan sampai kehilangan jejak". Ujar Dika.
"Ada bos. Dua motor dan bertiga dengan yang barusan". Ujar sang asisten.
"Bagus. Segera temuksn Gita.
Sepertinya dia ingin bermain-msin denganku. Awas saja jika bertemu nanti. Akan aku buat dia bertekuk lutut padaku". Geram Dika.
Sang asisten melihat Dika kesal dan terlihat marah.
Apalagi panas siang yang sangat panas, membuat wajahnya semakin merah dan penuh keringat.
"Bos. Kalau memang ada bu Gita diatas mobil tadi. Berarti dia tahu kalau bos mencarinya, dan ingin me....".
"Brengsek". Potong Dika.
"Pasti dia mendengar semua ucapanku dan rencan ku.
Kenapa kamu tadi tidak bilang?. Bisa terus menghindar dia kalau dia tahu aku sedang mengintai dan mengawasinya.
Brengsek...". Ucap Dika kalut.
"Aku tidak mau gita semakin menjauh dariku. Usahakan segera Gita menjadi milikku. Agar tidak bisa kabur lagi.
Aku sudah tidak tahan untuk segera memilikinya. Apalagi kalau benar-benar dia hamil anakku". Ujar Dika percaya diri.
Guntur dan Gita geleng-geleng kepala mendengar ocehan Dika.
"Tapi bos, kalau benar bu Gita itu hamil anak bos, kenapa dia malah menghindar ya?.
Apa waktu itu bos yakin bu Gita yang bos...".
Sang asisten menghentikan ucapannya saat Dika memandang tajam.
"Apa kamu lupa. Ruangan kerjaku berantakan saat aku selesai mengagahinya. Dan juga banyak bagian tubuhku di cakar dan digigit.
Pasti dia menikmati setuhan mautku. Hingga sofa dan karpet ruangan kerjaku basah karena kencing dewasa kami". Ucap Dika melotot pada sang asisten.
Sang asisten hanya diam memandang bosnya yang kesal. Kesal karena Gita tidak jadi bertemu, dan juga ucapan dari sang asisten barusan.
__ADS_1
Sementara Guntur dan Gita yang ada di mobil samping Dika dan sang asisten saling pandang. Kemudian mereka tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat Dika kesal.
Tidak lupa Guntur mengirim pesan pada kedua orang yang membawa mobil Guntur tadi.
Menyuruh kesuatu tempat yang tidak ada hubungannya dengan Gita. Menjauh, agar Dika tidak bisa menemukannya.
Tidak begitu lama terdengar bunyi ponsel si asisten.
"Ya. Aku segera kesana". Ujar si asisten.
Mungkin dari si penguntit mobil Guntur yang di bawa oleh rekan nya tadi. Menuju suatu kawasan.
"Bos. Mobilnya masuk perumahan buana persada. Perumahan biasa.
Apa mungkin bu gita tinggal disana?". Ujar sang asisten.
"Itu kan perumahan tempat mantan mertua Gita. Tidak jauh dari perumahan tempat dia tinggal dulu. Dan rumahnya sekarang di huni oleh Dian. Si pelakor.
Mungkin dia mengunjungi rumah mantan mertuanya itu". Jawab Dika.
"Iya. Aku ingat". Jawab asisten Dika.
"Ayo kita susul kesana. Mudah- mudahan bisa bertemu juga dengan mantan mertua Gita. Dan minta alamat orang tuanya agar bisa aku lamar segera". Jawab Dika.
Berjalan menuju mobilnya, diikuti oleh si asisten.
"Kenapa mereka menuju kesana bang?. Bisa-bisa mereka mendatangi rumah mama". Ujar Gita.
"Tenang saja meteka kesana cuma numpang lewat saja. Aku tahu itu.
Palingan keliling dan keluar perumahan lagi". Jawab Guntur.
"Tapi mereka punya ide untuk menginjungi rumah mana". Ujar gita.
"Apa Dika itu tahu yang mana rumah orang tua almarhum?". Tanya Guntur.
"Aku rasa tidak". Jawab gita.
Lalu mereka berdua kembali tersenyum.
.
__ADS_1
.