Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 174


__ADS_3

"Aku yakin dia akan langsung pingsan saat melihat kita". Ujar Guntur.


Saat mereka tahu Dika dan rombongan sudah sampai di perusahaan mereka. Dan sudah diantar ke ruang rapat.


Itu sepuluh menit yang lalu. pembicaraan Guntur dan Gita sebelum memasuki ruang rapat.


Mereka ingin melihat reaksi Dika saat mereka berdua masuk keruang rapat itu.


Sebenarnya Guntur tidak ingin masuk. Dia akan berjaga di luar saja. Dia akan masuk ruang rapat jika seandainya Dika berbuat macam-macam.


Tapi Gita ingin suaminya ikut. Untuk memberi tahu mereka yang mungkin saja kenal dengan Gita.


"Gita!".


Gumam Dika saat melihat Gita masuk ruangan rapat. Gita yang sedang membimbing suaminya yang memakai tongkat. Diiringi seorang asisten.


Yang membuat Dika kaget, mereka duduk di kursi petinggi perusahaan. Dengan Gita duduk di tengah.


Setelah mereka duduk dengan tenang, dan suaminya juga duduk santai di samping Gita.


"Terima kasih atas kedatangan rekan dari perusahaan A ke perusahaan kami.


Kami sangat merasa tersanjung dengan kedatangannya". Ujar asisten Gita membuka pembicaraan.


"Seperti yang kita ketahui, pertemuan ini adalah perbincangan lanjutan dari petinggi yang lalu juga perencanaan yang tertunda dari tahun lalu.


Dan kita baru bisa malaksanakan pertemuan ini hari ini. Setelah beberapa minggu lalu tertunda lagi". Tambah sang asisten.


Saat sang asisten Gita membuka pembicaraan memulai pembicaraan, Dika memandang Gita dan Guntur bergantian.


Tapi Gita dan Guntur terlihat santai, seolah tidak ada apa- apa.


"Perkenalkan. Ini bu Gita, sebagai pimpinan dari perusahaan cabang yang ada di kota ini. Dan beliau di dampingi oleh suami beliau". Ujar sang asiaten.


memperkenalkan pimpiban perusahaan.


"Di sebelah kanan kami bapak A sebagai kepala bagian perencanaan pembangunan. Di sebelahnya bapak B, kepala bagian keuangan yang akan menangani proyek ini.


Sedangkan yang di sebelah kiri kami bapak C, arsitek dan desain interior". Unar sang asisten.

__ADS_1


"Dika tidak begitu mendengar ucapan sang asisten Gita. Dia masih memandang Gita.


Banyak pertanyaan yang mengerubuti otaknya. Berbagai kemungkinan dan dugaan yang melintas di fikiran Dika.


Apalagi saat mendengar Gita pimpinan cabang perusahaan di kota ini.


'Gita pimpinan?. Kok bisa?. Padahal waktu di perusahaan milik ayahnya, Gita adalah karyawan bagian keuangan biasa.


Tidak menjabat staf tertinggi di divisinya. Tapi kok sekarang dia bisa menjadi pimpinan cabang sebuah perusahaan besar.


Lain dengan Dika yang sedang berfikir di luar masalqh kerja sama. asisten, kepala bagian, beserta sekretarisnya konsentrasi mendengarkan ucapan asisten Gita. Biar paham.


"Khem.


Untuk lebih lanjut. Silahkan perwakilan dari perusahaan A untuk menjabarkan bahannya. Untuk pertimbangan kita". Ujar asisten Gita


Dika yang sedang bengong di kejutkan dengan sengolan dari asistennya.


"Bos. Persentasikan yang kita bahas tadi". Ujarnya mengingatkan.


"Ah..eh.n iya..". Ujar Dika gugup.


Dia yang kurang fokus nenjadi ling lung. Tidak tahu harus bicara apa.


"Silahkan bos. Bos sudah bisa mempresentasikan". Ujar asisten Dika.


"Ayo bos!". Ulang asisten Dika.


Karena dika yang masih mematung duduk di kursi.


Dengan sedikit ragu Dika akhirnya berdiri. Beberapa kali dia menarik nafas dan menghembuskannya.


Setelah beberapa kali Dika menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Hingga dadanya sedikit lega. Tidak deg-degan. Panik dan kalut.


Setelah nafasnya agak normal, tidak sesak lagi. Dika mulai berbicara.


"Terima kasih atas diberinya kesempatan dari perusahaan ini kepada perusahaan kami untuk mengajukan kerja sama.


Kami sangat tersanjung sudah di berikan kesempatan ...........".

__ADS_1


Dika memberikan sambutan dan ramah tamah.


Tapi Dika sedikit gugup dan gemetaran.


Terlihat dari cara dia berbicara. Dan suara yang sedikit lambat.


Sang asisten yang tahu akan keadaan bosnya, segera mengambil alih pembicaraan bosnya itu.


Di berinya kode dengan meletakan tangan di atas meja, sang asisten menganggukan kepala agar bosnya itu duduk. Saat Dika melihat kearah sang asisten.


Dika yang paham dengan kode asistennya. Mengucapkan kalau asistennya yang ajan momperesentasikan berkas yanf mereka usulkan.


"Dengan tidak mengurangi rasa hormat, asisten saya akan menjabarkan semua". Ujar Dika.


Dengan gesit sangv asisten Dika menjabarkan isi berkas yang di tampilkan di layar.


Dengan baik dia bacakan hingga selesai.


"Demikian yang daoat kami sampaikan. Semua isi bahan kerja sama sepenuhya sama dengan yang pernah di bicarakan antar kedua perusahaan tahun lalu.


Dan semoga perusahaan kita bisa melanjutkan kerja sama yang tertunda itu.


Dan perusahaan kita bisa bertambah erat". Ujar sang asisten nenutup persentasinya.


Gita dan Guntur mengangguk. Dia tahu perusahaan ayah dika sangat baik dan jufa bisa di percaya.


Karena Gita bekerja di sana beberapa tahun. Dan dia tahu kehebatan perusahaan yang di pimpin ayah dika. Mantan bosnya.


Semua kepala bagian perusahaan Gita puas dengan persentasi aaisten Dika.


Tapi dia sedikit heran. Kenapa Dika yang mereka dengar sangat hebat dan tegas. Kenaoa hari ini sedikit loyo dan kurang fokus.


Tidah hanya oeringgi perysahaan Gita yang heran. Sekretaris dan juga seorang dari perusahaan Dika yang ikut dengannta juga heran.


Mengapa wakil Direktur mereka menjadi lemvek dan kurang bergairah.


Mengapa dika bisa hadi gagu dan panik hanya Gita, Guntur dan sang asisteb adika yang tahu.


Yaitu. bertemu Gita, sang mantan dan juga orang yang sudah dia celakai.

__ADS_1


.


.


__ADS_2