Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Ooo.. Mau Cari Tahu


__ADS_3

"Ada acara apa ya pak?. Kok ramai polisi yang mengawal. Siapa yang datang?!". Tanya si asisten Dika ke polisi yang duduk di meja bundar restoran hotel.


Seolah tidak tahu, padahal tadi dia dan bosnya sudah tahu kalau ada pejabat yang datang makan siang.


Dia berusaha berdiri di seberang Guntur duduk. Agar bisa membaca nama yang tertulis di seragam polisi Guntur.


"Ada mentri yang datang pak. Kunjungan kerja". Jawab salah satu polisi.


Tapi bukan Guntur yang menjawab. Dia sedang menyuap makanan kedalam mulutnya.


"Oo.. Saya kira artis yang akan konfrensi pers atau mau pentas". Jawab asal si asisten.


"Asal deh bapaknya. Kalau artis tidak begini pengamanannya. Hanya pas acara saja". Jawab yang lain.


"Oo begitu. Mentri apa yang datang pak?!". Bertanya lagi.


"Mentri Pariwisata!.


Bapak tamu hotel ini ya?". Salah satu polisi balik bertanya.


"Tidak pak. Tadi saya sedang rapat sambil makan siang. Eh tiba- tiba ramai yang datang.


Juga ramai polisi". Jawab si asisten.


Dia berusaha melihat nama yang ada di seragam Guntur. Tapi tidak berhasil membaca nama itu.


Guntur tidak mengacuhkannya, dia segera menghabiskan makanannya. Karena waktu mereka singkat.


Rombongan mentri akan mengunjungi tempat lain lagi setelah ini.


"Alhamdulillah". Ujar Guntur menyelesaikan makannya.


Bersamaan juga dengan rekan polisi yang lain, mereka juga hampir selesai makan. Dan harus segera bersiap juga.


Bekerja.


Selesai makan, Guntur minum air putih yang ada di depannya. Masih belum melihat kearah yang mengajak temannya bicara.


Karena Guntur juga tidak begitu menanggapi siapa yang bertanya. Juga sudah di layani oleh teman sesama polisi.


Saat Guntur memalingkan wajahnya kearah yang bertanya. Guntur langsung hafal wajahnya.


Tapi lupa dia siapa.


'Sepertinya wajahnya tidak asing. Aku pernah bertemu dimana ya?'. Pikir Guntur.

__ADS_1


Tapi dia tidak melihat lama wajah yang ada di seberang mejanya.


Mengingat dan berfikir. Siapa gerangan dia.


Sambil mengingat orang yang ada di depannya, Guntur masih ikut menanggapi dan berbicara dengan rekan kerjanya. Bahkan sempat tertawa bersama, ketika ada pembicaraan yang lucu.


'Ooo dia rupanya. Ada apa dia mendekat kesini?. Apa dia sudah mengetahui kalau aku suaminya Gita?'. Pikir Guntur.


Sesekali Guntur melihatnya, tapi melihat seolah tidak kenal dan tidak tahu apa-apa.


Bahkan saat dia mengajak guntur berintegrasi, guntur hanya menjawab sedikit.


"Ayo.. Segera menuju posisi masing- masing!".


Terdengar suara ketua tim yang ada di meja samping.


"Siap!!".


Jawab mereka bersama.


Mereka berdiri dari duduknya, untuk menuju parkiran .


Beberapa ada yang menuju pintu ruang vip. Untuk menjaga petinggi keluar ruangan.


"Oh ya. Apa kita pernah bertemu sebalum ini?". Tanya Guntur pura- pura belum pernah.


"Pernah, kalau tidak salah bapak suaminya bu Gita ya!". Ujarnya lagi.


"Iya.


Apa kamu teman istri saya?". Tanya guntur.


Dia sudah berdiri, dan merapikan baju seragamnya. Sedikit melihat kearah si asisten Dika.


Disana sang asisten melihat jelas nama terpajang di seragam. Guntur.


"Iya. Bu Gita sama berkerja denganku di perusahaan. kenapa bu Gita resign dari perusahaan pak.


Padahal bu Gita kerjanya baik. Dan akan diangkat jadi sekretaris wakil direktur". Ujar sang asisten Dika.


"Oo. Saya hanya ingin Istri saya jadi ibu rumah tangga saja. Mengurus suami dan juga anak-anak kami nanti.


Kenapa bapaknya bertanya ya?. Kan itu keputusan kami berdua". ujar Guntur santai.


Kok dia bertanya tentang rumah tangga seseorang, yang tidak ada hubungan dengannya.

__ADS_1


"Tidak apa pak. Hanya bertanya saja. Kan karir bu Gita sedang bagus. Dan kenapa bu gita resign sudah dari beberapa bulan yang lalu.


Padahal nikahnya baru- baru ini". Ujar si asisten.


"Banyak hal yang harus kami urus untuk pernikahan kami. Dan juga istriku sudah berniat untuk berhanti bekerja". Jawab Guntur.


"Maaf ya. Aku harus segera bekerja". tambah Guntur.


Saat si asisten ingin bicara lagi.


Karena dia sudah ditarik rekan kerjanya unyuk segera menuju tempat kerjanya. Mobil yang ada di luar hotel.


Sang asisten hanya mengangguk. melihat rombongan polisi itu berlalu, keluar restoran.


Setelah menghilang, sang asisten kembali menuju meja dimana Dika masih duduk dengan kliennya. Masih makan sambil berbincang.


Walau berbincang santai dengan kliennya, sesekali Dika melihat kearah asistennya.


Kliennya memperhatikan semua. Gerak tubuh Dika dan si asisten yang berbicara dengan Guntur.


'Aku harus cari tahu. Kenapa mereka seperti ada sesuatu yang akan di rencanakan'. Gumam klien kerja Dika dalam hati.


"Kenapa pak Dika ingin tahu tentang polisi itu?". Ujar klien Dika.


"Memastikan Gita lebih tepatnya. apa Gita baik-baik saja menikah dengannya.


Bapak tahulan?. Berapalah gaji polisi. Bisa saja dia tidak mampu memenuhi kebutuhan Gita.


Jika dia tidak akan bisa untuk membahagiakan Gita. Saya akan merebutnya". Ujar Dika.


"Apakah Gitanya ada minta tolong pada pak Dika?. Maksudnya apakah pak Dika melihat Gita tidak hidup bahagia". Ujar klien Dika.


"Aku belum lihat. Karena mereka baru menikah. Tapi yang aku lihat beberapa hari yang lalu mereka sepertinya tinggal di asrama". Ujar Dika.


"Terus?". Tanya klien Dika.


"Ya. Akan aku buat Gita kembali. Dan mau menjadi milikku". Ujar Dika.


Klien Dika hanya memandang Dika dengan sedikit geram. Tapi dia tidak mau menampakan kekesalannya.


Tapi dia merencanakan sesuatu, untuk melindungi Gita dan Guntur.


.


.

__ADS_1


__ADS_2