Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 167


__ADS_3

Dika dan asistennya sudah berkeliling ruang icu. Dan gudung bangunan igd.


Tapi dia tidak mendapati Gita.


Lalu dia duduk di kursi yang ada di sudut lorong icu itu. Tempat dia duduk beberapa minggu yang lalu saat, menunggu Gita yang suaminya masuk rumah sakit, karena kecelakaan.


"Apa mungkin suami bos Gita tidak meninggal bos?.


Tapi kan waktu itu kata perawat disini yang meninggal adalah pasien yang kecelakaan sore itu". Ujar sang asisten. Melihat kearah pintu ruang icu.


Dika juga berfikir demikian. Tapi dia tidak tahu menahu. Karena dia di suruh turun ke parkiran. Dan dia pulang saja menunggu kabar dari anak buahnya.


Saat itu Indri mengamuk. mengoceh marah menyebut nama dika. Dan sedikit takut kalau indri melihat Dika, akan langsung bilang kalau dia yang merencanakan kecelakaan itu.


Saat ini orang yang mereka cari tidak ada lagi disana. Tapi mereka yakin dengan ketidak tahuan.


"Kalau benar polisi itu tidak meninggal. pasti Gita disini semenjak hari itu. Merawat polisi itu.


Pantas anak buah kita tidak menemukannya. Karena kita tidak curiga, dan tidak ada melihat kesini". Gumam Dika.


"Betul bos. Kita jangan percaya dengan pergerakan anak buah Indri.


Eh bos, aku dapat laporan, kalau Indri di tangkap polisi kemaren. Dan sekarang di tahan di polrres". Ucap asisten Dika.


"Bos harus waspada, Indri akan menyeret nama bos saat polisi tahu jika dia diketahui ingin juga mencelakai bu Gita". Tambah asisten itu.


Dia yakin. Indri pasti tidak mau mendekam sendiri di penjara, jika polisi mebgetahui kerja sama mereka.


"Aku rasa dia di tangkap karena kasus dia yang menjadi kurir.


Kan waktu itu dia berkata, kalau dia sedang di awasi oleh polisi, juga anak buah gembong narkoba itu.


Makanya dia ingin kembali pada polisi itu. Berencana memfitnah istri polisi agar dia bisa kembali pada polisi itu, dan Gita kembali padaku". Ujar Dika.


"Tapu bos harus tetap waspada". Usul sang asisten.


"Iya, aku akan hati-hati. Aku akan pergi keluar kota untuk beberapa minggu. sampai suasana membaik". Ujar Dika.


"Tapi bos. perusahaan cabang pak Burhan yang ada dikota ini sudah memberikan jadwal pertemuan. Setelah ditunda beberapa minggu.

__ADS_1


karena suami anak pak burhan yang memimpin cabang di kota ini masuk rumah sakit. katanya suaminya kecelakaan, sekarang sudah baikan.


Dan jadwal pertemuannya awal bulan depan. Pas minggu depan". Jelas asisten Dika.


"Baik. Kamu siapkan semua keperluan. Dan selesai pertemuan itu aku akan ke kota sebelah, untuk bersembunyi dulu.


Aku akan datang jika di perlukan. Tapi jangan hentikan untuk mencari Gita". Jawab Dika.


"Baik bos. Akan aku siapkan semua untuk pertemuan itu". Jawab sang asisten.


"Ok. Kita pulang dulu. Suruh anak buahmu untuk siaga disini. mudah-mudahan anak buah Indri tidak tahu pergerakan kita". Ajak Dika.


Maka merekapun pulang, setelan mengirim pesan pada anak buahnya. Untuk berjaga sambil mencari tahu.


'Jika benar suami Gita tidak meninggal, dan Gita sekarang juga sedang hamil. Akan sulit bagiku untuk mendekat.


Padahal saat Melihat Gita tadi, aku sudah siap mendampingi dia yang sedang hamil. Karena tidak punya suami.


Aku kecewa jika benar polisi itu tidak meninggal.


Tapi aku sangat menginginkan Gita'. Gumam Dika dalam hati


Membuyarkan lamunan Dika yang juga sedang memikirkan Gita yang berharap suaminya meninggal, agar dia bisa mendampingi Gita.


Hhmmm.


Hanya itu yang keluar dari mulut Dika. Tidak tahu mau menjawab apa.


Dia masih mencari celah untuk tetap bisa mendapatkan Gita.


.


"Bawa dia ke klinik, Rawat dengan baik. Besok saya yang langsung menanyai dan memeriksa dia.


Karena kasusnya berhadapan dengan saya".


Indri tersadar dari lamunannya. Saat mendengar suara polisi yang Memerintah di sel sebelah, datang dengan beberapa polisi yang membawa tandu.


Dia termenung memikir kan ucapan polisi tadi, yang mengatakan kalau Guntur tidak meninggal saat kecelakaan waktu itu. Dan istrinya yang ternyata sedang hamil.

__ADS_1


Indri yang mendengar Guntur masih hudup kaget. Dia bahkan terdiam melihat kepergian polisi itu.


Dia tidak percaya dengan ucapan polisi itu. Pasti polisi itu sedang menipunya.


Mengatakan kalau Guntur tidak meninggal. Apalagi tadi dia ikut di perkosa oleh preman barusan.


"Tunggu!". Panggil Indri berdiri di sisi selnya.


"Apa benar kalau bang Guntur tidak meninggal?. dan kalau benar, aku ingin bertemu dia.


Pasti dia akan membantuku untuk keluar dari sini. Juga akan menuntut kamu yang sudah membiarkan preman memperkosaku.


Aku adalah mantan istri bang Guntur". Ujar Indri.


Polisi itu hanya menyeringai melihat Indri yang percaya diri.


Dia mengeleng mendengarkan ucapan Indri.


"Tertawalah sekarang. Besok kamu akan di balascoleh bang Guntur". Ujar Indri.


"Aku tunggu tantanganmu itu". Ujar polisi itu.


"Tapi aku tidak yakin pak Guntur akan membantu kamu. Untuk bertemu kamu saja dia pasti jijik.


Walau kamu mantan istrinya. Dan yang suka melayani pria lain saat masih jadi istrinya. Bahkan anak yang kamu lahirkan bukan anaknya.


Tentu dia akan ikut menuntut dan menambah kasus yang akan kamu hadapi.


Untuk membalas sakit hatinya dan keluarganya yang kamu tipu.


Siap-siap saja untuk lebih lama mendekam di penjara". Ujar polisi itu tegas.


Mendengar ancaman polisi itu, Indri menjadi ciut. Dia tidak berfikir kalau mantan mertuanya akan dendam.


Karena selama ini mereka tidak oernah mengungkitnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2