Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 140


__ADS_3

"Aku sudah menunggu dari tadi disini bos. Tapi tidak ada mereka datang mengambil barang titipan". Ujar Asisten Dika.


Ya. Tadi saat Dika mendapat kabar dari orang suruhan Indri. Kalau Gita dan suaminya pulang tanpa mengambil barang titipan belanjaannya.


Dan pasti akan kembali untuk mengambil.


Makanya Dika menyuruh asistennya untuk kembali ke mall. Menanti Gita yang mungkin akan kembali.


Padahal sang asisten tadi juga sudah di suruh pulang duluan dengan ojol. Karena Dika mengantar Indri ke apartemennya.


"Apa kamu telat datang kesini tadi?". Ujar Dika.


Dia melihat sekeliling mall yang mulai sepi. Karena sudah pukul setengah sembilan.


Mereka berdiri tidak terlalu jauh dari tempat penitipan barang. Tapi cukup terlindungi dan tidak terlihat.


Karena berdiri di gang samping toko yang baru saja tutup.


"Tidak bos. Tadi saat bos pergi mengantar Indri aku belum pulang bos. Aku pergi makan di restoran cepat saji di lantai atas karena lapar.


Dan saat bos menelfon, aku langsung kesini untuk melihat.


Tapi sudah hampir satu jam tidak ada bu Gita dan suaminya datang". jelas asisten Dika.


Dika meremas rambutnya. Dia yang masih kesal nertambah kesal. Jarena tidak jadi bertemu dengan Gita.


"Hhfff...


Aku sekarang tidak mau lagi bekerja sama dengan Indri.


Dia itu malah menghina Gita. Mengatakan Gita janda gatal dan mandul.


Sekarang kamu harus menemukan Gita. Sebarkan mata- mata dan awasi suaminya saat bekerja.


Iringi dia terus. Dia pasti akan mengantar jemput Gita ke tempat kerja baru Gita kalau sedang tidak bekerja". Perinyah Dika.


"Baik bos.


Mulai malam ini akan aku akan menyebar anak buah. Mulai dari depan asrama polisi, sampai polres.


Juga akan mengawasi suaminya bu Gita dimana dia bertugas". Jawab sang asisten.

__ADS_1


Dika mengangguk. Dia sudah punya beberapa info tentang suaminya Gita.


Dia akan merencanakan sesuatu yang jahat, agar dengan mudah mendapatkan Gita kembali.


Dari tempat berdirinya sekarang, Dika melihat Indri dengan dua orang yang mungkin anak buahnya.


Mereka terlihat sedang berbicara, dengan Indri seperti menunjuk kekiri dan kejanan. Entah apa yang mereka diskusikan.


"Kita ke mobil. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu". Ujar Dika.


Dia berjalan terlebih dahulu, dan diiringi oleh sang asisten.


Sementara Indri masih berbicara dengan anak buahnya. Sama seperti anak buahnya tadi.


Mereka berdiskusi di tempat umum. Dimana pengunjung berjalan melewati mereka.


Tapi mereka malah berbicara tanpa terganggu. Oleh kalu lalang pengunjung.


"Kenapa bos membatalkan untuk bekerja sama dengan Indri?. Apa..".


"Dia menghina Gita. Aku tidak suka.


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil, di parkiran mall.


"Bagaimana caranya membawa bu Gita bos?. Suaminya seorang polisi.


Dan juga mereka tinggal di asrama. Tentu akan sulit untuk mengikuti bu Gita". Ucap si asisten.


"Buat suaminya kecelakaan.


Walaupun dengan sebuah kecelakaan atau membuat suaminya itu cedera juga tidak apa.


Mungkin dengan kecelakaan itu, kita bisa membawa Gita". Ujar Dika sadis.


"Tapi itu...".


"Cukup buat dia kecelakaan, dan tidak bisa berjalan. Pasti Gita tidak mau punya suami cacat.


Dan mau kembali padaku". Ujar Dika.


"Berurusan dengan polisi bos. Menabrak polisi akan jauh lebih berbahaya". Ujar asisten Dika.

__ADS_1


Dia sedikit takut untuk berbuat kriminal. Apalagi mencederai orang. Seorang polisi.


Hanya untuk mengambil istrinya, wanita idaman sang bos.


"Ah payah kamu. Kalau jamu keberatan dengan tugas ini. Aku akan pakai yang kemaren saja.


Lebih profesional untuk jadi penjagal". Ujar Dika.


Dia tahu. Pasti asistennya itu takut bertindak.


'Itu lebih baik. Aku tidak mau turun tangan untuk kegiatan kriminal'. Guman si asisten dalam hati.


"Kita pulang!". Perintah Dika.


"Baik bos". Jawab asisten Dika.


Menghidupkan mobil, dan mengendarainya turun dari parkiran dan keluar gedung mall besar itu.


Dika yang duduk di belakang sedang memutar otak. Agen mana yang akan dia sewa untuk mencederai suami Gita.


Agar Gita mau meninggalkan suaminya itu jika cacat. Kalau bisa meninggal.


Sementara sang asisten sedikit berdebar, mendengar ide dari bosnya itu.


Mencelakai orang sangat jauh dari fikirannya. Ternyata bosnya selain suka celap celup menebar benih.


Sekatang mau berbuat kriminal. Pada seorang polisi.


"Aku lapar. Kita mampir dulu di restoran depan". Ujar Dika.


Membuat sang asisten sedikit terkejut, karena sedang mengemudi sambil berfikir.


"Fokus saja dengan pekerjaan kamu. apa yang akan aku kerjakan jangan kamu fikirkan.


Karena akan ada yang lebih profesional mengerjakannya". Ujar Dika.


Seolah tahu dengan yang di fikirkan asistennya itu.


.


.

__ADS_1


__ADS_2