Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 162


__ADS_3

"Itukan Gita?. Dia hamil?".


Tanpa Gita tahu. Seseorang melihat Gita yang baru saja keluar dari ruang dokter kendungan.


Dia pergi periksa kehamilannya keruang dokter kandungan. yang berada dirumah sakit yang sama dengan suaminya.


Tadi dia di temani suaminya saat periksa kandungan. Dan suaminya duluan ke tempat periksanya di temani temannya karena dokter suaminya sudah datang.


Sementara Gita ada yang sedang dia konsultasikan dengan dokter.


Maka Gita berjalan sendiri menuju ruang periksa suaminya itu, setelah periksa.


Sebenarnya Gita tidak sendiri, ada seorang yang menjaganya dari jarak aman.


"Sungguh kasihan kamu Gita. Dua kali ditinggal mati suami. Dan sekarang kamu pasti hamil anak polisi itu.


Kalau kamu mau, aku bersedia menjadi ayah sambung anak kamu". Gumam Dika.


Ya.


Yang memperhatikan Gita adalah Dika. Dia akan membezuk teman alumninya yang sedang di rawat. Bersama beberapa temannya juga.


Dia melihat Gita berjalan sendirian, saat melewati lorong menuju ruang rawat yang bersebelahan dengan ruang praktek dokter kandungan.


Dika ingin menemui Gita, tapi dia sedang berjalan menuju ruang rawat inap bersama temannya.


Hingga niatnya untuk mengikuti Gita tidak jadi.


Tapi dia tidak patah semangat, dia mengirim pesan pada asistennya yang sedang di parkiran untuk mengikuti Gita.


.


"Abang bikin malu saja. Masa sih abang curhat begitu sih sama dokter". Geram Gita pada suaminya. Sambil berbisik.


Gita membimbing suaminya yang memakai tongkat sebelah menuju parkiran mobil. Setelah mereka berdua periksa.

__ADS_1


Tidak jauh di belakang mereka ada dua orang teman Guntur sebagai pengawal.


"Santai saja sayang. Dokter itu paham kok dengan kita. Buktinya dia tidak masalah saat abang bicarakan keluhan abang". Jawab Guntur.


"Tapi aku yang malu bang. Masa istri hamil suaminya masih mikir kesana". ujar Gita.


Guntur hanya tersenyum melihat istrinya yang manyun. Karena tadi dia membahas soal mandi besar.


Mereka memasuki mobil yang di kemudikan teman Guntur. Sementara yang mengiringi tadi menggunakan mobil lain.


"Kita mampir makan siang di restoran bebek ya. Kamu lapar kan sayang?. Abang lapar". Ujar Guntur.


Menghibur istrinya. mengajak mampir ke restoran bebek, Tempat favorit mereka makan.


Mereka di supiri oleh rekan Guntur. Semenjak hamil Guntur tidak mengizinkan istrinya untuk mengemudi.


"Boleh bang". Ujar Gita.


Dia juga memang sudah lapar.


Seperti biasa mereka makan di ruang vip. Dan mobil juga langsung masuk ke bagian belakang dapur, tempat khusus karyawan.


"Sudah sembuh Guntur?". Tanya manejer restoran.


Dia menyambut kedatangan Guntur dan istrinya. Yang Gita tahu dia teman suaminya.


Menu pesananpun langsung dihidangkan saat mereka sampai. mereka makan bersama, juga dengan teman Guntur yang menemani tadi.


"Alhamdulillah. Walau kaki dan tangan masih pakai ini".


Tunjuk Guntur pada kain elastis melilit tangannya. Yang di bagian kaki tidak terlihat, karena guntur memakai celana sarung.


Mereka berbincang sambil makan bersama.


"Alhamdulillah.

__ADS_1


Maaf ya, aku tidak pernah membezuk kamu. Kata papa dan mama kamu kamu dirawat di rumah.


Kenapa kamu tidak mau di rawat di rumah sakit?". teman Guntur bertanya.


"Karena aku merasa tidak terlalu parah. Luka lecet dan juga patah tulang. Jadi lebih baik istirahat di rumah saja.


Lagi pula istriku sedang hamil, dan tidak baik untuk merawatku di rumah sakit". Jelas Guntur.


Temannya mengangguk paham.


"Tapi nafsu makan masih tetap kan?. Mama kamu beberapa kali minta buatkan makanan buat kamu". Ujar teman Guntur.


"Iya. Kan aku masa penyembuhan. Butuh stamina dan Gizi". Ujar Guntur.


Dia makan dengan lahap. Begitu juga dengan Gita. Karena mereka lapar.


"Apa kamu sudah mulai dinas?". Tanya teman Guntur.


"Sudah, sudah seminggu ini.


Tapi tidak ikut patroli, hanya di kantor saja dulu. hingga bisa ikut dinas patroli". Jawab Guntur.


"Apa sudah sembuh benar?. Kok sudah pergi bekerja?.


Ku perpanjang saja cuti kamu, sakit kan boleh di perpanjang cutinya". Ucap teman Guntur lagi.


"Sudah bisa bergerak kok. Tiga minggu cuti sudah ok kok. lagian bekerja juga tidak berat.


Kadang menangani warga yang kena tilang yang datang kekantor. dan juga duduk di depan komputer Karena aku juga di ruang cctv menghadapi komputer". Jawab Guntur.


"Aku tidak ingin lama libur bekerja, kalau istriku melahirkan beberapa bulan lagi, aku punya jatah cuti pendek". Tambah Guntur.


Mereka mengangguk paham. Juga Guntur tidak begitu parah sakitnya, tidak tertidur atau butuh perawatan khusus.


Hanya tidak boleh mengangkat dan jalan lama. Kalau duduk tidak masalah.

__ADS_1


.


.


__ADS_2