
Sovia makan dengan lahap. Memakan makanan yang dia pesan.
Ada nasi goreng, steik, kentang goreng, beberapa Roti, juga jus buah.
"Hah.. Kenyangnya". Ujar sovia.
Dia baru saja memakan sarapan pagi pesanannya. Sementara Dika masih lelap dalam tidurnya.
Sovia yang sudah kenyang membuka tirai jendela hotel. Dan dia keluar berdiri di balkon kamar hotel.
Menikmati mentari pagi yang mulai menghangat, Sovia berjemur di sinar matahari pagi. Dia membuka handuk kecil yang membungkus rambutnya. Serta mengibas rambut basahnya itu.
Dika yang merasa terganggu tidurnya, karena sinar matahari yang menerpa wajahnya. Dan terasa hangat.
"Menganggu tidurku saja". Omel Dika.
Dia melihat jam di dinding kamar hotel. Sudah lewat pukul delapan.
Dia beranjak menuju kamar mandi, selain untuk manunaikan hajat alamnya. Dika juga ingin mandi.
Tubuhnya terasa lengket. Berkeringat karena aktifitas semalam.
Keluar dari kamar mandi, Dika melihat wanita yang dia temukan kemaren, dan menjadi tempat penyaluran birahinya. Masih berdiri di balkon.
sedang menikmati sinar matahari yang mulai terik.
Dika tidak mempedulikannya. Dia memakai pakaiannya yang sedikit kusut. pakaian kemaren.
Melihat ada sarapan yang terletak di atas meja. Dia menyeruput kopi yang sudah mulai dingin. Dan memakan sepotong roti.
"Aku mau pergi. Jika kamu masih ingin disini tinggallah". Ujar Dika bersuara.
Mengejutkan Sovia yang sedang berjemur. Lalu dia memasuki kamar.
"Aku akan disini sampai siang. Karena aku masuk magang pukul tiga. Jadi istirahat sejenak". Ujar sovia.
Dia duduk di sisi tempat tidur menghadap Dika yang sedang menyeruput kopinya.
"Terserah kamu. kamar ini sudah aku bayar. Ini untuk perawatan tubuhmu yang aku pakai semalam". Ujar Dika.
meletakan segepok uang diatas meja. Di samping gelas kopi yang dia minum barusan.
"Apakah kita masih bisa bertemu lagi?. Aku tertarik untuk menjadi penghangat ranjangmu, melayani lagi". Ujar Sovia.
Karena dia merasa pria yang ada di depannya sangat kaya, dan juga perkasa.
"Aku tidak janji. Jika kebetulan kita bertemu, dan aku butuh dilayani aku akan memakai kamu". Ujar dika.
Dia berdiri dan bersiap untuk pergi. Tanla bicara lagi dia keluar dari kamar hotel itu. Untuk pergi kekantor.
__ADS_1
Tapi sebelum pergi ke kantor, dia akan berganti pakaian dulu, pulang keapartemennya.
.
"Abangh.... Ssshhh....".
"Iya sayang. Kamu membuatku selalu tidak tahan untuk.... Ah....".
"Sayang....
Sudah setahun aku puasa, dan kamu tempatku berbuka yang halal. Hingga aku tidak bisa menahannya lagi.
Selalu ingin lagi dan lagi terus". Racau Guntur.
Selesai sarapan dan duduk di depan televisi, bercengkrama berdua. Sepasang penganten baru yang menikah sekitar dua minggu yang lalu, melepaskan sesuatu yang tertahan selama ini.
Guntur duda yang sudah setahun tidak menikmati tubuh wanita. Dan gita yang menjanda lebih tiga bulan.
Menikmati masa penganten baru mereka dengan hangat. Berbagi peluh dan.. Saling memuaskan.
"Sayangh.. Aku mau sampai hhhh". racau Guntur.
"Aku.u... Juga mau.... Hah.. Ha.h.. Sshh..
Abangh...". Gitapu tikak kalah mengerang.
Hingga....
"Terima kasih sayang". Ucap Guntur .
memeluk tubuh polos istrinya dibawah selimut. Diapun sama polosnya dengan istrinya.
"Abang. Bagaimana jika aku tidak bisa hamil?". Ucap Gita galau.
"Maka kita ditakdirkan menua berdua oleh allah. Jangan cemas. Aku tidak akan menuntut untuk punya keturunan. Dan juga tidak akan mendua.
Hidup berdua dengan kamu seumur hidupku adalah anugerah yang diberikan allah untukku.
Orang tuaku juga tidak akan menuntut cucu dari kita. Tenang saja". Ujar Guntur.
mengecup ubun-ubun istrinya. Dan kening Gita yang masih berkeringat.
"Kita akan lalui semua bersama. Berdua". Ujar guntur.
"Terima kasih bang. Sudah nau menerima semua kekuranganku". Ujar Gita ikut memeluk tubuh kekar suaminya.
Saling menyalurkan kekuatan. Saling percaya.
Setelah beristirahat sejenak. Guntur dan Gita membersihkan diri.
__ADS_1
Mereka mandi bersama, saling menyabuni dan menosok tubuh. Berendam dengan Air hangat di dalam bathtub.
Menjelang siang supir mama Guntur menelfon. Mengatakan kalau dia sudah hampir sampai.
Maka Guntur yang turun ke loby untuk menjemput pakaian yang dikirim mamanya.
"Apa abang tidak malu ke bawah memakai itu?". Tanya Gita.
"Hanya sebentar. Paling juga tidak akan bertemu siapapun dibawah". Ucap guntur percaya diri.
Bagaimana tidak. Guntur memakai training gita dan juga Kemeja kotak- kotak milik Gita.
Walau besar bagi Gita, tapi sangat pas alias ketat saat di pakai oleh Guntur.
Untung kemeja yang dipakai Guntur bisa menutupi pusakanya tercetak pasti memakai training.
Sang supir yang sudah menunggu di loby hanya bisa tersenyum melihat anak bosnya itu.
Yang memakai pakaian Sempit. Tapi tidak berkomentar.
Tapi.
Saat Guntur sedang menunggu lift untuk kembali ke unit apartemen tempat tinggalnya.
Datang dua orang wanita berdiri di samping Guntur ikut antri menunggu lif sampai.
Mereka tersenyum ramah melihat Guntur. Tapi Guntur santai dan cuek.
Bahkan Guntur tidak menawarkan para wanita untuk duluan memasuki lif. Setelah menekan no tujuh belas, guntur mundur ke sudut bagian belakang.
Karena unit apartemennya di bagian atas. Tentu agak terakhir sampai.
Lalu para wanita itu ikut menekan nomor lantai apartemen mereka. Dan berdiri
"Khem.. Boleh kenalan bang?".
Tiba-tiba seorang wanita melihat kearah guntur.
"Aku Loly. Dan ini temanku Fany". Ujarnya duluan.
"Oh.. ". Jawab Guntur menanggapinya.
"Tinggal di lantai berapa bang?. Kami di lantai enam. Mungkin abang perlu dengan kami untuk kami temani.
Kami siap untuk di panggil". Tambah yang lain.
Guntur tidak menanggapinya. 'Tidak berminat'. Guman guntur dalam hati.
.
__ADS_1
.
.