Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Mencari Hiburan


__ADS_3

Dika yang sore itu cepat pulang dari kantor, dia pergi ke sebuah cafe, untuk sekedar nongkrong dan.


Pastinya juga mencari mangsa untuk dia ajak kehotel.


'Cari hiburan dulu'. Ujar Dika dalam hati.


Dia memasuki cafe yang sore itu ramai pengunjung. Yang duduk berkumpul dengan keluarga atau teman.


Dika duduk di sudut ruangan dekat jendela di bagian yang boleh merokok. Sambil melihat taman samping cafe.


Dia melihat taman cafe yang ramai pengunjung. Banyak pasangan juga kumpulan remaja duduk di bawah payung warna- warni berkumpul sambil minum atau makan.


Mereka mengobrol sambil tertawa. Terdengar suara canda tawa mereka yang sedang mengobrol riang.


"Ini pesanannya pak". Ujar seorang pelayan cafe.


Meletakan secangkir kopi hitam. Dan juga ada semangkok kecil kacang kulit.


"Terima kasih". Ucap Dika.


Dika menikmati kopinya sendiri. sambil memainkan ponselnya. Tidak menghiraukan pengunjung yang ramai berbicara dan tertawa.


Tapi mata liarnya sesekali melihat mangsa yang bisa dia bawa.


Bawa ke hotel untuk...


Bahkan dia tidak menghiraukan suara yang ramai. Tetap pura- pura fokus memegang ponselnya. Walau sesekali melihat kumpulan para remaja yang sedang tertawa bercanda.


Ada terdiri dari tiga orang wanita. Mungkin mereka karyawan atau nahasiswi.


Kumpulan mereka tepat di samping kiri meja Dika.


juga beberapa kumpulan para wanita berbicara sambil bercanda. Hingga tawa mereka saling bersahutan.


'Sepertinya yang disana boleh juga'. Gumam Dika dalam hati.


Sambil menyeruput kopinya. melihat seseorang target yang menarik hatinya.


Dika menatap wanita yang menarik perhatiannya. Tapi wanita itu tidak memperhatikan Dika.


Dia malah sibuk berbicara dengan temannya.


'Bagaimana cara menarik perhatiannya'. Pikir Dika.


Dika mencari cara untuk menyapanya.


Tapi. Saat Dika melihat ke sekeliling cafe untuk mencari mangsa cadangan. Ternyata kawanan wanita itu terlebih dahulu selesai dan keluar dati cafe.

__ADS_1


Walau sedikit kecewa Dika tidak patah arang. Dia mencoba mencari mangsa lain. Karena banyak kumpulan perempuan di cafe ini.


Tiba-tiba ada seseorang langsung duduk di kursi depannya. Membuat Dika sedikit terkejut. Tapi keterkejutannya membuat dua tersenyum dalam hati.


"Ada apa?". Tanya Dika.


Pura-pura kaget dan bertanya.


"Aku penasaran. Dari tadi om melihat saya sambil tersenyum. malah senyum mesum.


Apa om itu tertarik padaku?". Tanya seorang perempuan langsung.


Ya. Yang datang dan duduk di depan Dika adalah wanita yang tadi jadi target mangsa Dika.


"Kamu panggil aku om?.


Hey. Aku baru berumur dua puluh tujuh tahun. Mungkin beda beberapa tahun dari kamu". Uca Dika tidak terima dipanggil om.


"Ya, tapi pasti sudah om-om. Karena sudah menikah dan punya abak". jawabnya.


"Aku belum menikah ya". Jawab Dika.


"Oo belum. Kirain sudah.


Terus kenapa melihat aku dari tadi. Tertarik?". Tanya perempuan itu.


"Sedikit. Karena kamu itu mengingatkan saya pada mantan saya. Kamu itu sangat mirip dengan mantan pacar saya waktu kuliah dulu". Gombal Dika menjerat mangsa.


"Dua-duanya. Lagipula laki-laki mana yang tidak tertarik dengan kamu.


Cantik, ceria dan pasti banyak yang tertarik. Termasuk aku. Walau awalnya mengingatkan aku pada mantanku". dalih Dika.


"Gombal". Ucapnya.


"Tidak gombal. Aku berkata jujur". Jawab Dika.


"Oh ya lupa. Kenalkan, namaku Andika". Ujar Dika mengulurkan tangannya.


"Sovia". Jawabnya menerima uluran tangan Dika.


"Kamu masih kuliah atau sudah bekerja". Tanya Dika.


"Masih kuliah. Sekarang sedang magang di rumah sakit Buana". Jawab Sovia.


"Calon Dokter?". Tanya Dika.


"Bukan, aku kuliah kesehatan. keperawatan". Jawab Sovia.

__ADS_1


"Perawat. bisa dong periksa penyakitku". ujar Dika.


Dika ingat dengan mantan, teman bermain diatas ranjang. Juga seorang tenaga medis dirumah sakit.


Tapi suka ngamar dengannya. bahkan juga dengan teman seprofesinya yang suka celap- celup. Katanya buat praktek.


"Penyakit apa?". Tanya Sovia.


"Bukan sakit. Hanya butuh penyaluran untuk pelepasan. bisakah kamu jadi parner ranjangku malam ini". Ucap Dika langung tanpa basa-basi.


Sambil memandang mesum pada Sovia.


"Apa om fikir aku wanita malam?". Omel Sovia.


"Bukan begitu. Aku hanya ingin menawarkan saja. Jika kamu tidak mau aku tidak memaksa kok.


Aku yakin kamu wanita baik-baik. Pasti tidak mau sembarangan tidur dengan orang yang baru saja kamu kenal". Ujar Dika sedikit menyanjung.


Padahal mencari simpati. Agar sang wanita mau, tapi merasa di sanjung.


Dika menghabiskan kopinya. Dan meletakan uang merah di bawah gelas kopi itu.


"Terimakasih Sovia, sudah menemani aku ngopi.


Aku mau pergi dulu ya. Semoga kamu cepat lulus dan dapat bekerja tatap". Ujar Dika.


Dia berdiri, untuk keluar dari kafe.


"Terima kasih om.


Oh ya om. Boleh aku ikut dengan om?". Tanya Sovia mengikuti Dika berjalan menuju mobilnya.


"Maksudnys?". Tanya dika pura- pura.


"Kita bicara di atas mobil om saja. Tidak enak disini". Jawabnya.


"Boleh. Ayo masuk". Ucap dika.


Menekan kunci mobilnya, dan bunti remot mobil menandakan kunci pintu sudah dibuka.


Mereka masuk kemobil.


Dan senyum Dika dikulum. Karena targetnya mau menyerahkan diri. Dan dia yakin Sovia itu sudah tidak perawan.


Bisa saja dia sudah biasa ngamar juga dengan teman atau... Om-om yang butuh pelepasan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2